Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Perkataan seorang insan
bagai petir yang bergetar
setiap kata yang keluar
adalah ungkapan isi jiwa
menerawang ke sudut awan
walau tak ada tapi terucap
mungkin ada satu kelana
dimana jiwa meronta
tak ingin acuhkan cinta
karena dirundu nestapa
kesunyian menyelimuti nadi
kegelapan merangkap sepi
tak berawal dari hati
tapi hati yang tersakiti
kejadian ironi bagai suratan yang berkelut tak jauh dari hati
Permanent link to this post (63 words, estimated 15 secs reading time)
Malam pekat terbentang di langit Legian. Endirastomo melangkahkan kakinya menyusuri deretan tempat hiburan yang ramai dan penuh sesak. Ingin sekali rasanya membaur bersama mereka disana, menikmati musik yang berdentam di dalam kafe ataupun sekedar mengepulkan asap rokok yang sejak tadi dihirupnya. Tapi hatinya tak bisa menepiskan sedikitpun bayang-bayang Cinderella, gadis yang baru 2 jam lalu memutuskannya. Endirastomo tidak habis pikir kenapa Cinderella memutuskannya. Dia mendengar gosip kalau mantannya itu lagi naksir sama Dandy, kakak kelasnya waktu SMU. Mungkin hanya sekedar gosip tapi dia mendengarnya sendiri dari Mamat, kawan akrabnya.
Tere mendengus kesal ketika membaca SMS yang masuk ke HPnya,
Ter, g jpt lu 10 mnit lg. Tgu g ddpn rmh lu. NO REASON 2 BE LATE.
Ughhh.. jam enam tiga puluh! Tanpa pikir panjang lagi aku berlari ke kamar mandi. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya kuguyur tubuhku. Kenapa alarm jelek itu tak berbunyi, umpatku kesal. Kuraih seragam putih abu-abuku, mematut diri dicermin sebentar dan ahkhhhh….. sepuluh menit lagi!
“Pagi Ma!” teriakku, mendekatinya dan mengecup pipinya.
Lembar I
Hidup adalah suatu perjalanan panjang yang mengajak kita berputar di dalamnya, kemudian terjebak dan akhimya tersesat.
Matahari kembali menyapa dunia, aku menghirup nafas dalam-dalam. Akh pagi lagi. Aktivitasku berulang lagi, kukucek mata lebamku. Lebamnya bukan karena tonjokan siapapun, hanya sebuah ukiran malam yang tandai setiap jenuhku berkutat di telaga laporan.
Di balik kacamata minusnya, Nania tengah asyik mengamati ciptaan Tuhan yang sempurna. Makhluk itu bermain dengan bola basketnya, sesekali melemparkannya ke ring dan tersenyum. Dan senyum itu, buat Nania harus ikut tersenyum. Mata hitamnya masih terus mengikuti langkah makhluk itu. Akh, pemandangan pagi yang indah. Sesekali makhluk itu mendrible bola, mengopernya dan dengan langkah riang berlari ke arah ring. Tampaknya makhluk itu sangat larut di permaianannya tanpa tahu sepasang mata teduh tengah mengamatinya dengan seksama dan dalam tempo yang lumayan lama.
“Bug!!!”
Seruni dan Opi duduk–duduk di kantin sekolah. Mereka berencana untuk be-chatting ria di dunia maya. Tak hanya mereka berdua, Tari dan Vino juga.”Uni, kapan lo mau ke warnet Gambreng Lalala?” tanya Tari antusias.
”Nggak tahu, tuh. Paling juga besok,” jawab Seruni santai.
”Ah, Uni.. Jangan besok. Nanti saja, dong,” sela Vino.
Jilbab malam tuntas dikenakan langit, dengan hias-hias payetan beberapa kian bintang, seusai kelopak-kelopak senja berguguran. Senyum sabit merah masih nampakkan lelah, mengintip di antara daun belimbing, dan jatuh setelah menerobos santun menyibak tirai.
impianku….
adalah bersama dengannya selalu, menemaninya setiap waktu, melindunginya dan ada di sisinya kapanpun dia membutuhkanku….
dan untuk itulah, aku akan mengejarnya kemanapun dia pergi..
agar dia tahu, aku ada di sini
untuknya…
***
“Kayaknya lo terlalu posesif deh ke dia. I mean…lo sama dia just friend, right?? No more??”
“Dari jauh doang dia tampak mempesona, loe buktiin dari dekat deh!” interupku pada kesan Andre yang ngeyel kalau cewek di ujung sana amat cantik mempesona
“Bego loe ! Kalo nggak percaya buktiin aja sendiri.”
Aku cuek dengan ucapan Andre barusan, kutuang miniman ke gelasku yang mulai kosong.