Binatang
Posted in Puisi, Jeritan, Kelam, Dendam dan Emosi on Juli 16th, 2008 No Comments »
Binatang adalah berkaki empat, mempunyai kepala dan ekor
Binatang bisa mengibas-ngibaskan ekornya
Binatangpun bisa menjilat untuk kehormatannya
Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Puisi, Jeritan, Kelam, Dendam dan Emosi on Juli 16th, 2008 No Comments »
Binatang adalah berkaki empat, mempunyai kepala dan ekor
Binatang bisa mengibas-ngibaskan ekornya
Binatangpun bisa menjilat untuk kehormatannya
Posted in Puisi, Jeritan, Kelam, Sunyi dan Sepi, Resah, Gelisah dan Sedih, Dendam dan Emosi on Juli 3rd, 2008 No Comments »
Aku di suatu waktu
Berjalan tanpa arah
Di tengah siang yang terik
Berpikir bahwa ketidakpedulian menyenangkan
Aku di suatu waktu
Menangis saat meminum secangkir kopi susu
Karena kegalauan yang membuncah
Aku di suatu waktu
Terjebak dalam lingkaran setan
Berperan dalam satu episode komedi satir
Bullshit…..!!!!
Posted in Puisi, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Kelam, Sunyi dan Sepi, Resah, Gelisah dan Sedih, Teruntuk on Juni 30th, 2008 3 Comments »
Aku hanyalah kepingan-kepingan jiwa yang berserakan di lantai tempatmu menapak
Tak bernilai jika dibandingkan kilauan cahaya yang tersimpan di sudut matamu
Aku hanyalah senyuman pahit pada kopi hitam pagi harimu
Mencoba merangkak dari pinggir gelas untuk menyentuh bibirmu yang ranum
Posted in Puisi, Cerita Kehidupan, Kelam on Juni 28th, 2008 No Comments »
burung hitam mengembang sayap di langit malam
mencanda awan kelam
mengepak menyapa rembulan, mencandu bintang
burung hitam melarung bumi di gelapnya malam
menyendiri dalam langit hitamnya
makhluk kesepian pengembara tanah asing
tertempa sinarnya bulan dan dingin angin kala malam
burung hitam terbang sendiri di langit malam
Posted in Cerpen, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Kelam, Resah, Gelisah dan Sedih on Juni 27th, 2008 2 Comments »
Hari ini Hati disemayamkan. Tak akan ada lagi gadis cantik berambut ikal yang menghabiskan sorenya dengan memandangi langit senja di bibir pantai. Sayap mungilnya tak lagi bisa menerbangkan sepuluh orang ke langit, hanya demi membuktikan bahwa awan lebih halus dan lembut ketimbang kapas dan gulali.
Posted in Cerpen, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Kelam, Kerinduan dan kenangan on Juni 27th, 2008 1 Comment »
Tiba-tiba aku berada di gurun tandus. Hanya berteman bayanganku sendiri yang tegak lurus ke Timur. Langit merah senja membakar kulit, menyengat hingga rongga pori-pori. Tak biasanya matahari begitu senyap. Kupingku tak menangkap sesuara apapun. Hanya deru debu terkoyak angin. Rumput kering. Ilalang kering.
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Kelam, Khayalan, Renungan on Juni 24th, 2008 1 Comment »
Sejauh matanya memandang, yang terlihat hanyalah tumpukan mayat tentara yang berseliweran. Rasa ketakutannya tidak bisa ia sembunyikan atau ia tutup-tutupi lagi. Jauh di dalam hatinya ia berharap mayat-mayat ini akan hidup kembali untuk membawa kabar gembira bahwa perang telah usai dan dia berada di pihak yang menang. Bayangkan betapa kabar tersebut akan berdengung kencang bila dibisikkan di kedua telinganya. Karena itulah do’anya selama ini, yang dengan rajinnya ia senandungkan di pagi, siang, dan malam. Hanya kemenanganlah yang akan membawanya kembali pulang ke rumah dan keluarganya tercinta. Namun, sekuat apapun ia menggosokkan kedua matanya, yang terlihat tetaplah tubuh-tubuh para serdadu yang tergeletak tak lagi bernyawa. Dan dirinya menghirup napas seorang diri dengan jantung yang lelah.
Posted in Puisi, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Kelam, Resah, Gelisah dan Sedih on Juni 24th, 2008 No Comments »
Tak terhitung lagi berapa ribu air mata yang t’lah kuteteskan karnanya.
Begitu banyak luka yang t’lah ia torehkan diatas sekeping hati
yang t’lah begitu banyak berkorban demi keutuhan cintanya
Namun, luka itu kupendam,
kusimpan semua kenyerian yang menoreh jiwaku,
karna aku masih menginginkan kasih sayang yang kubina s’lama bertahun-tahun tetap terjalin.
Tapi….
Pengorbanan yang kuberi seakan tiada arti lagi, dan kuharus merelakan semuanya.
Dan kesendirian yang akan kutempuh tetep akan kujalani.
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Jeritan, Kelam, Doa, Syukur dan Pujian, Resah, Gelisah dan Sedih on Juni 16th, 2008 4 Comments »
Panas terik tepat lurus di ubun-ubun kota luka dan malah seperti terkesan bermain-main dengan kerudung Fatma, si ibu tua yang hampir berkepala lima. Helai-helai rambut hitam yang sebagian telah berubah uban. Terlihat beberapa lembar keluar dari sela antara kerudung dan pipinya yang mulai cekung. Sesekali, hanya disentuh sekaan handuk kecil dari tangan putra setianya yang berwajah polos itu.
Sabda, nama itu yang diberikan Fatma untuknya. Entah harapan apa yang disimpan di balik nama yang diperuntukkannya itu. Namun anak-anak di sekitar kontrakan lamanya lebih suka mengganti nama putra Fatma sesuka-suka mulut mereka, menjadi “si gagu”. Sebutan yang dapat Sabda terima karena ketakmengertiannya. Namun tak dapat Fatma terima karena sebutan itu selalu datang beserta rasa perih tak terperi.
Roda gerobak sayuran masih berputar pelan. Fatma mendorongnya dalam keadaan perut yang ditawar lapar. Belai angin dari tiupan pohon di pinggir jalan kadang datang menyejukan punggung bajunya yang sudah basah berbasuh peluh. Urat-urat tangan berwarna kehijauan yang tinggal berbalut kulit keriput, dikokoh-kokohkan menggenggam erat kuasa gerobak pembawa sayur dan berbagai macam bumbu dapur.
Tak terdapat sedikit pun rasa ingin mengumpat malaikat atau mengeluh pada Tuhan meski sayuran dagangannya masih banyak tersisa. Fatma hanya percaya pada doa-doanya dan kepada maha sifat rahman-rahimNYA, meski terbersit sedikit kekhawatiran. Amarah Bos Ujang akan kembali tumpah, seperti kemarin sore, saat sayuran dagangannya lebih banyak tersisa.
“Woi Mak, kalian teh dagang sambil mulung atau mulung sambil dagang, hah? Sayuran masih begitu banyak!” bentak tanyanya dengan kaki yang sudah menyilang di atas meja, sambil mengibas-ngibaskan topi, mengharap angin.
Fatma si ibu tua, hanya dapat tunduk diam di hadapan tuannya, menggandeng putra gagunya yang menjinjing kantong plastik hitam berisi beberapa botol dan gelas pelastik bekas air mineral, yang biasanya setelah pulang setoran hasil berdagang sayuran lalu akan dijual di tempat penampungan rongsokan.
“Maaf Mang, di perumahan agak sepi. Sepertinya sekarang mah, ibu-ibu lebih memilih belanja di supermarket,” jawabnya dengan ekspresi menghiba.
“Ah, alesan wae. Lama-lama saya teh bisa bangkrut, nyaho!” sergah si juragan sambil menggaruk-garuk kepala dengan buku catatan yang terkepal di tangan kanan. Sedang tak ada lagi yang dapat Fatma jawabkan selain kembali terdiam.
“Hh ya sudah. Aturlah keliling dagang Emak. Saya mah tak mau tahu Mak. Emak mau keliling ke kebun binatang atau sekalipun ke tepi pantai, yang penting mah dagangan laku,” celetuknya, disambut tawa beberapa anak buahnya yang lain di kios sayurnya.
“Nih buat makan Emak dan anak emak. Untung saya teh masih mempunyai rasa kasih dan sayang Mak, jadi Emak masih saya beri kesempatan berdagang,” lanjutnya dengan menyodorkan beberapa lembar uang ribuan.
“Alhamdulillah. Hatur nuhun, Mang,” diiringi senyum memelas yang terlontar dari bibir kering Fatma dan dibalas tuannya dengan anggukan pelan yang sejurus kemudian mengangkat kuping cangkir berkopi.
Setidaknya menurut Fatma, meski selalu membentak dan berteriak-teriak, tapi biarlah, karena Bos Ujang masih lebih memiliki rasa kasihan kepadanya dan anaknya. Setidaknya, selama ini tak pernah dia menyebut sesuatu yang lebih memerihkan hati Fatma, yaitu menyebut “si gagu” kepada putra si anak buahnya itu. Karena hanya sebutan itulah yang lebih memerihkan, memedihkan di hati Fatma. Fatma akan lebih memilih dirinya yang dihina-dinakan orang, daripada mendengar anaknya yang dijadikan sebagai bahan olokan. Sungguh, Fatma akan lebih memilih itu.
“Uuii aaee?”(*) tiba-tiba tutur aneh dari Sabda dengan kepala mengangguk-ngangguk sambil menyeka keringat dan lamunan kekhawatiran Fatma dengan sebuah handuk kecil dekil.
Tapi Fatma mengerti bahasa tanya itu, kemudian menggeleng pelan seraya tersenyum.
Batinnya kembali terasa tersedak menatap keluguan wajah Sabda yang masih menempelkan handuk kecil di wajahnya. Fatma teringat pagi tadi, sebagian anak yang hendak berangkat ke sekolah memanggil dengan sebutan yang memerihkan itu, “si gagu”. Mereka seolah lupa dengan sila dari pancasila yang dulu juga pernah singgah di benak Fatma, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Namun Fatma juga lupa adalah sila ke berapa.
Hingar-bingar jalan dengan konvoi demo, wajah-wajah menebar nada marah, muka-muka memajang warna murka, komplit dihiasi atribut-atribut sebagai identitas komunitas. Spanduk besar bertuliskan kegeraman minta keadilan serta bunyi klakson dan jerit knalpot kendaraan yang saling menyalak bersahutan, begitu melengkapi terik di siang ini. Terpaksa Fatma lebih merapat menyusuri sisi trotoar, hingga akhirnya,sejenak,mereka duduk-duduk diatas trotoar untuk sekedar menyambung nafas.
Posted in Puisi, Cerita Kehidupan, Jeritan, Kelam, Sunyi dan Sepi, Resah, Gelisah dan Sedih on Juni 13th, 2008 No Comments »
Aku
kembali mengayuh sepeda itu
Sudah tak ada daya
Terbuang tanpa guna
Memang sangat lapar
Namun, haus lebih panas membakar
Pikirku
akan kuminum apapun yang ketemu
Entah gutasi
yang menetes dalam lembab malam
Entah itu air di selang
yang mengalir melintang di jalan