KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Intermezzo'

Sekali lagi, aku ingatkan! Aku hanya ingin tahu apa itu sepi. Di mana sepi? Sejak lahir aku tak pernah mengetahui keberadaannya, bahkan ketika aku termenung sendiri. Bahkan masih ada dengung lirih di telingaku saat mereka pergi, yang menandakan bahwa sepi masih segan untuk menampakkan batang hidungnya di depanku. Aku pergi ke laut, ketemu debur. Aku panjati gunung tinggi, ketemu semilir. Aku jelajahi sahara, ketemu desir. Aku rebah di kasur, ketemu suara berisik. Dari mana berisik itu? Ternyata dari mataku. Mataku masih liar bergerak meraba-raba mencari cahaya atau sekedar fantasi. Kata orang, itu namanya kita sedang memasuki fase rapid eye movement, disingkat REM. Konon, itu sebuah fase sebelum kita memasuki fase tidur nyenyak.

Ku duduk termenung dengan kagumku
Berhadapan langsung dengan sang Lautan

Menanti larinya sang Surya ke peraduan
Menatap betapa elok senja tiba

Ditemani dengan ributnya angin dan tangisan ombak
Menambah keindahan tak terbayangkan

Hanya kata sanjungan untuk-Mu sang Khalik

Aku tak pernah ingat permen pertama yang kumakan

Aku tak pernah inget es krim pertama yang ayah belikan

Aku tak pernah ingat pelangi pertama yang kuagungkan

Tapi hal ini, cinta pertamaku,

kenapa tak pernah hilang dari hatiku?

 

Dalamnya hati manusia siapa yang tahu
Hmm andai saja dapat diukur
Ratusan kilometer akan kutempuh, hanya sekedar untuk tahu

Aku hanya tak ingin menanti yang tak pasti
Sedang hidupku begitu pasti untuk harus berjalan
Dan di depanku pun tersaji pilihan yang juga harus kuputuskan dengan bijaksana

di perempatan jalan desaku
ada ilalang melambai
di gerbang jalan desaku
ada senyum untukMu

tapi
di gerbang desaku
tak ada Kau
dimana gerbang
menujuMu

Di salah satu titik kota Bandung, kucermati beberapa kejanggalan yang pernah datang dari masa laluku. Seorang bapak-bapak menjajakan hasil dagangannya kepada semua penumpang bus kota. Sedangkan aku hanya mengamati dari jauh, masih teringat segar di dalam kepalaku bahwa aku juga pernah melakukan hal yang serupa dengan beliau.

 

 

Bias senyuman makin memudar

Kebersamaan yang tak lagi berdetak

rindu yang hilang, akankah kembali

Engkau cinta, takkan bergeser

dari pusaran hati

Tetap ku nanti

tak kumengerti

haruskah ku membenci

Aku lupa. Lupa semuanya. Bahkan aku lupa apa yang kulupakan barusan. Kelupaanku pada hal yang terlupa tak membuat orang-orang melupakanku. ‘Si Pelupa’, begitu mereka menyebutku.

Mama mengingatkanku agar tak lupa membawa semua perlengkapan yang kubutuhkan untuk orasiku hari ini. Orasi yang kata Mamaku (sewaktu mengingatkanku) bagus untuk karirku di masa yang akan datang. Sebagai politikus katanya. Ah aku lupa lagi apa arti politikus itu.

Deras hujan seakan berluncur deras kala kudapati kenyataan ini. Meski hal ini tak mungkin dapat kucegah tapi ku harus menerimanya dengan hati yang lapang. Ya, mereka bukan ayah dan ibuku yang sesungguhnya. Padahal ku sangat sayang pada mereka berdua.

dengan mudahnya kau hancurkan

dengan mudahnya kau sakiti

hatiku yang rapuh ini

hatiku yang lemah ini

 

kini hancur berkeping-keping

kini hanya sayatan yang tersisa

perih yang kurasakan

pedih yang ku bawa

 

tak mudah untuk disatukan

tak mudah untuk dilupakan

Next »