KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Jeritan'

Naas nasib si perempuan gila. Nasib membawa ia ke lubang prahara. Tak lagi mereka percaya pada si perempuan gila. Kadang cemooh terlontar untuknya.

Malang nasib si perempuan gila. Salah siapa suka mengada-ngada? Terlalu besar harap. Terlalu luas imajinasi. Membuat hati terlilit duri.

Condet, nama suatu daerah yang masuk dalam wilayah kecamatan Kramat Jati. Condet terdiri dari 3 kelurahan: Balekambang, Batu Ampar dan Kampung Tengah. Kerimbunan pohon duku dan salak, rambutan dan menteng, mangga dan bacang, melinjo dan duren mewarnai lahan yang ada di daerah Condet.

Mimpi sudah membuatku selalu berharap….
Cinta sudah membuatku menderita…
Harapan sudah membuatku jatuh tak berdaya…
Usaha sudah membuatku lelah…
Tangisan sudah membuatku merasa sakit…
Karena kamu… selalu… dan… selalu…
Hanya doa yang masih bisa membuatku
Berdiri tegar…!!!

Perlahan Anisa memasukkan kerudung merah ke dalam kardus. Hatinya hancur berkeping – keping. Semangat hidupnya kini memudar. Air matapun tak henti berderai. Jengkerik malam meringkik perlahan mengiringi jatuhnya buliran air dari pelupuk matanya. Malam itu begitu sunyi, sesunyi hatinya yang sangat terluka. Jam di dinding baru menunjukkan pukul 11 malam. Mata Anisa tak bisa diajak tidur. Hatinya sangat sakit. Dia merasa menjadi wanita yang paling malang di dunia. Selalu dicampakkan oleh lelaki yang dicintainya. Ada sejuta tanya bergayut di hatinya. Mengapa dalam percintaan selalu dia dicampakkan oleh pria yang dicintainya? Rasanya dia sudah tidak kuat menanggung derita dihatinya, hingga beberapa kali dalam sholat tahajutnya dia mohon pada Allah untuk dicabut saja nyawanya. Dia tahu itu tidak pantas dilakukannya, namun hatinya serasa tlah patah, remuk redam.

Kala mentari mulai gagah mengangkang
Hujanpun menjerit lari terbirit – birit
Dan tangismu memecah pagi
Kian menghimpit dadaku yang makin menyempit.

Kusumpal tangismu dengan tetekku
Yang tinggal kulit menggantung didada
Tanpa isi tanpa sari
Hanya setetes air bukan asi.

Kala laparmu mulai menyerang
Kutanak nasi basi ditungku
Tanpa garam, ikan asin atau sayuran
Hanya nasi aking pemberian orang.

Dari Balik Tirai Bambu

Masih sama seperti hari-hari yang lalu. Aku melihat lelaki itu dari balik tirai bambu. Lelaki bertubuh tinggi dan berambut rapi. Ia masih sama. Tidak berubah.

Masih sama seperti minggu-minggu yang lalu. Aku melihat lelaki  itu dari balik tirai bambu. Lelaki bertubuh tinggi dan berambut rapi. Ia tidak sama. Ia berubah.

Tiga atau empat tahun yang lalu, aku masih bisa memandangi barisan panjang sawah yang indah. Aku masih berada di rumah terpencil yang dikelilingi oleh pematang-pematang hijau nan asri. Burung-burung pipit, segerombolan kodok, capung, jangkrik, belalang, bahkan kunang-kunang bukanlah mahkluk langka. Aku melihat mereka setiap hari. Dan aku masih di sisi orangtuaku, menyusahkan mereka hampir di setiap waktu.

Suara-Suara Tak Dikenal

kepada yang terhormat

di sana!

kepada perwakilan yang

memegang janji!

tiap detik berlalu bombastis

tak sanggup kami menggapaimu

melihat apalagi memakan bagianmu

tak disini juga disana

berdoa pun kami tak sanggup

tapi, kini

kau bagai dewa yang menunggu giliran

dilemparkan!

Tiba-tiba HP-ku berdering tanda panggilan masuk.

“Mbak, kita ada klien baru nih dia butuh bantuan tolong dijemput ya, Mbak.”

Bayanganku tak mau lepas juga dariku
Lelah aku diikuti olehnya
Aku ingin bebas
Bebas tanpa ada satupun yang mengikatku…
Aku ingin lari
Sendiri…
Merasakan heningnya kehampaan…
Di tengah kesedihanku.
Aarghh…nikmatnya…
Bagai meneguk segelas air ditengah kemarau
Bagai melihat pelangi setelah hujan
Bagai oase ditengah gurun pasir
Bahagia…
Ya…

« Prev - Next »