Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Kerinduan dan kenangan, Khayalan, Asa, Sunyi dan Sepi, Resah, Gelisah dan Sedih on Januari 17th, 2009 4 Comments »
Seberkas sinar menyilaukan menusuk pupil mataku, membuatku mengerjap perlahan. Tapi tunggu! Di mana saat ini aku berada?!? Lalu kubuka mataku, namun sinar putih itu menembusnya tajam hingga membuatku kembali memejamkannya. Saatku kembali terpejam, memoriku kuputar kembali ke beberapa waktu lalu, yang kuyakin dengan begitu aku akan tahu jawaban dari pertanyaanku, di mana aku saat ini.
Suara gemuruh derasnya air sungai membuat kicau parkit terdengar samar. Udara mulai dingin namun aku belum beranjak dari tempat dudukku. Entah kenapa rasa rindu itu kembali melintas di benakku. Ya, rasa rindu akan sosok seorang ibu. Waktu itu tepatnya 6 tahun. Saat-saat itu masih terekam jelas di benakku. Senja yang hendak membenamkan diri menjadi saksi bisu kepergian ibuku, setelah beberapa tahun kanker mengerogoti tubuhnya. Setelah kejadiaan itu aku hanya hidup berdua dengan ayahku yang seorang pemabuk. Hari-hari kulalui dengan penuh beban dan aku merasa tertekan dengan keadaanku sekarang. Dengan terpaksa aku harus putus sekolah karena ayahku tak lagi mau membiayai sekolahku. Dalam hatiku ingin rasanya aku berontak, ingin rasanya aku menangis kenapa aku jadi begini?
Tak ada keistimewaan berarti pada rumah itu. Rumah besar nan indah yang terletak tepat pada posisi ujung mulut atau sebagai penyambut pertama dari sebuah gang berukuran sedang – satu dari sekian gang yang tersebar di seantero kota penghasil minyak bumi terbesar di Tanah Jawa. Sekilas rumah itu memang apik. Begitu megahnya ditopang pilar-pilar yang cukup tinggi dan besar sehingga lebih pantas disebut kastil – diaksesoriskan dengan taman yang menyelimuti hampir seluruh pekarangan yang terhampar, dan di dalamnya berbagai rumpun bunga liar berhuni – yang meski tak terurus namun terlihat bagai seni yang amat bernilai di kedua belah mata siapapun. Belum lagi pagar kastil yang jangkung dan amat kokoh, siap sebagai tameng kastil besar itu. Pahatannya yang berduri-duri pada bagian mahkota, siap menghujam siapa pun yang berani masuk tanpa ijin, secara diam-diam.
Kebahagiaan tidak ada di dunia ini. Takkan pernah ditemui di mana pun. Yang ada hanya kepahitan, getirnya hidup. Begitu pula ketika ia menemukan cinta. Sebelum tumbuh yang terasa cuma lara. Bagai belati menancapi hatinya, darah muncrat seperti mata air. Sebab cinta itu luka.
Aku merelakan segala nuansa sedih senang tak lagi kurasa
Aku buta
Aku tuli
Aku bisu
Aku lumpuh
Tak lagi aku dapatkan kasih
Tak lagi aku meraba cinta
Tak lagi aku berkata sayang
Aku manusia
Tapi bukan
Aku dengar
Tapi tuli
Posted in Puisi, Sunyi dan Sepi on Desember 28th, 2008 No Comments »
sunyi sepi..
aku benci.
sendiri kini..
aku benci.
sunyi sepi,
aku sendiri.
huh.. aku benci pada sunyi.
aku takut sepi…
tak butuh sendiri.
sepiku dalam sunyi.
sendiri kini.. aku benci.
Permanent link to this post (31 words, estimated 7 secs reading time)
Hai namaku Sandy. Aku adalah seseorang yang tak peduli dengan perasaan, jatuh cinta atau peduli tentang orang lain. Aku acuh dan ketus. Semua orang hampir sama opininya tentang aku, yaitu aku adalah orang yang sombong. Aku akui diriku memang tak begitu suka dengan puji-pujian maupun sanjungan, aku lebih suka kritikan dan opini tentang aku. Mungkin aku adalah orang yang aneh, tapi jujur aku memang orang yang tak begitu tahu tentang logika orang-orang sekitarku. Mereka seperti tak menganggap diriku ada di sekitar mereka.
Hidup yang tak dipertanyakan adalah hidup yang sia-sia
-Plato-
Rumah sakit jiwa yang terletak di sudut kota itu, benar-benar membuat siapa saja yang lewat akan menutup telinganya. Bising. Seperti dipenuhi oleh ribuan manusia yang terperangkap dalam sebuah bola kaca.
“Dokter Susilo, ada pasien baru di ruang tiga, seorang polisi menemukannya di sebuah jalan kemarin,”lapor seorang suster.
Warna-warni itu…
tak tajam tapi menusuk
ketika gerimis datang…
aura untuk merefleksei
Kusadari… diri ini hanya serpihan…
yang tersesat di padang ilalang
Ketika semuanya sama
kurindukan alunannya
yang menghembus ke sanubari
dan membawaku terbang
Hingga aku merasa
tidak kalah tinggi dari awan
Diterangi gemerlap bintang
hamparan angan menuntunku
This is a preview of
Hingga Aku Merasa ( Cracker Sky And The Crosspoar Train lyric )
.
Read the full post (66 words, estimated 16 secs reading time)
Bagaimana bisa aku tidak mencintai batangan-batangan nikotin kalau hanya merekalah teman paling setia di dunia ini, yang menemaniku saat sedih, senang, tertawa, menangis, bernyanyi, berdansa, berteriak, marah, bahkan putus asa. Menemaniku sebelum makan, saat makan, sesudah makan, sebelum menutup mata mengakhiri hari bahkan kembali membuka mata mengawali hari. Dengan setia menemaniku di atas kloset tanpa cerewet, diam ikut merenung bahkan turut menyumbang inspirasi tersembunyi dalam bilik sepi. Adakah yang lebih setia dari itu?