Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Bukan salahku kalau kebencian itu tumbuh dihatiku
Bukan salahku juga kalau dendam harus kupupuk
dan akan selamanya ku biarkan
tumbuh dan berakar dalam hatiku…
dan akan ku nikmati sakit itu
hingga keakarnya…
Pernah kutorehkan luka dan sakit untukmu
Dan kaupun tidak pernah menyadarinya
tapi kesadaranku… membuatku mengakhirnya…
Aku sadar kau menyayangiku
Apa alasannya sehingga dia begitu rapuh..
menerima kenyataan ini ?…..
Sadarkah dia bahwa semua yang dilakukan
hanya akan menyiksa dirinya ?
Lalu mengapa Tuhan begitu tega
membiarkan dia menempuh jalan
yang pada akhirnya hanya membuahkan
kekosongan pada jiwa dan bathinnya ??
Posted in Puisi, Teruntuk on Oktober 16th, 2008 No Comments »
Aku membisu
Ketika menatapnya
Aku lumpuh saraf
Ketika dia tersenyum
Aku menjadi tuli
Saat dia menyapa
Dia dengan ruhnya
Mengajak ruhku menari sukacita
Tertawa melihat rona dunia
Semerah senja sore hari
Dia dengan jiwanya
Menyentuh jiwaku lama
Tersenyum menggoda nurani
Buatku tersipu malu
Permanent link to this post (44 words, estimated 11 secs reading time)
Posted in Puisi, Jeritan, Teruntuk on Oktober 16th, 2008 No Comments »
Dengan susah payah…
Aku berusaha menyatukan puing-puing yang hancur berserakan…
Dengan susah payah pula….
Aku mencoba mengakui kepada alam ini
bahwa aku bersalah ……
Tetapi… rasa ego dalam diriku membuatku
Tak pernah bisa merelakan kenyataan..
Selalu ada pertentangan dalam bathinku
Membuatku sering tersiksa, terbebani….
Dan akhirnya terbukti “Dilema” menjadi milikku
Jika aku halal bagimu…
Aku ingin menggenggam dan digenggam tanganmu
Aku ingin menjadi pelipur lara hatimu
Jika aku halal bagimu…
Aku ingin menjadi sandaran dan bersandar di bahumu
Aku ingin menjadi penyemangat hidupmu
Jika aku halal bagimu…
Akankah kau mengerti hati ini
Rambutmu terurai
Aku belai
Aku selipkan bunga setangkai
Matamu sayu
Hadir dalam mimpiku
Mengundang segala rindu
Hidungmu mancung
Membuatku bingung, merenung, dan linglung
Tak ada ujung
Tanpa lelah ku menunggumu
Di tengah deru menggebu waktu
Kutunggu hingga menit-menit berlalu
jam-jam bisu
hari-hari sendu
masa lalu
Kutunggu kamu
Berjuta asa masa depan bertingkah
menyembul di antara kesendirian
kutulis bayangmu
Kutunggu kamu
Kapankah datangmu?
(Yk.11.06)
Permanent link to this post (38 words, estimated 9 secs reading time)
Posted in Puisi, Jeritan, Teruntuk on September 27th, 2008 No Comments »
Katakanlah padaku,
di mana aku bisa menurunkan hujan
kulihat langit menghitam dari dalam kamar
Hei, aku ada ide
bagaimana kalau kukirim awan
bersama prangko dan amplop ke alamatmu
supaya hujan turun di sana
basahi bumi tandus dan kering
dan kau
Perjalanan manusia yang begitu panjang….
Membawa setiap pertemuan dan perpisahan..
Hari ini aku bertemu…
Dapat menikmati canda tawa, tangisan, dan kebersamaan…
Namun seiring waktu berjalan…
Seseorang datang dan seseorang pergi….
Tiba waktunya bagi semua memikirkan tujuan masa depan…
Tujuan hidup mereka ada ditangan mereka…
Begitu juga tujuan hidupku, ada ditanganku…
Posted in Puisi, Teruntuk on September 24th, 2008 No Comments »
Mungkin kau bahagia melihat merah tak berdarah
Perkampungan tak sepi
Gedung sekolah tak dibakar
Orang-orang tak lagi gusar
Serdadu berbedil telah enyah
Kurasa kau bersuka melihat generasi tak lagi terancam senjata
Tak ada lagi pengumpulan romusa
Engkau ada jembatan itu
Tapi
Kuyakin kau murka melihat merah memudar
Putih mengusut
Cinta menelingkung cita-citamu