KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Kelam'

Hari yang cerah pagi ini ketika tiba-tiba kurasakan bekas lukaku ini kembali berdenyut-denyut. Luka ini tampak memerah di dadaku, menandakan kemungkinan adanya infeksi. Akhir-akhir ini udara kota Hames dingin, menyebabkanku perlu menyediakan beberapa anti-histamin, untuk mengurangi gejala alergiku. Lagi-lagi luka ini. Luka ini kembali mengingatkanku pada dia, sang pemilik biola itu. Praktikum akan segera dimulai satu jam lagi. Sambil merapikan bukuku, kutengok jam tangan antik yang melingkar di tangan ini. Jam menunjukkan pukul 15.00 sore. Segera kulangkahkan kakiku menuju ruang praktikum anatomi yang terletak di sebelah utara gedung rehabilitasi penyakit jantung tersebut. Kurasa waktu satu jam tidak terlalu singkat bagiku untuk berjalan-jalan sejenak ke gedung sebelah.

Saat penat terasa semua begitu kelam
Hitam dengan segala nikmatnya
Redup dengan segala gelapnya
Hampa dengan segala isinya

Pernahkah kau merasa illfeel?
Ketika dunia mentertawakan sikapmu
Semua insan seperti tumpukan tanah yang siap menggulungku

Atau pernahkah kau merasa bonyok?
Dilempar batu dan dikeroyok oleh pedang lidah?
Ada yang harus kau lakukan?
Dan apa yang harus kau berikan?

Jenjang hidup yang tiada henti
Diiringi hati yang kadang tak terarah
Seribu ingin ku selalu berbuat untuk Mu
Namun seringkali ku terjatuh dalam jurang
Berbelok ke angan yang terlalu gelap

Kadang jiwa tertawa dalam ketidaksadaranku
Sedang hati merintih bersama penyesalan

Terakhir, aku melihatmu di kerumunan penghuni asrama. Tergeletak bersimbah darah. Semunya terasa kabur. Selamanya aku tidak akan bisa menghapusnya, sekalipun semua itu telah dikubur. Kamu membiarkan tubuhmu jatuh dari loteng – pelataran kosong di atas lantai tiga – asrama kampus. Padahal kamu tahu, kamu bukanlah daun yang bisa melayang bebas terhempas angin saat jatuh dari rantingnya. Dan, aku tahu kenapa kamu memilih perih – ‘terjatuh dengan sengaja’. Tapi aku tidak sanggup mengungkapnya.

Mengapa hari begitu kelam
Di saat engkau tak lagi dekat
Tertinggal bayang yang selalu menemani

Kau pergi…
Membawa kata
yang tiada lagi menerangi indahnya lentera hati

Hati begitu hitam
Sampai ternangis tanpa jejak
Diikat erat kehampaan

Kini sepiku kembali datang
bersama hujan yang tiada mereda

Perlahan mata kaki perempuan itu menyelinap keluar dari lembar selimut. Permukaan kulitnya yang kuning langsat seolah memantulkan cahaya lampu kamar. Sedemikian kontras warna kaki itu dengan selembar selimut coklat yang menyelimutinya. Halus serupa kulit bayi, ditambah warna eksotik biru muda pada kuku-kuku jarinya.

Seandainya waktu takkan pernah berlalu
Kan ku rengkuh perasaan ini
menjalari waktu, merakit hati untuk segera mati
Hilang sudah, angan beserte rasa,
ditelan waktu yang tak menentu
Hilang tak berarah, berlebur dengan asa

Menjinjing pagi yang hening
Melepas malam yang pekat
Berdesir hawa subuh, menyelinap masuk menusuk kulitku
Andai angin subuh tahu, dia akan tersenyum pahit,
menghindari daun-daun hijau nan rapuh

Sarah

Sudah sekitar lima hari berlalu sejak peristiwa memilukan itu terekam oleh kedua mataku. Semuanya masih tampak segar, masih terasa baru tanpa secuil momen pun yang mulai mengelupas. Aku masih dinaungi oleh bayang-bayang kegelapan yang sama dengan hasrat gila yang menumbuhi hatiku layaknya jamur di musim hujan. Kini, aku sendirian. Maksudku, aku merasa telah terlepas dari kenyataan dan masuk ke dalam dimensi yang kejam ini seorang diri. Tanpa teman maupun musuh. Aku benar-benar sendiri menikmati rasa muak yang membabat gundul benang-benang akal sehat yang terbentang lelah. Setiap bunyi detik jarum jam menyiksaku habis-habisan. Ruang dan waktu, realita dan imajinasi, waras dan gila, apa artinya kini? Apa artinya hidup dan mati? Senang dan sedih? Tawa dan tangis? Jika yang tersisa hanyalah karat yang menggerogoti perasaanku sebagai manusia yang hidup atau yang lebih mudah kuartikan sebagai: kehampaan.

Kematian

Suatu hari, pekik tak akan banyak berarti
Tak perduli sejauh apa kaki letih membawa tubuh berlari
Sejak lama kematian sudah lama berdiri
Di balik bahu yang mengobarkan sepi

Di balik senja selalu melayang
Di pucuk matahari pagi selalu menjelang
Di silaunya kegelapan malam semakin berang
Bersemayam dalam hangatnya kasur dan anak yang dibelai sayang
Kematian selalu ada, niscaya hadir

Terpaku ku dalam lamunan

Memandang kenangan indah walau hati terluka

Teringat setiap hela napas saat bersama

Bungkam sepi saling mencinta

Tersayat, benih cinta yang dulu terasa pasti

Perih, mengalir bersama-sama  lajunya darah

Mimpi kuharap tiap detik yang berdetak

Lepaskan harapan dalam khayalan

« Prev - Next »