Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
November datang lagi, Sayangku
Bulan kita yang menggemaskan
Saat-saat denyut cinta ditimpa irama hujan
Yang pelan
Tersedu-sedu
Aku mestinya rindu padamu
Saat angin menyindir membawa matamu yang bening
Tapi, tak apalah!
‘Tuk sedikit berdusta dan melupakanmu
Tanpa mencari cinta kulewatkan sunyi yang sia-sia
ada bisik halus mengabarkan kelembutan kasih putih
kecipak pelan di shubuh tadi
pun menyanyikan kidung harapan
pada waktu yang terus merambat
setiap detiknya menjanjikan hangat
seperti engkau selalu
memastikan metafora ketakjuban rasaku
pada kenyataan
engkau lahir dan tumbuh
pada palung terdasar keperempuananku
dalam ruang dengar dan ambang mataku
tiga belas tahun sudah …
Selamat ulang tahun, Biru langitku.
especially for you, My son
Permanent link to this post (64 words, estimated 15 secs reading time)
Posted in Puisi, Teruntuk on Desember 13th, 2008 2 Comments »
Bersama kita terbang membelah malam
Meretas hari yang terlewati
Meniti jalan terjal bertabur debu
Demi hati yang selalu menanti
Dalam pengap kita menari
Menantang matahari menggapai langit
Tak peduli lumpur membalut tubuh
Kau setia menemani hari-hariku
Kau meraung dalam amarahku
Merepih saat setitik air meluruh
Kaulah nafas yang kuhela
Membisu saat ku luluh dalam letih
Pintaku kau selalu ada untukku
Di tengah rasa letih perjalanan pulangku dari pulau seberang, aku rehat sejenak. Di sebuah kedai kopi, sambil menyeruput kopi panas kemudian mengisap rokok kretek, pinggir stasiun. Selebihnya, sejenak bermain dengan ingatan. Betapa hidup tak bergaram tanpa ingatan. Beringat-ingat. Terlintas demikian.
Hidup di pinggiran Ibu kota berumah sederhana, Ibu masih setia menempatinya.
Nampaknya Warmin masih saja memendam mimpinya. Cita-cita kecilnya hanya menjadi angan belaka. Angan masa lalu yang tak akan pernah digapainya. Dambaannya menjadi seorang polisi, kini tertutup rapat. Tak akan pernah terbuka kembali kesempatan itu baginya. Kalaupun dapat terjadi, seragam kejujuran itu tak layak dipakainya. Tercoreng kelakuan sekarang yang akan dikenangnya mendatang. Dia hanya dapat melihat polisi yang melintas di hadapannya. Bukan dalam mimpi, angan, dan cita-citanya. Dia hanya mampu menyaksikan perilaku dan kehebatan seorang polisi di depannya. Bukan di dalam dirinya.
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Jeritan, Asa, Sunyi dan Sepi, Resah, Gelisah dan Sedih, Teruntuk on Desember 4th, 2008 1 Comment »
Hari ini terasa begitu melelahkan. Setumpuk buku masih berserakan di atas meja. Berlembar-lembar makalah yang berjejal di meja komputer membuatku amnesia. Satu minggu lagi desertasiku harus selesai. Aku benar-benar dikejar waktu. Entahlah, untuk hari ini saja, aku benar-benar ingin istirahat. Sejenak melepas ratusan tesis yang memusingkan. Kutatap barisan rak buku yang membuat kamarku terasa sempit. Tiba-tiba saja mataku tertuju pada rak di pojok ruangan. Rak itu tempat khusus untuk menyimpan file-file pribadiku. Ah… sudah lama tak kujamah rak itu. Sebuah buku bersampul biru muda menarik perhatianku. “Kumpulan Manuskrip Biru”.
Posted in Puisi, Jeritan, Asa, Teruntuk on Desember 2nd, 2008 No Comments »
seorang wanita
terkulai menghitung peluh,
yang mengalir dalam gemuruh birahi
keperkasaan adam yang ditelan
merobek liang harta kekayaan
tak ada yang peduli
gelisah hati pewaris dosa
semua hanya menikmati,
menjilati,
mencumbui, dan
membeli dengan nafsu
lelah sudah mengeja butiran keringat
hanya menunggu waktu bersahabat
membasuh diri untuk beristirahat
dan kembali mengingat:
seucap kata tobat
sebelum bumi memendamnya!!!
Permanent link to this post (58 words, estimated 14 secs reading time)
Suatu malam yang sangat hangat dengan warna langit keunguan dan bulan terlihat lebih besar dari biasanya bagaikan memantau kami yang hampir tenggelam dalam suasana. Kali ini, Saga berbicara dengan nada yang amat sangat pelan, seakan-akan bulan benar-benar sedang mendengarkan percakapan kami. Saat itu, memang sepertinya hampir semua orang di Blok B Kompleks Cemara Hijau ini sudah tertidur lelap menanti hadirnya esok hari yang akan memaksa mereka dengan rutinitas yang sudah menggaji mereka.
Ku berjalan ditengah dinginya malam
Melewati beribu lintasan menerjang di hadapanku
Namun dapatkah seseorang menemaniku
Di dalam rintihanku …MUSTAHIL…
Ku telusuri jalan setapak demi setapak
Tuk mencari arti dalam kehidupan
Namun apa maksud dari semua ini…MUSTAHIL…
Ku lelah, ku bingung, ku benci dalam kesedihanku
Anak manis tertawa padaku karena kelakuanku
Namun dapatkah seseorang mengerti rintihanku ini …MUSTAHIL…
ah….ada dia disana
ternyata bisa untuk mengenal dia
tapi, terasa jauh !
yap…mungkin karena dia baru
dan aku pun baru.
tapi, pasti….suatu saat nanti
aku akan kenal kamu…..lebih dekat !
tak ada lagi tanya..
Permanent link to this post (35 words, estimated 8 secs reading time)