Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
hanya diam yang aku punya
saat seribu pertanyaan menderaku
tersudut pada keadaan
dan waktu terus menyeretku
aku masih saja diam
satu persatu memaksaku berbicara
namun aku hanya bisa diam
biarkan pertanyaan ini tetap,
menjadi pertanyaan selamanya
mengeja lewat sorot mata
serta likuk raut wajah
dan tak akan satu kata pun keluar
Tiap malam aku selalu melewati malam-malam yang sunyi, namun bagiku kesunyian adalah teman yang selalu ada saat aku bahagia dan berduka. Ketika malam datang aku akan merasa bahagia karena bagiku itu adalah duniaku, dunia yang penuh dengan kesunyian di mana pun aku berada. Di tengah hiruk-pikuk aku selalu merasa sepi dan sunyi. Mungkin orang bilang aku aneh, tapi aku bukan aneh, aku adalah aku. Aku hanya menyukai kesendirian aku sangat menikmati tiap detik kesunyian yang aku lalui dengan ditemani secangkir kopi dan sederet memori di masa lalu merupakan rutinitas yang kulalui di malam hari sebelum aku berangkat kerja dan di pagi hari aku tidur. Mungkin kalian pikir aku adalah kelalawar yang membuka matanya di kala matahari tenggelam dan menutup matanya di saat matahari terbit, tapi aku tidak sama dengan mereka karena mereka lebih beruntung dariku, mereka bisa mencari makan dan mendapatkannya dengan gratis.
Rintik-rintik hujan kembali membasahi bumi. Aku masih terdiam dalam keheningan di kamarku. Sesaat kemudian, gemuruh rinai hujan menyeruak lamunanku. Aku tersadar. Hujan telah turun.
Aku memandang keadaan luar dari jendela kamarku. Riak-riak air berlompatan di jalanan beraspal. Dedaunan ikut melambai meramaikan suasana. Angin bergerak dengan lincahnya, berlari-larian bak anak kecil bermain layang-layang, menyibak udara senja yang semakin dingin. Awan-awan pekat bergelayut di lazuardi yang semakin kelam. Menutup semua kebiruan yang kini telah menghilang.
Membayangkan seraut wajah yang tak nyata itu membuatku ingin melakukan sesuatu pada khayal itu. Kubayangkan kamu terbawa angin yang tak keras namun lembut, seperti yang biasa menerbangkan nyiur – nyiur di pantai. Dan kamu akan melayang perlahan dari singgasana yang tak nyamanmu itu menuju tempat yang berhingga namun aku tahu kamu akan bahagia walaupun hanya merupakan sebuah tempat yang mungkin tak kan pernah ada yang abadi di dalamnya, kecuali cinta.
Malam ini purnama sedang penuh. Bulan benderang begitu bundar. Bercahaya menyinari seperti lindungan ibu dalam dekapan yang menjelma dewi malam dan aku memperoleh restu di wajahnya yang bulat. Membuat langit hitam tak begitu gelap. Dalam rindang hutan pekat melarut lewat hembusan angin yang dingin. Bukan gulita sebab mataku masih bisa melihat. Hanya lindap dan kudapati kunang-kunang berkerlip, mengganti bintang yang tiada.
13 Juli 2004
Seorang lelaki berjalan menjauh, memunggungi perempuannya yang hari itu sudah bukan lagi perempuannya. Tidak ada saksi selain dua orang yang sudah tidak lagi satu hati. Aku dan dia. Bukan lagi kami.
13 Juli 2005
“Aku bosan saja denganmu!”
Suamiku melenggang enteng meninggalkanku. Bosan, bosan denganku, alasan apa itu? Dia pikir aku ini apa? Barang mainan yang dilempar begitu saja, ketika rasa bosan menghampiri. Aku istrinya, istri yang sah, yang dia nikahi hampir tiga belas tahun. Yang telah ikhlas sebagai tempat mani-nya, dan telah melahirkan tiga anak darinya. Aku tidak mandul, aku istri yang bisa juga mencari uang. Aku istri yang bekerja, tidak hanya tinggal di rumah dan menggantungkan nafkah darinya. Aku juga melayaninya di ranjang. Lantas, apa? Apa kurangku?
Posted in Cerpen, Sunyi dan Sepi on Desember 18th, 2008 1 Comment »
Angin dingin menerpaku. Aku bisa merasakan suhu tubuhku hampir mendekati titik beku. Kulihat keadaan diriku saat ini. Di pagi yang buta berada di jalanan. Tanpa pelindung yang mengahalangi hembusan sang subuh. Memang angin tidak terlalu kencang, tapi cukup membuat tubuh menggigil karena matahari belum menampakkan diri. Masih bisa kulihat bulan di pucuk langit Barat. Menghiasi langit gelap tanpa awan sedikit pun.
Lewat pukul lima sore, hujan pertama baru merampungkan tetesnya. Udara kering berganti udara lembab. Matahari muncul lagi, langit sudah sedikit lebih terang. Kaca-kaca gedung bertingkat dan atap-atap seng perumahan penduduk kembali mengkilap. Got-got kembali berair, dan katak sudah boleh keluar sarang.
Tono adalah panggilannya, si Lajang Lapuk adalah julukan yang diberikan orang-orang kampung padanya, sedang namanya sendiri adalah Hartono Bin Husin: ‘Husin’ adalah nama yang ia bubuhi sendiri di belakang namanya setelah jelas ia tak punya data apa-apa tentang kedua orang tua kandung. Sembarangan saja, sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan penanda hubungan keluarga seperti lazimnya pada nama-nama keluarga muslim. Tapi satu hal yang boleh dipuji: dia punya slogan bagus, “kesendirian berarti kemerdekaan penuh dan kebahagiaan dalam kesedihan yang utuh”.