KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Teruntuk'

Dendamku

Bukan salahku kalau kebencian itu tumbuh dihatiku
Bukan salahku juga kalau dendam harus kupupuk
dan akan selamanya ku biarkan
tumbuh dan berakar dalam hatiku…
dan akan ku nikmati sakit itu
hingga keakarnya…

Pernah kutorehkan luka dan sakit untukmu
Dan kaupun tidak pernah menyadarinya
tapi kesadaranku… membuatku mengakhirnya…
Aku sadar kau menyayangiku

Apa alasannya sehingga dia begitu rapuh..
menerima kenyataan ini ?…..
Sadarkah dia bahwa semua yang dilakukan
hanya akan menyiksa dirinya ?
Lalu mengapa Tuhan begitu tega
membiarkan dia menempuh jalan
yang pada akhirnya hanya membuahkan
kekosongan pada jiwa dan bathinnya ??

Dia

Aku membisu
Ketika menatapnya

Aku lumpuh saraf
Ketika dia tersenyum

Aku menjadi tuli
Saat dia menyapa

Dia dengan ruhnya
Mengajak ruhku menari sukacita
Tertawa melihat rona dunia
Semerah senja sore hari

Dia dengan jiwanya
Menyentuh jiwaku lama
Tersenyum menggoda nurani
Buatku tersipu malu

Maaf, Aku Harus Pamit

Dengan susah payah…
Aku berusaha menyatukan puing-puing yang hancur berserakan…
Dengan susah payah pula….
Aku mencoba mengakui kepada alam ini
bahwa aku bersalah ……
Tetapi… rasa ego dalam diriku membuatku
Tak pernah bisa merelakan kenyataan..
Selalu ada pertentangan dalam bathinku

Membuatku sering tersiksa, terbebani….
Dan akhirnya terbukti “Dilema” menjadi milikku

Jika aku halal bagimu…

Aku ingin menggenggam dan digenggam tanganmu

Aku ingin menjadi pelipur lara hatimu

Jika aku halal bagimu…

Aku ingin menjadi sandaran dan bersandar di bahumu

Aku ingin menjadi penyemangat hidupmu

Jika aku halal bagimu…

Akankah kau mengerti hati ini

Tentangmu “Is”

 

Rambutmu terurai
Aku belai
Aku selipkan bunga setangkai

 

 

 

 

Matamu sayu
Hadir dalam mimpiku
Mengundang segala rindu

 

 

 

 

Hidungmu mancung
Membuatku bingung, merenung, dan linglung
Tak ada ujung

 

 

Tanpa lelah ku menunggumu

Di tengah deru menggebu waktu

Kutunggu hingga menit-menit berlalu

jam-jam bisu

hari-hari sendu

masa lalu

Kutunggu kamu

Berjuta asa masa depan bertingkah

menyembul di antara kesendirian

kutulis bayangmu

Kutunggu kamu

Kapankah datangmu?

(Yk.11.06)

Katakan Padaku

Katakanlah padaku,

di mana aku bisa menurunkan hujan

kulihat langit menghitam dari dalam kamar

Hei, aku ada ide

bagaimana kalau kukirim awan

bersama prangko dan amplop ke alamatmu

supaya hujan turun di sana

basahi bumi tandus dan kering

dan kau

Perjalanan manusia yang begitu panjang….

Membawa setiap pertemuan dan perpisahan..

Hari ini aku bertemu…

Dapat menikmati canda tawa, tangisan, dan kebersamaan…

Namun seiring waktu berjalan…

Seseorang datang dan seseorang pergi….

Tiba waktunya bagi semua memikirkan tujuan masa depan…

Tujuan hidup mereka ada ditangan mereka…

Begitu juga tujuan hidupku, ada ditanganku…

Pejuang

Mungkin kau bahagia melihat merah tak berdarah
Perkampungan tak sepi
Gedung sekolah tak dibakar
Orang-orang tak lagi gusar
Serdadu berbedil telah enyah
Kurasa kau bersuka melihat generasi tak lagi terancam senjata
Tak ada lagi pengumpulan romusa
Engkau ada jembatan itu

Tapi
Kuyakin kau murka melihat merah memudar
Putih mengusut
Cinta menelingkung cita-citamu

« Prev - Next »