KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Intermezzo'

Sendiri

jalan sepi
gelandangan mulai lelap dari lapar
mengunyah sepiring sajian sukaan
meneguk minuman

lepas dari tengadah tangan meminta
sibakan baju kusam usang

dingin angin
melejit bersama impian
si gelandang malam yang malang di emperan warung makan

Senin 0146 Juni 2008

Udara dingin mendekapku erat.

Menemaniku di gelapnya malam yang kian melarutkan aku dalam kesunyiannya

Kutatap langit, tampak sedikit mendung ia.

Awan yang terserak menghampar di setiap sudut cakrawala yang kehitaman

Aku tak tahu apakah kegelapan langit malam telah merenggut cemerlang putihnya awan dan menyisakannya dalam kelabu, atau awanlah yang telah menodai langit malamku dan memisahkanku dari bintang-bintang kecilku.

Opera

Opera besar berpentas
Dari sekecil yang tertekan suara tawa intelektual
Egois munafik homo-homoni lufus berlangsung dan tumbuh berserakan
semua tahu intelek bagai pengisap candu
Dadaku seakan meledak tak berdaya
Kapan opera berakhir atau berganti cerita dan sutradara??!

Semula
dianggap biasa

Bila tak terlepas
merasa lebih bebas

Bila pergi
selalu diratapi

Bila kembali
semakin lupa diri

Bila ada
membuat lupa

Bila hilang
sibuk mencari, nangis meradang

Bila didapat
bersuka ria hingga tak ingat

Sleman, 2007

Assalamu’alaikum Sahabat,

aku ingin menyampaikan sebuah kisah tentang malam yang terasa sangat menakutkan, hingga aku tak bisa berbicara karena ketakutan.

Begitu melihat koran yang Ayah beli hari ini tergeletak atas meja, aku tertarik untuk membacanya. Itu karena tulisan itu begitu besar tercetak. Tulisan yang menggugahku untuk membacanya.

Kuambil koran itu lalu dengan seksama kubaca perlahan. Ehm, aku mengguman dengan sebelah alis terangkat. Makin edan saja dunia. Begitu pikir singkatku tanpa memandangnya dengan pikiran positif. Kuseruput teh buatan Bunda. Kemudian kulanjutkan membaca koran.

Asap rokok kembali menemani saya malam ini, menemani setiap kegelisahan yang selalu ada. Ya, rasa gelisah, takut, kalut, galau, khawatir, apapun itu namanya, perasaan seperti itu selalu dan selalu bakal tetap ada selama manusia masih bernapas dan berpijak di bumi ini.
Hanya bisa mengingatnya dari sini, tanpa pernah bisa berucap mesra. Tanpa pernah dia tahu betapa saya sangat mengharapkannya. Dia, entah di mana, di penghujung bumi yang lain mungkin, sedang tertawa atau mungkin sedang lelap tertidur setelah seharian perasaan lelah menderanya berulang-ulang.
Setiap pagi saya jatuh cinta kepada manusia yang sama dan setiap malam saya selalu tidur dengan perasaan rasa sakit yang sama. Perasaan patah hati.

Disadari namun tak dimengerti…

Dibuai raga oleh pesona miliknya…

Melihat pantulan bayangan diri ketika berada di depan cermin. Memainkan rambut ikal miliknya dengan lentikan jemarinya. Mengedipkan mata menggoda si bulu mata. Dengan segala keindahan yang Ia punya, Ia bak sang putri yang begitu mendambakan sesuatu. Layangan kalbu berarak di rona wajahnya yang sesekali tersenyum kecil. Begitu indah sunggingan senyumnya yang menukik hingga lesung pipinya terlihat dengan jelas.

Sekali lagi, aku ingatkan! Aku hanya ingin tahu apa itu sepi. Di mana sepi? Sejak lahir aku tak pernah mengetahui keberadaannya, bahkan ketika aku termenung sendiri. Bahkan masih ada dengung lirih di telingaku saat mereka pergi, yang menandakan bahwa sepi masih segan untuk menampakkan batang hidungnya di depanku. Aku pergi ke laut, ketemu debur. Aku panjati gunung tinggi, ketemu semilir. Aku jelajahi sahara, ketemu desir. Aku rebah di kasur, ketemu suara berisik. Dari mana berisik itu? Ternyata dari mataku. Mataku masih liar bergerak meraba-raba mencari cahaya atau sekedar fantasi. Kata orang, itu namanya kita sedang memasuki fase rapid eye movement, disingkat REM. Konon, itu sebuah fase sebelum kita memasuki fase tidur nyenyak.

Ku duduk termenung dengan kagumku
Berhadapan langsung dengan sang Lautan

Menanti larinya sang Surya ke peraduan
Menatap betapa elok senja tiba

Ditemani dengan ributnya angin dan tangisan ombak
Menambah keindahan tak terbayangkan

Hanya kata sanjungan untuk-Mu sang Khalik

« Prev - Next »