Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Aku binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Kini puisi itu menjadi cermin dari keadaanku sekarang ini. Seorang seniman yang menjadi binatang jalang. Dan dibuang dari kumpulanku. Semua ini sudah kuperkirakan dari dulu. Saat ketika aku mulai mengenal diriku dikehidupan yang lalu. Kini aku tidak bisa hidup untuk seribu tahun lagi.
Apapun yang terjadi di dunia ini adalah tidak lepas dari pengawasan Allah, Sang Khalik yang tidak pernah tidur dan berat menjaga langit dan Bumi beserta segala isinya.
Menghirup angka dalam-dalam
Layaknya pecandu ganja di bilik suram
Sendiri, khusuk menekuni seribu rumus
Mencoba variasikan soal
Tak kenal makan, diminum nyamuk
Diserang kantuk! Menusuk bungkuk rusuk
Ibu, do’akanlah Ananda
Untuk olimpiade esok
Yang mudah dan lancar menapaki
Setiap diagram sampai di podium tunggal
Permanent link to this post (45 words, estimated 11 secs reading time)
manusiaku tak bisa bergerak lagi
rantai kemiskinan semakin kuat, semakin rapi
desas-desus menjadi api dan darah
hilang kebanggaan sebagai penghuni negeri ini
hanya meninggalkan sepotong angan-angan
untuk mereka yang selanjutnya
dan hanya lewat mimpi
negeri gemah ripah loh jinawi dapat ditemui
Langit malam seakan menutup
setiap jawaban.
Namun,
‘kan slalu ada bintang kecil
yang menerangi malam glap.
Menandakan:
harapan ‘kan slalu ada
Permanent link to this post (22 words, estimated 5 secs reading time)
Berbicara tentang Andrea Hirata dan Laskar Pelanginya, bukanlah hal yang baru bagi mereka yang mengikuti perkembangan novel Indonesia yang sedang semarak dengan hadirnya penulis-penulis novel yang memberikan kisah-kisah yang berbeda dan menggugah jiwa pembacanya, seperti Habiburrahman El Shirazy, penulis novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, yang karya-karyanya menjadi best seller dan digandrungi karena ceritanya yang mengandung nilai islami dan tidak terkesan menggurui.
This is a preview of
Semangat Pendidikan Andrea Hirata Dalam Tetralogi Laskar Pelangi
.
Read the full post (676 words, estimated 2:42 mins reading time)
Sejak tadi aku hanya berkutat dengan beberapa buku yang kupinjam dari perpustakaan lusa kemarin. Mataku terus terpaku pada tulisan yang tercetak didalamnya. Halaman demi halaman kutelusuri berharap tidak ada satu kata pun yang terlewatkan. Aku berusaha menelaah semuanya tanpa mau menerima mentah-mentah apa yang tertulis di dalam buku yang sejak tadi kupegang. Aku terusik oleh ketukan pintu kamarku yang kudengar beberapa kali.
Aku terbangun dari tidurku, kulihat jam. Sudah jam setengah empat, gumamku dalam hati. Aku bangkit dari tempat tidurku yang hanya sebuah tikar. Kugulung tikar itu, dan segeralah menuju kamar mandi. Setelah itu, aku menyipkan buku dan memasukkan ke dalam tas jeramiku.
”Arif! Ayo Sarapan dulu!” Ibu memanggil untuk sarapan pagi.
Dalam cerita kali ini akan kutuliskan sensasi nikmatnya menjadi seorang aku. Aku bahagia. Aku senang. Aku gembira. Aku bete. Aku bosan. Aku gila.
Itulah si Aku yang sekarang. Apa saja yang si Aku alami? Apa saja yang si Aku tekuni? Kalian ingin tahu? Kalian penasaran? Percaya diri sekali yah si Aku ini.
Posted in Puisi, Motivasi Diri on Mei 7th, 2008 1 Comment »
Bunga kalbuku kini merekah
Disiram jarum air langit basah
Kembali berseri takkan mematah
Segala matang dari yang mentah
Harum dikecup berulang
Batang jiwa tinggi menjulang
Terlupa kini segala yang hilang
Kutersenyum tak terhalang
Daun kuningku hijau lagi
Kini lara telah pergi
Tinggal ku mekar di pemula pagi
Jiwaku kini takkan terbagi…..
Permanent link to this post (52 words, estimated 12 secs reading time)