Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
- untuk Kumanosuke Adachi
Pada tanah gelombang, hujan sempat membasahi bibir bumi
melumatnya dalam kecupan yang hambar
ada bandang kekhawatiran
jika retas air itu menyapanya terlalu mesrah
Pada tanah gelombang, ada sebak seekor ternak
yang linglung mendekap punggung kesedihan
sebab ia tak tau kemana pergi sang induk
Aku di suatu waktu
Berjalan tanpa arah
Di tengah siang yang terik
Berpikir bahwa ketidakpedulian menyenangkan
Aku di suatu waktu
Menangis saat meminum secangkir kopi susu
Karena kegalauan yang membuncah
Aku di suatu waktu
Terjebak dalam lingkaran setan
Berperan dalam satu episode komedi satir
Bullshit…..!!!!
Menghirup angka dalam-dalam
Layaknya pecandu ganja di bilik suram
Sendiri, khusuk menekuni seribu rumus
Mencoba variasikan soal
Tak kenal makan, diminum nyamuk
Diserang kantuk! Menusuk bungkuk rusuk
Ibu, do’akanlah Ananda
Untuk olimpiade esok
Yang mudah dan lancar menapaki
Setiap diagram sampai di podium tunggal
Permanent link to this post (45 words, estimated 11 secs reading time)
Sayang…
Kau tak pernah memberiku waktu
Cinta….
Kau pupuskan kesempatanku…
Sayang…
Andai kau tahu betapa rindunya asaku tuk berdua denganmu
tapi tak pernah kau hiraukan jeritanku…
Aku berkata ini,
kau menyambarnya dengan salah sangka
ku tak bermaksud melarangmu…
Hanya saja berikan aku waktu….
Aku hanya ingin waktu berdua denganmu…
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Jeritan, Kelam, Doa, Syukur dan Pujian, Resah, Gelisah dan Sedih on Juni 16th, 2008 1 Comment »
Panas terik tepat lurus di ubun-ubun kota luka dan malah seperti terkesan bermain-main dengan kerudung Fatma, si ibu tua yang hampir berkepala lima. Helai-helai rambut hitam yang sebagian telah berubah uban. Terlihat beberapa lembar keluar dari sela antara kerudung dan pipinya yang mulai cekung. Sesekali, hanya disentuh sekaan handuk kecil dari tangan putra setianya yang berwajah polos itu.
Sabda, nama itu yang diberikan Fatma untuknya. Entah harapan apa yang disimpan di balik nama yang diperuntukkannya itu. Namun anak-anak di sekitar kontrakan lamanya lebih suka mengganti nama putra Fatma sesuka-suka mulut mereka, menjadi “si gagu”. Sebutan yang dapat Sabda terima karena ketakmengertiannya. Namun tak dapat Fatma terima karena sebutan itu selalu datang beserta rasa perih tak terperi.
Roda gerobak sayuran masih berputar pelan. Fatma mendorongnya dalam keadaan perut yang ditawar lapar. Belai angin dari tiupan pohon di pinggir jalan kadang datang menyejukan punggung bajunya yang sudah basah berbasuh peluh. Urat-urat tangan berwarna kehijauan yang tinggal berbalut kulit keriput, dikokoh-kokohkan menggenggam erat kuasa gerobak pembawa sayur dan berbagai macam bumbu dapur.
Tak terdapat sedikit pun rasa ingin mengumpat malaikat atau mengeluh pada Tuhan meski sayuran dagangannya masih banyak tersisa. Fatma hanya percaya pada doa-doanya dan kepada maha sifat rahman-rahimNYA, meski terbersit sedikit kekhawatiran. Amarah Bos Ujang akan kembali tumpah, seperti kemarin sore, saat sayuran dagangannya lebih banyak tersisa.
“Woi Mak, kalian teh dagang sambil mulung atau mulung sambil dagang, hah? Sayuran masih begitu banyak!” bentak tanyanya dengan kaki yang sudah menyilang di atas meja, sambil mengibas-ngibaskan topi, mengharap angin.
Fatma si ibu tua, hanya dapat tunduk diam di hadapan tuannya, menggandeng putra gagunya yang menjinjing kantong plastik hitam berisi beberapa botol dan gelas pelastik bekas air mineral, yang biasanya setelah pulang setoran hasil berdagang sayuran lalu akan dijual di tempat penampungan rongsokan.
“Maaf Mang, di perumahan agak sepi. Sepertinya sekarang mah, ibu-ibu lebih memilih belanja di supermarket,” jawabnya dengan ekspresi menghiba.
“Ah, alesan wae. Lama-lama saya teh bisa bangkrut, nyaho!” sergah si juragan sambil menggaruk-garuk kepala dengan buku catatan yang terkepal di tangan kanan. Sedang tak ada lagi yang dapat Fatma jawabkan selain kembali terdiam.
“Hh ya sudah. Aturlah keliling dagang Emak. Saya mah tak mau tahu Mak. Emak mau keliling ke kebun binatang atau sekalipun ke tepi pantai, yang penting mah dagangan laku,” celetuknya, disambut tawa beberapa anak buahnya yang lain di kios sayurnya.
“Nih buat makan Emak dan anak emak. Untung saya teh masih mempunyai rasa kasih dan sayang Mak, jadi Emak masih saya beri kesempatan berdagang,” lanjutnya dengan menyodorkan beberapa lembar uang ribuan.
“Alhamdulillah. Hatur nuhun, Mang,” diiringi senyum memelas yang terlontar dari bibir kering Fatma dan dibalas tuannya dengan anggukan pelan yang sejurus kemudian mengangkat kuping cangkir berkopi.
Setidaknya menurut Fatma, meski selalu membentak dan berteriak-teriak, tapi biarlah, karena Bos Ujang masih lebih memiliki rasa kasihan kepadanya dan anaknya. Setidaknya, selama ini tak pernah dia menyebut sesuatu yang lebih memerihkan hati Fatma, yaitu menyebut “si gagu” kepada putra si anak buahnya itu. Karena hanya sebutan itulah yang lebih memerihkan, memedihkan di hati Fatma. Fatma akan lebih memilih dirinya yang dihina-dinakan orang, daripada mendengar anaknya yang dijadikan sebagai bahan olokan. Sungguh, Fatma akan lebih memilih itu.
“Uuii aaee?”(*) tiba-tiba tutur aneh dari Sabda dengan kepala mengangguk-ngangguk sambil menyeka keringat dan lamunan kekhawatiran Fatma dengan sebuah handuk kecil dekil.
Tapi Fatma mengerti bahasa tanya itu, kemudian menggeleng pelan seraya tersenyum.
Batinnya kembali terasa tersedak menatap keluguan wajah Sabda yang masih menempelkan handuk kecil di wajahnya. Fatma teringat pagi tadi, sebagian anak yang hendak berangkat ke sekolah memanggil dengan sebutan yang memerihkan itu, “si gagu”. Mereka seolah lupa dengan sila dari pancasila yang dulu juga pernah singgah di benak Fatma, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Namun Fatma juga lupa adalah sila ke berapa.
Hingar-bingar jalan dengan konvoi demo, wajah-wajah menebar nada marah, muka-muka memajang warna murka, komplit dihiasi atribut-atribut sebagai identitas komunitas. Spanduk besar bertuliskan kegeraman minta keadilan serta bunyi klakson dan jerit knalpot kendaraan yang saling menyalak bersahutan, begitu melengkapi terik di siang ini. Terpaksa Fatma lebih merapat menyusuri sisi trotoar, hingga akhirnya,sejenak,mereka duduk-duduk diatas trotoar untuk sekedar menyambung nafas.
This is a preview of
Tatkala Sayap Jibril Masih Asyik Memetik Kecapi
.
Read the full post (2115 words, estimated 8:28 mins reading time)
Aku
kembali mengayuh sepeda itu
Sudah tak ada daya
Terbuang tanpa guna
Memang sangat lapar
Namun, haus lebih panas membakar
Pikirku
akan kuminum apapun yang ketemu
Entah gutasi
yang menetes dalam lembab malam
Entah itu air di selang
yang mengalir melintang di jalan
Posted in Puisi, Jeritan, Kelam on Juni 11th, 2008 No Comments »
Aku lusuh
Bermandi peluh
Mati pembuluh
Namun hidup takkan mengeluh
Bangkit derai tawa
Jangan pernah kalah pada kurawa
Semangat harus jadi pandawa
Biar kata tubuh tak bernyawa
Miring jangan pernah
Sinting tiada bergenah
Pada mati dipendam tanah
Tinggal tubuh memecah
maka aku tak sempat mengantarkan kata-kataku
kepada telingamu yang menjauh
aku tak berharap terlalu banyak pada siapa pun kau
kata-kataku begitu resah dan lemah
tak mungkin menjadi Anantasena bagi Baratayudha
bahkan mungkin menjadi sampah di ruangruang dunia
bahkan mungkin menjadi seperti Trunojoyo bagi Kompeni
mungkin tetap sampah-sampah yang resah mencari…
mencari…mencari…
mencari hak atas kesampahannya
dan kita tak lebih dari salah satu dari ketakterhitungan sampah itu
Sekarang aku punya kebiasaan baru, duduk dan merenung di alun-alun kota sambil menunggu datangnya gerimis atau kabut. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa begitu akrab dengan gerimis kota ini. Kadang sesekali aku juga sering rindu kepada kabut yang turun pada sore dan pagi hari.
Aku juga tak perlu malu kepada siapapun, sebab di sini aku punya teman yang tidak aku kenal dan tidak mengenalku. Aku mengenalnya sekadar dia sering duduk disini sendiri, seperti aku. Wajahnya tak menampakkan kesedihan, hanya kebiasaannya duduk terpekur disini saja yang membuat aku menyimpulkan bahwa dia juga orang yang sama dengan aku, orang yang sama-sama muak kepada kehidupan, tapi masih begitu sayang untuk meninggalkannya. Sebatas itu.
Alun-alun inilah yang kemudian menjadi lambang keputusasaan dan kekecewaanku kepada nasib. Betapa tidak? Aku yang merasa telah melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh, ternyata hanya melahirkan kekecewaan-kekecewaan orang-orang kepadaku. Aku kecewa kepada nasib yang tak berpihak kepadaku. Dan kekecewaan kepada nasib kemudian mengantarkan aku pada keputusasaan. Kemudian aku menyesal telah berbuat baik, aku menyesal telah berbaik sangka kepada kehidupan yang ternyata berlaku kejam kepadaku. Tapi aku tak sampai memaki Tuhan, Tuhan tidak pantas aku maki. Mungkin aku tidak berani.
Kemarin aku menunggumu pada sebuah toko buku langgananmu, Wilokoman. Tapi kau tak datang. Hanya bayanganmu yang tampak samar, yang kelihatan dalam imajinasiku. Kau terlihat sedang menuju ke arahku.
Tahukah kau Wilokoman? Kemarin aku dipermalukan lagi. Aku tahu mereka tidak sedang mennghinaku. Mereka sekadar bertanya seperti apa rasanya menjadi orang Indo. Pikir mereka, aku bangga menjadi orang keturunan Eropa. Mereka tak tahu Wilokoman, jika kelahiranku tidak diharapkan oleh ayahku terlebih-lebih ibuku. Bahkan sampai sekarang aku masih tak tahu seperti apa rupa ayahku –orang yang paling berperan dalam kelahiranku setelah ibuku-, darimana dan dimana sekarang.
Wilokoman, jika masih ada yang bertanya tentang siapa yang paling aku benci, jawabanku tetap sama, ayahku! Mungkin bukan ayah, seorang ayah tak mungkin membiarkan anaknya dipermalukan. Seorang ayah tidak mungkin tidak mencintai anaknya. Sementara dia? Jangankan mencintai, menyapa pun tidak.
Wilokoman, ibuku juga sama dengan ayahku, dia hanya sedikit lebih baik dengan menitipkan aku pada seseorang sebelum dia pergi. Sampai sekarang masih seperti bayangan dalam kegelapan.