Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Pagi itu seorang pria setengah baya bertanya kepadaku
mengapa tak kau ambil
ketika satu kesempatan datang padamu
Pilihlah Nak, satu kesempatan yang datang padamu
walau ke depan nanti akan membuatmu menyesal
bahkan membawamu ke jurang hitam
karna hidup ini kejam, Nak
dan kesempatan takkan datang kedua kali
Kejarlah asamu, Nak
Gapai semua mimpi
seribu janji dalam hidup
sejuta ada mimpi dan suka cita membentang
bahkan nyawa harus dipertaruhkan hanya’tuk seuntai harapan yang tersimpul dari bibir pengumbar janji
Pagi-pagi sekali Aji sudah mengayuh sepedanya melewati pasar-pasar tradisional yang tengik. Roda-roda sepedanya yang sudah tidak lagi bulat akibat termakan usia, sedikit demi sedikit mulai tertutupi lumpur yang belum hilang akibat hujan semalam. Batu-batu besar terpaksa ia terjang demi mendapatkan lahan untuk meloloskan sepedanya. Di sekitarnya kerumunan manusia berjejalan mencari penghidupan dengan berjualan sayur dan buah-buahan dalam bakul rotan. Jalanan sempit selebar tiga meter itu sudah tidak mampu lagi menampung luapan manusia yang sibuk berniaga di pasar itu.
Perjalanan manusia yang begitu panjang….
Membawa setiap pertemuan dan perpisahan..
Hari ini aku bertemu…
Dapat menikmati canda tawa, tangisan, dan kebersamaan…
Namun seiring waktu berjalan…
Seseorang datang dan seseorang pergi….
Tiba waktunya bagi semua memikirkan tujuan masa depan…
Tujuan hidup mereka ada ditangan mereka…
Begitu juga tujuan hidupku, ada ditanganku…
Sore ini seperti sore yang lalu. Kududuk di deretan kursi plastik ruang dapur yang kami sulap menjadi ruang rapat. Kepulan asap rokok menyesakkan hidung rekan yang turut terlibat dalam rapat.
Ya, itu giat rutin saban sore.
Posted in Puisi, Asa, Motivasi Diri on September 17th, 2008 1 Comment »
Lewat setitik celah
Mencoba menelaah
Segala resah
Yang mulai gerah
Pada semua yang tak lagi indah
Haruskah menyerah
Pada kuliah?
Apa yang mesti di benah
Di rumah?
Seiring desah
Tangispun memecah
Terdesak penyesalan yang membuncah
Tetapi semangat belum patah
Harus kembali merekah
Harus kembali menentukan arah
Tuk menggapai masa yang lebih cerah
Permanent link to this post (53 words, estimated 13 secs reading time)
DI SEBUAH GEDUNG PERTUNJUKAN…
Rati duduk di kursi penonton. Ia menatap ke arah panggung di depannya. Panggung itu sudah hampir siap. Layar putih telah digantungkan di belakangnya. Sebuah pintu masuk rumah Bali yang disebut angkul-angkul, dalam ukuran kecil dan berukiran khas Bali, berdiri di tengah kanan panggung, dihiasi dengan kain poleng, kain bercorak kotak-kotak hitam putih, dan bunga kamboja putih. Sebuah undak-undakan, simbol batu besar tempat bertapa, telah disulap hadir di bagian kiri panggung. Ranting meranggas menaungi batu. Pokok-pokok ranting kecil lain, dengan kamboja putih pada pucuk-pucuknya, berbaris acak melatarbelakangi panggung.
Angin berhembus tenang, menyentuh dengan lembut kulitnya saat Adam mendorong pintu rumahnya yang telah lapuk digerogoti sang waktu. Dia merasakan bahwa angin itu menjilati wajahnya dengan sensasi dingin, namun di sisi lain menentramkan perasaannya. Anak laki-laki itu melangkahkan kedua kakinya perlahan-lahan, kemudian semakin lama semakin cepat, mengikuti kecepatan angin yang membawanya menuju suatu tempat dimana dia dapat melihat Sang Surya yang telah mengumpulkan seluruh tenaganya untuk menyinari dunia ini sampai senja tiba. Hari ini, hari yang mungkin sangat berarti bagi dirinya. Dimana hari ini dia akan mendapatkan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah ia ketahui, dan sesuatu yang kelak akan berguna bagi dirinya, dan juga teman-temannya. Ya, yang dia maksud adalah ilmu.
Tanpa maksud untuk mengeluh, harus saya akui sebulan ini aktivitas rasanya menggila karena setelah hampir 2 tahun dalam kondisi pekerjaan yang statis, saya memutuskan mengambil pekerjaan sampingan sebagai kontributor freelance sebuah majalah Islami.
Posted in Motivasi Diri, Esai, Renungan on September 10th, 2008 No Comments »
Jika ada satu teori yang sangat saya mutlakkan kebenarannya, adalah premis dari Rasulullah SAW, bahwa musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri.
Karena hanya diri saya sendiri, hanya mengatakan bahwa saya tidak pantas mendapatkan perlakuan yang baik dari kekasih saya.
Hay Bung!!!
Kenapa kau tak bangun ?
Harimu telah menantimu
Lihatlah.. harimu bercengkerama bersama sang awan..
Begitu indah, begitu bahagia… kenapa kau tak bangun ?Hay Bung!!!
Harimu semakin terang …
Apakah kau tak ingin bercengkerama bersamanya
Bersenandung, menari bersama burung–burung pagi