Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Cerpen, Khayalan, Fiksi on Maret 1st, 2009 7 Comments »
Aku berjalan menyusuri gang panjang dan berliku dari rumah tuaku menuju jalan raya, hendak menemui seseorang dari masa lalu. Sebenarnya bukan hendak menemui tapi hanya sekedar lewat depan toko keluarganya yang di pinggir jalan raya untuk melihat dia sedang menjaga toko atau tidak. Namun orang yang dimaksud tak ada di tempat rupanya. Kecewa aku tak melihat wajah pujaan hati. Padahal liburan sudah hampir usai. Sepertinya aku tak akan lihat wajahnya lagi untuk beberapa bulan ke depan. Kuliah padat menantiku di Bogor. Jadi aku meneruskan jalanku. Berhenti sejenak, berpikir mau kemana aku sekarang. Kulihat ke belakang ke jalan menuju stasiun kereta. Stasiun satu-satunya yang masih beroperasi di kota asalku ini, Stasiun Leles.
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Jeritan, Kelam, Khayalan, Resah, Gelisah dan Sedih, Fiksi, Dendam dan Emosi, Renungan on Februari 16th, 2009 30 Comments »
Kamu memang perempuan yang sempurna. Cantik, anggun, pintar, keibuan, populer, kaya, dan mapan. Kamu juga pintar merawat keluarga. Sungguh, kamu benar-benar perempuan sempurna. Semua kelebihanmu itu membuat aku merasa amat cemburu dan tak berharga di hadapanmu. Andai aku bisa sepertimu?
Posted in Puisi, Khayalan, Fiksi on Januari 30th, 2009 No Comments »
Setelah lama berkelana di alam antah berantah,
kini aku kembali,
kembali mengisi kekosongan,
kembali menulis harapan,
kembali bercerita,
seperti sediakala aku ingin kembali ke tujuanku semula,
kembali ke kehidupan yang membawa ketenangan.
Kini aku kembali,
kembali menuliskan sajak rindu,
kembali meneruskan langkahku,
Laki-laki itu merapatkan telinganya pada dinding. Tembok dingin itu nampaknya mengeluarkan suara. Walaupun samar, ia menjadi sangat yakin kalau ada sesuatu di balik dinding kamar kontrakannya itu. Dia semakin merapatkan telinganya pada dinding.
“Itu suara gemerincing apa ya?” batinnya.
Hari ini adalah hari pertama aku menempati kamar kost baru di kota Yogyakarta, tepatnya di Jalan Timoho. Aku terpaksa pindah dari kost lama karena ada suatu masalah yang tak ingin kuceritakan di sini.
Posted in Cerpen, Khayalan, Fiksi on Januari 18th, 2009 5 Comments »
Dengan sangat hati-hati, Didi membawa kotak persegi itu ke dalam rumahnya. Ketika Wagino, tetangga sebelah, menanyakan apa isinya ia cuma menjawab, “Hadiah dari orang yang paling aku cinta.”
Wagino menanyakan itu bukan karena apa tapi ia kuatir Didi terlibat jaringan terorisme dan ia takut bungkusan itu berisi bom. Habisnya, dengan sangat hati-hati kotak itu dibawa seperti layaknya gegana memindahkan bom yang akan meledak.
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Kerinduan dan kenangan, Khayalan, Asa, Sunyi dan Sepi, Resah, Gelisah dan Sedih on Januari 17th, 2009 4 Comments »
Seberkas sinar menyilaukan menusuk pupil mataku, membuatku mengerjap perlahan. Tapi tunggu! Di mana saat ini aku berada?!? Lalu kubuka mataku, namun sinar putih itu menembusnya tajam hingga membuatku kembali memejamkannya. Saatku kembali terpejam, memoriku kuputar kembali ke beberapa waktu lalu, yang kuyakin dengan begitu aku akan tahu jawaban dari pertanyaanku, di mana aku saat ini.
Hobinya memancing ikan. Bahkan tidak hanya sekedar hobi tapi sudah menjadi dunianya. Tak bakal ia mau lewatkan barang seharipun untuk tidak memancing. Seluruh tubuhnya akan merasakan sakit yang tak bisa terdeteksi secara fisik bila ia tak pergi memancing. Kalau sudah begitu kejadiannya maka seluruh obat di apotek takkan bisa menyembuhkannya, kecuali; pergi memancing. Sebuah dunia yang sudah melekat dalam dirinya.
Entah sejak kapan ia mulai menggemari hal itu, tak ada yang tahu pasti. Bahkan ia pun tidak. Almarhum ayahnya pun tak suka memancing, begitu juga dengan kakak-kakaknya. Bagi mereka, memancing itu pekerjaan yang tak ada gunanya dan menghabiskan waktu tidak dengan melakukan hal yang produktif. Kalau dilihat dari sudut ini berarti hobi memancingnya bukanlah bakat genetik.
O iya, hampir aku lupa. Tokoh utama yang aku ceritakan ini adalah seorang pemancing ikan yang bernama Boy. Namanya serupa denganku, tapi ia bukan diriku. Karena untukku, memancing itu melelahkan tanpa melakukan apa-apa. Dan itu menyiksa. Tapi tidak demikian dengan si Boy pemancing ini, baginya memancing itu melatih mental dan menguji strategi. Seperti catur, namun bidak-bidaknya adalah diri si pemancing itu sendiri. Bahkan, dalam kalimat filosofis, Tuhan itu Maha Pemancing sedangkan manusia adalah umpan sekaligus ikan itu sendiri. Kalau sudah berbicara seperti itu biasanya aku hanya manggut-manggut mencoba memahami walau aku sendiri tak pernah mengerti makna kata-katanya.
Ssstt!
Diam! Anakku sedang tidur. Awas, kalau kalian mendekat! Aku bisa saja mencelakakan kalian. Diam!
Ssstt!
Diam! Jangan banyak bicara. Jangan banyak komentar. Jangan mengasihaniku. Kalian tidak mengenal siapa aku. Kalian tidak mengerti perasaanku. Kalian hanya menggangguku saja. Diam!
Hidup yang tak dipertanyakan adalah hidup yang sia-sia
-Plato-
Rumah sakit jiwa yang terletak di sudut kota itu, benar-benar membuat siapa saja yang lewat akan menutup telinganya. Bising. Seperti dipenuhi oleh ribuan manusia yang terperangkap dalam sebuah bola kaca.
“Dokter Susilo, ada pasien baru di ruang tiga, seorang polisi menemukannya di sebuah jalan kemarin,”lapor seorang suster.