KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Khayalan'

Sejauh matanya memandang, yang terlihat hanyalah tumpukan mayat tentara yang berseliweran. Rasa ketakutannya tidak bisa ia sembunyikan atau ia tutup-tutupi lagi. Jauh di dalam hatinya ia berharap mayat-mayat ini akan hidup kembali untuk membawa kabar gembira bahwa perang telah usai dan dia berada di pihak yang menang. Bayangkan betapa kabar tersebut akan berdengung kencang bila dibisikkan di kedua telinganya. Karena itulah do’anya selama ini, yang dengan rajinnya ia senandungkan di pagi, siang, dan malam. Hanya kemenanganlah yang akan membawanya kembali pulang ke rumah dan keluarganya tercinta. Namun, sekuat apapun ia menggosokkan kedua matanya, yang terlihat tetaplah tubuh-tubuh para serdadu yang tergeletak tak lagi bernyawa. Dan dirinya menghirup napas seorang diri dengan jantung yang lelah.

Menggapai Cinta dan Cita

Hari-hariku begitu hitam
malam hariku begitu kelam
tiada bintang dan rembulan menyinari alam
menambah suasana hati semakin suram

Hingga akhir pada suatu masa
aku temukan seberkas cahaya
cahaya cinta yang maya
namun aku begitu bahagia

dalam hatiku berharap itu akan jadi nyata
bukan hanya dusta belaka
namun dewi fortuna tidak berpihak pada kita
badaipun datang menerpa

 

Minim

Dua pesawat tempur dari jenis yang sama berkutat di udara, yang satu mengejar yang lainnya. Mereka masuk ke dalam awan besar nan tebal, namun pekatnya awan putih itu bukan halangan bagi keduanya untuk terus bergulat. Sang ‘indra keenam’ menunjukkan dengan pasti posisi dan gerakan lawannya sampai keluar dari gumpalan tersebut.

Terjebak

Semilir angin yang menerpa wajahku terasa menyegarkan bak seorang musafir yang menemukan air zam-zam dikala ia sedang beristirahat. Teduhnya suasana kurasa semakin sempurna saat sang surya tenggelam oleh gerombolan awan putih yang datang dalam birunya langit di kota Yogyakarta. Bisingnya kendaraan yang melewati tak tergubris karena tempat ini. Di tiang besar yang kotak, duduk kusandarkan punggungku sambil melihat lalu lalangnya orang-orang disebuah pusat kebahagiaan materi. Mereka hanya berlalu, melewatiku, tanpa kutahu sudah berapa lama aku disini. Hanya tetumbuhan dibelakangku yang setia menemani. Kuhidupkan sebatang rokok.

Bunga-Bunga Merindu

Kala pagi menjelang
sang bunga bermekaran
kumbang-kumbang mulai menghampiri,
menikmati sari madu dan keindahan mahkota

siang mulai meninggi
kumbang-kumbang menjauh pergi
mencari mangsa baru
bungapun mulai merasa jenuh

lama kelamaan marahnya memuncak
menyapa dan ingin terbang
mencari kumbang
namun sia-sia

sang bunga terjatuh
berguguran sembari terbang
diterpa angin senja

Rumah Impian

akan kusebarkan rumput hijau di halaman belakang rumah kita

akan kutanam juga pohon-pohon nan rindang

dan kupasang ayunan di antara dahan-dahannya

agar suatu malam kita bisa duduk bersama

wahai belahan jiwaku….

menerawang jauh memandang bintang-bintang

dan menikmati sentuhan angin malam

Akurindu akurindu akurindu akurindu akurindu
Apa yang kurasakan fatamorgana?
Apa yang kurasakan fatamorgana?
Akurindu akurindu akurindu akurindu akurindu
Bagaimana hatiku bisa melampaui waktu?
Benarkah hanya perasaan sesaat dengan pikiran yang sesat
Siapa cintaku?
Apakah kan kutemukan ia disana tersenyum

Menanti sebuah jawaban ‘tuk memilikimu
Semakin kutebas hatiku
Semakin kumerasa rindu padamu
Dan kau pergi tinggalkanku

Disini. Diberanda aku mengantuk. Bersama segelas daun teh dan kicauan burung kecil selepas hujan. ah, basahnya tanah didepan terasa dekat. dimana kita pernah kenal, dimana pernah bersua. aku lupa. sudah bertahuntahun lamanya.
aku hampir tertidur. ya, hampir saja. tapi tetap terjaga sambil sekalikali menghisap teh, mengulangi mimpimimpi, kemarin dan hari ini, tapi belum terlelap. lalu tamutamuku datang, ah, sahabat lama. masuk, masuk, ke ruang tamuku. interiornya tak sebagus dahulu. dindingnya kusam sana sini, namun tetapnya hangat buat kita bernostalgia. mereka datang lewat sebatang pitingan daun tembakau.
tamuku teman paling setia. mereka mendengar di kala duka, dan berbagi kala suka. dan ketika aku sedang resah, mereka datang, sebagian dibawa berlalu, buat aku sedikit lega. tamuku istri keduaku. istriku tahu, namun dibiarnya kami berdua bercumbu. yang dia tidak tahu aku ingin menjauh. yang dia tak tahu aku dibawa menuju abu. oh sayang, tamutamuku.
seorang ahli pernah bilang tentang ruang tamuku. aku kira dia ahli furnitur, rupanya cuma tukang akupuntur. dia bilang soal tamutamuku, “kanker paru-paru” matanya melotot, kau pikir aku takut, anjing gila. aku kenal tamutamuku sudah puluhan tahun, dan dia tukang ahli belum-sejam-kenal sudah berlagak mengatur. jadi tinggalkan saja dia bersama istriku, dan kubawa ruang tamuku dari situ, mencari tempat nyaman buat ku undang tamutamuku, sebab sedang resah aku dan mereka bisa bawa sebagian keresahan itu buat aku sedikit lega. itu terjadi kemarin. makanya hari ini aku buat tehku sendiri sebab istriku tak mau buatkan aku teh karena kemarin aku tinggalkan dia bersama orang itu.
orang itu tidak salah. aku bukannya marah. aku tidak bisa menjauh. pun tamutamuku tak mau pergi. kata anakku ini namanya adiktit. sudahlah, biarkan saja. toh nyawa manusia ditangan Dia. so tamutamuku terus berkunjung hingga ruang tamuku penuh, dan ketika ruang tamuku penuh ruangan itu sesak. dan aku tidak bisa menyuruh tamuku keluar sebab ruangan itu sesak dan suaraku tidak mau keluar. lalu tersadar suaraku tidak keluar karena aku juga tersesak. cangkir teh ku jatuh. tembakau ku jatuh. kepalakupun terjatuh diatas pundakku dan aku merasa nyaman ketika itu. dan ketika tamutamuku berpamitan, aku keluar dari ruang tamuku, dan sudah berada didepan abu.

Andai Ku Bisa Berlari

ruangan kotak yang penuh dengan obat-obatan
membuat aku merasa boring
andai aku bisa menggerakan kedua kakiku
aku ingin berlari
menyongsong esok pagi dengan sinar mentari
yang memberikan cahayanya
untuk menerangi bumi
tapi itu hanya angan
yang entah kapan aku bisa melakukannya
kini bukan langit biru yang selalu kutatap
hanya langit-langit rumah
yang di cat warna biru dan putih
dengan harapan di hati yang tertanam
suatu saat nanti aku bisa berlari

Next »