KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Renungan'

Tiba-tiba aku terbangun oleh suara yang melengking tinggi. Suara itu menggema dan sangat panjang, seperti tiupan terompet super jumbo. Saking kerasnya, suara itu seperti mengoyak lubang telingaku dengan kasar dan membuat kulit muka dan dadaku bergetar serta mati rasa. Meski kututup telingaku serapat mungkin, suara itu tetap menembus dan memasuki relung-relung jiwaku yang paling dalam. Seolah semua anggota badanku menjadi telinga. Merasa kaki dan tanganku mendengar langsung.

Siapa yang pernah ngerasain rasanya tahi kucing??? Kalaupun pernah saya yakin nggak bakalan rasanya kayak coklat! Tapi kalau kita sedang jatuh cinta, tahi kucing memang benar-benar bisa terasa seperti coklat, maksud saya, cinta memang bisa membuat kita mabuk kepayang, dan kita tidak bisa hidup tanpa cinta.“The Power of Love” tuh memang bener-bener dahsyat, tapi kenapa ketika cinta itu pudar ato hilang ia juga bisa menyebabkan kehancuran yang dahsyat???

Aku merelakan segala nuansa sedih senang tak lagi kurasa

Aku buta

Aku tuli

Aku bisu

Aku lumpuh

Tak lagi aku dapatkan kasih

Tak lagi aku meraba cinta

Tak lagi aku berkata sayang

Aku manusia

Tapi bukan

Aku dengar

Tapi tuli

dengarkan itu….
bila kau tak terdengar
coba buka lagi telingamu

Apakah sudah terdengar olehmu ???
Coba buka hatimu
Tengoklah sekeliling
Kau akan tahu
Kau akan mendengarnya
Rintihan anak – anak bangsa

Aku tahu
Suara kehidupanmu
dan suara kehidupan mereka
tak serirama
suara kehidupan mereka sumbang
berbeda dengan suara kehidupanmu
yang begitu harmonis

Hidup yang tak dipertanyakan adalah hidup yang sia-sia
-Plato-

Rumah sakit jiwa yang terletak di sudut kota itu, benar-benar membuat siapa saja yang lewat akan menutup telinganya. Bising. Seperti dipenuhi oleh ribuan manusia yang terperangkap dalam sebuah bola kaca.

“Dokter Susilo, ada pasien baru di ruang tiga, seorang polisi menemukannya di sebuah jalan kemarin,”lapor seorang suster.

“Coba kamu lihat kakekmu dari tadi duduk di ruang tamu! Ajaklah kakekmu, Sayang, makan kue bersama kita di sini!” perintah Bu Hari kepada Erni dengan lembut.

“Baik Nek,” Erni pun mengiyakan perintah neneknya itu.

Didekatinya seorang lelaki tua yang sedang memandangi pintu pagar rumah mereka.

Siang itu Darman duduk termangu sendiri di teras samping rumahnya. Sudah satu minggu ini ia sering seperti itu. Tatapannya kosong seakan tiada yang dipikirkan dalam otaknya. Terkadang matanya menatap sebuah pohon yang berukuran besar dan berdaun rimbun segar tak jauh dari tempatnya duduk. Pohon itu dulunya ditanam oleh kakeknya sewaktu ia masih berusia dua belas tahun. Kini usia Darman sudah dua puluh tujuh tahun. Berarti pohon itu sudah menemaninya selama lima belas tahun. Jika sore telah tiba, biasanya ia dan keluarganya duduk santai di bawah pohon yang rindang itu. Udara yang sejuk menjadi salah satu alasan mereka sering duduk bersama di sana. Canda dan tawa mengiringi kebersamaan mereka di bawah naungan dedaunan hijau peninggalan sang Kakek.

Aku seperti seorang terusir yang menyusuri dasar lautan seorang diri, melintasi terumbu karang berbisa yang meracuni tiap helaan nafas yang makin tinggal sisa. Aku menjadi orang asing, berbicara pada orang-orang tapi suaraku hanya memantul kembali dan hilang. Sedangkan monster-monster laut dan serigala separuh gurita mengintai-ngintai hendak menerkam saat aku lengah. Aku tercekam oleh pikiranku sendiri. Dan mulai detik itu, aku paham makna dari kata-kata bijak ini, ‘sendirian dalam keramaian adalah ancaman.’ Aku sendirian. Berdiri dengan keyakinan dan pemikiran yang tidak sejalan bukan hanya dengan orang-orang kebanyakan, tapi bahkan bertentangan dengan Se Moljo Banahung, kepala suku kami, suku Mota Pedalaman.

Balada Hidup Mati

Mulai dari mana aku harus menyusun kalimat dari kata-kata yang akan menjadi sebuah makna nantinya ? Aku mencoba mencari pembuka sebagai pengenalan akan topik yang akan dibahas secara nyata atau maya ini. Kucoba menggali lagi dari perbincangan tadi pagi bersama guru spiritual dan teman pengembaraan.

Mataku tak lepas memandangi wajah keriput itu. Tangannya begitu gesit menganyam tikar purun. Aku kagum dengannya. Usia senja tak membuatnya putus semangat. Bermodal kemampuannya membuat tikar purun, ia mencoba bertahan untuk hidup. Bukannya tak punya anak, tapi naluri keibuannya membuatnya tak tega membebani mereka. Anak-anaknya juga mengalami nasib yang tak jauh berbeda dengannya, mereka juga harus berjuang keras untuk bertahan hidup.

« Prev - Next »