Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Lafal nama yang Maha Sempurna berkumandang di senja itu, pancaran cahaya merah di ufuk barat perlahan-lahan surut merambat mundur hingga tenggelam bersamaan dengan gema suara azan, menyapa nyaring pada telinga-telinga tuli dalam jiwa rapuh yang seakan mati saat sedang bernafas.
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Jeritan, Kelam, Gairah dan Eros, Resah, Gelisah dan Sedih, Fiksi, Renungan on November 10th, 2008 6 Comments »
Ia menangis sedari aku datang. Mereka salah; tidak semua air mata perempuan mampu melumpuhkan hati lelaki. Kecuali ada rasa bersalah menjelma bayanganku di matanya.
“Kau kenapa?” aku bertanya untuk kesekian kalinya, dengan nada kesal.
“Aku hamil,” akhirnya ia menjawab. Barulah hatiku lumpuh, kemudian lepuh. “Dua bulan.”
Kalau dibilang aku jelek, ya nggak jelek amat. Kalau mau bilang aku ayu, ya nggak teramat ayu. Bodoh juga tidak, bahkan temanku selalu bilang aku pandai bahkan mungkin bisa dibilang terlalu pandai sehingga aku sering menggunakan kepandaianku untuk mengalahkan lawan bicaraku. Tapi memang aneh, rasanya paras dan tubuhku plus keenceran otakku bisa buat modal digodain cowok, toh nyatanya sampai ke detik ini menginjak usia rawan ( usia yang sudah bisa dibilang perawan kasep!! ); usia 30 an; belum juga aku kesandung cinta apalagi sampai terjatuh dalamnya. Seringkali aku bertanya pada diriku sendiri, “Cinta itu apa sih..?” Kalau boleh aku bilang jujur, kata cinta sepertinya sudah tak terdefinisi dalam otakku. Lho aneh kan?
Cahaya bulan menerangi halaman belakang dan beranda sebuah rumah yang berada di tengah-tengah kerumunan rumah. Seorang pemuda keluar dari kamarnya sambil menenteng sebuah radio. Ia kemudian meletakkan radio di meja dan duduk di kursi yang tersedia di beranda. Dari sakunya keluar sepasang earphone yang ia pasang ke kuping dan plug-in ke radio tersebut. Tak lama kemudian ia sibuk memutar tombol radio untuk mencari frekuensi yang dicari.
Aku awali tulisan ini dengan menyebut nama Alloh, Yang Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Di atas kebingungan aku menulis, karena tak tahu apa yang ditulis olehku ini bermanfaat atau tidak. Namun, aku tidak berkecil hati, aku akan tetap menulis mengikuti aliran pikiranku. Menulis bagiku adalah hal yang menyenangkan, sehingga aku suka corat-coret, entah itu puisi, hal yang terjadi pada diriku, dan hal yang menarik bagiku. Aku mencurahkan sebagian hidupku untuk menulis.
Kututup telingaku ketika kau memanggilku dengan adzanMu
Namun tak kau ambil jua pendengaranku
Begitu jarangnya kulantunkan ayat-ayatMu
Tapi tak Kau buat aku menjadi bisu
Kau tiupkan padaku ruh dan jiwa
Hingga aku bisa ada di dunia
Tapi tak kuabdikan hidupku padaMu
Namun kau tak pernah bosan padaku
Posted in Intermezzo, Renungan on November 4th, 2008 No Comments »
Sejenak kita berhenti untuk mengisi energi, berhenti bukan untuk menipu diri, berhenti ini tidak berarti sepi, berhenti yang tak menjadikan kita lunglai, berhenti untuk mendapatkan arti.
“Diameternya 2,5 cm, 5/6 bagiannya terbenam dalam rongga, dan hanya 1/6 bagian yang tampak dari luar. Terdiri dari tiga lapisan, dari luar ke dalam yaitu tunica fibrosa, tunica vasculosa, dan tunica nervosa” (dr. Kemal A. K, 2001)
Posted in Puisi, Motivasi Diri, Renungan on November 4th, 2008 1 Comment »
Ibu kita Kartini pembela bangsa
Elok rupa dan mempesona
Ibuku, pembela keluarga
Arif dan bijaksana
Ibu kita Kartini, jasamu di kenang sepanjang masa
Ibuku, tidak mengharap balas jasa
Ibu kita Kartini
Anak bangsa mengiringimu dengan Do’a
Ibuku, menggambarkan ”Syurga”
Posted in Puisi, Jeritan, Renungan on November 3rd, 2008 No Comments »
Badan Kehormatan…
Kami angkat topi sebagai bentuk menghormati
Dududk di korsi sebagai penyambung lidah kami.
Maka, salahkah kami bernyanyi untuk menghibur diri tentang Negeri ini?
Badan Kehormatan…
Slank adalah bagian dari kami
Yang tidak punya korsi
Maka, wajarlah mereka menghibur kami
Yang hanya makan nasi basi
Terkadang manis yang kurasakan,
Bercampur asa di hati
Terkadang Pahit yang kurasakan,
Bercampur derita di sukma.
Tuhan..
Apakah aku hamba-Mu
Tuhan..
Apakah aku hamba-Mu..
Ku terlelap dalam manisnya dunia
Aku buta akan kehebatan Tahta
Aku tuli akan indahnya lantunan azan