Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Naas nasib si perempuan gila. Nasib membawa ia ke lubang prahara. Tak lagi mereka percaya pada si perempuan gila. Kadang cemooh terlontar untuknya.
Malang nasib si perempuan gila. Salah siapa suka mengada-ngada? Terlalu besar harap. Terlalu luas imajinasi. Membuat hati terlilit duri.
Ku berjalan ke timur
Ingin ku tapakkan jejakku
Agar aku dapat mengenangmu
Agar aku tak lupa akan senyummu
Ku berjalan ke barat
Ingin ku rangkai mawar indah untukmu
Agar senyum manismu
Tak lekang di keningku
Ya Allah
Dekatkan hatiku dengan hatinya
Agar kami bisa saling menyayangi
Agar kami bisa saling menjaga
Posted in Puisi, Teruntuk, Renungan on Januari 18th, 2009 No Comments »
Kau angkat wajah menantang langit
Tersenyum sinis dalam kemenanganmu
Kemenangan semu yang tak abadi
Dunia bagai telah kau rengkuh
Semuanya, selamanya
Tapi kutahu
Kau angkuh dalam rapuhmu
Mencabik – cabik sendiri dalam sakit
Semakin kau tersenyum
Akan semakin sakit bagimu
Kau ingin berteriak
Memakiku
Mencakarku
Tapi kau tak mampu
Karena kekuasaan itu bukan di tanganmu
Posted in Puisi, Intermezzo, Teruntuk on Desember 30th, 2008 No Comments »
Jika perahu tidak bisa berjalan.
Semoga bukan sebab layar sengaja diturunkan.
Melainkan akibat musim tanpa angin.
Dengan demikian…
ada kesempatan bagi hati dan lengan
untuk mengayuh dayung agar perahu sampai.
Ra, I’ve made the most important discovery of my life. It’s only in the mysterious equation of love that any logical reasons can be found. I do this because of you. You’re the only reason!!!
Permanent link to this post (65 words, estimated 16 secs reading time)
Posted in Puisi, Intermezzo, Teruntuk on Desember 30th, 2008 No Comments »
Kepada Nurminita
Apakah hanya angkuh
Terukir di wajah kita berdua
Dan tampak kukuh
Di mana antara kita berada
Di depan mata
Namun tanpa senda
Permanent link to this post (25 words, estimated 6 secs reading time)
kerinduan mengusik malam-malamku
berkawan asa yang terpendam
rasaku merasuk kalbu
ingatanku terus melayang,
berharap akan kehadiranmu
aku yang menunggumu
bertahan pada hati yang tak lagi tegar
di persimpangan hatiku
aku mau kamu kembali
menatapku tidak untuk terakhir kali
menemaniku bersama waktu
merajut kasih bersama, berdua
hanya aku dan kamu
Permanent link to this post (50 words, estimated 12 secs reading time)
tersesal…..
ku melihat tubuh lusuh di pembaringan
wanita yang begitu di muliakan
yang dulu begitu ceria dan tegar
kini terbaring tidak berdaya
begitu besar dosaku padamu
semakin terasa sesak di dada
Terbangun aku dari mimpi sisa tidurku
lalu memungut kata yang tercecer semalam
kata yang tersusun dari muntah kerinduan
dan kata yang tak sempat aku peluk
hingga merekah dalam kesedihan
Terima kasih Tuhan kau beri batas antara aku dan dirinya
hingga aku sadar betapa pentingnya kasih sayang
ada banyak malam saat aku menangisimu
menangisi ketiadaanmu dan meneriaki gelap yang tak turut menghisapku
tumpah bukan kata terbaik untuk menggambarkan ruah air mataku
jiwaku hancur..
lantak dalam liatan gelombang tertinggi
ada banyak sesal yang ingin kukatakan padamu’
dan banyak maaf yang tak akan terdengar lagi olehmu
tapi di atas tumpukan rasa yang semakin membuatku gila