KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Khayalan'

Sungai itu indah. Semua orang suka sungai. Orang-orang memuji keindahan sungai yang menjulur seperti lidah gunung seberang. Semua yang melihat pasti terpana dengan keelokannya yang sungguh memperindah suasana.

* * * *

“Sungai apa namanya?” tanya seseorang.

Tanpa ada yang tahu mengapa, sekonyong konyong cahaya lenyap dari muka bumi. Cahaya hanya menghilang begitu saja, seperti kesedihan yang kau rasakan saat orang tuamu meninggal tapi kemudian kau menerima kabar bahwa mereka meninggalkan warisan bernilai milyaran rupiah untukmu. Kesedihanmu lenyap tak berbekas, berganti rasa gembira yang berlebihan. Cahaya pun lenyap tanpa meninggalkan jejak. Juga tak pernah memberi pesan dan pertanda. Bumi dalam sekejap berubah menjadi hamparan kegelapan tanpa batas.

Sebuah kamar berbaris rapi di antara kamar lainnya. Kamar berukuran kecil ini berisi dua buah ranjang yang berukuran kecil pula di kedua sisinya. Semua yang ada di dalamnya berwarna putih bersih. Mulai dari dinding, lantai, seprai, selimut, bantal. Kecuali meja kayu kecil dengan kursinya yang ditempatkan tepat di samping masing-masing ranjang. Tak ada lemari pakaian atau cermin apalagi meja rias. Karena penghuni di dalamnya tak perlu merias wajah. Pakaian yang dipakai tiap hari pun akan diantarkan setiap paginya oleh seorang wanita berpakaian serba putih dan berwajah bosan. Sang penghuni tak bisa memilih pakaian apa yang ingin dia kenakan. Pakaian mereka akan selalu sama setiap hari. Seprai dan sarung bantalnya akan diganti setiap dua hari sekali dengan ganti yang sama persis.
Kamar yang satu ini berbeda dari yang lainnya. Bukan karena isinya yang istimewa, isinya sama saja, tetapi penghuni kamarnya yang istimewa. Dikatakan istimewa karena penghuni yang satu ini mendapatkan pelayanan yang berbeda. Dua buah pil berwarna merah dan biru ditelannya tiga kali sehari. Setiap pukul 7 pagi, 1 siang, dan 7 malam. Sedangkan penghuni kamar lain hanya menelannya dua kali saja. Para wanita berpakaian serba putih akan mencari peliharaannya masing-masing dan meminta mereka menelan pil tersebut, sedikit memaksa kalau perlu. Sehabis makan pagi dan sebelum tidur. Khusus si penghuni istimewa, tambahan setelah makan siang.
Maya membuka matanya perlahan. Dia tersadar dari alam mimpinya kembali ke kehidupan nyatanya. Sebuah ruangan kecil berwarna serba putih. Dia bangun dan duduk disisi ranjangnya. Masih mengantuk dan pandangannya masih kabur. Ketika matanya sudah bisa melihat dengan jelas. Duduk seorang wanita cantik tepat di hadapannya. Si wanita cantik memandangi dirinya di ranjang satunya lagi. Teman sekamarnya. Teman sama gilanya. Daya.
Daya, wanita yang sama mudanya dengan Maya ini jelas terlihat sangat cantik dengan tubuhnya yang langsing dan kulitnya yang putih mulus. Kecuali potongan rambutnya yang pendek dan sorot matanya yang tajam yang menonjolkan kemaskulinannya. Berbeda sekali dengan Maya. Tubuhnya kurus, matanya sayu, wajahnya yang tidak cantik, kulitnya putih namun tak semulus Daya. Rambut panjang sebahunya yang membuat perbedaan antara Maya dan Daya sangat kentara. Namun satu yang pasti yang membuat mereka berdua sama, sama-sama tidak waras.
Daya, entah pengaruh gilanya atau memang memuja teman sekamarnya ini. Dia selalu melihat Maya seperti sedang memandangi sebuah berlian dengan keindahan kilaunya. Padahal sudah tujuh tahun mereka tinggal sekamar. Daya memang sangat mencintai Maya.
Suatu ketika saat makan siang. Seorang wanita gila yang sudah biasa membuat onar, tiba-tiba mendorong Maya sampai terjatuh. Menumpahkan makanan Maya tepat di mukanya. Maya menangis. Namun Daya tak akan membiarkan wanita sinting pembuat onar ini membuat Maya menangis. Daya balas mendorongnya sampai si wanita jatuh terlentang. Daya menjambak rambutnya, menggusurnya, membanting kepala si wanita ke tembok, mencekiknya tanpa ampun. Daya hanya bisa dihentikan oleh tiga orang perawat gemuk-gemuk yang berusaha susah payah untuk memisahkan Daya dari si wanita pembuat onar.
Namun itu kejadian dua tahun pertama mereka di rumah sakit jiwa ini. Setelah kejadian itu Daya lebih menahan emosinya. Dia tahu tindakannya itu malah memberatkan Maya karena membuat Maya dijauhi oleh pasien-pasien yang lain. Tingkah seperti itu pula yang akan membuatnya dikurung lebih lama di tempat sialan ini.
Sudah tujuh tahun lamanya mereka bersama dan lima tahun Daya telah berhasil memperbaiki kelakuannya. Namun orang-orang waras belum menganggap mereka cukup layak untuk dibebaskan dari rumah hunian orang-orang sinting ini.

Absisku antah berantah
ordinat pun carut marut

Aku tak tahu dimana nol
negatif atau positif
semuanya terasa sama

Sebuah dilatasi..
telah membuatku termutasi

menuntunku sampai disini
ketika koordinat terabaikan…
ketika cartesius tak berguna…
tanpa peduli mereka
yang selalu mengukur langkahku!

Kini aku bisa berdiri bebas
tanpa nurani terdikte

ah….ada dia disana

ternyata bisa untuk mengenal dia

tapi, terasa jauh !

yap…mungkin karena dia baru

dan aku pun baru.

tapi, pasti….suatu saat nanti

aku akan kenal kamu…..lebih dekat !

tak ada lagi tanya..

Mbah Mantan

Tubuhnya tegap, gaya bicara spontan dengan logat yang khas, tatapan mata tajam, dan setiap kata yang terlontar adalah wejangan yang harus didengar. Ucapannya adalah gambaran nyata kepempinan yang benar-benar nyata, merakyat dan benar-benar tahu bagaimana keadaan rakyatnya. Meski usia renta tampak menggerogoti tubuhnya yang mulai berkulit keriput, tapi kewibawaannya tetap menjadi suatu kesejukan di mata masyarakat yang telah lelah hidup dalam kesulitan dan ketertinggalan yang turun temurun, termegap-megap dalam memperbaiki nasibnya.

Kana…
Kenapa???
Otak dan lidahku tak bisa berhenti menggumamkan namamu..

Kana…
Mimpiku, Kana..
Hanya  dari mimpiku,
aku bisa benar-benar melihat wujudmu dari jarak sedekat ini.

Aku hanya diam, Kana??
Aku tahu detik-detik kau hembuskan nafasmu..
Merasakan tiap kejaran pikiran ku yang melayang menangkap tiap kata yang coba kau ucap.
Hanya mimpi, Kana..
Ini hanya mimpi…
Karena aku hanya bisa menemukanmu di sini…

Kubuka jendela kamarku pagi itu, dapat kulihat jelas di kejauhan, di atas bukit, sebatang pohon Akasia yang mulai berguguran. Teringat aku pada Calista, teman sepermainanku saat kecil. Kami sering berlarian mengelilingi pohon itu, bermain menjadi pesawat dengan tangan terbentang, melompat, bercerita, bercanda. Hhh, tak terasa waktu berlalu begitu cepat.

Aku Sukses Berat

sukses berat, hidup nikamat.
mobil mengkilat..
rumah bertingkat.
istri memikat.
hidup sehat…

aku orang hebat.
aku sukses berat.
aku..
aku..
dalam mimpi masa depanku.

Namanya Dewi. Suaranya enak didengar, enak pula diajak ngobrol. Ngobrol apa saja, mulai dari masalah pekerjaan, curhatan cinta, hingga makanan kesukaan. Dewi mengaku anak SMA yang sering merasa bosan dengan hari-harinya. Nada bicaranya lemah lembut, terkadang aku ajak mengobrol nyerempet-nyerempet ke arah yang bersifat pribadi, Dewi tidak pernah marah. Malah, ia merasa senang karena memperoleh seorang teman yang sangat peduli padanya, seperti diriku.

« Prev - Next »