Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Puisi on Maret 11th, 2009 No Comments »
kabar dari sebrang lautan..
tentang kisah para petualang.
berlayar dalam kegalapan.
arungi jalan menuju kota yang hilang.
syair miye tujuh tergores satu tanda..
berangka tahun zaman kuna..
masa sriwijaya pahatkan YUPA.
syair miye tujuh berkata…
kita para pejuang..
sang petualang..
penjelajah zaman yang hilang..
Kata demi kata ditulisnya
Ungkapan rasa di hatinya
Rasa yang rumit adanya
Inilah sang pujangga cinta
Mengobati setiap luka dengan cinta
Tapi membukanya juga dengan cinta
Betapa malang nasib sang pujangga cinta
Menghampiri setiap hati yang ditemuinya
Berharap cinta datang padanya
Cinta yang tak pasti
Cinta yang mungkin kan menyakiti
Akankah sang pujangga cinta berhenti di satu sisi hati
‘Tuk temui cinta sejati…
Permanent link to this post (64 words, estimated 15 secs reading time)
Posted in Puisi, Renungan on Maret 11th, 2009 2 Comments »
Di Masjid I
Tempat kami berjanji
Menemui sang kekasih.
Mengadu manja diatas bentangan permadani,
terkadang
Kemesraan mesti luluh karena emosi
Padahal Sang kekasih
Begitu sayang
Begitu manja
Begitu setia,
Dia selalu mengerti isi hati
Sedang kita pura-pura tidak tahu.
Di Masjid II
Posted in Puisi, Cerita Kehidupan on Maret 11th, 2009 1 Comment »
Pagi
Di depan gubuk tua
Lelaki tua bermata biru
Ia memandang langit berbaris awan
Awan putih berlapis baja
Tertutup rindang dedaunan
Terhalang jendela berbatu.
Siang
Lelaki tua masih bermata biru
Ia tak lagi memandang langit
Ia tersisih di tepi
Mengalir ribuan logam, lempeng berjuta harga
Ia tetap menepi
Mengamati di bawah terik matahari.
Rasa ini kian lama kian mengindah
Membuat segalanya terasa seperti gula
Kehadiranmu membawa sebongkah harapan
Harapan yang s’lalu buatku bermimpi
Apakah kau pangeran yang ada dalam mimpi indahku?
Dan akankah aku menjadi ratu di hatimu?
Ataukah semua itu hanya semu…
Semu yang membayang dalam cermin harapan yang sebenarnya tak bisa tergapai
Saat hujan menitik,
apa gunanya menanyai awan?
Kau tidak benar-benar ingin tahu.
Hanya takut basah, kan?
Jadi, apa perlunya bertanya?
Hujan akan reda juga.
Lalu kau akan lupa.
Permanent link to this post (29 words, estimated 7 secs reading time)
awan…
apa kau tahu?
aku di sini sedang menanti
sebuah jendela yang mungkin akan terbuka
bersama hantaman angin
awan….
maukah kau tahu?
sejenak ku tak tahu
dan terus terpaku dalam ragu
sampai aku benar-benar sadar
dihantam angin
Jika semua ini memang harus terjadi
Terjadilah….
Aku bukanlah siapa-siapa dan aku bukanlah segalanya
Kehidupan ini bagiku hanyalah kesia-siaan
Biarkan aku pergi…
Biarkan aku meninggalkan penderitaanku
Aku hanya ingin beristirahat
dan mencari secercah ketenangan
Mungkin langkahku harus terhenti sampai di sini
Karena ku tak tau kemana lagi harus melangkah
Duniaku begitu gelap, tiada terang yang menyinari
Aku terus menulis…
Goreskan semua rasa dan asa…
Harapkan sebuah kepuasan,
harapkan sebuah makna, tapi tak kutemukan semua…
Lagi-lagi aku hanya menulis sebuah kekosongan,
kosong yang membuat hati tersesak perih…
Aku yang selalu merasa kosong
tak mampu mengungkap rasa
selalu diam menghadapi semua
Aku sudah muak dengan janji-janjimu
Janji-janji yang hanyalah sebongkah kebohongan
Hadiah yang selalu kau bawa untukku
Jikalau kau kembali dari petualanganmu
Bertahun-tahun aku menunggu kau kembali
Hanya sebuah kata nihil yang aku peroleh
Ingin rasanya aku berteriak
Jika itu bisa menghapus semua kenangan