KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Sunyi dan Sepi'

Di manakah cinta?
Apabila cinta bermain akrobat di belakangku…
Bila cinta bersembunyi di balik selimut palsu
Bila wajahnya pun bersembunyi di balik topeng
Sehingga belaian hanyalah sebuah bayangan semu

Di manakah cinta?
Bila bibir seperti sayat belati…
Bila mata seperti api menjalar..
Bila langkah menjadi terseret-seret
Sehingga terhempas debu dan angin kencang

Aku terus menulis…
Goreskan semua rasa dan asa…
Harapkan sebuah kepuasan,
harapkan sebuah makna, tapi tak kutemukan semua…

Lagi-lagi aku hanya menulis sebuah kekosongan,
kosong yang membuat hati tersesak perih…

Aku yang selalu merasa kosong
tak mampu mengungkap rasa
selalu diam menghadapi semua

Diandra, aku sengaja datang hari ini untuk menemuimu. Tapi kenapa kamu tak ada? Kamu ada di mana, Diandra? Lalu aku melongok ke kamarmu. Hm, kamar kita, tempat di mana kita selalu habiskan malam berdua, bercerita tentang indahnya hari, bercinta demi hadirnya sang buah hati. Tapi tetap tak kulihat kau di sana. Tak ada kau di pembaringan yang selalu menyambutku dengan senyum mesra dan tatapan hangat. Kamar itu kosong, bahkan selembar kain spreipun tak terlihat menempel di singgasana cinta kita itu. Kuhela nafasku panjang, merasakan perihnya dadaku.

Gerimis masih meratap
Basah
Sendiri, semuanya lepas
Kosong
Dan aku menangis
Bukan untuk kamu
Lagi

Masih menatap genangan air itu
Lekas gerimis lagi
Menangis lagi
Terus lepas lantas lekas hilang bekas,
Lagi, lagi, lagi, dan lagi-lagi bukan  untuk kamu
Aku menangis ini gerimis
Menggenang melinang
Masih kosong

Aku lelah menunggu

Menunggu kejelasan yang tak pasti darimu

Menunggu semua bualanmu

Menunggu semua omong kosongmu

Kau terlalu terbuai mimpimu

Terlalu terlena dengan semua cerita

Cerita yang membuatku luka

Kau terlalu sering berjanji

Terlalu sering aku kau sakiti

Aku hanya dapat merintih luka

bimbang…

galau…

pusing…

pintu itu akhirnya terbuka

tanpa diketuk…

tanpa permisi…

benteng itu telah roboh…

sekarang ada yang mendiaminya…

bersemayam…

dan tak mau diusir…

bukan…

bukan tak mau…

tapi tak bisa..

terbuka…

setelah sekian lama dikunci

berisi…

Hari ini adalah hari pertama aku menempati kamar kost baru di kota Yogyakarta, tepatnya  di Jalan Timoho. Aku terpaksa pindah dari kost lama karena ada suatu masalah yang tak ingin kuceritakan di sini.

Daun, Ranting, dan Rasa

Helai demi helai daun kering berguguran.

Ranting demi ranting patah rapuh tak betulang.

Menanti rintikan hujan dari Tuhan, dan pasti daun ranting akan senang.

Begitu pula ruang kecilku, menanti rintikan rasa yang tulus dari tuan.

Agar ruang ini tak kering kerontang.

Dini hari di awal bulan Juni 2007

Aku terjaga dari tidur yang tak lelap. Meratapi tiap tetes air yang jatuh di beranda.

“ Nena, kau di mana?”

Awal Januari 2006

Aku jumpai wajahmu di sebuah tabloid mingguan ternama. Sebagai model pakaian pengantin.

Perlahan Anisa memasukkan kerudung merah ke dalam kardus. Hatinya hancur berkeping – keping. Semangat hidupnya kini memudar. Air matapun tak henti berderai. Jengkerik malam meringkik perlahan mengiringi jatuhnya buliran air dari pelupuk matanya. Malam itu begitu sunyi, sesunyi hatinya yang sangat terluka. Jam di dinding baru menunjukkan pukul 11 malam. Mata Anisa tak bisa diajak tidur. Hatinya sangat sakit. Dia merasa menjadi wanita yang paling malang di dunia. Selalu dicampakkan oleh lelaki yang dicintainya. Ada sejuta tanya bergayut di hatinya. Mengapa dalam percintaan selalu dia dicampakkan oleh pria yang dicintainya? Rasanya dia sudah tidak kuat menanggung derita dihatinya, hingga beberapa kali dalam sholat tahajutnya dia mohon pada Allah untuk dicabut saja nyawanya. Dia tahu itu tidak pantas dilakukannya, namun hatinya serasa tlah patah, remuk redam.

Next »