Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Cerpen, Kelam on Desember 31st, 2008 1 Comment »
Rasanya baru sekejap membaca buku “ Menikmati Demokrasi “ karangan Anis Matta tiba–tiba alarm berbunyi tepat pukul tiga. Mataku membelalak kaget, secara reflek tanganku menghentikan bunyinya dengan memencet tombol jam kecil itu. Ternyata sudah satu jam terlewatkan dengan tidur.
Kebahagiaan tidak ada di dunia ini. Takkan pernah ditemui di mana pun. Yang ada hanya kepahitan, getirnya hidup. Begitu pula ketika ia menemukan cinta. Sebelum tumbuh yang terasa cuma lara. Bagai belati menancapi hatinya, darah muncrat seperti mata air. Sebab cinta itu luka.
Tiga atau empat tahun yang lalu, aku masih bisa memandangi barisan panjang sawah yang indah. Aku masih berada di rumah terpencil yang dikelilingi oleh pematang-pematang hijau nan asri. Burung-burung pipit, segerombolan kodok, capung, jangkrik, belalang, bahkan kunang-kunang bukanlah mahkluk langka. Aku melihat mereka setiap hari. Dan aku masih di sisi orangtuaku, menyusahkan mereka hampir di setiap waktu.
Ssstt!
Diam! Anakku sedang tidur. Awas, kalau kalian mendekat! Aku bisa saja mencelakakan kalian. Diam!
Ssstt!
Diam! Jangan banyak bicara. Jangan banyak komentar. Jangan mengasihaniku. Kalian tidak mengenal siapa aku. Kalian tidak mengerti perasaanku. Kalian hanya menggangguku saja. Diam!
Posted in Cerpen, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Jeritan, Kelam, Gairah dan Eros, Resah, Gelisah dan Sedih, Dendam dan Emosi, Renungan on Desember 30th, 2008 45 Comments »
This is a preview of
Aku Malang, Ibuku Jalang, Bapakku Jahanam Bukan Kepalang
.
Read the full post (2285 words, estimated 9:08 mins reading time)
Wanita itu duduk di sebuah kursi di dekat pohon biola cantik, tak begitu jauh dariku. Di sebelah kanannya ada sebuah keranjang yang tertutup serbet. Aku menduga isinya semacam roti atau makanan lain. Sementara di pangkuannya ada album foto yang berukuran besar. Kadang-kadang dibukanya dan dipandanginya sambil tersenyum.
Sore itu berjuta tetes air dari langit mulai turun membasahi dedaunan yang tumbuh dan tertata rapi di belakang rumah Sarah dan menyuarakan percikan air di kolam ikan miliknya. Tampak seorang gadis sedang duduk melamun menikmati saat hujan itu, seakan terpaku mengenang masa yang telah lalu.
dulu…….
seorang wanita bernama R.A kartini
mempertaruhkan jiwa dan raga
untuk derajat dan martabat
sebagai seorang wanita
kini Ibu R.A kartini menangis
air mata darah tercecer dari matanya
melihat Kartini kini yang berjejer tiap malam sampai subuh
menghisap rokok putih tiada henti
mereka tertawa………
tersenyum…….
entah duka atau suka
Ku memandang langit biru
biru kelabu seperti hatiku
teringat bayang masa lalu
tentang cerita yang biru
menisik derita yang tak berlalu
tinggalkan luka sendu
hanya hati ingin berseru
dari hati yang bertalu talu
lepaskan ingatanku
tentang cerita masa lalu
Ketika tangan terentang
hidup tak lagi jadi pilihan
ketika satu jari menunjuk waktu
maka mati tak lagi menunggu
Permanent link to this post (7 words, estimated 2 secs reading time)