Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Cerpen, Pendidikan, Renungan on September 9th, 2008 7 Comments »
“Heh, kenapa pakai sendal jepit masuk kuliah? Keluar kamu!”
“Apa salahnya jika saya masuk memakai sendal jepit Pak?” Mahasiswa itu tampak gerah ketika dosen mengusirnya.
“Tidak sopan!”
Posted in Pendidikan, Esai on Agustus 20th, 2008 No Comments »
Dulu di TVRI pernah ditayangkan Lomba Cerdas Cermat baik itu untuk tingkat SD ataupun SMP. Saya pun membayangkan seandainya saya mengikuti lomba tersebut dan memenangkannya, alangkah bahagianya. Sayang, harapan itu tidak pernah kesampain meskipun pernah diberi kesempatan, namun gagal di babak seleksi.
This is a preview of
Permainan Lomba Cerdas Cermat, Pembelajaran Menyenangkan
.
Read the full post (559 words, estimated 2:14 mins reading time)
Kutatap awan yang bergerak di atas sana, bergulung saling berkejaran. Awan-awan itu sangat lamban. Saat itu tinggiku baru mencapai pinggang ibu, mungkin empat tahun, aku tidak begitu tahu pasti. Awan-awan itu terlihat begitu dekat. Seringkali aku melompat-lompat ingin meraihnya walaupun aku tahu bahwa usaha tersebut sia-sia saja. Keinginan hatiku yang lebih besar untuk dapat menyentuhnya selalu mengalahkan logika kecil ini. Di saat seperti itu Kakek dan Nenek tertawa-tawa melihat tingkahku yang lucu. Mereka menggerak-gerakkan mulut. Aku tahu mereka sedang mengatakan sesuatu, namun hanya gerakan yang aku lihat. Tidak pernah aku mengerti apa yang mereka katakan, hingga usiaku 14 tahun.
Aku memang kalah dari siapapun, apalagi dari Kang Mastur. Dia santri tulen, mengenyam pondok pesantren sejak dari kecil. Pembawaannya yang tenang dan tidak pernah mengekspos diri sendiri membuat kagum banyak teman. Tiga tahun di pesantren tak pernah naik kelas itulah aku. Anak-anak kecil yang dulunya yunior kemudian di tahun kemarin ada satu kelas bersamaku dan tahun ini harus aku relakan menjadi seniorku. Mereka kini menjadi kakak kelasku di Madrasah Diniyah Al Anwar Semarang.
Menghirup angka dalam-dalam
Layaknya pecandu ganja di bilik suram
Sendiri, khusuk menekuni seribu rumus
Mencoba variasikan soal
Tak kenal makan, diminum nyamuk
Diserang kantuk! Menusuk bungkuk rusuk
Ibu, do’akanlah Ananda
Untuk olimpiade esok
Yang mudah dan lancar menapaki
Setiap diagram sampai di podium tunggal
Permanent link to this post (45 words, estimated 11 secs reading time)
Kembali kami dikagetkan oleh gebrakan penghapus yang dipukulkan di atas meja. Bapak Guru kami sepertinya tidak kuat lagi menghadapi kami, anak didiknya, yang tidak lekas mengerti atas apa yang disampaikannya. Kali ini kesabaran beliau sudah melewati ambang batasnya Sekali lagi kami tertegun oleh suara beliau yang semakin meninggi dalam berucap, menyampaikan pertanyaan yang seharusnya kami jawab itu, tapi di antara kami tak ada satu pun yang bersuara. Aku sebenarnya tahu jawaban atas pertanyaan beliau. Tapi entah kenapa lidahku kelu. Mulutku terkunci. Tak ada kekuatan leherku untuk sekedar menggerakkan kepalaku yang pegal karena terlalu lama menunduk. Hilang seluruh keberanianku yang terkenal sebagai anak paling badung di kelasku. Seluruh tubuhku lemas tak berdaya. Dan pikiranku semakin tak menentu, berharap agar saat-saat seperti ini segera berlalu.
Suasana kelas hening senyap. Semut pun sepertinya takut untuk bersuara. Yang kudengar kini hanyalah suara detak jantungku, gemeretak gigiku. Yang dapat kurasa saat ini adalah aliran darahku, desahan nafasku yang memburu, kembang kempis tak beraturan. Dengan masih menundukkan kepalaku, kulirikkan mataku ke sekelilingku, teman-temanku pun sepertinya merasakan hal yang sama denganku. Bagaimana ini, siapa yang akan kuajak untuk keluar kelas sebentar, dan yang akan meminta izin kepada bapak guru kami untuk hanya sekedar matur ‘pak guru, kulo ajeng seni’. Ataukah aku harus keluar kelas sendiri dan untuk mengucapkan kata itu di hadapan beliau. Iya kalau beliau langsung mengizinkanku, kalau tidak? Kalau aku nanti disuruh untuk mengerjakan soal dulu sebelum aku diperbolehkan keluar. Bukannya aku tak bisa mengerjakan soal di papan tulis itu, tapi bagaimana aku bisa berfikir untuk mengerjakan soal dengan harus menahan pipis seperti ini. Aku semakin tersiksa, berharap, berdoa, agar segera terbebas dari keadaan ini.
Posted in Pendidikan, Esai on Juni 11th, 2008 No Comments »
Empat pilar belajar dan pembelajaran UNESCO;Learning to Know (mengetahui, memahami dan mendalami)
Learning to Do (bertindak, praktik, melakukan sesuatu, berusaha)
Learning to Be (membangun jati diri, profesi)
Learning to Live Together (hidup bersama secara harmonis).
Nilai-Nilai Panti Asuhan (2M 3B):
Posted in Puisi, Pendidikan, Asa on Juni 8th, 2008 No Comments »
Kata mereka aku adalah guru
Dikenal sekian banyak anak yang setiap hari menanti hadirku.
Tapi itu hanya cuma kata-kata pemanis puisiku.
Aku tak pernah merasa ada telinga yang menjaring kata-kataku.
Aku tak pernah merasa ada mata yang membacaku
Aku tak pernah merasa ada hati yang menangkap kasih sayangku.
Kalaupun ada adalah telinga, mata, dan hatiku sendiri
dan sebagian kecil wajah yang itu dan itu.
Terik matahari siang, membuatku makin basah kuyup oleh keringat, sementara aktivitas ku belum juga usai. Yah, mencoba untuk menyambung hidup, aku memutuskan untuk menjadi petani. Sebuah profesi yang bagi orang di kampungku kurang cocok dan dipandang sebelah mata lantaran aku anak kuliahan, apalagi di fisip, tambah gak nyambung. Yah begitulah, setelah lama kuliah di ibukota, aku sudah dikenal tetanggaku sebagai anak kuliahan, sarjana gitu. Namun hatiku kadang tersenyum sekaligus miris apabila mengingatnya, aku ini hanya lulusan SMA, bukan lulusan S1 seperti yang diasumsikan para tetangga kepadaku. Memang sih, aku sempat kuliah, namun lantaran “kebandelanku”, aku memutuskan untuk berhenti kuliah.
Berbicara tentang Andrea Hirata dan Laskar Pelanginya, bukanlah hal yang baru bagi mereka yang mengikuti perkembangan novel Indonesia yang sedang semarak dengan hadirnya penulis-penulis novel yang memberikan kisah-kisah yang berbeda dan menggugah jiwa pembacanya, seperti Habiburrahman El Shirazy, penulis novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, yang karya-karyanya menjadi best seller dan digandrungi karena ceritanya yang mengandung nilai islami dan tidak terkesan menggurui.
This is a preview of
Semangat Pendidikan Andrea Hirata Dalam Tetralogi Laskar Pelangi
.
Read the full post (676 words, estimated 2:42 mins reading time)