Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Sudah berapa kali kau jatuh cinta? Sama siapa saja?
Kalau pertanyaan ini kuajukan pada anak-anak ABG sekarang, pasti mereka akan semangat dengan segudang jawaban reaksi dan ekspresi.
Masa muda emang penuh cinta Mbak. Hmm, cinta itu universal Mbak, bla..bla..bla. Jatuh cinta itu kayak sebatang coklat, Mbak. Jatuh cinta itu, menghanyutkan. Dan sederet definisi yang mereka fahami tentang cinta dan jatuh cinta.
Tak ada keistimewaan berarti pada rumah itu. Rumah besar nan indah yang terletak tepat pada posisi ujung mulut atau sebagai penyambut pertama dari sebuah gang berukuran sedang – satu dari sekian gang yang tersebar di seantero kota penghasil minyak bumi terbesar di Tanah Jawa. Sekilas rumah itu memang apik. Begitu megahnya ditopang pilar-pilar yang cukup tinggi dan besar sehingga lebih pantas disebut kastil – diaksesoriskan dengan taman yang menyelimuti hampir seluruh pekarangan yang terhampar, dan di dalamnya berbagai rumpun bunga liar berhuni – yang meski tak terurus namun terlihat bagai seni yang amat bernilai di kedua belah mata siapapun. Belum lagi pagar kastil yang jangkung dan amat kokoh, siap sebagai tameng kastil besar itu. Pahatannya yang berduri-duri pada bagian mahkota, siap menghujam siapa pun yang berani masuk tanpa ijin, secara diam-diam.
Kebahagiaan tidak ada di dunia ini. Takkan pernah ditemui di mana pun. Yang ada hanya kepahitan, getirnya hidup. Begitu pula ketika ia menemukan cinta. Sebelum tumbuh yang terasa cuma lara. Bagai belati menancapi hatinya, darah muncrat seperti mata air. Sebab cinta itu luka.
Aku membentangkan tanganku. Helaan napasku keras, mengusik seekor lebah yang hendak menghisap sari bunga jarum yang menyulur di depan hidungku. Ketika butiran embun menyeruak di sela dedaunan, menyombongkan diri dengan gemerlap titik air yang tersapa matahari seakan berkata bahwa akulah sang bening tak berdosa itu. Kupu-kupu beterbangan anggun namun riang, memamerkan karya indah dan kegembiraan, seolah-olah berteriak akulah makhluk Tuhan yang paling berbahagia. Selalu menghirup wangi bunga walau kelak aku mati di tangan seekor pemangsa, aku tetap bahagia dengan sayap-sayap bertabur serbuk sari bunga pujaanku. Pacet-pacet, hewan penghisap darah, bergerak lamban namun pasti menuju kakiku yang bertumpu lemah di bumi ini. Mengisyaratkan kerja keras dengan kelicikan. Parasit. Pacet-pacet itu tetap angkuh, meninggalkan gatal yang tak terperi sebagai pertanda bahwa ia pernah hinggap di tempat itu. Di tempat di mana ia bekerja keras memuaskan dahaga untuk bertahan hidup.
Tiga atau empat tahun yang lalu, aku masih bisa memandangi barisan panjang sawah yang indah. Aku masih berada di rumah terpencil yang dikelilingi oleh pematang-pematang hijau nan asri. Burung-burung pipit, segerombolan kodok, capung, jangkrik, belalang, bahkan kunang-kunang bukanlah mahkluk langka. Aku melihat mereka setiap hari. Dan aku masih di sisi orangtuaku, menyusahkan mereka hampir di setiap waktu.
Aku tersentak membayangkanmu. Tiba-tiba saja wajah itu kembali lagi. Tubuhku membeku seketika.
“Hai” Suara itu tak asing lagi di telingaku. Namun entahlah, tubuh ini masih saja kaku. Ah, senyuman itu, membuat tulang-tulangku runtuh. Hatiku bagai musim semi, bunga-bunga tumbuh bermekaran. Memaksakan bibirku untuk tersenyum membalasnya.
“Hai.”
“Gimana kabarnya?”
Desahan angin malam masuk ke dalam sukmaku. Membawa angan serta diriku menari bersamanya. Lampu beralaskan bintang terus bersinar indah seperti mengisyaratkan kedipan yang cantik ke arahku. Sungguh indah malam ini. Mimpi yang dibalut kecerahan sangat kudamba disaat sekarang.
Jakarta, 3 juni 2014 ( 13.00 wib )
“Hay Rayna, apa kabar?”
Itu salam pembuka dari Julian. Ya Tuhan Terima Kasih… Hanya itu yang bisa kuteriakkan dalam hati. Aku tak menyangka bisa bertemu lagi dengan pujaan hati. Aku baru tahu kalau Julian ternyata satu kantor denganku. Walaupun baru satu hari ia masuk kantor, aku sudah menduga hari- hariku selanjutnya bakal bahagia. Tidak masalah beda divisi , yang terpenting aku selalu melihatnya. Aku harus memberitahu kabar bagus ini ke sahabatku tersayang. Siapa lagi kalau bukan Daniel.
Wanita itu duduk di sebuah kursi di dekat pohon biola cantik, tak begitu jauh dariku. Di sebelah kanannya ada sebuah keranjang yang tertutup serbet. Aku menduga isinya semacam roti atau makanan lain. Sementara di pangkuannya ada album foto yang berukuran besar. Kadang-kadang dibukanya dan dipandanginya sambil tersenyum.
Detik-detik itu aku tunggu. Sebentar lagi acaranya akan dimulai. Di sebuah acara televisi aku menunggunya. Ya, televisi yang menampilkan program berita. Karena biasanya ia selalu ada di sana. Prakiraan cuaca. Esok.
“Pembaca berita yang mengagumkan,” gumamku.