Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Jeritan, Kelam, Khayalan, Resah, Gelisah dan Sedih, Fiksi, Dendam dan Emosi, Renungan on Februari 16th, 2009 30 Comments »
Kamu memang perempuan yang sempurna. Cantik, anggun, pintar, keibuan, populer, kaya, dan mapan. Kamu juga pintar merawat keluarga. Sungguh, kamu benar-benar perempuan sempurna. Semua kelebihanmu itu membuat aku merasa amat cemburu dan tak berharga di hadapanmu. Andai aku bisa sepertimu?
Januari lalu, ketika long weekend, saya menyempatkan diri ke Banyumas, Jatilawang. Tak ada misi berarti, hanya butuh penyegaran, dan mungkin sedikit kepastian untuk masa depan. Bersama Arini, saya berkemas seadanya dan berangkat menuju kota tempat Landung tinggal. Landung, iya, Landung yang itu. Lelaki beraroma senja itu. Benar sekali.
Titik-titik hitam bersayap melambai-lambai kesana-kemari, mereka selalu optimis untuk bermigrasi dengan cuat-cuit suara bergerombol serupa huruf V, terlihat hampir tertangkap oleh gumpalan-gumpalan air bergelombang semakin meninggi bersetubuh bersama sayup-sayup angin sepoi, bergemuruh kian berlari mencipta buih-buih semakin mendekat, menelan kilau-kilau pasir di bibir.
“Maksudmu, menyindir, layaknya orang tak berpendirian maju mundur tak jelas apa maumu?”
Aku hanyalah seorang wanita yang rapuh dan berusaha tegar. Tapi apa daya bagaimanapun aku hanyalah wanita yang butuh kasih sayang, dan bukan untuk disakiti. Dari awal memang aku yang salah. Aku menikahi seseorang karena rasa kasihan. Aku benar benar menyesal. Tak ada kebahagiaan yang aku dapatkan, hanya tangis dan rasa sakit.
Wajahku memang tidaklah cantik, dan kulitku juga tak berwarna cerah. Jadi jangan kamu bayangkan aku seperti seorang Luna Maya atau Asmirandah, karena aku jauh dari mereka. Aku hanya seorang gadis kurus yang jerawatan, dengan kaca mata tebal yang melekat di hidungku, yang orang bilang pesek.
Aku lelah menunggu
Menunggu kejelasan yang tak pasti darimu
Menunggu semua bualanmu
Menunggu semua omong kosongmu
Kau terlalu terbuai mimpimu
Terlalu terlena dengan semua cerita
Cerita yang membuatku luka
Kau terlalu sering berjanji
Terlalu sering aku kau sakiti
Aku hanya dapat merintih luka
Malam berganti malam, hari berganti hari..
seakan tiada hentinya..
perasaan sedih dan senang terus berdatangan..
menunggu suatu saat nanti, di mana kesedihan akan berakhir..
kekasih sejati terpelihara di hati..
kenangan berarti peninggalan dirinya..
seakan kenangan itu
selalu menusuk di hati ini ….
Permanent link to this post (41 words, estimated 10 secs reading time)
Ketika kata tak berbahasa
Saat bicara tak bersuara
Apa yang ku tahu
Kehampaan
Kekosongan
Di kala hati lelah berserah
Jika diri tak mau sendiri
Apa dayaku
Kesendirian
Kesunyian
Ketidakpercayaan menemani
Kesepian teman sejati
Pengkhianatan begitu manis
Laki-laki itu merapatkan telinganya pada dinding. Tembok dingin itu nampaknya mengeluarkan suara. Walaupun samar, ia menjadi sangat yakin kalau ada sesuatu di balik dinding kamar kontrakannya itu. Dia semakin merapatkan telinganya pada dinding.
“Itu suara gemerincing apa ya?” batinnya.
“Our deeply condolences over the loss of our brother, Reki, due to his sickness. May his soul rest in peace and the family be strengthen.”
Runi terkejut membaca pesan singkat yang baru saja diterimanya dari Ida. Pesan itu mengabarkan kepergian salah seorang teman mereka, Reki, yang selama hampir dua bulan terakhir dirawat di rumah sakit. Tanpa sadar, air mata mengalir membasahi wajah Runi yang masih terpaku.