Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Aku merasa seperti pelacur, yang menikmati nyamannya hatiku saat bersamanya
Padahal aku tahu dia hanya sebentar saja ada di sisiku
Dan kemudian dia akan pulang, ke hati perempuan yang dicintainya
Aku merasa seperti pelacur, saat merasakan teduh matanya
Yang seolah menyelami dan mengerti hatiku
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Jeritan, Kelam, Khayalan, Resah, Gelisah dan Sedih, Fiksi, Dendam dan Emosi, Renungan on Februari 16th, 2009 30 Comments »
Kamu memang perempuan yang sempurna. Cantik, anggun, pintar, keibuan, populer, kaya, dan mapan. Kamu juga pintar merawat keluarga. Sungguh, kamu benar-benar perempuan sempurna. Semua kelebihanmu itu membuat aku merasa amat cemburu dan tak berharga di hadapanmu. Andai aku bisa sepertimu?
Terdengar suara pintu ruang tamu diketuk. Entah siapa malam-malam begini bertamu. Pak Ahmad melirik ke jam dinding yang tergantung. Jam 20.00. Hening sunyi di kampung ini. Dibukanya pintu, terlihat beberapa anak muda dengan pakaian rapi. Tersenyum sambil mencium tangan Pak Ahmad.
“Assalaamu ‘alaikum Pak. Maaf kami mengganggu istirahat Bapak,” salah seorang di antara mereka memberi salam dengan santun.
Posted in Puisi, Jeritan on Februari 15th, 2009 1 Comment »
bosan……sungguh bosan
benar-benar bosan.
kebosanan yang benar-benar membosankan
” bosan ”
sebenarnya bosan itu bahasa indonesia yang benar
atau salah ??
arti bosa
apa makna bosan sesungguhnya??
tidak jelas,
mungkin artinya jenuh
bisa juga lelah untuk berbuat
mungkin……rasa yang menumpuk
Mengayuh mengejar rezeki
berlomba dengan matahari
untuk hidup sehari – hari
Mengayuh mengejar rezeki
di tengah cercaan orang-orang berdasi
yang tengah duduk di belakang kemudi
atau di samping sopir pribadi
yang sedang kesal karena lajunya dihadang
lalu,
tiba-tiba keluar instruksi
becak dilarang beroperasi
pada jalur-jalur demarkasi
Wajahku memang tidaklah cantik, dan kulitku juga tak berwarna cerah. Jadi jangan kamu bayangkan aku seperti seorang Luna Maya atau Asmirandah, karena aku jauh dari mereka. Aku hanya seorang gadis kurus yang jerawatan, dengan kaca mata tebal yang melekat di hidungku, yang orang bilang pesek.
Sebentuk hati telah terluka
Merah… mengalir membasahi relung jiwa
Cinta yang selama ini bagaikan semburat cahaya menghangatkan…
Tapi makin panas kurasa
Bilur cahaya terasa bagai ratusan jarum yang menghujam
ke dalam hati…
Pilu… perih… sakit… tak tertahan
Mati rasa…
Kugali liang
Kubur hati…
Tertanam diatasnya setangkai chrysant putih
Biarlah mewangi…
Sehingga tercium oleh nya
Hariku… bahagia tanpamu
Hariku… jualah berduka tanpamu
Sepertinya,
Keraguan hati mendera jiwa yang penuh tanya
Tanya… tanya… dan tanya itulah yang dinantikan
Apakah aku menunggu sebuah kepastian?
Kurasa waktuku akan berkilah
Dengan seribu jawaban yang tiada arti
Terduduk ku di sudut ruang
Memandang langit yang semakin jingga
Hanya suara jengkerik menggema
Melolong – lolong sambut gelapnya dunia
Semua terasa mencekam
Mencengkeram dalam kesunyian
Dalam terik matahari esok hari
Ku masih terduduk disini
Bak seonggok sampah
Tertiup angin kemarau yang membakar jiwa
Tergores luka hingga berdarah-darah
Ingin ku menjerit sekuat tenaga
Namun mulut terbekap oleh pisau kedukaan
Lampu temaram tegak berjajar
Berbedak pekat debu jalanan
Roda berputar merambat perlahan
Letih menahan berat beban kehidupan
Meningkahi ambisi yang tak pernah mati.
Kegelapan makin meraja
Wajah – wajah kuyu membeban angan
Memburu waktu yang tak pernah usai
Merangkak, mengukur jalan yang tak berujung.