Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Dalam sepi kucoba renungi
Makna segala perkataanmu
Kucoba ‘tuk ambil hikmahnya
Kucoba tersenyum pada nasib
Kau ingkari hatimu
Demi ‘tuk raih sebuah harapan
Dalam kecewa kukagumi dirimu
Bulan pun sembunyi malam ini
Pengorbanan seorang perawan
Yang dulu pernah bersinar
Biarkan mereka menyerang
Biarkan mereka hancurkan
I’m standing here
Alone in the dark
No one can hear me
For now
I’m a black rainbow
Flying into the night
No one can see me
For now
I’m a lost soul
Crawling into the mist
No one can love me
For now
Posted in Puisi, Asa on Desember 22nd, 2009 No Comments »
Berlari-lari mengejar mentari
Kala hujan menunggu pelangi
Sepertinya lelah enggan menyentuh
Tubuh kecil yang penuh semangat
Riak ombak bergulung dari kejauhan
Ketika aku menatap di sini
Pandanganku jauh menerawang
Esok,
Ah, aku masih tidak tahu tentang esok
Posted in Puisi, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Kelam, Kehidupan Remaja, Asa, Sunyi dan Sepi, Resah, Gelisah dan Sedih, Dendam dan Emosi on Desember 22nd, 2009 No Comments »
Di manakah cinta?
Apabila cinta bermain akrobat di belakangku…
Bila cinta bersembunyi di balik selimut palsu
Bila wajahnya pun bersembunyi di balik topeng
Sehingga belaian hanyalah sebuah bayangan semu
Di manakah cinta?
Bila bibir seperti sayat belati…
Bila mata seperti api menjalar..
Bila langkah menjadi terseret-seret
Sehingga terhempas debu dan angin kencang
Posted in Puisi, Cerita Kehidupan on Maret 17th, 2009 1 Comment »
setiap kali melihat pohon sagu
membayang sosok penghuni
pulau Sagu
pada batangnya yang besar dan kasar
kukenang sosok yang kekar dan tegar
menantang badai yang datang silih berganti
pada riuh-rendah daunnya diterpa angin
kudengar suara orang memanggil
bila kususuri jalan yang salah
lalu diam bersama angin yang mereda
bersama langkah kaki menapak di jalan yang benar
Posted in Puisi, Jeritan on Maret 17th, 2009 No Comments »
aku ditampar terkapar semua pudar
yang berakar menjadi besar bayangan tergambar
kebencian takkan usai di sini
tangan terkepal pecahkan kaca sepenggal
menjadi buyar
menjadi pudar
itukah terbaik yang kau bisa
itukah kata hatimu
jujur saja..
jujur saja padaku..
terdengar di sana
hatimu berkata tidak
begitu ingin kau membelai
setulus hati sepenuh cinta..
Permanent link to this post (53 words, estimated 13 secs reading time)
Pagiku sirna terhempas di atas bebatuan tajam
Siang yang menjelang tak mampu membuat hangat tubuhku yang kedinginan di dalam peraduan.
Banyak pesan ku kirimkan untukmu, wahai Rajaku seorang.
Itulah Aku
Bukan untuk menghindari etika itu.
Itulah perasanku…
Karena suara hati tak pernah menipu
Itulah isi hatiku…
Karena bicara kadang membuat lidah kelu.
Aku tertatih lagi malam ini.
Aku merunduk lagi malam ini.
Lalu tersudut di bilik kesepian.
Andaikan saja dulu kita tak pernah bertemu.
Takkan pernah ada kerinduan menyelimuti jiwaku di bilik ini.
Andaikan saja dulu tak kau sentuh hatiku,
Takkan terisi kekosongan hatiku oleh bayanganmu.
waktu membawaku berlari begitu cepat
menarik erat tubuhku,
memaksaku untuk tetap menatap ke depan
masa lalu,
ingin aku menolehnya sebentar saja
sekedar untuk menghilangkan dahaga kerinduanku
akan masa-masa indah
saat aku masih memiliki cinta
saat ini sepertinya aku mati
rasaku hilang entah kemana
duka. .
bahagia. .
apapun namanya, semua bagiku sama
tak ada lagi indah yang dulu selalu membuatku tersenyum
Aku bingung maunya hati ini
Sebentar rindu ingin bertemu
Sebentar benci dilanda api cemburu
Yang terbayang hanya raut wajahnya
Yang terbersit hanyalah senyum manisnya
Tertawa bersamanya bagaikan surga
Bertengkar dengannya membuatku sengsara