KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Kehidupan Remaja'

“Ran, kamu jadi mudik besok?” tanya Wida, temen sekosku, tapi matanya nggak berpindah dari layar HaPe yang lagi dia pegang. Asik sms-an.

“Iya. Emang kenapa? Duh… Belum mudik aja udah kangen gitu,” jawabku cuek sok narsis.

“Yee… PeDe banget sih lu!! Aku cuma mau ngingetin, kamu masih punya utang nggak yach sama aku? Hahahaaa…” Wida nyengir kuda.

Aku akan bertemu dia di sini. Kami sudah berjanji akan bertemu di tempat ini  setelah kami melewati tiga tahun bersama dan satu tahun perpisahan ini. Di tahun tiga kebersamaan kami, dia memutuskan untuk pergi ke kota metropolis, kota yang selama ini selalu ditakutinya dan meninggalkanku di sini. Dia berjanji padaku akan datang kembali ke tempat ini; tempat ia meninggalkanku tepat di hari ke-360.

Pagi itu, tumben-tumbennya Dita melenggang di koridor kampus. Tempat yang sudah begitu asing dan memuakkan baginya. Tempat yang telah kehilangan identitasnya sebagai wadah bagi para intelektual. Basecamp bagi kaum hedonis yang ingin menambah sebuah titel di depan dan belakang namanya tapi terkadang sulit (baca:tak mau) mempertanggungjawabkannya. Sang pecahbelah membalut tubuh dengan baju super ketat hingga menggambarkan sketsa tubuhnya yang aduhai, melukis wajahnya dengan makeup yang super tebal. Sang batangan tampil pula dengan make up, parfum menyesakkan hidung. Mengukur segalanya dari materi. Superlente.

“Duh, Ray keren banget deh main gitarnya!! Mau dong dinyanyiin sambil main gitar!”
“Uh, norak banget sih, Mon!”
“Ya ampun, semua anak kelas kita juga pada ngefans sama Ray gara-gara dia keren banget kalo lagi main gitar! Mang lo nggak?”
“Biasa aja.” Aku pergi meninggalkan Monik.

Huh aku iri dengan teman-temanku. Mereka semua telah memiliki cewek. Apalagi Kris. Dia malah sudah mengoleksi 4 cewek sekaligus. Sedangkan aku sama sekali tak pernah merasakan pacaran, gerutuku dalam hati. Aku tak tahu, apakah kekuranganku untuk menggapai seorang cewek. Mukaku lumayan dan tak terlalu kuper. Apalagi aku termasuk anak pintar di kelas.

Kamis, November …

Aku bukanlah pelindung bagimu…

Namun setiap asa yang tercipta bukanlah tombak bagiku…

Aku tak pernah memaksamu untuk hinggap di sayapku..

Namun, aku akan menuntunmu sampai ke titik terang itu…

Dimana kita khan menemukan cahaya…

Dimana kita bisa bernafas lega..

Hujan membasahi tanah merah itu, di sana seorang cowok sedang bersimpuh memandangi nisan itu. Gundukan itu masih memerah, baru saja membenamkan tubuh seseorang, waktu akhirnya membawa pergi sesosok raga. Baru kali ini aku melihatnya terpuruk seperti itu. Sejak mengenalnya, tak sedikitpun rasa duka yang pernah mampir dari wajah itu, tapi kini airmatanya menganak sungai. Begitu berhargakah sosok yang terdiam dibawah sana untuknya. Aku masih menatapnya, lintasan waktu kembali berputar membawaku ke tempat itu, awal pertemuan kami…

Tidak pernah terpikir olehku beginilah akhir dari kisah cintaku. Padahal, setelah sekian lama berpisah akhirnya aku bisa bertemu kembali dengannya. Namun, kenapa justru pertemuan itu berakhir dengan perpisahan yang abadi. Dia sudah terlalu jauh untuk aku gapai sekarang dan terlalu jauh untuk bisa kususul.

Hari Ini Sekolah Libur

Hujan gerimis turun sepagi ini, dan lihatlah bagaimana tetes-tetes air memercik di atas genangan jalan. Melingkar lalu memencar lalu melingkar dan memencar lagi seperti sebuah spiral yang menghipnotis aku - yang memandanginya - untuk merasuk ke dalam. Aku hanyut dalam lamunan ini dan tentunya tak kuasa menahan sisa rasa kantuk yang rasanya terus menerus beranak. Mataku terbujuk rayuan limpahan udara sejuk pagi ini, namun sesaat ketika aku hampir melangkahkan kakiku melewati pintu alam bawah sadar sekali lagi, entah kenapa perhatianku teralihkan. Terpanggil oleh suara langkah kaki yang pelan, lelah, dan kesepian di ujung jalan. Dengan basah kuyup, menuju ke arahku, sosok yang tidak kuharapkan kedatangannya apalagi di pagi ini. Roro!

Doni masih saja bertahan di atas kursi roda yang setia menemaninya lima belas tahun terakhir. Konsekuensi dendam memaksanya untuk menerima kenyataan sebagai seorang cacat seumur hidup.

« Prev - Next »