Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Luluh melantak hasrat yang ku bekap lama dalam lamunan
Hangat khayalan yang tiap detiknya basuh kenangan
Sekejapan mata menguap ditelan angin
Menjejakkan tiada dalam jiwa
Hampa
Kosong
Tak bernyawa
Lalu…
Tiada berhasrat pada merindu kemudian
Permanent link to this post (36 words, estimated 9 secs reading time)
Sendiri dalam kesepian
Ingin pergi namun tak mau pagi
Ingin pulang namun semua hilang
Suaraku bisu
Seperti mulut yang palsu
Mataku buta
Seperti mata yang tak bicara
Lalu kemana aku harus lari?
Kau pergi tak sendiri
Aku kembali tetap berdiri
tak ditemani
dimana nyalimu saat itu???
tiba tiba saja hati ini merasa biru
merasa lelah dengan semua yang ada
merasa sangat letih,
ingin berhenti dan menyerah saja
rintik hujan menemani kisahku
menepikan segala akal sehatku
memilin indah rindu ini,
tapi menagapa begitu menyiksa?
Ini adalah jendela terindah yang kutemui sepanjang perjalananku menyusuri daratan Cina. Pemandangan terhebat yang pernah kulihat. Begitu lengkap dan luas. Lebih lengkap dan luas daripada pemandangan dari jendela Dragon Air, ‘Naga langit merah’ yang membawaku terbang dari Beijing ke Shanghai. Jendela pesawat tentu lebih tinggi, tapi hanya memperlihatkan sepotong kecil pemandangan belantara awan dan langit biru. Hanya seluas jendela pesawat itu saja.
bila tiba waktuku
jangan menangis
jangan sedikit pun airmatamu terjatuh
bumi ‘kan jadi saksi
begitu kelam menguasai mimpi
disaat kehilangan menyelimuti hatimu
sungguh sayang kan selamanya
Kau penaku…
Tiada setetes ‘kan terlupa
Selalu menyertai di segala rasa yang ku punya
Bukan hanya secarik kertas tercipta
Namun beribu warna kau tebarkan dalam ruang hatiku
Ku untai kata tanpa batas
Tiada sela hanya lorong gelap
Mungkin waktu tak ‘kan banyak ku miliki
Sebelum semua dunia tenggelam
Dari angan yang tiada tergenggam
tergores kata ‘tukmu dengan ketulusan sayang yang ‘kan selalu bersahabat
Permanent link to this post (90 words, estimated 22 secs reading time)
Posted in Puisi, Asa, Sunyi dan Sepi on Oktober 29th, 2008 No Comments »
Tiada lagi yang dapat ku papar…
Tiada lagi asa yang teringin
Menyelinap hening dalam kabut
Sulit mencerna hidup
Goresan pena tiada lagi tercurah
Sedang titisan kalbu menangis dibalik awan
Jiwa Memang tak pantas dalam catatan hidup mu
Namun biarlah ku selipkan senyuman
Diatas senyuman lukaku
Hingga ternitikan bahagiaku meski jauh aku gapai…
Permanent link to this post (53 words, estimated 13 secs reading time)
Jenjang hidup yang tiada henti
Diiringi hati yang kadang tak terarah
Seribu ingin ku selalu berbuat untuk Mu
Namun seringkali ku terjatuh dalam jurang
Berbelok ke angan yang terlalu gelap
Kadang jiwa tertawa dalam ketidaksadaranku
Sedang hati merintih bersama penyesalan
Posted in Puisi, Sunyi dan Sepi on Oktober 22nd, 2008 3 Comments »
Haruskah aku tetap berharap
Sedang kutahu asaku tiada tergapai
Terlalu jauh…
Akankah aku tetap menunggu
Sedang kupasti penantianku
Tiada berhujung…tiada tepi
Hariku berlalu tiada irama,
Tiada warna.
Hampa tiada makna
Kerinduanku ibarat bayang
Keinginanku laksana kabus
Ada…namun tiada
Wujud..tiada tersentuh
Kala rembulan tak bersinar
Ku terpaut sendiri
Sepi…lamunan tiada arti
Hati kian jadi beku
Kala sang bintang ditelan malam
Ku telusuri angan tanpa pasti
Hampa…menggores luka
Masih kulangkahkan khayalan tanpa henti
Kala angin mengusik raga
Ku pikirkan yang tak ku mengerti
Kosong…membatu…
Termenung ku dalam keangkuhan
Mengapa hari begitu kelam
Di saat engkau tak lagi dekat
Tertinggal bayang yang selalu menemani
Kau pergi…
Membawa kata
yang tiada lagi menerangi indahnya lentera hati
Hati begitu hitam
Sampai ternangis tanpa jejak
Diikat erat kehampaan
Kini sepiku kembali datang
bersama hujan yang tiada mereda