KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Pendidikan'

Indonesia pernah berjaya di event-event olah raga regional dan internasional. Negara kita terkenal dengan rajanya bulutangkis dunia dengan segudang pemain berprestasi seperti Rudi Hartono, Liem Swie King, Christian Hadinata, Ivanna Lee, Hastomo Arby, Susi Susanti dan lain-lain. Cabang sepak bola pun berjaya di era 60-an sampai 70-an. Saat itu Indonesia menjadi salah satu kekuatan sepak bola asia dibandingkan Jepang, Korea, atau negara Timur Tengah.

Matahari merupakan sumber energi yang dibutuhkan oleh semua makhluk hidup. Hidup ini terasa gelap bila di siang hari tidak ada Matahari terbit. Mungkin rasanya, siang hari seperti malam terus tanpa sinar yang menerangi dalam arti gelap. Walaupun di malam hari ada Bulan dan Bintang yang menerangi, tetap saja tidak akan seterang benderang Matahari. Cahaya Matahari lebih terlihat terang dibandingkan dengan Bulan dan Bintang.Maka dari situlah, Matahari diciptakan oleh Alloh SWT.

Pagi-pagi sekali Aji sudah mengayuh sepedanya melewati pasar-pasar tradisional yang tengik. Roda-roda sepedanya yang sudah tidak lagi bulat akibat termakan usia, sedikit demi sedikit mulai tertutupi lumpur yang belum hilang akibat hujan semalam. Batu-batu besar terpaksa ia terjang demi mendapatkan lahan untuk meloloskan sepedanya. Di sekitarnya kerumunan manusia berjejalan mencari penghidupan dengan berjualan sayur dan buah-buahan dalam bakul rotan. Jalanan sempit selebar tiga meter itu sudah tidak mampu lagi menampung luapan manusia yang sibuk berniaga di pasar itu.

Presiden Padang Ilalang

      “… Tidak seorang pun aku ijinkan menggoyang Indonesiaku ini, akan aku pastikan garudanya tetap mengangkasa di langit Indonesia, akan aku pastikan benderanya terus berkibar meski aku sendiri yang harus mengereknya di puncak tertinggi Indonesia, dan akan aku pastikan setiap silanya mengakar mendarah daging dalam setiap laku dan gerak bangsa ini. Itu adalah janjiku, dan aku tidak akan pernah memaafkan manusia yang mencoba-coba mengancam kestabilan keamanan NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA.” Salah seorang pejabat teras pemerintahan berbadan tegap menghentak-hentak hati seluruh anggota rapat dengan pidato singkatnya yang terucap lantang dan penuh kecintaan yang teramat dalam terhadap Bumi Pertiwi.

Dari seluruh bangunan tempo dulu yang ada di kota ini, menurutku sekolahku yang paling aneh. Bukan karena bentuk bangunannya yang mirip benteng pertahanan dengan dilengkapi kantin sehat. Bukan juga karena nilai historisnya. Karena bangunan ini tidak pernah sekalipun menjadi tempat pembuangan Soekarno. Sekolahku kusebut aneh justru karena fungsinya di masa kini. Pada siang hari sekolahku menjadi tempat yang penuh hikmah, namun saat malam tiba bangunan ini menjadi sarangnya maksiat.

Sumunar

“Ibu berangkat ya Sayang,” kukecup kening Sumunar, anakku. Dia mengangguk.

“Ol-olnya ya Bu.”

“Beres, Mak. Titip rumah dan Sumunar ya,” aku berlalu sambil menitip pesan kepada Mak Ti, pengasuh Sumunar sejak masih bayi merah. Mak Ti sudah seperti keluarga di rumah ini. Tak jarang Mak Ti “menegurku” karena terlalu sibuk dengan berbagai kegiatan di luar hingga Sumunar kurang perhatian. Aku tak pernah tersinggung dengan “omelannya”. Menurutku itu karena rasa sayangnya yang begitu tulus pada Sumunar.

Angin berhembus tenang, menyentuh dengan lembut kulitnya saat Adam mendorong pintu rumahnya yang telah lapuk digerogoti sang waktu. Dia merasakan bahwa angin itu menjilati wajahnya dengan sensasi dingin, namun di sisi lain menentramkan perasaannya. Anak laki-laki itu melangkahkan kedua kakinya perlahan-lahan, kemudian semakin lama semakin cepat, mengikuti kecepatan angin yang membawanya menuju suatu tempat dimana dia dapat melihat Sang Surya yang telah mengumpulkan seluruh tenaganya untuk menyinari dunia ini sampai senja tiba. Hari ini, hari yang mungkin sangat berarti bagi dirinya. Dimana hari ini dia akan mendapatkan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah ia ketahui, dan sesuatu yang kelak akan berguna bagi dirinya, dan juga teman-temannya. Ya, yang dia maksud adalah ilmu.

“Heh, kenapa pakai sendal jepit masuk kuliah? Keluar kamu!”

“Apa salahnya jika saya masuk memakai sendal jepit Pak?” Mahasiswa itu tampak gerah ketika dosen mengusirnya.

“Tidak sopan!”

Dulu di TVRI pernah ditayangkan Lomba Cerdas Cermat baik itu untuk tingkat SD ataupun SMP. Saya pun membayangkan seandainya saya mengikuti lomba tersebut dan memenangkannya, alangkah bahagianya. Sayang, harapan itu tidak pernah kesampain meskipun pernah diberi kesempatan, namun gagal di babak seleksi.

Kutatap awan yang bergerak di atas sana, bergulung saling berkejaran. Awan-awan itu sangat lamban. Saat itu tinggiku baru mencapai pinggang ibu, mungkin empat tahun, aku tidak begitu tahu pasti. Awan-awan itu terlihat begitu dekat. Seringkali aku melompat-lompat ingin meraihnya walaupun aku tahu bahwa usaha tersebut sia-sia saja. Keinginan hatiku yang lebih besar untuk dapat menyentuhnya selalu mengalahkan logika kecil ini. Di saat seperti itu Kakek dan Nenek tertawa-tawa melihat tingkahku yang lucu. Mereka menggerak-gerakkan mulut. Aku tahu mereka sedang mengatakan sesuatu, namun hanya gerakan yang aku lihat. Tidak pernah aku mengerti apa yang mereka katakan, hingga usiaku 14 tahun.

« Prev - Next »