Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Malam telah menampakan kuasanya
namun mataku sulit terpejam
isi kamar ini perlahan-lahan mulai kabur
sampai akhirnya berubah menjadi hitam pekat
suasana sepi semakin bertambah sunyi
alam sadarku pun mulai berubah antara sadar dan tidak…
perlahan-lahan kucoba menyibak
satu persatu keinginan hatiku …….
Sejak pagi ku menanti dirimu kembali
namunEngkau tak jua terlihat
hanya terpampang dalam khayalku
Hingga senja menjemput malam
dan pancaran cahya rembulan pun telah berpijar ‘tuk terangi gelapnya malam
Engkau pun tak kunjung datang
Diam,
jarak dan musim yang berlari
T’lah ku tautkan padanya
sisi hati yang tak pernah letih
Hanya mengingatmu wahai kekasih
Ku kejar asa cinta
ia berlari pergi menjauh
Ketika ku hanya diam dan pasrah akan cinta
ia kembali datang menghampiri.
Di sini,
aku menatap kilau kemilau kembang api
sendiri…
Cahayanya menyibak wajahku yang tersapu angin malam
Ribuan bahkan jutaan kenangan melintas
mengusap air mataku…
Di sini,
Aku mendengar dentum-dentum kecil kembang api
suaranya terasa memekakkan telinga
karena aku hanya sendiri…
Satu
Masih pagi, bahkan terlalu pagi. Udara dingin serasa menusuk tulang dan kabut masih tebal memenuhi jalanan yang juga masih sepi. Beberapa orang yang baru turun dari masjid melewati jalan itu. Sementara dari masjid itu juga masih terdengar orang mengumandangkan wirid dan puji-pujian, dan dari langggar sebelah sana agak jauh dari rumahmu masih terdengar pengajian usai subuh.
Penantian sungguh menyengsarakan badan
Raga tak berdaya, jiwa pun merana
Bertanya-tanya tanpa jawaban kepastian
Berjalan tak tentu arah, tak tahu hendak ke mana
Engkau yang di sana, aku yang di sini
Tempat kita berjarak, jiwa kita tak pernah satu
Sengaja aku meluapkan isi hati ini
Agar cinta yang bersemi tidak diam membatu
Ketika sayap-sayap t’lah patah
Ketika aku tersesat kehampaan
Dan tiba-tiba kau menghilang
Menjadi penerang si kumbang liar
Aku marah
Aku kecewa
Sayap-sayap yang kurajut
Yang kurajut tangis dan tawa
Sedih dan gembira
Musnah seketika
Lenyap tiba-tiba
Hilang melayang… terbang
Ajarkan padaku
nyanyian kesunyian
tarian kesepian
dan musik kematian
Biar detak-detak nafasku terhenti seketika
dan kau berhenti menggerutu
tentang berisiknya
cericit si burung kecil ini
menyanyi di depan kamarmu
TEMBAK AKU DENGAN REVOLVER AYAHMU!
supaya mati aku
tanpa kepedihan
Permanent link to this post (40 words, estimated 10 secs reading time)
Saat ku mulai lelah…
Anganku mengayuh langkah tiada henti
Sampai suatu saat…
Ku terpuruk dalam kehampaan
Ku tersesat dalam lorong sepi
Di sini, ku sendiri dalam lamunan…
Hingga tetap ruang di hatiku
Hanyalah kosong…tiada tepi…
Ku ingin seulas senyum dan keikhlasan dari hati…
Kutersudut di ujung tembok yang gelap
Di kala hati mati terkuras luka
Menganga menimbulkan nanah berbau bangkai
Ku tak sanggup
Ku tak mampu…..
Tutupi luka dengan tangan ini
Terlalu lebar hingga tangan ini tak patuh
Terlalu dalam hingga menembus punggung