Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Ketika kau lelah berjalan
Berhenti dan istirahatlah sejenak
Ketika hati dan jiwamu terasa gundah
Bersandarlah dan lepaskan segala penatmu
Ketika matamu lelah memandang
Pejamkan dan bawa dirimu ke alam mimpi
Ketika kau telah sampai di alam mimpi
Melayang dan bergembiralah di sana
Bermainlah kau dengan peri-peri kecilmu
Jika kau telah lelah bermain
Buka mata dan bangkitlah dari mimpimu
Pandang dan hadapilah dunia
Yang terbentang luas di depan matamu
Jangan pernah sia-siakan dunia itu kosong
Tanpa sentuhan hangat darimu
Permanent link to this post (79 words, estimated 19 secs reading time)
Posted in Puisi, Motivasi Diri on Desember 2nd, 2008 3 Comments »
kau merasa lelah dan tak berdaya
saat segala usaha sepertinya sia-sia
Tuhan tahu, kau sudah berusaha
Ketika kau lelah menangis sekian lama
dan hatimu masih terasa pedih
Tuhan telah menghitung air matamu.
Jika kau tahu bahwa kau sedang menunggu sesuatu
waktu serasa berlalu begitu saja
Tuhan juga sedang jugaseadng menunggu bersama denganmu
bersama berjalannya waktu
Gadis, hapus air matamu.
kar’na air mata tak pantas buatmu.
Gadis, tegarkan dirimu.
kar’na ketegaran menguatkanmu.
Gadis, tersenyumlah.
kar’na senyuman menutupi kesedihanmu.
tapi Gadis, kau tetaplah gadis dan kau manusia.
kau akan tetap menangis, walau air mata tak pantas buatmu.
kau akan tetap bersedih, kar’na kau adalah makhluk yang lemah.
dan kau takkan bisa tersenyum, kar’na hatimu terlalu sakit.
Biarlah berlalu semua..
Sekarang tinggallah sekarang..
Nanti bagaimana tidaklah diketahui..
Jalani..
Jalani..
Jalani..
Dan akhiri..
Permanent link to this post (16 words, estimated 4 secs reading time)
Di antara maraknya berita aksi atau demo dan pembunuhan, ada satu berita penting untuk pemuda. Ya..itu dia, berita tentang Sumpah Pemuda. Hatiku berteriak, mudah-mudahan tidak sekadar peringatan.Seperti hari-hari sebelumnya, Andi—teman sekamarku—minum kopi susu sambil melihat berita di televisi. Sementara di luar, sang mentari tidak menampakkan diri. Jelas saja, pagi ini langit menangis tersedu-sedu. Tapi, menangis bukan karena bersedih. Menangis karena taat—menangis karena cinta. Menangis yang dinanti-nantikan oleh petani yang merindukan sawahnya tersenyum kembali.
Absisku antah berantah
ordinat pun carut marut
Aku tak tahu dimana nol
negatif atau positif
semuanya terasa sama
Sebuah dilatasi..
telah membuatku termutasi
menuntunku sampai disini
ketika koordinat terabaikan…
ketika cartesius tak berguna…
tanpa peduli mereka
yang selalu mengukur langkahku!
Kini aku bisa berdiri bebas
tanpa nurani terdikte
This is a preview of
Life Coordinashit! (Cracker Sky And The Crosspoar Train Lyric)
.
Read the full post (65 words, estimated 16 secs reading time)
Sayang…
betapapun jarak yang memisahkan kita
aku tetap berdoa untukmu dari kejauhan
Sayang…
betapa bangga hati ini apabila
melihat semangatmu seperti sekarang ini
tunjukkan pada dunia bahwa
cinta tak selamanya menyakitkan
bahwa cinta bisa merubah segala sesuatu yang buruk menjadi baik
Malam ini jalanan masih basah karena hujan mengguyur dari tadi siang. Aku melangkahkan kakiku melewati gang-gang kecil sepanjang jalan menuju rumahku.
Seperti biasa, tiap aku melangkah selalu saja ada pandangan-pandangan aneh mengikutiku. Cuek saja, memangnya siapa mereka? Begitulah yang aku katakan pada diriku setiap ada yang melihatku dengan tatapan aneh. Terkadang ada anak-anak kecil yang suka mengikutiku dari belakang dan meneriaki, “Ada banci, ada banci! ”
Ketulusan
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya di atas Ya dan Tidak di atas Tidak”. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

Selamat pagi kampus. Pagi yang gerah walaupun sang fajar masih malu-malu muncul di antara awan yang berarak. Mentari pagi itu membiaskan harapan dengan cahayanya yang lembut. Tapi sering kali ia bohong, janji awal kehidupan yang baik itu, biasanya ingkar ketika siang tiba. Kelembutan sang fajar kadang-kadang berganti menjadi garang dan membakar atau ia malah lenyap dan mempersembahkan hujan lebat.