KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Intermezzo'

mungkin sebelum gadis itu datang
padang rumput itu hanya diinjak-injak oleh hewan ternak
padahal gadis itu datang hanya untuk sementara
hanya untuk menyembuhkan kaki yang terluka
Seorang pria terus memperhatikan, apalagi pria itu harus menjaga
anak gadis dari seorang yang kaya raya dan yang memiliki padang rumput luas
juga ternak yang biasa menginjak dan memakan padang rumput luas
pria itu masih memperhatikan, sang gadispun memperhatikan
pandangan merekapun bertemu
cinta pandangan pertama
Hari-haripun dilalui bersama
Merekapun baru menyadari satu sama lain
Si Pria ingin menyatakannya esok namun terlambat
Sang Gadis ingin pergi dan hampir pergi
Tanpa berfikir panjang
Si Pria menyatakan cinta di depan semua orang
Sang Ayah yang melihat kedua merpati, langsung memisahkan
Sang padang rumputpun terusik
Pemilik padang rumput itu terusik

Sarah

Jika perahu tidak bisa berjalan.
Semoga bukan sebab layar sengaja diturunkan.
Melainkan akibat musim tanpa angin.
Dengan demikian…
ada kesempatan bagi hati dan lengan
untuk mengayuh dayung agar perahu sampai.

Ra, I’ve made the most important discovery of my life. It’s only in the mysterious equation of love that any logical reasons can be found. I do this because of you. You’re the only reason!!!

Batu

Kepada Nurminita

Apakah hanya angkuh
Terukir di wajah kita berdua
Dan tampak kukuh
Di mana antara kita berada
Di depan mata
Namun tanpa senda

Seorang penyair berjalan gontai masuk ke dalam sebuah warung kopi. Bapak penjaga warung menyapanya dengan ramah, ” Kopi kental pahit seperti biasa, Tuan Penyair?”

Sang penyair hanya menyunggingkan senyum tipis dan duduk di bangku panjang menghadap rak kaca warung kopi itu. Seperti biasa, harum gorengan dalam rak menyusup keluar dan mengelus-elus indera penciumannya. Dengan begitu, perutnya langsung bereaksi memohon untuk diisi. Tangannya langsung menjulur mengambil sebuah gorengan dari dalam rak. Sambil mengunyah, dia berbasa-basi.

Lelah

aku lelah…………….

bahu ini tak sanggup lagi………..

nafas ini ………

seperti mau mati.

aku lelah…………………

bibir ini tak sanggup lagi…………………

berucap segala kata yang seolah tersekat………….

di otakku……….karena……..

LELAH…………

Mengalah Lagi

Kau datang lagi

Membawa harapan kosong

Selalu dan selalu

Aku harus mengerti orang lain

Bukan orang lain yang mengerti aku

jangkrik bernyanyi

krik…krik…krik…

burung berkicau,

cit… cit… cuit…

kucing menggumam,

ngeiao…

harimau berdehem,

grhaaw….

bebek berkoor,

kwek… kwek … kwek

Sayang, kau tak mengerti juga

mereka tengah membahasakan cintaku buatmu

dengan bahasa mereka.

Wasta, 231008

 

Bila Engkau Jengkel

bila engkau bertemu makhluk bernama “menunggu”
dan kau jengkel karenanya
bilang pada diri sendiri : aku jengkel, aku kesal, sebal, dan sebagainya terserah
tapi jangan kau teriakkan pada dunia
sebab ia hanya akan tertawa
menertawakan kejengkelanmu

Ketika tangan terentang

hidup tak lagi jadi pilihan

ketika satu jari menunjuk waktu

maka mati tak lagi menunggu

“Aduh keras sekali daging ini, sampai-sampai gigiku yang tinggal separuh ini tak mampu lagi menggigitnya,” keluhku sambil meringis.

Umurku memang belum setua gigiku ini. Tapi banyak orang mengira aku hanyalah kakek-kakek yang sudah kehilangan sebagian besar giginya. Padahal umurku terbilang masih muda, masih di bawah limapuluhanlah. Makanya tak heran banyak orang memanggilku dengan sebutan Pak Ompong, terlebih lagi murid-muridku di sekolah. Profesiku sebagai guru di sebuah sekolah swasta di Surabaya tak ditunjang dengan penampilanku ini.

« Prev - Next »