Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Akhirnya aku menginjakkan kaki di tempat ini. Kabupaten Soppeng, kota Kalong. Daerah kelahiranmu yang sangat engkau banggakan. Melalui SMS, telepon bahkan ketika kita bertatap muka secara langsung saat kau mengunjungiku di Makassar, kau selalu bercerita tentang betapa indahnya daerahmu.
Hembusan angin di malam hari, dengan deru ombak yang menghantam karang di lautan luas. Alangkah dinginnya angin malam itu sehingga terasa menusuk tulang-tulang sendi tubuh kurus dan tua bapakku. Jaring-jaringyang tampaknya sudah mulai usang, rajutan-rajutannya banyak yang bolong karena dimakan usia. Bertahun-tahun modal inilah yang menjadi alat mata pencaharian kami. Setiap hari setelah Bapak melaut, jaring-jaring itu ditata dan dirapikan kembali dengan telaten dan sabar. Bapak berusaha memperbaiki jaring-jaring itu bila ada yang rusak dengan peralatan yang sangat sederhana. Satu demi satu jaring-jaring itupun diperiksa dengan cermat. Dengan ketekunannya sehingga Bapak dapat menyelesaikan pekerjaannya memperbaiki jaring-jaring usang itu. Memang tidaklah banyak hasil laut yang kami dapat. Namun hasilnya masih cukup memenuhi kebutuhan keluaga kami yang sangat sederhana sehari-hari. Terkadang kami mendapatkan hasil yang cukup lumayan sehingga kita bisa menabung untuk keperluan lain. Sebagian hasil laut tangkapan kami sebagian kami jual di pasar lelang ikan dan sisanya kami konsumsi sendiri.
kau masih muda Swa
suaramu masih lantang,
jika yang keluar dari mulutmu hanya keluh kesah dan suara menghiba
tidak malukah kepada kondektur tua
yang serak suaranya adalah isyarat semangat dan kehidupan
memalukan rasanya jika hari-harimu hanya berisi umpatan atas sakit hati
bukankah rakyat yang tengah membersamaimu pun tengah tersakiti
disumpal dengan tiga ribu rupiah sebagai pembeli harga diri
luka mereka lebih menganga
Ibu………
Pada malam ini
Aku segenap hati
Bersujud di hadapan – Nya
Hatiku tertunduk
Hatiku menangis
Aku menyesal
Aku tak pernah patuh
Aku selalu membangkang
Aku selalu acuh
Dengan
Kata – kata lembutmu
Kasih sayangmu yang hangat
Semua ajaran hidup
Yang kau ajarkan
Semuanya
Hanya untukku
Tapi
Apa balasanku?
Angin…
Kutitipkan padamu secarik rindu ini
Sehelai kasih saying yang lama kusimpan
Sebait senyuman yang terpendam
Bulan…
Terangi langkahnya malam ini dan malam–malamnya
Agar dia melihat bayangku di derasnya hujan
Dan akhirnya dia kirimkan sepucuk senyuman
Mentari…
Hangatkan dia saat melihat dunia
Merasuk ke jiwa melalui jendela hati
Dari Roberto untuk Cevillia, gadis idaman
Duhai Cevillia
Kau gadis idaman
Parasmu elok bagaikan bidadari surga
Matamu bersinar bagaikan bintang kejora
Merah bibirmu bagai merah delima
Kulitmu selembut kain sutera
Laku lembutmu lengkapi ayumu
Duhai Cevillia
Aku ini laki-laki keren…
Tidak akan menikmati sesuatu … kecuali itu telah halal bagiku.
Dan kan kuambil kau sebagai istriku.
Kini aku sedang bertempur …
Bertarung untuk menyingkirkan penghalang demi penghalang cinta
Dan kan kuambil tanganmu …
Setelah kujabat tangan bapakmu.
Bukakan pintu, hai angin malam! Dan biarkan ia masuk ke dalam, karena rumah ini memang teruntuk dirinya…
Dan biarkanlah ia menggantungkan jaket lusuhnya yang telah memenjarakan jiwanya dalam keletihannya…
Dan akan kubasuh kakinya…
Tampak sekali keletihannya…
Meskipun aku tak pernah tahu tanah mana yang telah ia pijak…
Menyingkirlah kau dari peraduan yang telah kusiapkan untuknya semenjak rembulan dan bintang masih berada dalam buaian ibunda malam…
Dan biarkanlah ia tertidur lelap diatas pangkuanku…
Tampak sekali keletihannya…
Meskipun aku tak pernah tahu kegetiran apa yang telah ia hadapi…
Yang kutahu ia telah kembali…
Membawa sejuta kesedihannya…
Membawa sejuta kekecewaanya…
Inilah penghabisannya
Kita akan terpisah sejauh sepasar perjalanan kaki
Kita akan terpisah untuk selanjutnya:
Perjumpaan canggung dan menyakitkan
Inilah takdirmu dalam hidupku
Derap titihan pun remuk tungkainya
Tak akan dapat lampaui jarakmu
Mungkin benar apa yang pernah kubilang:
Kita adalah dua kutub,
Dan perbedaan-perbedaan itulah
Yang membuat kita sama
Temaram senja menyambut datangnya malam, perlahan mewarnai langit dengan rona senja yang memerah. Kunikmati saat itu, karena yang kutahu saat itulah siang terakhirku ditempat ini akan segera berakhir. Tak terasa sudah hampir seribu purnama lamanya kuhabiskan waktuku di tempat ini, tempat dimana waktu dan ruang terperangkap didalamnya, berputar dan terus berputar dan selalu kembali ke titik awal dimana aku harus memulai kembali semuanya dari awal dan ke tidak tahuan. Dan semua itu harus kujalani hingga saatnya tiba bagiku untuk menjalani takdir hidupku yang sesungguhnya.