Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Saling jotos
sesama saudara yang mengklaim benar
yang satu percaya
akan ini
dan yang lain percaya
akan itu,
dengan keyakinan masing-masing,
siapa benar
siapa salah
siapa yang tahu
masing-masing mengklaim benar,
hingga lakukan hal-hal yang seharusnya tidak perlu terjadi
jalan ini kosong
hati sirna
manusia hanya identitas
cantelan tanpa guna
lintasan kejam
cadasan bengis hidup
menujuk ari mahluk
plantasi kulit besi
nistakan manusia
rasa dan pri
dewakan dewa setan
memuja puji maksiat
geliat lumpur dosa
lumuri manusia
uang kotor
jabatan bengis
kuasa laknat
iman setan
akidah berhala
kiblat deposito
Malam lalu kau memberitahu dalam keadaan bermasalah. Banyak hal kini membuatmu tiada rasa gairah, setia, dan derma dari siapapun kecuali aku.
Ya, itu adanya malam kemarin.
Malam ini kau tuangkan itu di telinga kananku, di bawah langit hitam berbintang sebelah tangan. Dalam hangatnya kopi sajian warung, kau terus larutkan ceritamu seiring malam yang kian larut.
Tak ada nyanyian dalam guratan keperihan jiwa
Angin semilir menghalangi terik langkahku
Ketika kumulai memasuki kegelapan
Sunyi, buta, gelap, dan sepi
Itulah yang kurasakan sekarang
Indonesia Raya telah berubah
Tanpa rasa peduli dan penuh sorot kebencian
Seluruh penghuni Indonesia Raya telah bermimpi
Bahagia bercampur keberuntungan dua hal itu yang selalu kurasakan sebelum usiaku genap menginjak 6 tahun. Tiada duka yang kurasakan. Hingga aku bertemu dengannya. Dia adalah orang yang membuatku menjadi wanita yang paling bahagia namun dia juga membuatku kehilangan segala–galanya.
***
This is a preview of
The Gift - Sepasang Bola Mata untuk Penelope-
.
Read the full post (1366 words, estimated 5:28 mins reading time)
Saat identitas
tak lagi terpancang jelas
Tunggulah!
Saat ia
dikatakan gereja
dikatakan wihara
dikatakan pura
Saat sang penyeru
gemetar malu
Tunggulah!
Saat ia
dikatakan gereja
dikatakan wihara
dikatakan pura
Saat diri
tak mampu berdiri
Tunggulah!
Saat ia
dikatakan gereja
dikatakan wihara
dikatakan pura
Saat aku berdoa
Aku tak ragu akan kekuasaanMu
Aku tak ragu akan kekuatanMu
Aku tak ragu akan kebesaranMu
Aku tak ragu akan kemuliaanMu
Aku tak ragu akan kemurkaanMu
Aku tak ragu akan nikmatMu
Aku tak ragu akan laknatMu
Aku pun tak ragu kepada diriMu
tapi aku ragu kepada diriku
tapi aku ragu kepada mauMu atasku
Banyumas, 2007
Permanent link to this post (59 words, estimated 14 secs reading time)
Gelap serasa mencekam
Suara jangkrik
Hembusan angin
Menyatu dalam kesunyian
Gemerisik daun bambu
Bagaikan irama mengiringi lagu
Lagu yang tak pernah merdu
Didengar terasa kaku
Dirasa tak bermaknaGelap semakin gulita
Tatap mata semakin membuta
Meraba dan tertatih menapak jalan yang tak pasti
Tanpa arah dan tujuan
Dalam gelapku masih tersirat
Lentera hati yang terpatri
Dalam gelapku masih tersimpan
Sebuah asa yang berarti…
Permanent link to this post (63 words, estimated 15 secs reading time)
Keyla mengulurkan tangannya untuk mengambil sebuah nampan yang berisi setumpuk handuk kecil, sebuah sprayer, dan sekotak kecil krim pelicin. Dipandanginya benda-benda yang selalu mengisi hari-harinya itu. Benda yang membuatnya mampu bertahan dalam mengarungi kerasnya hidup ini, namun benda-benda itu pula yang membuatnya tidak mampu mengangkat muka dengan tegak, di hadapan masyarakat sekitarnya.
Memandang jauh ke luar jendela. Aku mendengar ada yang salah. Salah? Apa yang salah? Apa yang dipersalahkan? Ya, memang ada yang salah. Akhirnya aku mengerti kalau sedang ada yang salah. Lantas, apa salah itu?