Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
mungkin sebelum gadis itu datang
padang rumput itu hanya diinjak-injak oleh hewan ternak
padahal gadis itu datang hanya untuk sementara
hanya untuk menyembuhkan kaki yang terluka
Seorang pria terus memperhatikan, apalagi pria itu harus menjaga
anak gadis dari seorang yang kaya raya dan yang memiliki padang rumput luas
juga ternak yang biasa menginjak dan memakan padang rumput luas
pria itu masih memperhatikan, sang gadispun memperhatikan
pandangan merekapun bertemu
cinta pandangan pertama
Hari-haripun dilalui bersama
Merekapun baru menyadari satu sama lain
Si Pria ingin menyatakannya esok namun terlambat
Sang Gadis ingin pergi dan hampir pergi
Tanpa berfikir panjang
Si Pria menyatakan cinta di depan semua orang
Sang Ayah yang melihat kedua merpati, langsung memisahkan
Sang padang rumputpun terusik
Pemilik padang rumput itu terusik
Posted in Puisi, Intermezzo, Teruntuk on Desember 30th, 2008 No Comments »
Jika perahu tidak bisa berjalan.
Semoga bukan sebab layar sengaja diturunkan.
Melainkan akibat musim tanpa angin.
Dengan demikian…
ada kesempatan bagi hati dan lengan
untuk mengayuh dayung agar perahu sampai.
Ra, I’ve made the most important discovery of my life. It’s only in the mysterious equation of love that any logical reasons can be found. I do this because of you. You’re the only reason!!!
Permanent link to this post (65 words, estimated 16 secs reading time)
Posted in Puisi, Intermezzo, Teruntuk on Desember 30th, 2008 No Comments »
Kepada Nurminita
Apakah hanya angkuh
Terukir di wajah kita berdua
Dan tampak kukuh
Di mana antara kita berada
Di depan mata
Namun tanpa senda
Permanent link to this post (25 words, estimated 6 secs reading time)
Seorang penyair berjalan gontai masuk ke dalam sebuah warung kopi. Bapak penjaga warung menyapanya dengan ramah, ” Kopi kental pahit seperti biasa, Tuan Penyair?”
Sang penyair hanya menyunggingkan senyum tipis dan duduk di bangku panjang menghadap rak kaca warung kopi itu. Seperti biasa, harum gorengan dalam rak menyusup keluar dan mengelus-elus indera penciumannya. Dengan begitu, perutnya langsung bereaksi memohon untuk diisi. Tangannya langsung menjulur mengambil sebuah gorengan dari dalam rak. Sambil mengunyah, dia berbasa-basi.
Posted in Puisi, Intermezzo on Desember 28th, 2008 No Comments »
aku lelah…………….
bahu ini tak sanggup lagi………..
nafas ini ………
seperti mau mati.
aku lelah…………………
bibir ini tak sanggup lagi…………………
berucap segala kata yang seolah tersekat………….
di otakku……….karena……..
LELAH…………
Permanent link to this post (30 words, estimated 7 secs reading time)
Posted in Intermezzo on Desember 27th, 2008 No Comments »
Kau datang lagi
Membawa harapan kosong
Selalu dan selalu
Aku harus mengerti orang lain
Bukan orang lain yang mengerti aku
Permanent link to this post (21 words, estimated 5 secs reading time)
jangkrik bernyanyi
krik…krik…krik…
burung berkicau,
cit… cit… cuit…
kucing menggumam,
ngeiao…
harimau berdehem,
grhaaw….
bebek berkoor,
kwek… kwek … kwek
Sayang, kau tak mengerti juga
mereka tengah membahasakan cintaku buatmu
dengan bahasa mereka.
Wasta, 231008
Permanent link to this post (37 words, estimated 9 secs reading time)
Posted in Intermezzo on Desember 27th, 2008 No Comments »
bila engkau bertemu makhluk bernama “menunggu”
dan kau jengkel karenanya
bilang pada diri sendiri : aku jengkel, aku kesal, sebal, dan sebagainya terserah
tapi jangan kau teriakkan pada dunia
sebab ia hanya akan tertawa
menertawakan kejengkelanmu
Ketika tangan terentang
hidup tak lagi jadi pilihan
ketika satu jari menunjuk waktu
maka mati tak lagi menunggu
Permanent link to this post (7 words, estimated 2 secs reading time)
“Aduh keras sekali daging ini, sampai-sampai gigiku yang tinggal separuh ini tak mampu lagi menggigitnya,” keluhku sambil meringis.
Umurku memang belum setua gigiku ini. Tapi banyak orang mengira aku hanyalah kakek-kakek yang sudah kehilangan sebagian besar giginya. Padahal umurku terbilang masih muda, masih di bawah limapuluhanlah. Makanya tak heran banyak orang memanggilku dengan sebutan Pak Ompong, terlebih lagi murid-muridku di sekolah. Profesiku sebagai guru di sebuah sekolah swasta di Surabaya tak ditunjang dengan penampilanku ini.