Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Wajah keruh Anggun menandakan betapa teruknya keadaan yang ada dalam pikirannya, otak, dan mungkin emosinya. Anggun, mungkin hanya namanya saja, dalam kesehariannya tak satu pun yang terlihat anggun di mata rekan, tetangga juga keluarganya.
Posted in Puisi, Renungan on Maret 11th, 2009 2 Comments »
Di Masjid I
Tempat kami berjanji
Menemui sang kekasih.
Mengadu manja diatas bentangan permadani,
terkadang
Kemesraan mesti luluh karena emosi
Padahal Sang kekasih
Begitu sayang
Begitu manja
Begitu setia,
Dia selalu mengerti isi hati
Sedang kita pura-pura tidak tahu.
Di Masjid II
Aku terdiam dan hanya berdoa pada Tuhan
Bersujud sambil menangis mengingat peristiwa hari ini
Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya
Padahal aku hanya menjawab pertanyaan teman belakangku
Tapi ia marah dan menganggapku tidak menghargainya
Aku merasa dianaktirikan
“Kamu bener nggak selingkuh?”
“Iya, bener.”
“Berani sumpah?”
“Iya, sumpah.”
“Berani mandul?”
“Iya, berani.”
Dan mereka pun berciuman sesudahnya. Mencoba menghilangkan ketidaknyamanan yang terjadi selepas interogasi dadakan tersebut. Sebenarnya mereka tahu. Sekali kepercayaan terkikis, tak ada kesempatan buatnya untuk kembali utuh. Mereka berdua tahu, ciuman ini adalah bagian dari sandiwara yang mereka berdua mainkan. Sandiwara cinta yang kadaluarsa.
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Jeritan, Kelam, Kerinduan dan kenangan, Asa, Sunyi dan Sepi, Resah, Gelisah dan Sedih, Teruntuk, Dendam dan Emosi, Renungan on Maret 4th, 2009 5 Comments »
Diandra, aku sengaja datang hari ini untuk menemuimu. Tapi kenapa kamu tak ada? Kamu ada di mana, Diandra? Lalu aku melongok ke kamarmu. Hm, kamar kita, tempat di mana kita selalu habiskan malam berdua, bercerita tentang indahnya hari, bercinta demi hadirnya sang buah hati. Tapi tetap tak kulihat kau di sana. Tak ada kau di pembaringan yang selalu menyambutku dengan senyum mesra dan tatapan hangat. Kamar itu kosong, bahkan selembar kain spreipun tak terlihat menempel di singgasana cinta kita itu. Kuhela nafasku panjang, merasakan perihnya dadaku.
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Jeritan, Kelam, Khayalan, Resah, Gelisah dan Sedih, Fiksi, Dendam dan Emosi, Renungan on Februari 16th, 2009 30 Comments »
Kamu memang perempuan yang sempurna. Cantik, anggun, pintar, keibuan, populer, kaya, dan mapan. Kamu juga pintar merawat keluarga. Sungguh, kamu benar-benar perempuan sempurna. Semua kelebihanmu itu membuat aku merasa amat cemburu dan tak berharga di hadapanmu. Andai aku bisa sepertimu?
Terdengar suara pintu ruang tamu diketuk. Entah siapa malam-malam begini bertamu. Pak Ahmad melirik ke jam dinding yang tergantung. Jam 20.00. Hening sunyi di kampung ini. Dibukanya pintu, terlihat beberapa anak muda dengan pakaian rapi. Tersenyum sambil mencium tangan Pak Ahmad.
“Assalaamu ‘alaikum Pak. Maaf kami mengganggu istirahat Bapak,” salah seorang di antara mereka memberi salam dengan santun.
Terkadang aku merasa lelah
Dan terkadang aku merasa sangat dahaga
Kehidupan yang salalu menuntunku
Dalam pekerjaan yang tak ada nilainya
Jika hamparan langit aku jadikan alas
Jika awan putih aku jadikan tangga
Sungguh aku masih jauh
Jauh dalam dekapan kasih sayang-Mu
Posted in Puisi, Renungan on Februari 15th, 2009 No Comments »
Datang pagi-pagi
takut didahului matahari
memungut dedaunan
yang berserakan di jalanan
dan taman-taman kota
Datang pagi-pagi
takut didahului pengawas kebersihan kota
membersihkan sampah yang berserakan
dikais anjing-anjing kelaparan
Sehabis bulan
datang ke kantoran
ambil upah sebulan
untuk makan sehari
Ambon, Februari 2009
Permanent link to this post (43 words, estimated 10 secs reading time)
Aku terhenyak dari mimpi panjang
Sampai pada akhirnya aku harus tertidur lagi
Sebenarnya aku ingin
Tapi aku juga muak pada saat yang sama
Entah,
Muak karena terlalu banyak menginginkan
Atau ini hanya sekedar keinginan yang memuakkan
Seingatku, sebisa yang kumampu
Aku bukan ingin berada di sini
Aku hanya merasa ditempatkan di keberadaanku yang sekarang
Pertanyaan besar mengenai siapa aku belum terjawab
Lalu dari mana
Oleh siapa
Dan yang terpenting bagiku, untuk apa
Semua itu pertanyaan yang terus merayap di kepalaku
Gatal jika kubiarkan terus merayap
Namun perih jika coba kulenyapkan dengan cara yang salah
Sementara untuk menemukan jawabannya, aku terlalu lemah atau mungkin malas untuk beranjak
Sekali lagi, kesekian kali, tapi mungkin bukan terakhir,
Siapa aku?
Permanent link to this post (117 words, estimated 28 secs reading time)