KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Kerinduan dan kenangan'

Tolong beritahu ibuku, Tuhan…… betapa sulitnya menjalani hidup seperti dia. Sungguh saat ini aku merasa amat sangat bersalah karena dahulu selalu malu mengakui kondisi ibuku. Ibuku yang kurus, ringkih, penyakitan, dan rasanya tak pantas untuk kukenalkan dengan teman-temanku terlebih pacarku. Tapi di balik semua itu, Ibu adalah seorang yang paling kuat dan tabah, ikhlas dengan semua cobaan yang hampir tiap hari dilaluinya. Aku tak pernah menyadari bahwa Ibu adalah wanita terkuat dan Ibu terhebat yang pernah aku miliki di dunia.

bukan sebuah ungkapan

yang ku rangkai pada tiap katanya

tapi sebuah kehidupan yang di setiap katanya terangkai cinta

sekumpulan bintang membentuk hiasan hati

terpaut pada hitam pekatnya malam

di sebuah sudut kecil diantaranya

seperti tersenyum memandangku yang gelisah

aku tahu….

sebentuk senyum itu milik kamu

Ketika Itu

kau tahu,
ketika malam hampir berlalu dan kabut mengendap-endap masuk ke kamarku
ketika suara jengkerik sudah tersedak
ketika jarum jam bergerak turun

aku tahu…
kau merenungkanku

aku tahu…
kau ingin datang lagi padaku

aku tahu…
kau menjumpai wajahku dalam mimpimu yang masih tersisa untuk pagi

Jeritan hati tak kunjung menentu

Gejolak jiwa yang terenyah meminta pertolongan hati

“Tunggulah di sana!!!!”

Seumpama angin mendesir

Memberikan sebuah ketenangan jiwa yang mendalam

Akankah hati ini terus mengejarmu

Bila jiwa ini terus menolaknya???

Ke manakah hati ini harus berlabuh

Jika jiwa tak memberikan kesempatan???

Jarak tanpa aturan itu memisahkan antara aku dan rasa cintaku

Antara aku dan rasa rinduku

Antara aku dan rasa sayangku

Antara aku dan belahan jiwaku

Pun antara aku dan sahabat sejatiku

Jarak tanpa aturan itu telah mencipta antara jarak ruang dan waktuku

Aku luka

Rasanya aku ingin segera berangkat ke stasiun terdekat dari rumahku sekarang dan beperjalanan menuju kotamu malam ini juga. Tak peduli jam sudah menunjukkan pukul 00.07. Tak peduli uang di dompet hanya tinggal Rp 60.000. Setelah melihat video yang merekam dirimu tertawa, rindu ini seperti menderas hingga ke pembuluh jantung dan akhirnya membuat degupnya semakin cepat. Baru kali ini aku menyadari, aku didera rindu yang luar biasa. Kututup mataku sejenak. Mengatasi perih yang sulit untuk dilalui, walau sudah lewat tiga tahun. Aku tak bisa memilikimu. Bukan karena kamu tak mencintaiku. Bukan juga karena jarak yang sebegitu jauh yang jelas membatasi gerik kita. Tapi, lebih karena kita tak pernah mau berusaha. Lebih karena kamu tak sedikit saja berusaha mencintaiku dengan terbuka. Aku maklum. Mau tak mau harus mengerti bahwa kenyataannya budaya nrimo kota asalmu itu mendarah daging dalam dirimu yang notabene lahir, besar, dan memang asli Jawa.

Saat aku mulai titipkan kenangan itu di ujung sua
ada setitik arti yang tak dapat kumaknai
bukan dengan diriku ataupun dirimu
tetapi diujung sua itulah seberkas bening terpancar
seolah bercerita tentang penatnya hidup

Penatnya hidup ditengah ketidakpastian
mungkin kan memberikan sejuta pengharapan
bagi diri yang tersalimi

 

 

Tanah pekuburan sore itu masih basah dan wangi kembang orang-orang yang melayat masih semerbak. Ardian masih terpaku memandangi nisan yang bertuliskan “Rr. Rena Sukmawati, wafat 01-04-2008”. Bukan karena tulisan di nisan itu diukir dengan kaligrafi yang indah, tetapi nama dalam nisan itu yang masih membuat dada Ardian sesak, tak percaya bahwa kekasihnya akan meninggalkan dirinya begitu cepat. Kekasih yang begitu ia cintai, ia sayangi, harus pergi selamanya. Kecelakaan maut yang menimpa kekasihnya semalam, masih terngiang di pikirannya. Ardian merasa bersalah karena Tuhan hanya memanggil Rena, bukan dia.

Tahukah kamu sekarang tahun berapa?

Ya benar sekarang tahun 2008. dimana pada tahun ini adalah tahun bertambahnya keterpurukan Indonesia.

Ku jejak kaki pada pasir yang menghangat tersiram cahaya pagi
Erat ragamu ku dekap di bawah bayang tarian nyiur bersama angin
Mentari Dewata pertama kita hadir malu-malu di sela gerumpul mega
Ucapkan selamat datang pada cinta di sana

« Prev - Next »