KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Sunyi dan Sepi'

Malam telah menampakan kuasanya
namun mataku sulit terpejam
isi kamar ini perlahan-lahan mulai kabur
sampai akhirnya berubah menjadi hitam pekat

suasana sepi semakin bertambah sunyi
alam sadarku pun mulai berubah antara sadar dan tidak…
perlahan-lahan kucoba menyibak
satu persatu keinginan hatiku …….

Sejak pagi ku menanti dirimu kembali
namunEngkau tak jua terlihat
hanya terpampang dalam khayalku
Hingga senja menjemput malam
dan pancaran cahya rembulan pun telah berpijar ‘tuk terangi gelapnya malam
Engkau pun tak kunjung datang

Diam,
jarak dan musim yang berlari
T’lah ku tautkan padanya
sisi hati yang tak pernah letih

Hanya mengingatmu wahai kekasih
Ku kejar asa cinta
ia berlari pergi menjauh
Ketika ku hanya diam dan pasrah akan cinta
ia kembali datang menghampiri.

Di sini,

aku menatap kilau kemilau kembang api

sendiri…

Cahayanya menyibak wajahku yang tersapu angin malam

Ribuan bahkan jutaan kenangan melintas

mengusap air mataku…

Di sini,

Aku mendengar dentum-dentum kecil kembang api

suaranya terasa memekakkan telinga

karena aku hanya sendiri…

Satu

Masih pagi, bahkan terlalu pagi. Udara dingin serasa menusuk tulang dan kabut masih tebal memenuhi jalanan yang juga masih sepi. Beberapa orang yang baru turun dari masjid melewati jalan itu. Sementara dari masjid itu juga masih terdengar orang mengumandangkan wirid dan puji-pujian, dan dari langggar sebelah sana agak jauh dari rumahmu masih terdengar pengajian usai subuh.

Penantian sungguh menyengsarakan badan
Raga tak berdaya,  jiwa pun merana
Bertanya-tanya tanpa jawaban kepastian
Berjalan tak tentu arah, tak tahu hendak ke mana

Engkau yang di sana, aku yang di sini
Tempat kita berjarak, jiwa kita tak pernah satu
Sengaja aku meluapkan isi hati ini
Agar cinta yang bersemi tidak diam membatu

Ketika sayap-sayap t’lah patah

Ketika aku tersesat kehampaan

Dan tiba-tiba kau menghilang

Menjadi penerang si kumbang liar

Aku marah

Aku kecewa

Sayap-sayap yang kurajut

Yang kurajut tangis dan tawa

Sedih dan gembira

Musnah seketika

Lenyap tiba-tiba

Hilang melayang… terbang

Ajarkan padaku
nyanyian kesunyian
tarian kesepian
dan musik kematian

Biar detak-detak nafasku terhenti seketika
dan kau berhenti menggerutu
tentang berisiknya
cericit si burung kecil ini
menyanyi di depan kamarmu

TEMBAK AKU DENGAN REVOLVER AYAHMU!
supaya mati aku
tanpa kepedihan

Saat ku mulai lelah…

Anganku mengayuh langkah tiada henti

Sampai suatu saat…

Ku terpuruk dalam kehampaan

Ku tersesat dalam lorong sepi

Di sini, ku sendiri dalam lamunan…

Hingga tetap ruang di hatiku

Hanyalah kosong…tiada tepi…

Ku ingin seulas senyum dan keikhlasan dari hati…

Kutersudut di ujung tembok yang gelap
Di kala hati mati terkuras luka
Menganga menimbulkan nanah berbau bangkai
Ku tak sanggup
Ku tak mampu…..
Tutupi luka dengan tangan ini
Terlalu lebar hingga tangan ini tak patuh
Terlalu dalam hingga menembus punggung

Next »