KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Puisi'

- untuk Anna Maria

Kau teguk sisa-sisa hujan dalam cawan itu. Yang isinya berbiak dalam perutmu. Lalu di saat rahimmu bergolak dasyat, kau namai dia Malam.

Kau mengguyurnya dengan tubuh hujanmu. Menisiknya ke dalam selimut petang. Dan meniupkan pijar pengampunan dalam dinding kamarmu yang sesak padat.

- untuk Kumanosuke Adachi

Pada tanah gelombang, hujan sempat membasahi bibir bumi

melumatnya dalam kecupan yang hambar

ada bandang kekhawatiran

jika retas air itu menyapanya terlalu mesrah

Pada tanah gelombang, ada sebak seekor ternak

yang linglung mendekap punggung kesedihan

sebab ia tak tau kemana pergi sang induk

Aku di suatu waktu
Berjalan tanpa arah
Di tengah siang yang terik
Berpikir bahwa ketidakpedulian menyenangkan

Aku di suatu waktu
Menangis saat meminum secangkir kopi susu
Karena kegalauan yang membuncah

Aku di suatu waktu
Terjebak dalam lingkaran setan
Berperan dalam satu episode komedi satir

Bullshit…..!!!!

Pagi

Hari yang cerah memberikan terang bagi pengabdi
Wajah yang ceria mencerminkan kemolekan kalbu

Pandanglah bunga-bunga bermekaran di taman
Indahnya memikat hati setiap insan
Harumnya semerbak menusuk sukma

Pandanglah sang fajar pagi yang memancarkan sinar kedamaian
Hiruplah kesejukannya yang menyegarkan jiwa nan lesu

Apa yang telah terjadi pada duniaku
Tak ada lagi yang kurasa menyenangkan

Kemunafikan, keangkuhan, keegoisan, irihati
Semuanya kian merasuk setiap insan

Keramahan yang dulu menghiasi raut wajahmu
Kini semua sirna, seakan di telan kegelapan malam yang menakutkan

Tak ada lagi keakraban diantara sesama
Semuanya telah di perbudak oleh hawa nafsu dan keserakahan

Tak pernah kualami rasa seperti ini
Kala kurasa kebahagiaan yang hakiki
Ada sesuatu yang menyayat hati
Pedih, bagai tertusuk ribuan duri

Mungkin matamu telah buta
Mungkin telingamu telah tuli
Atau mungkin perasaanmu yang telah mati
Hingga kau tak rasakan hadirku ini

Aku hanyalah kepingan-kepingan jiwa yang berserakan di lantai tempatmu menapak
Tak bernilai jika dibandingkan kilauan cahaya yang tersimpan di sudut matamu
Aku hanyalah senyuman pahit pada kopi hitam pagi harimu
Mencoba merangkak dari pinggir gelas untuk menyentuh bibirmu yang ranum

burung hitam mengembang sayap di langit malam

mencanda awan kelam

mengepak menyapa rembulan, mencandu bintang

burung hitam melarung bumi di gelapnya malam

menyendiri dalam langit hitamnya

makhluk kesepian pengembara tanah asing

tertempa sinarnya bulan dan dingin angin kala malam

burung hitam terbang sendiri di langit malam

Langit mendung
Mungkin mendung juga hati ini

Sulit meraba angan jiwa
Teman
Berikan aku satu cerita tanpa duka
Berikan tawa dalam canda kala bersama
Berikan indah dalam keabadian
Berikan luka sekali saja
Di saat mata ingin berlinang
Di kala senja telah mengunadangkan pudarnya
Di masa tua akan menjelma
Dirasa raga telah goyah

Hati ini serasa senja
tak terperikan oleh bidadari malam
bulan berkicau menantang alam
apa mungkin??

sejak pergi,
tak pernah termiliki…

gundah itu punya siapa?
asa ini milik siapa?
rindu itu menjadi dua
entah siapa yang punya

Next »