Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Tak ada nyanyian dalam guratan keperihan jiwa
Angin semilir menghalangi terik langkahku
Ketika kumulai memasuki kegelapan
Sunyi, buta, gelap, dan sepi
Itulah yang kurasakan sekarang
Indonesia Raya telah berubah
Tanpa rasa peduli dan penuh sorot kebencian
Seluruh penghuni Indonesia Raya telah bermimpi
Kebahagiaan tidaklah abadi,
hilang sekali tersapu oleh air mata
di saat tak ada yang mendengar,
di saat dunia serasa menolak,
di saat semua orang,
bahkan orang yang terdekat
serta yang begitu disayangi dan menyayangi,
tak dapat mengerti dan tak mempedulikan
Ibu………
Pada malam ini
Aku segenap hati
Bersujud di hadapan – Nya
Hatiku tertunduk
Hatiku menangis
Aku menyesal
Aku tak pernah patuh
Aku selalu membangkang
Aku selalu acuh
Dengan
Kata – kata lembutmu
Kasih sayangmu yang hangat
Semua ajaran hidup
Yang kau ajarkan
Semuanya
Hanya untukku
Tapi
Apa balasanku?
Kutahu, ku bukanlah manusia yang sempurna
Namun Kau membuatku menjadi seperti manusia yang sangat sempurna
Begitu banyak salahku pada-Mu
Begitu banyak dosaku pada-Mu
Jangan Kau menjauh dariku
Karena diri-Mu aku disini dan aku mati tanpa-Mu disampingku
Lalu bagaimana caraku menebus semuanya?
Meski aku yakin Kau telah memaafkanku, namun hati ini tetap gundah, jiwa ini tetap gelisah menanti jawaban dari-Mu
Saat identitas
tak lagi terpancang jelas
Tunggulah!
Saat ia
dikatakan gereja
dikatakan wihara
dikatakan pura
Saat sang penyeru
gemetar malu
Tunggulah!
Saat ia
dikatakan gereja
dikatakan wihara
dikatakan pura
Saat diri
tak mampu berdiri
Tunggulah!
Saat ia
dikatakan gereja
dikatakan wihara
dikatakan pura
Saat aku berdoa
Aku tak ragu akan kekuasaanMu
Aku tak ragu akan kekuatanMu
Aku tak ragu akan kebesaranMu
Aku tak ragu akan kemuliaanMu
Aku tak ragu akan kemurkaanMu
Aku tak ragu akan nikmatMu
Aku tak ragu akan laknatMu
Aku pun tak ragu kepada diriMu
tapi aku ragu kepada diriku
tapi aku ragu kepada mauMu atasku
Banyumas, 2007
Permanent link to this post (59 words, estimated 14 secs reading time)
Mata terjaga saat kudengar
suara terisak mengharap iba
Terasa penuh derita
Kucari, hanya suara
“Tuhan,
Di sini sendiri ini diri
Di sini terluka ini rasa
Orang-orang tak lagi percaya
Orang-orang menganggap aku tak berdaya
Aku pun merasa tak berdaya
karena pintaku tak kunjung nyata
Kuingin dipercaya
Kuingin kembali berguna
Enam puluh tiga tahun merdeka
Tetapi rasanya tidak begitu
Masih terjajah oleh diri sendiri
Hanya darah pahlawan yang membedakannya
Kita masih belum bebas
Meski anak-anak sekolahan berteriak
‘Itulah hari kemerdekaan kita!’
Darah masih mengucur
Kemiskinan tumbuh subur bak jamur musim penghujan
Kebodohan belum beranjak pergi
Timbangan-timbangan ‘adil’ sudah rusak berat
Korupsi menjangkiti setiap instansi
Bahkan pada mahasiswa, si pembela rakyat
Dan tentu saja, akhlak masing-masing awal segalanya
Fragmen I : Mimpiku belum terkubur
Pulang
Cuaca sore ini tidak terlalu bersahabat. Gumpalan mendung yang menggantung berbaris rapi, membuat sang surya tak sempat berpamitan pada bumi sebelum pulang ke peraduannya. Sore begitu redup. Tidak gelap. Tidak terang. Angin yang menghempas, menusukkan kuku-kukunya yang tak tampak ke tubuhku yang hanya terbungkus kaos dalam dan dilapisi kemeja putih lengan panjang.
Sore ini benar-benar tidak bersahabat. Mendung tak tahan lagi untuk tidak memuntahkan hujan yang sedari tadi bergelayut di perutnya yang semakin buncit saja. Tik-tik-tik hujan mulai terdengar di atap halte bis yang terbuat dari seng, tempat aku menunggu jemputan Rifqi, anakku.
“Bila waktu telah memanggil. Teman sejati tinggallah amal. Bila waktu…,” tiba-tiba ringtone SMS hapeku berbunyi. Ini adalah lagu kesayangan istriku. Aku sebenarnya tidak terlalu suka dengan lagu ini, tapi istrikulah yang mensetting ringtone hapeku. “Biar ingat,” katanya, ketika kutanya mengapa dia memilih lagu itu sebagai ring tone hapeku.
Kurogoh hapeku dari saku celana. Kubuka.