KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Kerinduan dan kenangan'

Sapaan rindu…

Hangat rasa nya berada di tengah dekapmu..
Tapi sesak…
Kau terlalu erat memelukku…

Tenang rasa nya di sekeliling barisan panjangmu..
Tapi lelah…
Aku terlalu lama menunggu…

Bersamamu harus penuh rasa sabar..
Karena bukan hanya aku yang mencintaimu..
Semua mencintaimu.. semua menyayangimu…
Semua ingin selalu di dekat mu…
Sampah-sampah itu juga…

Di hati  ada penantian
Panjang tapi tak jua bertepi
Lewat angan aku berkhayal
Sesaat ada bayang namun hampa

Saat hadir menggebu
Tersenyum semu kubayar kerinduan
Hampa langkah aku tertahan
Semu mulutku tersendak
Ada gerangan apa aku berpikir

Di sudut ruangan itu, dengan sebatang Marlboro terakhir di sisa hari ini, dia coba membunuh tangisnya sekali lagi dengan kepulan asap rokok. Kepulan-kepulan asap yang membuat ingatannya mengembara. Kenangan masa kanak yang saling bertubrukan, berhamburan keluar dari memori otaknya. Juga saat-saat terakhir bersama sosok ayah yang tak pernah sempat bisa membahagiakannya.

Gerimis masih meratap
Basah
Sendiri, semuanya lepas
Kosong
Dan aku menangis
Bukan untuk kamu
Lagi

Masih menatap genangan air itu
Lekas gerimis lagi
Menangis lagi
Terus lepas lantas lekas hilang bekas,
Lagi, lagi, lagi, dan lagi-lagi bukan  untuk kamu
Aku menangis ini gerimis
Menggenang melinang
Masih kosong

Dalam angan ku berbisik

Ucapannya yang lalu kembali mendengung

Hanya saja bayangnya tak lintas mata

Gelak tawanya pun tak mampu kulihat

Aku ingin melihatnya

Berpeluk kembali dengan tanganku yang dingin

Namun

Mengapa aku yang di sini

Tak mampu merasakannya

YASMIN baru sampai pagi ini, menumpang perahu nelayan dari Muara Kamal. Ia memperhatikan sekeliling pulau. Tempat ini masih termasuk ke dalam Jakarta sebagai salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Tapi keberadaan bangunan-bangunan tua disini membuatnya sungguh berbeda dengan dunia metropolitan di seberang sana.

Yang kuingat adalah aku tiba-tiba merasakan jantungku hendak keluar lalu badanku terjatuh menyentuh lantai dengan keras. Dan dari kejauhan, bintik-bintik hitam menghujani kedua mataku seperti gelombang pasang. Sempat aku melihat foto pernikahan kita di dinding, namun samar dan berbayang.  Dan sempat aku sedikit berteriak minta tolong, tapi setelah itu: sepertinya aku mulai tertidur.

Lucid

”Ish, aku jemput sebentar lagi. Tunggu di tempat biasa ya,” suara Nara terdengar dari telepon genggam Ishka. Seperti biasa, saat jam makan siang, Nara akan menjemputnya bersama Anne untuk makan siang di kafe langganan mereka.
Ishka menggeleng pelan tanpa melepas pandangannya dari layar monitor komputernya.

Sebentuk hati telah terluka
Merah… mengalir membasahi relung jiwa
Cinta yang selama ini bagaikan semburat cahaya menghangatkan…

Tapi makin panas kurasa
Bilur cahaya terasa bagai ratusan jarum yang menghujam
ke dalam hati…

Pilu… perih… sakit… tak tertahan
Mati rasa…
Kugali liang
Kubur hati…
Tertanam diatasnya setangkai chrysant putih
Biarlah mewangi…
Sehingga tercium oleh nya

Rindu

kemarin
aku melihat katumbiri
aku ingat dirimu
yang ingin  meniti pelangi
hingga ke langit
melalui merah kakimu

tidakkah disana kau juga lihat?
kukirim merah jingga padamu
biar kau tahu
aku rindu

« Prev - Next »