Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Biasanya, di tempat pembuangan sampah seperti ini, dimana bungkus kemasan dan sisa makanan menggunung disertai bau yang menyengat, suara-suara yang terdengar hanyalah suara hewan liar seperti anjing yang sedang mengeruk makananannya yang terkubur. Ada pula suara kaleng-kaleng yang bergemerincing dan bergelindingan karena tertiup angin malam. Dan tak jarang pula kepakan sayap kelelawar yang melintas dengan gesitnya memecah kesunyian yang kental. Tapi malam ini lain, karena di antara lautan sampah ini sayup-sayup terdengar suara tangis seseorang. Bukan seperti suara manusia yang telah akrab di telinga para hewan liar itu, tapi ini adalah suara tangisan yang nyaring, tanpa daya, dan tersendat-sendat, persis seperti bayi yang sedang menangis. Karena memang malam ini, di tempat pembuangan sampah ada seorang bayi yang merengek kehausan.
Maya yang kukasihi,
kutulis surat ini pagi segera setelah mataku terbuka. Semalam memang melelahkan. Semoga Tuhan berkenan atas apa yang telah aku lakukan. Kupastikan kau melihat bulan saat kau buka amplop surat ini. Sentuhlah dia. Rasakan hangatnya.
Maya yang kudambakan,
Posted in Puisi, Khayalan, Fiksi on Juli 16th, 2008 No Comments »
Merekalah pahlawan dunia khayalan
Melawan segenap kejahatan yang ada
Tak peduli luka yang selalu menyerangnya
Aku tahu mereka tak nyata
Tapi, bagiku, mereka nyata seutuhnya di buku
Menuruti kemauan si pengarang
Walau sesakit apapun
Sejauh matanya memandang, yang terlihat hanyalah tumpukan mayat tentara yang berseliweran. Rasa ketakutannya tidak bisa ia sembunyikan atau ia tutup-tutupi lagi. Jauh di dalam hatinya ia berharap mayat-mayat ini akan hidup kembali untuk membawa kabar gembira bahwa perang telah usai dan dia berada di pihak yang menang. Bayangkan betapa kabar tersebut akan berdengung kencang bila dibisikkan di kedua telinganya. Karena itulah do’anya selama ini, yang dengan rajinnya ia senandungkan di pagi, siang, dan malam. Hanya kemenanganlah yang akan membawanya kembali pulang ke rumah dan keluarganya tercinta. Namun, sekuat apapun ia menggosokkan kedua matanya, yang terlihat tetaplah tubuh-tubuh para serdadu yang tergeletak tak lagi bernyawa. Dan dirinya menghirup napas seorang diri dengan jantung yang lelah.
This is a preview of
Detik-detik Terakhir dari Sini Menuju ke Sana
.
Read the full post (3559 words, estimated 14:14 mins reading time)
Posted in Puisi, Khayalan, Asa on Juni 1st, 2008 No Comments »
Hari-hariku begitu hitam
malam hariku begitu kelam
tiada bintang dan rembulan menyinari alam
menambah suasana hati semakin suram
Hingga akhir pada suatu masa
aku temukan seberkas cahaya
cahaya cinta yang maya
namun aku begitu bahagia
dalam hatiku berharap itu akan jadi nyata
bukan hanya dusta belaka
namun dewi fortuna tidak berpihak pada kita
badaipun datang menerpa
Dua pesawat tempur dari jenis yang sama berkutat di udara, yang satu mengejar yang lainnya. Mereka masuk ke dalam awan besar nan tebal, namun pekatnya awan putih itu bukan halangan bagi keduanya untuk terus bergulat. Sang ‘indra keenam’ menunjukkan dengan pasti posisi dan gerakan lawannya sampai keluar dari gumpalan tersebut.
Semilir angin yang menerpa wajahku terasa menyegarkan bak seorang musafir yang menemukan air zam-zam dikala ia sedang beristirahat. Teduhnya suasana kurasa semakin sempurna saat sang surya tenggelam oleh gerombolan awan putih yang datang dalam birunya langit di kota Yogyakarta. Bisingnya kendaraan yang melewati tak tergubris karena tempat ini. Di tiang besar yang kotak, duduk kusandarkan punggungku sambil melihat lalu lalangnya orang-orang disebuah pusat kebahagiaan materi. Mereka hanya berlalu, melewatiku, tanpa kutahu sudah berapa lama aku disini. Hanya tetumbuhan dibelakangku yang setia menemani. Kuhidupkan sebatang rokok.
Posted in Puisi, Jeritan, Khayalan on Maret 17th, 2008 3 Comments »
Kala pagi menjelang
sang bunga bermekaran
kumbang-kumbang mulai menghampiri,
menikmati sari madu dan keindahan mahkota
siang mulai meninggi
kumbang-kumbang menjauh pergi
mencari mangsa baru
bungapun mulai merasa jenuh
lama kelamaan marahnya memuncak
menyapa dan ingin terbang
mencari kumbang
namun sia-sia
sang bunga terjatuh
berguguran sembari terbang
diterpa angin senja
Posted in Puisi, Khayalan on Maret 8th, 2008 No Comments »
akan kusebarkan rumput hijau di halaman belakang rumah kita
akan kutanam juga pohon-pohon nan rindang
dan kupasang ayunan di antara dahan-dahannya
agar suatu malam kita bisa duduk bersama
wahai belahan jiwaku….
menerawang jauh memandang bintang-bintang
dan menikmati sentuhan angin malam