Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
dalam keyakinku aku percaya
bahwa kepergianmu bukan untuk sementara
memori tentangmu penuh
memenuhi langi-langit pikiranku
ketika lelah mendatangiku
setitik asa menguatkanku
memintaku bertahan, sebentar saja
aku pun terbang bersama harapan
berharap bisa membawamu kembali
ya, aku akan selalu di sini
Belum pernah aku lapar selapar hari itu. Rasa lapar yang serasa membakar perutku. Perih yang menghujam-hujam tiada henti. Bekerja seharian, tujuh hari dalam seminggu, tiga puluh hari dalam sebulan, dan tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun, tiga ratus enam puluh lima dikali dengan 30 tahun. Tapi jangan tanyakan dari tiga ratus enam puluh lima hari itu berapa kali aku makan. Kalau yang kalian bicarakan keidealan orang makan tiga kali sehari, sungguh tak pantas aku jawab pertanyaan kalian. Yang pasti kalian akan ternganga dengan angka yang aku keluarkan. Dan untuk menghitung perkalian-perkalian itu tak mampu lagi otakku ini berpikir. Tak tahukah kalian bahwa untuk menghitung kita butuh tenaga, dan tenaga itu akan kita peroleh dari asupan makanan. Tapi sayangnya energiku habis untuk berlari. Nah. Pada saat mati aku sedang kelaparan. Dan kelaparan inilah yang secara tidak langsung membuat aku mati. Tahukah kalian apa yang membuat aku kelaparan? Ya! Jelas sekali. KEBODOHAN. Sebentar, kalau begitu aku bukan mati karena kelaparan tapi aku mati karena KEBODOHAN. Masih saja kalian tak mengerti. Kalau kalian begini saja tak mengerti bisa juga kalian mati lapar dan haus jasmani dan rohani seperti aku ini. Mungkin akan lebih baik aku menceritakan bagaimana KEBODOHAN bisa membunuhku.
Suara detak jam dinding yang seolah terus berkejar-kejaran kini sudah tak terasa lagi, namun suara tangis masih jelas terdengar dari kamar yang tepat berada di sebelah kamarku. Reina. Ya dia, yang sejak tadi malam terus menangis terisak-isak karena baru semalam ia mengetahui bahwa ayahnya telah meninggal sebulan yang lalu. Ibunya sengaja tidak memberitahu berita duka itu kepadanya karena pada saat itu Reina sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan tugas kuliah, ditambah lagi dengan putus hubungan dengan kekasihnya yang sudah hampir dua tahun ia jalani.
Rintik hujan basahi bumi secara perlahan,
ku termangu menatap langit - langit yang makin rapuh
tergambar kisah ku yang kini seolah tak berujung,
aku mencinta tapi tak tahu sosok yang ku cinta,
aku juga merindu tapi aku tak tahu wujud yang aku rindukan,
rasa ini semakin tak ku mengerti,
apakah ini awal dari kebekuan yang kini ku alami
atau ini awal kematian sebuah asa.
Maka wanita itu tanpa ragu langsung menelan pil-pil merahnya dengan bantuan tegukan air bening dari gelas kaca. Ia tidak menemui kesulitan memasukkan pil-pil itu berbarengan ke dalam perutnya. Ini hanya masalah bagaimana lidahnya bergerak mengatur pil-pil itu untuk berbaris di dalam mulut sebelum terjun melewati kerongkongan terbawa arus air yang masuk. Tenggorokannya nampak naik-turun sementara ia memandangi langit-langit kamarnya. Mulutnya menyedot air di dalam gelas dengan pasti, tanpa jeda, dan selama itu ia menahan napasnya. Bahkan saat gelas itu telah kosong, ia masih menengadahkan wajahnya ke langit-langit untuk memastikan bahwa pil-pil itu sudah tak bersisa lagi di mulutnya. Lima butir pil merah sekaligus. Ia menoleh ke arah jam dinding, lima butir pil merah sekaligus, pikirnya, “Mungkin waktu yang kupunya hanya tinggal setengah jam lagi.”
This is a preview of
Tak Ada yang Bisa Membuat Kopi Sehebat Rosiana
.
Read the full post (3197 words, estimated 12:47 mins reading time)
Kepada pembawa cahaya
Bisakah Tuan seperti surya
yang goreskan jingga
tanda pamit pada senja ?
dapatkah Tuan meniru dayung
yang percikkan buih tanda lambai
harapkan restu pasir pantai ?
setidaknya bisikan sederhana
agar hamba tak hanya
memeluk suara hampa!
setidaknya cahaya mata
supaya pamit Tuan
dapat hamba eja
bukannya hamba haus kata
bukan pula hamba ingin menggelar air mata
tiada niat untuk melihat duka
tapi, apa perpisahan ini harus tanpa tanda ?
Posted in Puisi, Cerita Kehidupan, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Jeritan, Kelam, Kerinduan dan kenangan, Doa, Syukur dan Pujian, Sunyi dan Sepi, Resah, Gelisah dan Sedih, Teruntuk on November 13th, 2008 1 Comment »
Kau mungkin tak tahu betapa hatiku penuh luka saat aku harus membuat keputusan untuk meninggalkanmu. Saat aku menghadapi keadaan yang bisa membunuhku, bahkan membunuhmu ketika aku harus mempertahankanmu. Saat aku merasa sendiri dan sepi, tak seorang pun sudi menghela. Kau tak pernah tahu dan mungkin tak kan pernah tahu.
Tak kuduga, aku masih bisa menatapmu
meskipun hanya dari kejauhan
ternyata kau kembali
kau tak benar-benar pergi
tapi, mengapa kau tak memberitahu aku
kau berbohong tentang kepergianmu
apakah kau begitu membenciku
hingga kau tak ingin lagi bertemu denganku
“Donna hentikan semua ini…!” Aku menjerit sekuat tenagaku.
Donna terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Aku kasihan lalu aku diam saja tak ingin melukainya.
Donna putri seorang konglomerat, cantik, anggun dan ramah. Tak ada kekurangan padanya. Segala yang diminta selalu dikabulkan orangtuanya. Apapun tersedia.
Turun dari angkot bau bensin, Darsih melenggangkan langkahnya hingga di ujung komplek. Ia melirik sekilas pohon pisang di tengah jalan yang ditanam warga kompleks sebagai wujud protes. Sejak keluar dari kantornya ia tak henti-hentinya meringis hingga mulutnya kaku. “Kurang dua bulan lagi dan kami bisa pindah dari rumah bobrok warisan penjajah itu,” gumamnya – mulutnya makin bertambah kaku lagi seperti sedang mengulum gips dokter gigi tua di ujung gang.