Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Balik ke kiri yang ada hanya kesesakan , ke kanan pun sama. Tak ada yang tahu mengapa ini terjadi. Tak ada yang tahu atas yang kurasakan. Sangat sakit. Aku tersenyum pada siapapun. Tapi tak ada yang tahu isi hatiku.
Akh sesaknya…
Seperti lebah yang menyengat
Sepertinya kehadiranku menyakitkan
Hanya mendapati orang-orang menyinggung ku
Melepas rasa kesal dengan amarah
Melihat yang nyata menjadi resah
Semua seperti hanya phobia
Menghempaskanku menjadi manusia paling terpuruk
Menakutiku sampai ke titik kegetiranku
Aku tidak ingin begini
Sayangi aku seperti yang aku mau
Menghempas segala paranoid yang menghantui
Aku yakin aku pantas untuk itu
Akankah sebuah perpisahan menjadi awal dari goresan–goresan puisi sang bijak? Yang menggantikan secawan arak kedalam untaian–untaian doa, yang akan menggantikan gelap ke dalam terang binar mata, dan membisikkan petuah–petuah bijak dalam rahasia kehidupan ini?
Maya yang kukasihi,
kutulis surat ini pagi segera setelah mataku terbuka. Semalam memang melelahkan. Semoga Tuhan berkenan atas apa yang telah aku lakukan. Kupastikan kau melihat bulan saat kau buka amplop surat ini. Sentuhlah dia. Rasakan hangatnya.
Maya yang kudambakan,
setatap
sesungging
sesapa suara-mu
menggulung langit
mengemas seluruh bintang bulan
menghapus jejak ratusan-ribu perempuan
dalam tiga menit
negosiasi :
antara waktu dan aku
sementara berkas sinaran-mu
memenuhi kelopak-ku
Bekasi.
07.42.10. PM Saturday, 28 June, 2008.
Permanent link to this post (36 words, estimated 9 secs reading time)
kesunyian membelengguku
kerinduan memaksaku
untuk ungkapkan semuanya
ijinkan aku memelukmu sekali saja
dalam sayangku, dalam cintaku
yang telah terkubur selama bertahun-tahun
ijinkan aku betemu dengan mu sekali saja
karena aku masih sangat sayang padamu
ijinkan aku melepaskan kerinduanku
yang selama bertahun tahun aku pendam
- untuk Anna Maria
Kau teguk sisa-sisa hujan dalam cawan itu. Yang isinya berbiak dalam perutmu. Lalu di saat rahimmu bergolak dasyat, kau namai dia Malam.
Kau mengguyurnya dengan tubuh hujanmu. Menisiknya ke dalam selimut petang. Dan meniupkan pijar pengampunan dalam dinding kamarmu yang sesak padat.
- untuk Kumanosuke Adachi
Pada tanah gelombang, hujan sempat membasahi bibir bumi
melumatnya dalam kecupan yang hambar
ada bandang kekhawatiran
jika retas air itu menyapanya terlalu mesrah
Pada tanah gelombang, ada sebak seekor ternak
yang linglung mendekap punggung kesedihan
sebab ia tak tau kemana pergi sang induk
Tiba-tiba aku berada di gurun tandus. Hanya berteman bayanganku sendiri yang tegak lurus ke Timur. Langit merah senja membakar kulit, menyengat hingga rongga pori-pori. Tak biasanya matahari begitu senyap. Kupingku tak menangkap sesuara apapun. Hanya deru debu terkoyak angin. Rumput kering. Ilalang kering.
“Di dalam hatiku ada sebuah kidung yang tak mampu mengalir seperti tinta diatas kertas, hanya dapat terucap lewat kata untuk cintaku yang selalu membalut tubuhku dengan kasih. Kekasihku ada dalam jiwa hatiku, bersemanyam yang lamat-lamat pecah menjadi bongkohan rindu, selalu…”
Kalimat itu mengalir dari jemari dalam lembar pertama diary hatiku, kata-kata yang mengalir dari perasaan terindah dalam hidupku.