Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Sekian lama
Tertatih-tatih meniti cinta tertinggi untuk Yang Maha Tinggi
Terbata-bata mengeja kasih untuk sepasang Matahari,
Dan benar-benar terseok menapaki tangga kedewasaan berarti
Ambisi dan obsesi semakin menjadi
Membuat logika terus bermain tanpa hati
Selalu menghiba keadilan Sang Rabbi ,
seakan tak pernah terpecahkan oleh hati nurani
Nafasku tersaput sudah
Saat pias dia menembus awan
Merangkak tuju tempat tak berhingga
Menyeret gema isak mungkin gelak
Mataku masih lamur berselimut kabut
Tak berbentuk kerumun yang ku lihat
Hanya raung yang lamat menghilang
Tergantikan cuap bersahut cekikik
Tak ku tahu dimana berpijak
Tiada pegangan pula tuk bergayut
Lantas segala tampak dibawah
Bersimpuh lingkari sebujur kaku
Tak pernah terbesit dalam hati, torehkan luka di hatinya
Tak pernah terlintas, goreskan duka di kalbunya
Sejenak terpaku kemudian mengadu
pada hamparan jiwa seluas samudera
Namun tak sebanding dengan duka lara
Hingga hati menelan mentah-mentah
semua insiden beragam dalam layar keniscayaan
Belum juga merasa rugi,
Belum juga merasa mati,
Masih terasa indah terisi,
Sampai seorang datang menghampiri,
Posted in Puisi, Jeritan, Renungan on November 3rd, 2008 No Comments »
Badan Kehormatan…
Kami angkat topi sebagai bentuk menghormati
Dududk di korsi sebagai penyambung lidah kami.
Maka, salahkah kami bernyanyi untuk menghibur diri tentang Negeri ini?
Badan Kehormatan…
Slank adalah bagian dari kami
Yang tidak punya korsi
Maka, wajarlah mereka menghibur kami
Yang hanya makan nasi basi
Terkadang manis yang kurasakan,
Bercampur asa di hati
Terkadang Pahit yang kurasakan,
Bercampur derita di sukma.
Tuhan..
Apakah aku hamba-Mu
Tuhan..
Apakah aku hamba-Mu..
Ku terlelap dalam manisnya dunia
Aku buta akan kehebatan Tahta
Aku tuli akan indahnya lantunan azan
aku…
andai kutahu siapa aku
andai kutahu diriku didalam setiap adaku
andai kutahu setiap jengkal unsur dalam jiwaku
andai kutahu untuk apa ada dan tiadaku
andai…
tapi apa???
nyatanya…
ku tak tahu setiap materi dalam ragaku
ku tak tahu setiap makna dalam keeksistensian ini
Namaku Chandra, aku lahir 17 tahun yang lalu tepatnya di desa Brawijaya kabupaten Bandung. Sekarang aku duduk di kelas 3 SMA di sekolah negeri yang cukup favorit disini. Ini adalah kisah tentang kehidupan yang kualami selama hampir 10 tahun, sebuah kisah yang membuatku begitu tertekan dengan segala macam tuntutan orang tua jaman sekarang.
Untaian kata tlah kurangkai tuk ku persembahkan padamu
Ketulusan dan kejujuran tlah ku jaga hanya untuk hati dan perasaanmu
Namun semua yang tlah ku lakukan seakan tiada berharga di matamu
Ku slalu salah , ku tak pernah ada baiknya…..
Apa lagi yang harus aku lakukan tuk yakinkan dirimu
Jurnal demi jurnal telah dibuat
Buku besar pun hampir penuh terisi
Life statement akan segera dilaporkan
Laba atau rugikah kita?
Di siang hari yang panas,
Jurangmangu, 1 November 2008
Permanent link to this post (30 words, estimated 7 secs reading time)
Saat penat terasa semua begitu kelam
Hitam dengan segala nikmatnya
Redup dengan segala gelapnya
Hampa dengan segala isinya
Pernahkah kau merasa illfeel?
Ketika dunia mentertawakan sikapmu
Semua insan seperti tumpukan tanah yang siap menggulungku
Atau pernahkah kau merasa bonyok?
Dilempar batu dan dikeroyok oleh pedang lidah?
Ada yang harus kau lakukan?
Dan apa yang harus kau berikan?