Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Rumpun bunga soka di seberang jendela kamar. Mereka menggumpal-gumpal membentuk komposisi yang aneh, tapi tetap indah. Aku terus memandangi bunga-bunga itu, sampai terdengar suara langkah di belakangku.
“Lana,” suara Alen, “lagi apa?”
Aku menoleh dan tersenyum.
“Liat soka,” jawabku pendek.
Alen melangkah mendekat dan duduk menyebelahiku. Ia menghela nafas, kemudian mengikuti pandanganku.
Terkurung pada malam yang angkuh
Dan aku disudut langit bersama bintang, melukis jiwamu
Menghitung serpihan rindu yg ada, menyusun khayalan-khayalan tentangmu
Lalu kami bicara, saling cerita
Mengulas mimpi yang menggelisahkan, yang membuat aku terjaga tak berdaya
“ Bahagiakah kamu,“ bisiknya bertanya. Dan aku tersipu malu ketika bulan juga menghampiri dan menyapa.
Cinta…
Bayang tentang dirimu
Tak dapat lenyap dari hatiku
Setiap langkah kaki
Setiap kejap mata
Setiap hela nafas
Setiap detak jantung
Seakan diiringi oleh bayangmu
Masih ku ingat…
Sinar matamu
Tak satu bintang pun menggantikan
Manis senyummu
Tak setetes madu pun melebihi
Merah bibirmu
Tak setangkai mawar pun menyerupai
Harum tubuhmu
Tak se-karang bunga pun mewakili
Lirih lembut suaramu
Tak seekor merpati pun menandingi
Tak pernah terbayangkan hidupku penuh kepedihan seperti ini. Pertemuanku dengan orang–orang di sekitarku ternyata harus kandas dengan luka tergoreskan di hati dan rasanya sulit tuk mengubur dalam–dalam kisahku ini.
Dua tahun sudah aku sebagai pelajar di SMA Nusa Bangsa I. Di tempat inilah ku bertemu dengan kawan–kawan dekatku yang biasanya aku panggil mereka dengan sahabat.
Lengkungan terbias di cermin buram
Tak yakin tampak namun kutahu indah
Kedipan perlahan tersemat suram
Terhalang kabut namun tetaplah terindah
Rinduku terhampar di pasir tak bertuan
Cintaku terbelenggu di sekat dinding kelabu
Langkahi jurang terpuruk terjal dalam impian
Menggapai beribu malam tak pernah mampu
Berbagai cara sudah aku coba untuk bisa melupakan sosoknya dengan selalu mengenang kejadian menyakitkan yang pernah terjadi dua belas tahun yang lalu, tapi tetap saja aku tak pernah bisa lupa. Entah kenapa sosok dirinya masih begitu melekat erat dalam hatiku, bahkan semakin parah saja, sehingga membuatku tetap sendiri di usiaku yang sudah menginjak dua puluh sembilan tahun ini. Kenapa tak ada pria yang bisa menggantikan posisinya di hatiku? Kenapa aku tetap mencintainya meskipun berulang kali dia menyakiti perasaanku? Kenapa aku begitu bodoh? Sampai kapan aku mau terus begini?
Condet, nama suatu daerah yang masuk dalam wilayah kecamatan Kramat Jati. Condet terdiri dari 3 kelurahan: Balekambang, Batu Ampar dan Kampung Tengah. Kerimbunan pohon duku dan salak, rambutan dan menteng, mangga dan bacang, melinjo dan duren mewarnai lahan yang ada di daerah Condet.
Dini hari di awal bulan Juni 2007
Aku terjaga dari tidur yang tak lelap. Meratapi tiap tetes air yang jatuh di beranda.
“ Nena, kau di mana?”
Awal Januari 2006
Aku jumpai wajahmu di sebuah tabloid mingguan ternama. Sebagai model pakaian pengantin.
This is a preview of
Dua Koper di Samping Indah Sepasang Kaki Nena
.
Read the full post (662 words, estimated 2:39 mins reading time)
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Kerinduan dan kenangan, Khayalan, Asa, Sunyi dan Sepi, Resah, Gelisah dan Sedih on Januari 17th, 2009 4 Comments »
Seberkas sinar menyilaukan menusuk pupil mataku, membuatku mengerjap perlahan. Tapi tunggu! Di mana saat ini aku berada?!? Lalu kubuka mataku, namun sinar putih itu menembusnya tajam hingga membuatku kembali memejamkannya. Saatku kembali terpejam, memoriku kuputar kembali ke beberapa waktu lalu, yang kuyakin dengan begitu aku akan tahu jawaban dari pertanyaanku, di mana aku saat ini.
Hari demi hari kulewati untuk menunggu dia. Aku selalu berlari keluar setiap kali mendengar langkah kaki seseorang.Terakhir kali perjumpaanku dengan dia adalah ketika dia mencium keningku lalu pergi meninggalkanku untuk pergi ke Yogya karena dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah musik di sana. Itulah yang menjadi hari terakhir aku dengan dia. Semenjak itu aku pun tidak pernah berjumpa lagi dengannya. Akankah masih bisa kulewati lagi masa-masa itu, setelah 50 tahun lamanya sudah lewat masa-masa bahagiaku dengan dia.