Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Elma yang baru saja dihukum, lagi-lagi diejek. Ia mulai murung di dalam kelas. Melamun. Melayangkan pikirannya yang sepertinya sangat kacau. Walau dua sahabat yang selalu stand by menemaninya di tempat duduk pojok bagian kiri berkicau, diabaikannya. Wajahnya gelisah. Entah karena apa. Rona juga bingung dan heran sendiri. Gusti memang sangat tega. Pasti ini gara-gara Elma hampir jatuh ketika mengeluarkan kaki dari tong sampah tadi saat dihukum. Bonus yang Elma dapatkan karena ia telaten mengerjakan PR di sekolah. Padahal, Gusti juga dihukum.
“Aaa… aaa, yuhu… uuu………!”
Kami berteriak begitu keras. Kami berteriak seolah kami telah menggenggam dunia yang berat ini. Kami berteriak lantang lagi dan huruf A berjejer keluar dari mulut kami.
“Aaa……aaa!”
Jam terakhir di kelas XI SMA Pelita kosong. Jam ini semestinya diisi oleh pelajaran Biologi namun gurunya sedang sakit. Kelas pun sangat riuh, ada siswa yang berkelompok ngobrol saja, ada yang ke kantin, dan sebagian kecil mengerjakan tugas yang diberikan guru piket.
Semburan cat spray beragam warna berhamburan membasahi baju-baju seragam putih kami, membentuk garis-garis penanda sebuah kebebasan. Kami bersorak saling menyalami satu sama lain. Merayakan sesuatu yang kami sebut kelulusan. Sesekali juga spidol besar bertinta hitam menghujam dan menghujani tubuh kami dengan berbagai kata-kata kenangan. Tak ada yang mengelak, bahkan masing-masing kami terus meminta. Meminta dibubuhi sekedar tanda tangan dan kalimat-kalimat perayaan di dada, lengan, kerah dan seluruh bagian yang belum bergurat dan berwarna. Kepada siapa saja, bahkan yang tak pernah dekat sekalipun. Semua menjadi satu dalam rangkaian kebahagiaan keberhasilan di hari terakhir ujian.
Namaku Surya Prakoso atau biasa dipanggil Ako usiaku kini 21 tahun dan aku adalah seorang mahasiswa tingkat 3 fakultas ilmu komputer jurusan sistem informasi. Suatu kebanggaan untukku karena sebagai seorang anak tukang sayur aku bisa menikmati bangku kuliah. Aku sangat bangga dengan kedua orang tuaku meskipun hanya berjualan sayur tidak menyulutkan semangat mereka untuk mendidik anak – anaknya. Mereka memang pekerja keras aku tak mau menyia – nyiakan kesempatan yang telah Tuhan berikan padaku. Aku tidak mau main–main dalam kuliah ku. Orang tuaku selalu berpesan agar aku serius dalam menjalani kuliah agar nantinya aku mempunyai bekal ilmu dan kehidupan yang lebih baik dari mereka.
Tiga atau empat tahun yang lalu, aku masih bisa memandangi barisan panjang sawah yang indah. Aku masih berada di rumah terpencil yang dikelilingi oleh pematang-pematang hijau nan asri. Burung-burung pipit, segerombolan kodok, capung, jangkrik, belalang, bahkan kunang-kunang bukanlah mahkluk langka. Aku melihat mereka setiap hari. Dan aku masih di sisi orangtuaku, menyusahkan mereka hampir di setiap waktu.
Saujana, yang nampak hanya lautan padi yang menenggelamkan mentari senja, saat langkahku menjejaki jalan setapak. Sunyi, tapi kunikmati. Silau, tapi aku tak galau. Lelah, tapi ku pasrah. Karena sepuluh meter lagi akan kurebahkan punggung yang tulangnya serasa bengkok ini. Biasanya mentari senja sudah setengah tenggelam dimakan kelapangan sawah yang menguning di kanan-kiri jalan setapak ini. Sinar jingganya yang memancar semakin menyolokkan kuningnya padi, memberitakan bahwa padi itu sudah siap panen. Selalu seperti ini tiap sore. Seolah-olah semburat jingga itu memang menyambut kepulanganku. Pulang dari lelahnya hiruk-pikuk dunia. Tapi sore ini berbeda. Mentari senja kali ini belum setengah tenggelam. Bahkan masih bulat utuh, meski nyaris tenggelam. Entah karena pergantian lintasan matahari semu, ataukah karena aku pulang kerja 30 menit lebih awal dari biasanya. Namun, yang jelas, bulatan mentari itu membuatku berkhayal, “Pasti nikmat merendam kaki di air hangat sambil menikmati sepiring pancake, roti bakar, atau… apa sajalah”.
Seorang penyair berjalan gontai masuk ke dalam sebuah warung kopi. Bapak penjaga warung menyapanya dengan ramah, ” Kopi kental pahit seperti biasa, Tuan Penyair?”
Sang penyair hanya menyunggingkan senyum tipis dan duduk di bangku panjang menghadap rak kaca warung kopi itu. Seperti biasa, harum gorengan dalam rak menyusup keluar dan mengelus-elus indera penciumannya. Dengan begitu, perutnya langsung bereaksi memohon untuk diisi. Tangannya langsung menjulur mengambil sebuah gorengan dari dalam rak. Sambil mengunyah, dia berbasa-basi.
KUPU-KUPU
Aku belum pernah memandang dunia dengan cara seperti ini. Sebelumnya duniaku hanya sebesar pohon Akasia di sudut taman itu. Tempat di mana aku menggantung kehidupan kecilku pada daun-daun muda berwarna hijau tua—yang menjadi gambaran penuh akan arti sebuah “dunia” bagiku.
Namun segala sesuatu berubah. Begitu juga denganku, saat kusadari ternyata bunga lebih manis dari yang terlihat. Dan saat kuketahui daun tidaklah seenak yang kuingat. Rasanya, setiap hal ber-revolusi menjadi perkembangan baru dalam hidupku.
Entah kenapa.
Posted in Cerpen, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Jeritan, Kelam, Gairah dan Eros, Resah, Gelisah dan Sedih, Dendam dan Emosi, Renungan on Desember 30th, 2008 45 Comments »
This is a preview of
Aku Malang, Ibuku Jalang, Bapakku Jahanam Bukan Kepalang
.
Read the full post (2285 words, estimated 9:08 mins reading time)