Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
- untuk Anna Maria
Kau teguk sisa-sisa hujan dalam cawan itu. Yang isinya berbiak dalam perutmu. Lalu di saat rahimmu bergolak dasyat, kau namai dia Malam.
Kau mengguyurnya dengan tubuh hujanmu. Menisiknya ke dalam selimut petang. Dan meniupkan pijar pengampunan dalam dinding kamarmu yang sesak padat.
- untuk Kumanosuke Adachi
Pada tanah gelombang, hujan sempat membasahi bibir bumi
melumatnya dalam kecupan yang hambar
ada bandang kekhawatiran
jika retas air itu menyapanya terlalu mesrah
Pada tanah gelombang, ada sebak seekor ternak
yang linglung mendekap punggung kesedihan
sebab ia tak tau kemana pergi sang induk
Tiba-tiba aku berada di gurun tandus. Hanya berteman bayanganku sendiri yang tegak lurus ke Timur. Langit merah senja membakar kulit, menyengat hingga rongga pori-pori. Tak biasanya matahari begitu senyap. Kupingku tak menangkap sesuara apapun. Hanya deru debu terkoyak angin. Rumput kering. Ilalang kering.
“Di dalam hatiku ada sebuah kidung yang tak mampu mengalir seperti tinta diatas kertas, hanya dapat terucap lewat kata untuk cintaku yang selalu membalut tubuhku dengan kasih. Kekasihku ada dalam jiwa hatiku, bersemanyam yang lamat-lamat pecah menjadi bongkohan rindu, selalu…”
Kalimat itu mengalir dari jemari dalam lembar pertama diary hatiku, kata-kata yang mengalir dari perasaan terindah dalam hidupku.
Langit mendung
Mungkin mendung juga hati ini
Sulit meraba angan jiwa
Teman
Berikan aku satu cerita tanpa duka
Berikan tawa dalam canda kala bersama
Berikan indah dalam keabadian
Berikan luka sekali saja
Di saat mata ingin berlinang
Di kala senja telah mengunadangkan pudarnya
Di masa tua akan menjelma
Dirasa raga telah goyah
Hati ini serasa senja
tak terperikan oleh bidadari malam
bulan berkicau menantang alam
apa mungkin??
sejak pergi,
tak pernah termiliki…
gundah itu punya siapa?
asa ini milik siapa?
rindu itu menjadi dua
entah siapa yang punya
Aku memang kalah dari siapapun, apalagi dari Kang Mastur. Dia santri tulen, mengenyam pondok pesantren sejak dari kecil. Pembawaannya yang tenang dan tidak pernah mengekspos diri sendiri membuat kagum banyak teman. Tiga tahun di pesantren tak pernah naik kelas itulah aku. Anak-anak kecil yang dulunya yunior kemudian di tahun kemarin ada satu kelas bersamaku dan tahun ini harus aku relakan menjadi seniorku. Mereka kini menjadi kakak kelasku di Madrasah Diniyah Al Anwar Semarang.
Catatan penuh coretan ini
Takut buat bersuara
Disambangi penjepit dan pulpen karatan
Hurufhuruf jatuh
Melesak, bareng keluhkesah yang mendengus pasi
Catatan penuh coretan ini
Enggan menafikan ramai yang melengang
Mewakilkan anganku pada secoret lalang
Dan serapah bukan pada keacuhan
Wajah gadis manis selalu terbayang
Kemanapun mata memandang
Suara gadis manis selalu terngiang
Kemanapun jiwa merasa keheningan
Sentuhan gadis manis selalu terasa
Disetiap tangan ini terbentang
Namun kini….
Aku melangkah sendirian
Bingung, linglung, tanpa tawa, tanpa belaian
Hanya ada awan hitam di angkasa
Hanya embun yang menetes di hening malam
Dan hanya bayu yang membelai tubuhku
kau permata di antara bebatuan
berkilau bagaikan mata air di tengah padang pasir
dan aku hanyalah bunga layu tanpa air itu
aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana
seperti yang ingin disampaikan api kepada kayu
sebelum kayu menjadi abu
aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana