Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Saya sudah sering dihina dan terhina. Jadi sudah biasa kalau kamu mengernyitkan dahi, mempertanyakan, (atau malah) menertawakan nama saya. Sebab nama saya Vaginalia. Asli dari akte lahir, murni pemberian kedua orang tua saya. Silahkan kalau kamu mau tertawa. Toh sudah biasa.
Kamu mengenalkan namamu sebagai Muhammad. Nama yang bagus, dan agung. Sebab namamu itu, juga nama nabi yang paling diagungkan. Yang dijuluki Al-Amin, artinya dapat dipercaya. Diteladani banyak manusia, termasuk saya. Sebab katanya akan mendapat pahala jika saya memuji namanya, mendapat sesuatu yang bernama ‘Syafa’at’ di kehidupan akhirat.
Sudah sekitar lima hari berlalu sejak peristiwa memilukan itu terekam oleh kedua mataku. Semuanya masih tampak segar, masih terasa baru tanpa secuil momen pun yang mulai mengelupas. Aku masih dinaungi oleh bayang-bayang kegelapan yang sama dengan hasrat gila yang menumbuhi hatiku layaknya jamur di musim hujan. Kini, aku sendirian. Maksudku, aku merasa telah terlepas dari kenyataan dan masuk ke dalam dimensi yang kejam ini seorang diri. Tanpa teman maupun musuh. Aku benar-benar sendiri menikmati rasa muak yang membabat gundul benang-benang akal sehat yang terbentang lelah. Setiap bunyi detik jarum jam menyiksaku habis-habisan. Ruang dan waktu, realita dan imajinasi, waras dan gila, apa artinya kini? Apa artinya hidup dan mati? Senang dan sedih? Tawa dan tangis? Jika yang tersisa hanyalah karat yang menggerogoti perasaanku sebagai manusia yang hidup atau yang lebih mudah kuartikan sebagai: kehampaan.
Aku bisa melihat bulan dengan jelas dari jendela kamar yang kubiarkan terbuka. Bentuknya bulat. Bulat sempurna. Ini tanggal 17. Sesekali, angin yang sepoi masuk menyejukkan kamar. Pipiku basah. Aku menangis.
Suara itu kembali terngiang. Suara tangisan. Tangisan bayi. Bayi sialan itu.
Ayolah! Coba kau cari di mana airmata kesedihanku tersimpan! Kau tak kan pernah menemukannya. Karena aku sendiripun tak tahu dimana letak airmata kesedihanku. Kalau airmata tawa aku punya berliter-liter. Tiap malam mengucur deras dari sudut mataku sebanyak botol Lau Lao yang kutengak. Minuman alkohol kelas rakyat khas Laos itu menghangatkan tubuhku dari terpaan angin sungai Mekong. Tanktop dan rok mini tipisku serasa bagai gumpalan selimut bulu domba. Lau Lao selalu menguatkan hari-hariku di sudut kota Vientiane yang ramai ini. Satu-satunya bagian kota yang selau ramai dengan kehidupan malam. Bagian kota yang lain sudah sepi seperti pemakaman Prancis yang megah dengan nisan berpilar pualam. Minuman keras itu menjaga tawa dan kegembiraanku setiap hari. Hingga tak kukenal lagi kesedihan. Airmataku hilang tiap bulirannya melayang entah ke alam apa.
SEMBILAN tahun telah kujalani hidup bersama lelaki itu. Sudah sembilan kali kusaksikan gemerlap kembang api pada tiap awal tahun bersamanya. Di kota ini, segala lakon tentang kehidupan aku selesaikan. Dan, setiap episodenya berakhir dengan deru berahi. Cukup beralas tikar cinta saja. Cinta yang semakin liar.
Saya masih duduk sendiri. Menunggu. Memandang tanah-tanah kering.
Di taman ini, saya adalah tak lebih seekor cacing. Menggeliat ke sana ke mari mencari celah basah. Sebab cacing tak suka cahaya berlebih, menusuk pori-pori. Sebab cacing juga tak perlu mencari pasangan untuk kawin. Tidak seperti manusia.
Hari Sabtu, malam Minggu. Jam sudah menunjukkan pukul 1. Orang-orang mulai datang dan pergi silih berganti. Dan gadis itu duduk di depan meja teleponnya. Sekarang adalah jam kerjanya. Dalam tiga hari belakangan ia terpaksa harus mengambil jam kerja malam, karena seorang temannya sedang dalam masa pemulihan sehabis sakit dan dilarang untuk bekerja terlalu larut. Dan di sinilah ia sekarang. Seorang gadis muda berambut merah muda sebahu yang asyik mengunyah permen karet sambil sesekali mengisap rokok. Mengenakan baju ketat dengan motif bola mata. Ia terus menggosok kuku-kuku tangannya hingga halus. Sampai seorang temannya, seorang operator telepon, menjentikkan jari ke arahnya dan berteriak, “Line 3! Pelanggan pertama hari ini.”
Perlahan ku berjalan
Perjalananku yang indah dan hanyut
Membawa aku ke dalam keterlupaan
Ahh…
Perlahan-lahan cambuk itu makin pedih
Sakitnya tak mengeluarkan air mata
Namun, sangat membuatku ingin
Inikah yang dikatakan harus berlari
Berlari menjemput gadis bercadar
Tapi
Aku tak lagi mau
Menunggu
Sebuah percakapan dalam pekat suatu waktu. Terjadi ketika hati Jim tak terbendung menahan hiruk pikuk seruan nelangsa. Cintanya masih bersauh di sebuah pelabuhan hati sang kekasih. Biar jarak dan waktu menjadi busur panah, namun khayal dan impian tak berhenti jua. Dia di ujung timur Jawa, mencuri sedikit waktu untuk melupakan masa lalu. Tapi, suluh rindunya tak mungkin tertiup angin lalu. Kini, dia arungi lajur-lajur jalan dengan tetes kasih yang luruh bersama bulir keringatnya. Hati adalah ruang-ruang yang baru terisi sebagian.
And there she was, sitting in the bus wondering why she suddenly got really excited. She smiled, a wide one, she let herself enjoying the excitement in her heart—long ago had she had this kind of feeling. But far deep inside her heart she felt afraid.