Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Intermezzo, Renungan on Januari 30th, 2009 No Comments »
Apakah arti sebuah nilai?
aku pun tidak begitu tahu..
Apakah nilai serupa dengan hasil?
atau nilai serupa dengan penyesalan?
Hati yang gundah menuntut jawaban nilai..
yang tidak pasti..
Permanent link to this post (26 words, estimated 6 secs reading time)
Posted in Puisi, Asa, Renungan on Januari 30th, 2009 No Comments »
Hembusan peluru engkau torehkan untuk mereka yang menista negerimu….
Langkah nan gontai bukanlah pilihan hidupmu…
Senyum paras wajahmu ialah tekanan bagi mereka yang menindas bangsa….
Darahmu…
Laksana pelita di tanah khatulistiwa yang kau cintai.
Keringatmu…
Ialah cerminan jiwa patriot di dalam raga.
Tulang-belulangmu…
Dapat melumpuhkan lawan yang menghancurkan negerimu.
Kini, dimanakah mereka?
Posted in Puisi, Motivasi Diri, Renungan on Januari 29th, 2009 1 Comment »
Disini, ku berpijak…
Menjejakkan beribu langkah di ambang pintu harapan
Karena… hanya disinilah tempat yang mengobralkan berjuta-juta impian tiada bermakna
Kecuali, bagi mereka yang kuat menelan pahit getirnya hidup.
Disini, ku melangkah…
Demi penghidupan yang penuh arti
Karena, ku yakin…
Inilah negeri yang memberikan titik terang di tengah kehampaan hidup yang kujalani…
Demi sesuap nasi bagi perut-perut mereka yang berteriak
Terduduk ku di sudut ruang
Memandang langit yang semakin jingga
Hanya suara jengkerik menggema
Melolong – lolong sambut gelapnya dunia
Semua terasa mencekam
Mencengkeram dalam kesunyian
Dalam terik matahari esok hari
Ku masih terduduk disini
Bak seonggok sampah
Tertiup angin kemarau yang membakar jiwa
Tergores luka hingga berdarah-darah
Ingin ku menjerit sekuat tenaga
Namun mulut terbekap oleh pisau kedukaan
Posted in Cerpen, Renungan on Januari 27th, 2009 2 Comments »
Terdengar isak tangis dari sang mata. Tentunya bukan sekedar mata biasa, melainkan mata yang tak bisa melihat, melirik, bahkan menangis. Ya, tangisan itu hanyalah imajinasiku saja, selaku orang yang sedang memikirkan tentang dirinya. Dialah mata yang tepat berada di sisi kanan kaki kanan, dan sisi kiri kaki kiriku. Mata yang hanya dijadikan sebuah simbol, dari ketegaran dan kewaspadaan dari sebuah alat yang dianggap rendah jika kepala tertindih rapat oleh dirinya.
Posted in Puisi, Renungan on Januari 18th, 2009 1 Comment »
Duduk di sini, menunggu
Menyaksikan burung-burung berkicau dan bergoyang
Aku bertanya-tanya
Bagaimana caranya mereka dapat menerima
Dinginnya keseharian
Kegelisahan rutinitas
Hari-hari yang panjang dari perjalanan terpanjang menuju ketakpastian
Panggilan dari suara-suara
Yang berbicara dengan bahasa yang berbeda
Kekakuan dari malam-malam yang sepi
Tapi masih bisa bernyanyi dan terbang
Menuju keabadian di depan sana…
Bersama teman-temannya
This is a preview of
Ketika Burung-Burung Masih Bisa Bernyanyi
.
Read the full post (271 words, estimated 1:05 mins reading time)
Condet, nama suatu daerah yang masuk dalam wilayah kecamatan Kramat Jati. Condet terdiri dari 3 kelurahan: Balekambang, Batu Ampar dan Kampung Tengah. Kerimbunan pohon duku dan salak, rambutan dan menteng, mangga dan bacang, melinjo dan duren mewarnai lahan yang ada di daerah Condet.
Posted in Puisi, Teruntuk, Renungan on Januari 18th, 2009 No Comments »
Kau angkat wajah menantang langit
Tersenyum sinis dalam kemenanganmu
Kemenangan semu yang tak abadi
Dunia bagai telah kau rengkuh
Semuanya, selamanya
Tapi kutahu
Kau angkuh dalam rapuhmu
Mencabik – cabik sendiri dalam sakit
Semakin kau tersenyum
Akan semakin sakit bagimu
Kau ingin berteriak
Memakiku
Mencakarku
Tapi kau tak mampu
Karena kekuasaan itu bukan di tanganmu
Kala mentari mulai gagah mengangkang
Hujanpun menjerit lari terbirit – birit
Dan tangismu memecah pagi
Kian menghimpit dadaku yang makin menyempit.
Kusumpal tangismu dengan tetekku
Yang tinggal kulit menggantung didada
Tanpa isi tanpa sari
Hanya setetes air bukan asi.
Kala laparmu mulai menyerang
Kutanak nasi basi ditungku
Tanpa garam, ikan asin atau sayuran
Hanya nasi aking pemberian orang.
Jika hatimu terasa gundah
Berbaringlah dalam kesunyianmu
Jika hatimu tak lekas cerah
Pejamkan matamu dan tidurlah
Bawa dirimu terbang dan melayang
Dalam indah dunia mimpi
Jika hatimu t’lah riang
Buka mata dan bangkitlah dari mimpimu
Karena ada orang-orang yang menantimu