KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Puisi'

Aku terdiam dan hanya berdoa pada Tuhan
Bersujud sambil menangis mengingat peristiwa hari ini

Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya
Padahal aku hanya menjawab pertanyaan teman belakangku
Tapi ia marah dan menganggapku tidak menghargainya
Aku merasa dianaktirikan

Ketika asa itu pergi
kelabu hati siap menanti
mimpiku terkoyak lagi

tertatih ku gapai hatiku
yang melayang-layang tak sadar

pupus sudah kesempatan
hanya bisa diam
tanpa gerak, tanpa suara

mungkin inilah jawaban
yang ku cari bersama waktu

aku sudah GAGAL
menyerah sajalah. . .
Sudah habis dayaku

kenapa harus menangis selama masih bisa tersenyum?
kenapa harus airmata yang keluar saat sedih mulai menyapa?

Lihatlah keluar,
di sana masih banyak yang lebih susah darimu
lihat mereka,
pikirkanlah, sebelum kamu bersedih
selalu bersyukur dengan apa yang kita dapatkan

Setiap gelap penyeru-Mu memanggil-manggil untuk melaksanakan perintahmu
Walau terkadang parau suara ini mengajak
Memanggil tiada henti
Hingga suara penyeru-Mu mengecil-mengecil kemudian menghilang
Adakah yang mendengar-Mu?

“Allahu Akbar”
Masih berfungsikah?
Masih ada yang takutkah dengan tulisan dan bacaan itu?
Masih adakah yang patuh menaatimu dengan tulisan itu?
Masih adakah yang ingin merasa dekat dengan-Mu?

Sembilan bulan,

Tubuhku menyulam sebuah mahakarya
Mahakarya pemujaan cinta
Dengan sebersit sukma melekat padanya
Teraba denyut jantung indah bernada
Mengalun lembut tenangkan jiwa

Sesekali gerak tubuh nyata terasa
Bergetar, bergelombang, bergeliat, gelitik raga
Elus lembut sang penanam sentuh rasa
Kedamaian hati menyembul dari balik duka
Duka yang terkadang tiba ketika sakit mendera

mata ini bercerita pada hati
tentang hidup seorang janda miskin
yang selalu masuk keluar lorong
menelusuri gang-gang sempit
mengetuk pintu demi pintu
di setiap pagi hingga petang
jajakan sagu di atas dulang

melangkah tiada beralas kaki
di atas beribu kerikil yang menghampar
di sepanjang jalan hidupnya

kulukis bayangmu di kanvas rembulan
untuk mengenang setiap tetes peluh
yang mengucur deras dari tubuh

kala orang masih asyik memeluk selimut
kau telah bergelut dengan embun
yang menempel di pohon-pohon sagu
berbekal semangat dan kerja keras
mengais rezeki dari putih sarinya

Sesatku di Andromeda-Mu

dalam lumpur kepengapan..
kau tenggelamkan aku dalam telaga air mata cemara
saat semburat jingga mematikan tiap inchi kornea mataku
lalu berjelagalah segala sesak klewang di dada

Aku mencarimu dalam tiap galaksi
tiap revolusi aku singgahi
Entah terbakar pada dinding yang mana
Atau menghilang pada ruang-ruang hampa penuh luka
Tak kutemukan pintu di muka-Mu
yang ada hanya deraan panas setan-setan dunia
dan aku makin larut dalam balutan apinya

Kasihku

terbang tinggi di angkasa

ditemani yang ia kasihi

hingga suatu waktu

sayap – sayapnya patah

ia jatuh…

sayapnya yang patah

menusuk jantungku

air matanya menghujani hari

namun aku tahu

sampai detik inipun

aku hanya sahabatmu

kau tak pernah berubah

Siluet

Aku tahu kau tak ada…
Aku tahu kau telah tiada…
Tapi bukan berarti kau telah jauh berkelana
Bukan berarti, kau telah terhapus dalam dada

Engkau masih ada…
Kau tetap ada…
Bahkan kau abadi di dalam sana…

Abadi dan akan slalu terjaga
Karena aku akan setia…
Karena aku akan selalu ada…
Mengobati segala luka…
Menepiskan segala duka
Mengusap setiap tetes air mata

« Prev - Next »