Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
- untuk Anna Maria
Kau teguk sisa-sisa hujan dalam cawan itu. Yang isinya berbiak dalam perutmu. Lalu di saat rahimmu bergolak dasyat, kau namai dia Malam.
Kau mengguyurnya dengan tubuh hujanmu. Menisiknya ke dalam selimut petang. Dan meniupkan pijar pengampunan dalam dinding kamarmu yang sesak padat.
- untuk Kumanosuke Adachi
Pada tanah gelombang, hujan sempat membasahi bibir bumi
melumatnya dalam kecupan yang hambar
ada bandang kekhawatiran
jika retas air itu menyapanya terlalu mesrah
Pada tanah gelombang, ada sebak seekor ternak
yang linglung mendekap punggung kesedihan
sebab ia tak tau kemana pergi sang induk
Aku binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Kini puisi itu menjadi cermin dari keadaanku sekarang ini. Seorang seniman yang menjadi binatang jalang. Dan dibuang dari kumpulanku. Semua ini sudah kuperkirakan dari dulu. Saat ketika aku mulai mengenal diriku dikehidupan yang lalu. Kini aku tidak bisa hidup untuk seribu tahun lagi.
Apa yang telah terjadi pada duniaku
Tak ada lagi yang kurasa menyenangkan
Kemunafikan, keangkuhan, keegoisan, irihati
Semuanya kian merasuk setiap insan
Keramahan yang dulu menghiasi raut wajahmu
Kini semua sirna, seakan di telan kegelapan malam yang menakutkan
Tak ada lagi keakraban diantara sesama
Semuanya telah di perbudak oleh hawa nafsu dan keserakahan
Sekali lagi, aku ingatkan! Aku hanya ingin tahu apa itu sepi. Di mana sepi? Sejak lahir aku tak pernah mengetahui keberadaannya, bahkan ketika aku termenung sendiri. Bahkan masih ada dengung lirih di telingaku saat mereka pergi, yang menandakan bahwa sepi masih segan untuk menampakkan batang hidungnya di depanku. Aku pergi ke laut, ketemu debur. Aku panjati gunung tinggi, ketemu semilir. Aku jelajahi sahara, ketemu desir. Aku rebah di kasur, ketemu suara berisik. Dari mana berisik itu? Ternyata dari mataku. Mataku masih liar bergerak meraba-raba mencari cahaya atau sekedar fantasi. Kata orang, itu namanya kita sedang memasuki fase rapid eye movement, disingkat REM. Konon, itu sebuah fase sebelum kita memasuki fase tidur nyenyak.
Perkataan seorang insan
bagai petir yang bergetar
setiap kata yang keluar
adalah ungkapan isi jiwa
menerawang ke sudut awan
walau tak ada tapi terucap
mungkin ada satu kelana
dimana jiwa meronta
tak ingin acuhkan cinta
karena dirundu nestapa
kesunyian menyelimuti nadi
kegelapan merangkap sepi
tak berawal dari hati
tapi hati yang tersakiti
kejadian ironi bagai suratan yang berkelut tak jauh dari hati
Permanent link to this post (63 words, estimated 15 secs reading time)
Aku memang kalah dari siapapun, apalagi dari Kang Mastur. Dia santri tulen, mengenyam pondok pesantren sejak dari kecil. Pembawaannya yang tenang dan tidak pernah mengekspos diri sendiri membuat kagum banyak teman. Tiga tahun di pesantren tak pernah naik kelas itulah aku. Anak-anak kecil yang dulunya yunior kemudian di tahun kemarin ada satu kelas bersamaku dan tahun ini harus aku relakan menjadi seniorku. Mereka kini menjadi kakak kelasku di Madrasah Diniyah Al Anwar Semarang.
Apapun yang terjadi di dunia ini adalah tidak lepas dari pengawasan Allah, Sang Khalik yang tidak pernah tidur dan berat menjaga langit dan Bumi beserta segala isinya.
“Permisi Bapak-bapak, Ibu-ibu. Maaf bila kehadiran saya mengganggu Bapak – Ibu dan Penumpang sekalian. Berikut akan saya bawakan lagu terbaru dari Mulan Jamilah dengan “Wonder Woman” ucap Ani mengucapkan nama salah satu penyanyi terkenal itu.Aku bukan wonder womanmu
Yang bisa terus menahan rasa sakit karena mencintaimu….
Sejauh matanya memandang, yang terlihat hanyalah tumpukan mayat tentara yang berseliweran. Rasa ketakutannya tidak bisa ia sembunyikan atau ia tutup-tutupi lagi. Jauh di dalam hatinya ia berharap mayat-mayat ini akan hidup kembali untuk membawa kabar gembira bahwa perang telah usai dan dia berada di pihak yang menang. Bayangkan betapa kabar tersebut akan berdengung kencang bila dibisikkan di kedua telinganya. Karena itulah do’anya selama ini, yang dengan rajinnya ia senandungkan di pagi, siang, dan malam. Hanya kemenanganlah yang akan membawanya kembali pulang ke rumah dan keluarganya tercinta. Namun, sekuat apapun ia menggosokkan kedua matanya, yang terlihat tetaplah tubuh-tubuh para serdadu yang tergeletak tak lagi bernyawa. Dan dirinya menghirup napas seorang diri dengan jantung yang lelah.
This is a preview of
Detik-detik Terakhir dari Sini Menuju ke Sana
.
Read the full post (3559 words, estimated 14:14 mins reading time)