Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Sesekali kulirik mamaku yang tengah asyik bermain sebuah boneka. Kalau kalian duga mamaku gila, kalian salah besar. Mamaku tidak gila, melainkan memiliki mental terbelakang, idiot atau istilah asingnya, Down Syndrome. Yah, mamaku dilahirkan dengan cacat itu. Cacat mental yang memiliki ciri wajah yang khas dengan mata sipit, ”jembatan” hidung datar dan lebar, dan lidah besar dengan mulut kecil cenderung terbuka.
Aku terdiam dan hanya berdoa pada Tuhan
Bersujud sambil menangis mengingat peristiwa hari ini
Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya
Padahal aku hanya menjawab pertanyaan teman belakangku
Tapi ia marah dan menganggapku tidak menghargainya
Aku merasa dianaktirikan
Ketika asa itu pergi
kelabu hati siap menanti
mimpiku terkoyak lagi
tertatih ku gapai hatiku
yang melayang-layang tak sadar
pupus sudah kesempatan
hanya bisa diam
tanpa gerak, tanpa suara
mungkin inilah jawaban
yang ku cari bersama waktu
aku sudah GAGAL
menyerah sajalah. . .
Sudah habis dayaku
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Jeritan, Kelam, Kerinduan dan kenangan, Asa, Sunyi dan Sepi, Resah, Gelisah dan Sedih, Teruntuk, Dendam dan Emosi, Renungan on Maret 4th, 2009 5 Comments »
Diandra, aku sengaja datang hari ini untuk menemuimu. Tapi kenapa kamu tak ada? Kamu ada di mana, Diandra? Lalu aku melongok ke kamarmu. Hm, kamar kita, tempat di mana kita selalu habiskan malam berdua, bercerita tentang indahnya hari, bercinta demi hadirnya sang buah hati. Tapi tetap tak kulihat kau di sana. Tak ada kau di pembaringan yang selalu menyambutku dengan senyum mesra dan tatapan hangat. Kamar itu kosong, bahkan selembar kain spreipun tak terlihat menempel di singgasana cinta kita itu. Kuhela nafasku panjang, merasakan perihnya dadaku.
Yang pertama datang di kedai minuman itu adalah seorang lelaki paruh baya dengan kantung mata dan raut wajah yang membuatnya tampak seperti pemurung. Ia datang dengan kemeja hitamnya yang dipadu-padankan dengan celana panjang, sepatu, dan jam tangan yang juga hitam. Kumisnya lebat dengan beberapa rambut yang masuk ke lubang hidungnya sementara rambut di kepalanya mulai menipis. Dia adalah seorang dosen. Di tengah malam ini ia tak begitu pandai menyembunyikan kesendiriannya. Ia duduk dengan postur bungkuk menghadap ke arah bar. Dan dengan ketenangan yang dibuat-buat sambil menggulung lengan panjang kemejanya ia berkata pada seorang pelayan wanita di depannya, “Berikan aku segelas minuman. Yang biasa.”
Pelayaran kita sudah terhenti…
Samudera kini telah kering…
Tak ada ikan yang perlu dijaring…
habislah sudah bakau-bakau yang dulu menghijau di sepanjang pantai cinta kita…
Langit kini telah gelap..
Mega merah yang manis telah hilang dimakan hitamnya malam…
Kini aku menyesal tidak berhenti di warung untuk sarapan. Seluruh tubuhku gemetar. Orang itu dengan mudah memasukkan ke dalam kantungnya SIM dan STNKku. Lalu menyuruhku minggir untuk menggosok nomor-nomor di plat motorku supaya menampakkan warna dasarnya. Sesuatu yang bagiku tidak berada di dalam akal.
Bagai katak di ujung tanduk. Itu adalah keadaanku sekarang. Berjuta pikiran melayang dalam angan tanpa bayang. Antara racun, obat, caci maki, dan duri-duri tajam yang menyerang. Entah kapan ini akan berakhir. Atau akankah memang bisa berakhir. Tapi mungkin saja akan segera berakhir jika aku mengakhirinya sekarang. Haruskah ada strategi utama dan paling berbahaya? Sungguh, hari panjang yang melelahkan. Aku harus memutuskan satu hal yang akan merubah seluruh kehidupan. Hari ini ulang tahunku ke-13. Tapi siapa peduli. Jangankan kado, ucapan selamat saja tertutup rapat dari mulut orang-orang yang mengenalku. Bukan hal aneh bila itu terjadi. Mana ada orang dengan ikhlas memberikan hadiah, meski sebenarnya sangat kuharapakan, begitu saja melemparkannya ke arahku. ”Anak cacat tak pantas mendapatkannya ”, bisa jadi mereka akan mengatakan itu.
Aku merasa seperti pelacur, yang menikmati nyamannya hatiku saat bersamanya
Padahal aku tahu dia hanya sebentar saja ada di sisiku
Dan kemudian dia akan pulang, ke hati perempuan yang dicintainya
Aku merasa seperti pelacur, saat merasakan teduh matanya
Yang seolah menyelami dan mengerti hatiku
Di hati ada penantian
Panjang tapi tak jua bertepi
Lewat angan aku berkhayal
Sesaat ada bayang namun hampa
Saat hadir menggebu
Tersenyum semu kubayar kerinduan
Hampa langkah aku tertahan
Semu mulutku tersendak
Ada gerangan apa aku berpikir