Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Tere mendengus kesal ketika membaca SMS yang masuk ke HPnya,
Ter, g jpt lu 10 mnit lg. Tgu g ddpn rmh lu. NO REASON 2 BE LATE.
Ughhh.. jam enam tiga puluh! Tanpa pikir panjang lagi aku berlari ke kamar mandi. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya kuguyur tubuhku. Kenapa alarm jelek itu tak berbunyi, umpatku kesal. Kuraih seragam putih abu-abuku, mematut diri dicermin sebentar dan ahkhhhh….. sepuluh menit lagi!
“Pagi Ma!” teriakku, mendekatinya dan mengecup pipinya.
Lembar I
Hidup adalah suatu perjalanan panjang yang mengajak kita berputar di dalamnya, kemudian terjebak dan akhimya tersesat.
Matahari kembali menyapa dunia, aku menghirup nafas dalam-dalam. Akh pagi lagi. Aktivitasku berulang lagi, kukucek mata lebamku. Lebamnya bukan karena tonjokan siapapun, hanya sebuah ukiran malam yang tandai setiap jenuhku berkutat di telaga laporan.
Di balik kacamata minusnya, Nania tengah asyik mengamati ciptaan Tuhan yang sempurna. Makhluk itu bermain dengan bola basketnya, sesekali melemparkannya ke ring dan tersenyum. Dan senyum itu, buat Nania harus ikut tersenyum. Mata hitamnya masih terus mengikuti langkah makhluk itu. Akh, pemandangan pagi yang indah. Sesekali makhluk itu mendrible bola, mengopernya dan dengan langkah riang berlari ke arah ring. Tampaknya makhluk itu sangat larut di permaianannya tanpa tahu sepasang mata teduh tengah mengamatinya dengan seksama dan dalam tempo yang lumayan lama.
“Bug!!!”
Seruni dan Opi duduk–duduk di kantin sekolah. Mereka berencana untuk be-chatting ria di dunia maya. Tak hanya mereka berdua, Tari dan Vino juga.”Uni, kapan lo mau ke warnet Gambreng Lalala?” tanya Tari antusias.
”Nggak tahu, tuh. Paling juga besok,” jawab Seruni santai.
”Ah, Uni.. Jangan besok. Nanti saja, dong,” sela Vino.
Jilbab malam tuntas dikenakan langit, dengan hias-hias payetan beberapa kian bintang, seusai kelopak-kelopak senja berguguran. Senyum sabit merah masih nampakkan lelah, mengintip di antara daun belimbing, dan jatuh setelah menerobos santun menyibak tirai.
impianku….
adalah bersama dengannya selalu, menemaninya setiap waktu, melindunginya dan ada di sisinya kapanpun dia membutuhkanku….
dan untuk itulah, aku akan mengejarnya kemanapun dia pergi..
agar dia tahu, aku ada di sini
untuknya…
***
“Kayaknya lo terlalu posesif deh ke dia. I mean…lo sama dia just friend, right?? No more??”
“Dari jauh doang dia tampak mempesona, loe buktiin dari dekat deh!” interupku pada kesan Andre yang ngeyel kalau cewek di ujung sana amat cantik mempesona
“Bego loe ! Kalo nggak percaya buktiin aja sendiri.”
Aku cuek dengan ucapan Andre barusan, kutuang miniman ke gelasku yang mulai kosong.
Toilet begitu sunyi malam ini. Entah apa yang dipikirkan oleh lalat-lalat kecil yang terbang mengitari lampu redup di atas kepalaku, yang tampak menikmati bau pekat di dalam ruangan menyedihkan ini bersama-sama. Betapa aku telah mencapai suatu tingkat kenyamanan yang membuai dengan duduk di sini sambil merasakan bokongku berkarat perlahan-lahan. Semilir angin dingin menerobos melalui ventilasi menyebarkan rasa kantuk berkali-kali. Api rokok terpejam dan menyala mengikuti irama denyut jantung. Samarnya suara tikus yang mencicit jauh di sana, menambah sempurnanya suasana tenang yang mengiringi parade ritual sakit perut yang kualami.
“ Bu, jigana hirup di kota teh enaknya, “ Windie berkomentar di sela-sela kesibukannya membantu Ibunya di dapur. Entah berulang untuk yang keberapa kalinya pertanyaan itu ia lontarkan.
“ Ari Neng teh kunanon ? Hoyong pisan kitu ka kota? “ tanya Ibunya yang mulai bosan menanggapi dengan senyuman.