KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Motivasi Diri'

“Aduh keras sekali daging ini, sampai-sampai gigiku yang tinggal separuh ini tak mampu lagi menggigitnya,” keluhku sambil meringis.

Umurku memang belum setua gigiku ini. Tapi banyak orang mengira aku hanyalah kakek-kakek yang sudah kehilangan sebagian besar giginya. Padahal umurku terbilang masih muda, masih di bawah limapuluhanlah. Makanya tak heran banyak orang memanggilku dengan sebutan Pak Ompong, terlebih lagi murid-muridku di sekolah. Profesiku sebagai guru di sebuah sekolah swasta di Surabaya tak ditunjang dengan penampilanku ini.

Kecoa

“Nauval, sudah berapa kali sih Mama bilang, kamarnya dibersihin, diberesin! Jorok banget sih. Kamar kok kayak kandang ayam gini. Entar ada kecoanya baru tahu rasa!“

“Ng..ng…emm…brmmm…”

Gumaman tak jelas keluar dari mulut mungil Iza. Tak ayal, gumaman itu cukup membuat kepalaku tertoleh pada tubuh mungil yang tengah beringsut di ruang tengah. Ruang itu telah dibuatnya berantakan. Tangannya sibuk meraih model huruf-huruf berwarna-warni berbahan dasar plastik. Kuteruskan pekerjaan mengupas bawang yang sempat terpenggal sejenak. Setidaknya, dari dapur ini aku masih bisa mengawasinya.

Di bawah rembulan dan bintang-bintang dan di atas permukaan sungai Mahakam sering terlihat beberapa orang menyusuri sungai itu. Mereka tidak memakai perahu, melainkan menggunakan gelondongan-gelondongan kayu yang diikat tiga-tiga dan sengaja dibawa dari hutan di daerah pedalaman ke suatu tempat. Sudah puluhan tahun kegiatan ilegal itu dilakukan berulang-ulang. Waktu terus berlalu seiring lentingan waktu dan semakin banyak pula akar-akar pohon besar yang kehilangan daun, ranting, dan batangnya di daerah pedalaman itu.

“Hidup mahasiswa!!”

Lewat pukul lima sore, hujan pertama baru merampungkan tetesnya. Udara kering berganti udara lembab. Matahari muncul lagi, langit sudah sedikit lebih terang. Kaca-kaca gedung bertingkat dan atap-atap seng perumahan penduduk kembali mengkilap. Got-got kembali berair, dan katak sudah boleh keluar sarang.

Semangat

Kicauan burung dipagi hari
Seakan bersenandung merdu
bak penyejuk hati
Raga pun terisi semangat baru
Yang dulu sempat pupus ditelan waktu

Indah …
Itu yang kini kurasa
Menyempurnakan diri dalam dalam jiwa yang suci
Menyatu dengan beningnya embun pagi
ketika matahari mulai terbit lagi

Di kala cerah…
Ku berjalan di tanah subur
Menapaki Bumi Pertiwi
Yang sungguh kaya akan alamnya
Karena Ia dikaruniakan Tuhan untuk kami

Namun ketika suasana damai dan tenang
Tiba-tiba beberapa orang dari negeri jauh datang
Merampas sebagian hasil kekayaan tanah airku
Tetapi apa yang harus kuperbuat?
Aku tak berdaya
Aku hanyalah manusia biasa
Hanya Nusantara yang menjadi tempatku berdiri

“Tidak ada orang yang bodoh di dunia ini,
yang ada hanya orang yang pintar dan belum pintar”

Sayup-sayup suara mesin ketik dari dalam kamar bernomor 1 bisa jelas terdengar sampai kamar nomor 10 di ujung lorong sebelah selatan.  Berirama seperti sebuah musik berkelas.  Walaupun sebenarnya hanya satu nada sama yang berulang-ulang.  Tapi tidak ada yang mendengarkan atau merasa terusik sampai perlu berteriak agar suara itu dihentikan.

« Prev - Next »