KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Pendidikan'

Aku memang kalah dari siapapun, apalagi dari Kang Mastur. Dia santri tulen, mengenyam pondok pesantren sejak dari kecil. Pembawaannya yang tenang dan tidak pernah mengekspos diri sendiri membuat kagum banyak teman. Tiga tahun di pesantren tak pernah naik kelas itulah aku. Anak-anak kecil yang dulunya yunior kemudian di tahun kemarin ada satu kelas bersamaku dan tahun ini harus aku relakan menjadi seniorku. Mereka kini menjadi kakak kelasku di Madrasah Diniyah Al Anwar Semarang.

Menghirup angka dalam-dalam
Layaknya pecandu ganja di bilik suram
Sendiri, khusuk menekuni seribu rumus
Mencoba variasikan soal
Tak kenal makan, diminum nyamuk
Diserang kantuk! Menusuk bungkuk rusuk

Ibu, do’akanlah Ananda
Untuk olimpiade esok
Yang mudah dan lancar menapaki
Setiap diagram sampai di podium tunggal

Kembali kami dikagetkan oleh gebrakan penghapus yang dipukulkan di atas meja. Bapak Guru kami sepertinya tidak kuat lagi menghadapi kami, anak didiknya, yang tidak lekas mengerti atas apa yang disampaikannya. Kali ini kesabaran beliau sudah melewati ambang batasnya Sekali lagi kami tertegun oleh suara beliau yang semakin meninggi dalam berucap, menyampaikan pertanyaan yang seharusnya kami jawab itu, tapi di antara kami tak ada satu pun yang bersuara. Aku sebenarnya tahu jawaban atas pertanyaan beliau. Tapi entah kenapa lidahku kelu. Mulutku terkunci. Tak ada kekuatan leherku untuk sekedar menggerakkan kepalaku yang pegal karena terlalu lama menunduk. Hilang seluruh keberanianku yang terkenal sebagai anak paling badung di kelasku. Seluruh tubuhku lemas tak berdaya. Dan pikiranku semakin tak menentu, berharap agar saat-saat seperti ini segera berlalu.
Suasana kelas hening senyap. Semut pun sepertinya takut untuk bersuara. Yang kudengar kini hanyalah suara detak jantungku, gemeretak gigiku. Yang dapat kurasa saat ini adalah aliran darahku, desahan nafasku yang memburu, kembang kempis tak beraturan. Dengan masih menundukkan kepalaku, kulirikkan mataku ke sekelilingku, teman-temanku pun sepertinya merasakan hal yang sama denganku. Bagaimana ini, siapa yang akan kuajak untuk keluar kelas sebentar, dan yang akan meminta izin kepada bapak guru kami untuk hanya sekedar matur ‘pak guru, kulo ajeng seni’. Ataukah aku harus keluar kelas sendiri dan untuk mengucapkan kata itu di hadapan beliau. Iya kalau beliau langsung mengizinkanku, kalau tidak? Kalau aku nanti disuruh untuk mengerjakan soal dulu sebelum aku diperbolehkan keluar. Bukannya aku tak bisa mengerjakan soal di papan tulis itu, tapi bagaimana aku bisa berfikir untuk mengerjakan soal dengan harus menahan pipis seperti ini. Aku semakin tersiksa, berharap, berdoa, agar segera terbebas dari keadaan ini.

Cara Kelola Panti Asuhan


Empat pilar belajar dan pembelajaran UNESCO;Learning to Know (mengetahui, memahami dan mendalami)

Learning to Do (bertindak, praktik, melakukan sesuatu, berusaha)

Learning to Be (membangun jati diri, profesi)

Learning to Live Together (hidup bersama secara harmonis).

Nilai-Nilai Panti Asuhan (2M 3B):

Catatan Seorang Guru

Kata mereka aku adalah guru
Dikenal sekian banyak anak yang setiap hari menanti hadirku.
Tapi itu hanya cuma kata-kata pemanis puisiku.

Aku tak pernah merasa ada telinga yang menjaring kata-kataku.
Aku tak pernah merasa ada mata yang membacaku
Aku tak pernah merasa ada hati yang menangkap kasih sayangku.
Kalaupun ada adalah telinga, mata, dan hatiku sendiri
dan sebagian kecil wajah yang itu dan itu.

Terik matahari siang, membuatku makin basah kuyup oleh keringat, sementara aktivitas ku belum juga usai. Yah, mencoba untuk menyambung hidup, aku memutuskan untuk menjadi petani. Sebuah profesi yang bagi orang di kampungku kurang cocok dan dipandang sebelah mata lantaran aku anak kuliahan, apalagi di fisip, tambah gak nyambung. Yah begitulah, setelah lama kuliah di ibukota, aku sudah dikenal tetanggaku sebagai anak kuliahan, sarjana gitu. Namun hatiku kadang tersenyum sekaligus miris apabila mengingatnya, aku ini hanya lulusan SMA, bukan lulusan S1 seperti yang diasumsikan para tetangga kepadaku. Memang sih, aku sempat kuliah, namun lantaran “kebandelanku”, aku memutuskan untuk berhenti kuliah.

Berbicara tentang Andrea Hirata dan Laskar Pelanginya, bukanlah hal yang baru bagi mereka yang mengikuti perkembangan novel Indonesia yang sedang semarak dengan hadirnya penulis-penulis novel yang memberikan kisah-kisah yang berbeda dan menggugah jiwa pembacanya, seperti Habiburrahman El Shirazy, penulis novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, yang karya-karyanya menjadi best seller dan digandrungi karena ceritanya yang mengandung nilai islami dan tidak terkesan menggurui.

Sejak tadi aku hanya berkutat dengan beberapa buku yang kupinjam dari perpustakaan lusa kemarin. Mataku terus terpaku pada tulisan yang tercetak didalamnya. Halaman demi halaman kutelusuri berharap tidak ada satu kata pun yang terlewatkan. Aku berusaha menelaah semuanya tanpa mau menerima mentah-mentah apa yang tertulis di dalam buku yang sejak tadi kupegang. Aku terusik oleh ketukan pintu kamarku yang kudengar beberapa kali.

Aku terbangun dari tidurku, kulihat jam. Sudah jam setengah empat, gumamku dalam hati. Aku bangkit dari tempat tidurku yang hanya sebuah tikar. Kugulung tikar itu, dan segeralah menuju kamar mandi. Setelah itu, aku menyipkan buku dan memasukkan ke dalam tas jeramiku.

”Arif! Ayo Sarapan dulu!” Ibu memanggil untuk sarapan pagi.

Seorang anak perempuan yang baru beranjak remaja terlihat bersemangat memakai seragam putih merah yang sudah sedikit pudar warnanya, mungkin karena terlalu sering dipakai. Dari bibirnya yang mungil itu bersenandung lagu yang sedang ngetren saat ini.

Next »