KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Kelam'

Aku adalah aku . Sesosok pria dengan tubuh kurus dan rambut gaya Pasha Ungu . Aku suka dengan berbagai macam kehidupan malam . Apalagi saat aku hidup sebagai seorang pelayan di salah satu cafè di Jakarta . Hidupku aman dan nyaman tentunya di sana, tanpa ada pengganggu dan polusi . Ya, kalian mungkin mengganggap itu sebagai sebuah desa kecil dan kumuh, namun perkiraan kalian salah ! Karena aku hidup di kota yang jauh dari keramaian .

Jalanan sedang macet, hujan pun turun dengan derasnya. Tapi semua orang pasti tak menyadari bahwa di sana, di antara banyak mobil yang terbaris rapi dan pasrah menanti keajaiban waktu yang akan membawa mereka menuju kebebasan untuk berjalan dengan bebasnya tanpa ada gangguan sedikitpun, ataupun klakson – klakson mobil di belakang mereka yang sangat mengganggu, ada satu mobil yang sangat cemas, lebih cemas dari seorang anak ayam yang kehilangan induknya, dan sangat lebih cemas daripada menanti hasil ujian masuk sekolah ataupun universitas.

Aku seperti seorang terusir yang menyusuri dasar lautan seorang diri, melintasi terumbu karang berbisa yang meracuni tiap helaan nafas yang makin tinggal sisa. Aku menjadi orang asing, berbicara pada orang-orang tapi suaraku hanya memantul kembali dan hilang. Sedangkan monster-monster laut dan serigala separuh gurita mengintai-ngintai hendak menerkam saat aku lengah. Aku tercekam oleh pikiranku sendiri. Dan mulai detik itu, aku paham makna dari kata-kata bijak ini, ‘sendirian dalam keramaian adalah ancaman.’ Aku sendirian. Berdiri dengan keyakinan dan pemikiran yang tidak sejalan bukan hanya dengan orang-orang kebanyakan, tapi bahkan bertentangan dengan Se Moljo Banahung, kepala suku kami, suku Mota Pedalaman.

Aku harus kubur segala sengsara dan nestapa yang pernah singgah di peraduan suram, teramat hina. Kini mataku takkan rela lagi ‘tuk menolehnya. Biarkan saja ia terbakar hangus tanpa meninggalkan bekas. Dan kini… bebaskan aku ‘tuk menghirup udara segar…

Ahad, 22 Januari 1579

Aku berpacu dalam langkah yang semakin memburu. Sementara malam mengungkung menyesaki rongga mata.

Dalam keremangan dan ketakutan yang menyiksa, aku terjerambab. Langkahku dihentikan segunduk tanah bekas galian. Darah mengucur dari lubang hidung, menguarkan bau amis yang bercampur lumpur dan kotoran anjing. Kucoba bertumpu pada dua kaki yang sudah lelah. Tapi gagal, aku tersungkur lagi. Saat itulah mataku menangkap lukisan langit hitam kelam seperti kopi pahit kesukaan ayah. Terpatri di atasnya, seonggok bulan merah darah yang menyusupkan rasa ngeri di ubun-ubun otakku.

Masih panjangkah waktuku untuk bersamanya?

Kututup lembar kesekian dari buku harian merah jambu yang ada di tanganku. Sekilas mataku masih sempat menangkap sederet kata cinta di halaman depan diari itu. Untuk anugerah terindah dalam hidupku. Entah ini kali yang keberapa aku begitu tersanjung membaca kata-kata itu.

Copet

Sekali lagi kuperiksa dompetku. Alhamdulillah masih ada. Sebelum berangkat Ibu selalu berpesan agar aku berhati-hati di jalan, terutama saat dalam bus. Biasanya banyak copet beraksi di dalam bus, terlebih saat bus penuh dan para penumpang berdesak-desakan. Itu merupakan lahan empuk bagi para pencopet.

Hai, namaku Rai Andika Sadewa, dan kalian bersama denganku di Dark Channel. Channel misterius, yang mengungkap kisah-kisah alam gaib dan dunia nyata serta bagaimana hubungan keduanya.

Kalian tahu apa itu arwah gentayangan? Benar, sosok yang selalu ditakuti banyak orang, bahkan orang-orang yang berpikiran modern! Sebuah ikon yang tak akan hilang dari sejarah manusia, dari pikiran manusia, dari kehidupan manusia.

Lihatlah. Ia tampak begitu kedinginan. Bukan disebabkan karena saat ini sedang musim hujan. Bukan. Lihat juga, di dalam selimut orang tua itu bersandar pada sebuah bantal. Telah pucat kulitnya yang lisut. Rambut beserta jenggotnya yang dulu tebal dan hitam, kini sudah memutih. Tak ada tanda-tanda ia dapat disebut sebagai orang tua yang sehat bugar. Kata orang, karena tubuh itu telah lama dipakai, sudah saatnya menjadi usang dan kian susut.

Masih dengan mata sembab dengan rambut yang acak-acakan, Nia berusaha tetap terlihat tegar dan tersenyum kepada setiap tetangga yang mampir melayat di rumahnya. Wanita 20 tahun ini baru saja ditinggal pergi oleh suaminya untuk selama-lamanya. Hari yang berat namun tetap harus dijalani bagaimanapun caranya.

***

« Prev - Next »