KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Resah, Gelisah dan Sedih'

Kamu memang perempuan yang sempurna. Cantik, anggun, pintar, keibuan, populer, kaya, dan mapan. Kamu juga pintar merawat keluarga. Sungguh, kamu benar-benar perempuan sempurna. Semua kelebihanmu itu membuat aku merasa amat cemburu dan tak berharga di hadapanmu. Andai aku bisa sepertimu?

Januari lalu, ketika long weekend, saya menyempatkan diri ke Banyumas, Jatilawang. Tak ada misi berarti, hanya butuh penyegaran, dan mungkin sedikit kepastian untuk masa depan. Bersama Arini, saya berkemas seadanya dan berangkat menuju kota tempat Landung tinggal. Landung, iya, Landung yang itu. Lelaki beraroma senja itu. Benar sekali.

Titik-titik hitam bersayap melambai-lambai kesana-kemari, mereka selalu optimis untuk bermigrasi dengan cuat-cuit suara bergerombol serupa huruf V, terlihat hampir tertangkap oleh gumpalan-gumpalan air bergelombang semakin meninggi bersetubuh bersama sayup-sayup angin sepoi, bergemuruh kian berlari mencipta buih-buih semakin mendekat, menelan kilau-kilau pasir di bibir.

“Maksudmu, menyindir, layaknya orang tak berpendirian maju mundur tak jelas apa maumu?”

Aku hanyalah seorang wanita yang rapuh dan berusaha tegar. Tapi apa daya bagaimanapun aku hanyalah wanita yang butuh kasih sayang, dan bukan untuk disakiti. Dari awal memang aku yang salah. Aku menikahi seseorang karena rasa kasihan. Aku benar benar menyesal. Tak ada kebahagiaan yang aku dapatkan, hanya tangis dan rasa sakit.

Wajahku memang tidaklah cantik, dan kulitku juga tak berwarna cerah. Jadi jangan kamu bayangkan aku seperti seorang Luna Maya atau Asmirandah, karena aku jauh dari mereka. Aku hanya seorang gadis kurus yang jerawatan, dengan kaca mata tebal yang melekat di hidungku, yang orang bilang pesek.

Aku lelah menunggu

Menunggu kejelasan yang tak pasti darimu

Menunggu semua bualanmu

Menunggu semua omong kosongmu

Kau terlalu terbuai mimpimu

Terlalu terlena dengan semua cerita

Cerita yang membuatku luka

Kau terlalu sering berjanji

Terlalu sering aku kau sakiti

Aku hanya dapat merintih luka

Malam berganti malam, hari berganti hari..

seakan tiada hentinya..

perasaan sedih dan senang terus berdatangan..

menunggu suatu saat nanti, di mana kesedihan akan berakhir..

kekasih sejati terpelihara di hati..

kenangan berarti peninggalan dirinya..

seakan kenangan itu

selalu menusuk di hati ini ….

Kebisuan

Ketika kata tak berbahasa

Saat bicara tak bersuara

Apa yang ku tahu

Kehampaan

Kekosongan

Di kala hati lelah berserah

Jika diri tak mau sendiri

Apa dayaku

Kesendirian

Kesunyian

Ketidakpercayaan menemani

Kesepian teman sejati

Pengkhianatan begitu manis

Laki-laki itu merapatkan telinganya pada dinding. Tembok dingin itu nampaknya mengeluarkan suara. Walaupun samar, ia menjadi sangat yakin kalau ada sesuatu di balik dinding kamar kontrakannya itu. Dia semakin merapatkan telinganya pada dinding.

“Itu suara gemerincing apa ya?” batinnya.

“Our deeply condolences over the loss of our brother, Reki, due to his sickness. May his soul rest in peace and the family be strengthen.”
Runi terkejut membaca pesan singkat yang baru saja diterimanya dari Ida. Pesan itu mengabarkan kepergian salah seorang teman mereka, Reki, yang selama hampir dua bulan terakhir dirawat di rumah sakit. Tanpa sadar, air mata mengalir membasahi wajah Runi yang masih terpaku.

« Prev - Next »