Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Aku ingin jadi dokter ! Kuteriakkan mimpi itu sekencang-kencangnya dalam hati. Jadi dokter itu menyenangkan, bisa membantu banyak orang. Setiap guru sekolah menanyakan tentang cita-cita, pasti aku akan berteriak lantang, “Jadi dokter, Bu ! “
Mentari pagi membangunkanku yang tertidur pulas di balik selimut tebal. Kelembutan sinarnya memancar hingga sudut kamar tidurku. Hawa dingin mulai merasuk ke dalam tulang-tulang rusukku. Tubuhku terasa kaku semua. Entah apa yang terjadi dengan tidurku semalam. Mungkin aku kemarin tidur dengan posisi yang salah. Kedua bola mata ini juga terasa berat ‘tuk dibuka.
Siapa yang pernah ngerasain rasanya tahi kucing??? Kalaupun pernah saya yakin nggak bakalan rasanya kayak coklat! Tapi kalau kita sedang jatuh cinta, tahi kucing memang benar-benar bisa terasa seperti coklat, maksud saya, cinta memang bisa membuat kita mabuk kepayang, dan kita tidak bisa hidup tanpa cinta.“The Power of Love” tuh memang bener-bener dahsyat, tapi kenapa ketika cinta itu pudar ato hilang ia juga bisa menyebabkan kehancuran yang dahsyat???
Posted in Puisi, Motivasi Diri on Desember 28th, 2008 1 Comment »
Aku bukanlah seekor burung
Dengan kedua sayapku
Aku bisa langsung melesat ke angkasa luas
Tanpa aku merasa takut akan terjatuh
Aku bukanlah seekor burung
Yang bisa terbang melintasi dunia
Sejauh yang aku inginkan
Kemanapun aku pergi
Aku bukanlah seekor burung
Yang bebas bertengger dimana saja
Dan pergi kapan saja
Sesuka hatiku
Posted in Cerpen, Asa, Motivasi Diri on Desember 27th, 2008 3 Comments »
Aku mulai mengambil kertas-kertas yang berhamburan di lantai kamarku. Maklum kala itu hari sudah larut malam. Mataku sudah tidak tahan lagi bertahan lama untuk melihat kata-kata yang kutulis. Kulihat mataku di depan sebuah cermin pemberian seorang teman yang telah lama tak kujumpai. Warna putih mataku ternyata sudah berubah menjadi putih campur merah. Aku menyamakan mataku saat itu dengan lampu lima watt yang hampir padam. Terdengar olehku suara tiang listrik yang sengaja dipukul sang penjaga malam dua belas kali. Ternyata memang benar-benar larut malam saat itu.
Sejenak kurebahkan letih yang menggantung di tubuhku setelah beraktivitas seharian. Kepalaku sedikit pusing, suhunya pun agak panas. Mungkin karena tadi aku nekad menerobos guyuran hujan yang cukup lebat. Untunglah pakaianku tidak sampai basah kuyup. Pasalnya, ini pakaian layak terakhir yang kupunya. Sisa pakaian yang ada di lemari hanya pakaian rumah yang tidak lazim dipakai ke kampus.
Aku sedang asyik dengan buah-buah segar yang kubawa dari rumahku. Buah-buah yang membuat hati orang ingin menyantapnya sampai habis. Saat itu matahari sedang memancarkan cahayanya tepat di atas diriku. Untung aku masih memakai topi sehingga kepalaku tidak ikut panas seperti aspal jalan yang langsung menerima sinar sang surya. Panasnya hari membuat orang-orang mendatangiku untuk mencari kesegaran buah-buah daganganku. Ada lima piring kecil di hadapanku. Segera kuisi kelimanya dengan buah-buah segar yang kuiris-iris halus. Ketajaman mata pisauku mempercepat penuhnya piring-piring kecil tempat para pelangganku menyantap kesegaran. Mereka pun dengan lahap menyantap irisan-irisan buah segar. Buah-buah yang mereka makan berasal dari kebun kesayanganku. Kedua anakku—Budi dan Yoga—sudah remaja. Mereka berdua dan istriku membantuku merawat kebun yang sudah lama menemani kami sekeluarga.
Simfoni malam ini sangat nyata berdengung di indera pendengarku. Namun nyata sekali semua itu tak kukecap dalam otakku, melayang – layang tanpa pernah masuk ke dalam ulu hatiku. Jauh pikiranku berjalan dan menusuk perlahan ke dalam hati dan jantungku. Hatiku serasa tergerogoti sedikit demi sedikit, dan jantungku terasa terus mengkerut berkelanjutan setiap harinya. Aku sakit. Dan kulihat anak – anakku berbaring tenang di kamar tidur mereka. Tidur selelap mungkin tanpa pernah merasakan kesakitan ibunya. Termasuk juga malam hari ini.
Paras nan rupawan dengan sedikit kerut di pelipis mata yang diselimutinya dengan sehelai kain kerudung itu tak lepas dari hujam tatap mata seorang Deni, siswa tahun ketiga dengan segudang prestasi di sekolah itu.
Kala itu sungguh sial nasibku, sudah puluhan kali aku berjalan mengitari rumah-rumah itu namun tak ada satupun orang yang sekedar berucap “Jamunya Mbak”. Tak biasanya kurasakan sial seperti ini, sesial-sialnya aku, paling tidak lima gelas jamuku larut dalam perut mereka tiap harinya. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan pada ketiga anakku nanti. Bukannya apa-apa, aku sudah berjanji pada mereka semua akan mencarikan uang sekolah yang sudah menunggak sejak tiga bulan lalu.