Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Jeritan, Kelam, Kerinduan dan kenangan, Asa, Sunyi dan Sepi, Resah, Gelisah dan Sedih, Teruntuk, Dendam dan Emosi, Renungan on Maret 4th, 2009 5 Comments »
Diandra, aku sengaja datang hari ini untuk menemuimu. Tapi kenapa kamu tak ada? Kamu ada di mana, Diandra? Lalu aku melongok ke kamarmu. Hm, kamar kita, tempat di mana kita selalu habiskan malam berdua, bercerita tentang indahnya hari, bercinta demi hadirnya sang buah hati. Tapi tetap tak kulihat kau di sana. Tak ada kau di pembaringan yang selalu menyambutku dengan senyum mesra dan tatapan hangat. Kamar itu kosong, bahkan selembar kain spreipun tak terlihat menempel di singgasana cinta kita itu. Kuhela nafasku panjang, merasakan perihnya dadaku.
Sembilan bulan,
Tubuhku menyulam sebuah mahakarya
Mahakarya pemujaan cinta
Dengan sebersit sukma melekat padanya
Teraba denyut jantung indah bernada
Mengalun lembut tenangkan jiwa
Sesekali gerak tubuh nyata terasa
Bergetar, bergelombang, bergeliat, gelitik raga
Elus lembut sang penanam sentuh rasa
Kedamaian hati menyembul dari balik duka
Duka yang terkadang tiba ketika sakit mendera
kulukis bayangmu di kanvas rembulan
untuk mengenang setiap tetes peluh
yang mengucur deras dari tubuh
kala orang masih asyik memeluk selimut
kau telah bergelut dengan embun
yang menempel di pohon-pohon sagu
berbekal semangat dan kerja keras
mengais rezeki dari putih sarinya
Sapaan rindu…
Hangat rasa nya berada di tengah dekapmu..
Tapi sesak…
Kau terlalu erat memelukku…
Tenang rasa nya di sekeliling barisan panjangmu..
Tapi lelah…
Aku terlalu lama menunggu…
Bersamamu harus penuh rasa sabar..
Karena bukan hanya aku yang mencintaimu..
Semua mencintaimu.. semua menyayangimu…
Semua ingin selalu di dekat mu…
Sampah-sampah itu juga…
Gerimis masih meratap
Basah
Sendiri, semuanya lepas
Kosong
Dan aku menangis
Bukan untuk kamu
Lagi
Masih menatap genangan air itu
Lekas gerimis lagi
Menangis lagi
Terus lepas lantas lekas hilang bekas,
Lagi, lagi, lagi, dan lagi-lagi bukan untuk kamu
Aku menangis ini gerimis
Menggenang melinang
Masih kosong
Satu hari
Dan hanya satu hari itu yang paling kuinginkan dalam hidupku
Tidak hari yang lain
Tidak saat yang lain
Hanya hari itu
Satu hari, Bu…
Cuma satu hari biasa..
Hari yang dimulai oleh suaramu membangunkanku
Hari dimana kita menghabiskan waktu sarapan berjam-jam
Dan hari dimana kau memaksaku untuk tetap tinggal bersamamu
Hari seperti hari-hari yang lalu
Hari yang tidak pernah kupikir akan kurindukan sebelumnya
Posted in Puisi, Teruntuk on Januari 30th, 2009 2 Comments »
aku berdoa untukmu dari hatiku
dari hati yang pernah kau sentuh
dan selalu ingin menyetuhmu
semoga abadi bahagiamu
semoga tangan yang ingin kau genggam menyambutmu
semoga aroma yang kau rindukan dapat kau hirup
dan semoga hati yang ingin kau peluk mencintaimu selamanya
Posted in Puisi, Asa, Teruntuk on Januari 30th, 2009 1 Comment »
Aku ingin menjadi pagimu
Merangkul mentari dengan embun sahaja menggores hari
Aku ingin menjadi siangmu
Mengobar sinar surya dengan hangatnya sepoi angin menari
Meneteskan peluh keringat, meranggas kibaran semangat
Aku ingin menjadi soremu
Menelan bulat matahari senja, memerahkan semesta
I trust to you many times
And I think
It won’t comes to an end
I’m in your side
I hold you many times
And I think
It won’t comes to an end
Permanent link to this post (34 words, estimated 8 secs reading time)
Detak jantung berdentang bahagia
Ketika berdiri di ambang kehidupan baru
Kidung indah menyambut syahdu
Memijak karpet merah bertabur asa
Cahaya berkilau memandikan suasana
Harum puspa semerbak penuhi jiwa
Bertumpu lutut di hadapan Sang Pencipta
Satukan hati dalam janji suci cinta