KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Khayalan'

Warna-warni itu…
tak tajam tapi menusuk
ketika gerimis datang…
aura untuk merefleksei

Kusadari… diri ini hanya serpihan…
yang tersesat di padang ilalang

Ketika semuanya sama
kurindukan alunannya
yang menghembus ke sanubari
dan membawaku terbang

Hingga aku merasa
tidak kalah tinggi dari awan

Diterangi gemerlap bintang
hamparan angan menuntunku

Siluman Air

Barja namanya. Seorang penjual kayu bakar, beristrikan Marti dan dua orang anaknya yang masih ingusan. Tiga orang ini yang menyandarkan hidupnya pada lelaki itu. Namun tidak seperti kebanyakan rumah tangga yang lain, kehidupan mereka relatif akur. Marti menerima apa yang dihasilkan suaminya itu untuk kebutuhan sehari-hari. Hanya saja, kedua anaknya tidak mengerti soal yang satu ini. Yakni keinginan untuk selalu meminum susu segar. Soal ini buat Barja bisa jadi masalah tatkala kedua anaknya itu yang baru berumur satu dan dua tahun bersamaan merengek meminta minuman tersebut.

Tiap malam aku selalu melewati malam-malam yang sunyi, namun bagiku kesunyian adalah teman yang selalu ada saat aku bahagia dan berduka. Ketika malam datang aku akan merasa bahagia karena bagiku itu adalah duniaku, dunia yang penuh dengan kesunyian di mana pun aku berada. Di tengah hiruk-pikuk aku selalu merasa sepi dan sunyi. Mungkin orang bilang aku aneh, tapi aku bukan aneh, aku adalah aku. Aku hanya menyukai kesendirian aku sangat menikmati tiap detik kesunyian yang aku lalui dengan ditemani secangkir kopi dan sederet memori di masa lalu merupakan rutinitas yang kulalui di malam hari sebelum aku berangkat kerja dan di pagi hari aku tidur. Mungkin kalian pikir aku adalah kelalawar yang membuka matanya di kala matahari tenggelam dan menutup matanya di saat matahari terbit, tapi aku tidak sama dengan mereka karena mereka lebih beruntung dariku, mereka bisa mencari makan dan mendapatkannya dengan gratis.

Kecoa

“Nauval, sudah berapa kali sih Mama bilang, kamarnya dibersihin, diberesin! Jorok banget sih. Kamar kok kayak kandang ayam gini. Entar ada kecoanya baru tahu rasa!“

1R-3003 Robotic Series

Hirata kesal karena siang ini pengajuan idenya demi menyelamatkan Bogor City, salah satu dari beberapa kota yang masih bertahan selama perang berlangsung, dianggap suatu tindakan anarkis yang dapat merugikan negara. Bayang-bayang kemelut di konferensi tadi memicu amarah Hirata hingga ia membanting keras commachinenya, alat komunikasi yang dapat menjangkau seluruh ruang dengan siapapun. Sial! Ia memeras rambutnya. Tapi tiba-tiba ia teringat Professor Robert yang tadi bersikap sangat manis. Biasanya dengan congkak ia melipat kedua tangannya dan melontarkan berbagai argumen yang mematahkan semangat. Aneh bin ajaib lelaki itu tiba-tiba datang setelah sekian minggu menghilang, padahal dia adalah salah satu tokoh penting yang banyak berjasa dalam pembangunan teknologi sejak tahun 3001 dan meski tabiatnya sangat tidak disukai kebanyakan orang.

Saya adalah penyaksi. Saya melihat semuanya. Apa saja yang dilakukan oleh manusia-manusia di sekitar saya. Saya tahu ketika mereka diam-diam mengupil. Saya tahu juga ketika mereka diam-diam membuang ludah di sudut-sudut tersembunyi. Saya tahu bila beberapa di antara dari mereka berbisik-bisik. Berbisik tentang cowok kecengan di lorong seberang sana. Berbisik tentang ciuman pertama yang mereka terima. Dan tertawa cekikikan pun terdengar.

Aku terbangun dari istirah panjang setelah lelah berjalan seharian menyusuri debu dan asin keringat di jalan-jalan yang sesak uap dan bising kendaraan. Mencari remah roti juga sesuap sarapan dengan gitar tua peninggalan ayahku. Sudah seperti saudara sendiri, aku dan kawan-kawanku menuai cerita sepulang mengamen dari satu lampu merah ke lampu merah yang lain. Dari warung ke warung dan dari rumah ke rumah yang lain.
Aku tak kuasa berdiri dan terhuyung, mencoba menengok jam raksasa yang dipajang di sebuah dinding luar hotel hingga dapat kuketahui waktu menunjukkan pukul lima sore. Hari hampir gelap, biasanya aku dan kawan-kawanku berkumpul di suatu tempat untuk menuai cerita dan mengumpulkan receh penghasilan kami setiap harinya, tetapi  mereka belum datang juga. Masih kutunggu hingga pukul delapan malam mereka belum muncul juga. Ada apakah gerangan sehingga mereka belum berkumpul sampai sekarang. Kutunggu hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam, kutatapi bangku kayu lapuk berwarna coklat tua yang pudar tempat kami melepas lelah dan membagi kisah.

Aku memang bukan siapa-siapa
Tak pantas mencinta dan tak pantas untuk dicinta
Tak pantas hidup dengan cinta dan tak pantas mati dengan cinta
Tak pernah pantas bersanding dengan cinta dan tak pantas sakit karena cinta

Aku bukan dia
Aku tak bisa sepertinya dan tak mungkin akan menjadi dia
Karena aku adalah aku yang akan tetap terus menjadi aku
Hingga akhir nafas hidupku

Merpati, Maafkan Aku

Matahari bersinar terang, menerobos celah-celah, menerangi bumi. Tahun silih berganti, terik matahari semakin panas. Ini merupakan efek langsung dari penipisan lapisan ozon akibat rumah kaca, yang menjadi mainstream perumahan, supermaket, apartemen, hotel, dan pertokoan modern. Ini diperparah dengan eksploitasi alam demi kebutuhan sesaat manusia, makhluk yang konon memiliki akal; sumber segala masalah modernitas? Meski setiap tahun masalah ekologi dibahas, perhatian terhadap lingkungan meluas, kepedulian pada keadaan bumi meningkat, justru bumi bertambah panas. Apa yang salah? Antara wacana dan kenyataan berbanding terbali

Nampaknya Warmin masih saja memendam mimpinya. Cita-cita kecilnya hanya menjadi angan belaka. Angan masa lalu yang tak akan pernah digapainya. Dambaannya menjadi seorang polisi, kini tertutup rapat. Tak akan pernah terbuka kembali kesempatan itu baginya. Kalaupun dapat terjadi, seragam kejujuran itu tak layak dipakainya. Tercoreng kelakuan sekarang yang akan dikenangnya mendatang. Dia hanya dapat melihat polisi yang melintas di hadapannya. Bukan dalam mimpi, angan, dan cita-citanya. Dia hanya mampu menyaksikan perilaku dan kehebatan seorang polisi di depannya. Bukan di dalam dirinya.

« Prev - Next »