Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
- untuk Anna Maria
Kau teguk sisa-sisa hujan dalam cawan itu. Yang isinya berbiak dalam perutmu. Lalu di saat rahimmu bergolak dasyat, kau namai dia Malam.
Kau mengguyurnya dengan tubuh hujanmu. Menisiknya ke dalam selimut petang. Dan meniupkan pijar pengampunan dalam dinding kamarmu yang sesak padat.
Aku hanyalah kepingan-kepingan jiwa yang berserakan di lantai tempatmu menapak
Tak bernilai jika dibandingkan kilauan cahaya yang tersimpan di sudut matamu
Aku hanyalah senyuman pahit pada kopi hitam pagi harimu
Mencoba merangkak dari pinggir gelas untuk menyentuh bibirmu yang ranum
Posted in Puisi, Asa, Teruntuk on Juni 26th, 2008 No Comments »
Mungkin memang saatnya berakhir..
Meski masih ada sedikit harap tersisa
Entahlah, tapi ku harus pergi, meninggalkan, berpaling dan melupakan..
Berbahagialah…
Apapun yg ada dalam genggaman
Jadikanlah yang terindah
Kasih tak sampai hanyalah mimpi
Biarlah semua menjadi bintang dilangit
Dan kan kutemukan sesuatu yang indah
manusiaku tak bisa bergerak lagi
rantai kemiskinan semakin kuat, semakin rapi
desas-desus menjadi api dan darah
hilang kebanggaan sebagai penghuni negeri ini
hanya meninggalkan sepotong angan-angan
untuk mereka yang selanjutnya
dan hanya lewat mimpi
negeri gemah ripah loh jinawi dapat ditemui
Lara mesra memelukku
Remukkan ketegaran kalbu
Dengan balutan belati yang rapi
Mencabik tiap kisah jadi mimpi
Kini kau hadir dengan duniamu
Penuh pelangi dari warna suci
Dari matamu terlukis hati yang jernih
Dari tuturmu terhembus jiwa yang santun
Dari senyumu terpancar sunar yang tulus
sebelum aku benar-benar pergi
bisakah kau buatkan aku segelas teh secangkir kopi
tanpa gula
tanpa kata-kata
tanpa pemanis buatan
sebelum aku benar-benar pergi sayang
pada senja yang kau lipat sebagai ingatan
simaklah aksara kerinduanku yang akan datang
bahwa di hadapan keanggunan senyummu
Kau seharusnya menjadi sang surya
yang menyambut kami dengan hangat
dan tak lelah melindungi dari gelap
Kau seharusnya menjadi sang surya
yang menguraikan tetesan hujan
menghiasi dunia dengan warna pelangi
Tapi lihatlah dirimu?
Apa yang kau lakukan?
Kau bukan sang surya yang hebat
Kau hanya… dirimu yang biasa
Ketika hati bicara …
Ketika sayang tercurah …
Ketika hidup berliku …
Ketika asa terputus …
Kau buat ku ceria …
Kau limpahkan hidupmu untukku …
Kau bimbing ku mengarungi hidup …
Kau selalu ada untukku …
Ketika badai menghantam …
Ketika kawan menjadi musuh …
Ketika gelombang luluh lantakkan …
Ketika ku terpuruk …
Tuhan,
Akankah ia tahu
Bahwa aku selalu berdoa untuknya
Bahwa aku selalu menantikan sosoknya
Bahwa aku selalu melamunkan senyumnya
Karena Tuhan,
Mungkin aku sedang jatuh cinta padanya
Dan Tuhan,
Aku pun masih berharap
Bahwa ia akan berdoa tentangku
Bahwa ia akan menantikan sosokku
Bahwa ia akan melamunkan senyumku
Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah
pasti jawabannya adalah kehamilan. Seberapa jauh pun jalan yang harus
ditempuh, seberat apa pun langkah yang mesti diayun, seberapa lama
pun waktu yang kan dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu
kepastian dari seorang bidan; “positif”.