Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Sekali lagi, aku ingatkan! Aku hanya ingin tahu apa itu sepi. Di mana sepi? Sejak lahir aku tak pernah mengetahui keberadaannya, bahkan ketika aku termenung sendiri. Bahkan masih ada dengung lirih di telingaku saat mereka pergi, yang menandakan bahwa sepi masih segan untuk menampakkan batang hidungnya di depanku. Aku pergi ke laut, ketemu debur. Aku panjati gunung tinggi, ketemu semilir. Aku jelajahi sahara, ketemu desir. Aku rebah di kasur, ketemu suara berisik. Dari mana berisik itu? Ternyata dari mataku. Mataku masih liar bergerak meraba-raba mencari cahaya atau sekedar fantasi. Kata orang, itu namanya kita sedang memasuki fase rapid eye movement, disingkat REM. Konon, itu sebuah fase sebelum kita memasuki fase tidur nyenyak.
Ku duduk termenung dengan kagumku
Berhadapan langsung dengan sang Lautan
Menanti larinya sang Surya ke peraduan
Menatap betapa elok senja tiba
Ditemani dengan ributnya angin dan tangisan ombak
Menambah keindahan tak terbayangkan
Hanya kata sanjungan untuk-Mu sang Khalik
Permanent link to this post (39 words, estimated 9 secs reading time)
Aku tak pernah ingat permen pertama yang kumakan
Aku tak pernah inget es krim pertama yang ayah belikan
Aku tak pernah ingat pelangi pertama yang kuagungkan
Tapi hal ini, cinta pertamaku,
kenapa tak pernah hilang dari hatiku?
Permanent link to this post (39 words, estimated 9 secs reading time)
Posted in Puisi, Intermezzo on Juni 13th, 2008 No Comments »
Dalamnya hati manusia siapa yang tahu
Hmm andai saja dapat diukur
Ratusan kilometer akan kutempuh, hanya sekedar untuk tahu
Aku hanya tak ingin menanti yang tak pasti
Sedang hidupku begitu pasti untuk harus berjalan
Dan di depanku pun tersaji pilihan yang juga harus kuputuskan dengan bijaksana
di perempatan jalan desaku
ada ilalang melambai
di gerbang jalan desaku
ada senyum untukMu
tapi
di gerbang desaku
tak ada Kau
dimana gerbang
menujuMu
Permanent link to this post (25 words, estimated 6 secs reading time)
Di salah satu titik kota Bandung, kucermati beberapa kejanggalan yang pernah datang dari masa laluku. Seorang bapak-bapak menjajakan hasil dagangannya kepada semua penumpang bus kota. Sedangkan aku hanya mengamati dari jauh, masih teringat segar di dalam kepalaku bahwa aku juga pernah melakukan hal yang serupa dengan beliau.
Bias senyuman makin memudar
Kebersamaan yang tak lagi berdetak
rindu yang hilang, akankah kembali
Engkau cinta, takkan bergeser
dari pusaran hati
Tetap ku nanti
tak kumengerti
haruskah ku membenci
Permanent link to this post (32 words, estimated 8 secs reading time)
Aku lupa. Lupa semuanya. Bahkan aku lupa apa yang kulupakan barusan. Kelupaanku pada hal yang terlupa tak membuat orang-orang melupakanku. ‘Si Pelupa’, begitu mereka menyebutku.
Mama mengingatkanku agar tak lupa membawa semua perlengkapan yang kubutuhkan untuk orasiku hari ini. Orasi yang kata Mamaku (sewaktu mengingatkanku) bagus untuk karirku di masa yang akan datang. Sebagai politikus katanya. Ah aku lupa lagi apa arti politikus itu.
Deras hujan seakan berluncur deras kala kudapati kenyataan ini. Meski hal ini tak mungkin dapat kucegah tapi ku harus menerimanya dengan hati yang lapang. Ya, mereka bukan ayah dan ibuku yang sesungguhnya. Padahal ku sangat sayang pada mereka berdua.
dengan mudahnya kau hancurkan
dengan mudahnya kau sakiti
hatiku yang rapuh ini
hatiku yang lemah ini
kini hancur berkeping-keping
kini hanya sayatan yang tersisa
perih yang kurasakan
pedih yang ku bawa
tak mudah untuk disatukan
tak mudah untuk dilupakan