Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Puisi, Gairah dan Eros on Desember 11th, 2008 No Comments »
Waktu kita duduk
Kita sama-sama pecah dan menari
Berserakan di atas puing-puing cahaya
Kau mabuk, aku menerimanya sebagai do’a
TV tetap menyala, buku-buku menahan igauan
Jam tak bernyawa, aku mendekat ke rahimmu
Segelas darah, tercecer seperti nyanyian kidung
Di balik layar ada yang mencopot cahayanya
Aku membuangnya sebagai pernyataan rindu
Saat pertama kali aku bilang aku hamil, kami berdua nyaris terbunuh. Mobil yang kami tumpangi menabrak tembok pembatas rumah dan menghamburkan serpihan tembok ke udara.
Dia bilang aku harus cepat keluar dari sini sebelum orang lain datang menghampiri kami. Sambil melepas sabuk pengaman milikku, dia mengusap darah yang mengalir dari luka di keningku dengan sweaternya. Buang sweater itu nanti, jangan disimpan. Pergi, sekarang. Jika itu bukan cinta, aku tidak tahu lagi apa artinya cinta.
Posted in Puisi, Gairah dan Eros on November 13th, 2008 1 Comment »
ketika gerimis pecah dan angin mengapung di atas atap rumah-rumah,
aku ingat ruangan ini
kenangan biru para pencari cinta, mencekam dan haru
di jendelanya mata-mata terus mengintai,
dan sebilah pedang lesatkan kegaiban,
kau aroma yang tertinggal
menjunjung kain basah dari tikar tidurmu
“Di tempat ini, Arumku, dengarkah jantungmu,
melagukan mimpiku untukmu, mengalir resah dan ragu,”
-untuk Suriah
[di catatan harian, kutemukan diriku bercinta dengan dua aparat]
Aku tak meminta apa, hanya talu senja ‘tuk hiasan kepala. Aku tak meminta apa, Mas, sebab diriku telah tersingkir di antara para wanita. Sebab kau aparat negara, telah membuat diriku beroleh harga. Dan aku tidak tega, memisah dirimu dengan wanita yang telah dua dasawarsa menemanimu hanya untuk kenikmatan kita semata. Aku mau kamu tetap kerja, Mas. Tetap berdinas. Memakai seragam lengkap dengan pangkatnya. Dan, saat selangkanganmu rindu mengangkang, pulanglah kepadanya atau kepadaku. Kau tinggal memilih.
Ku jejak kaki pada pasir yang menghangat tersiram cahaya pagi
Erat ragamu ku dekap di bawah bayang tarian nyiur bersama angin
Mentari Dewata pertama kita hadir malu-malu di sela gerumpul mega
Ucapkan selamat datang pada cinta di sana
Tempat pelacuran di mana-mana sama saja. Mau di gang-gang sempit. Mau di hotel-hotel berbintang. Mau di pinggir jalan sekalipun. Sama saja. Yang membedakan hanya pelayanannya saja.
Satu malam lagi aku menjelajahi tempat pelacuran di negeri ini. Kalau dihitung-hitung sudah banyak uang dan waktu yang kuhabiskan untuk melakukan pesiar malam seperti ini. Tapi aku tidak akan pernah berhenti sampai aku menemukan dia. Cinta sejatiku.
Aku akan bertemu dia di sini. Kami sudah berjanji akan bertemu di tempat ini setelah kami melewati tiga tahun bersama dan satu tahun perpisahan ini. Di tahun tiga kebersamaan kami, dia memutuskan untuk pergi ke kota metropolis, kota yang selama ini selalu ditakutinya dan meninggalkanku di sini. Dia berjanji padaku akan datang kembali ke tempat ini; tempat ia meninggalkanku tepat di hari ke-360.
Pagi yang indah memulai hari. Embun mengusir kegelapan. Sinar matahari melanjutkan nafas kehidupan. Langkah kaki bergerak perlahan menginjak tanah yang basah. Rupanya tentara sedang melakukan serangan terhadap markas pemberontak. Tepat berada di tengah hutan, luput dari pantauan udara. Menyisir hutan dengan membagi serangan dalam beberapa tim.
Perlahan mata kaki perempuan itu menyelinap keluar dari lembar selimut. Permukaan kulitnya yang kuning langsat seolah memantulkan cahaya lampu kamar. Sedemikian kontras warna kaki itu dengan selembar selimut coklat yang menyelimutinya. Halus serupa kulit bayi, ditambah warna eksotik biru muda pada kuku-kuku jarinya.
Rambutmu terurai
Aku belai
Aku selipkan bunga setangkai
Matamu sayu
Hadir dalam mimpiku
Mengundang segala rindu
Hidungmu mancung
Membuatku bingung, merenung, dan linglung
Tak ada ujung
Bibirmu tipis
Pikiranku erotis
Aku coba tepis
Namun terlanjur terkikis
Aku meringis dan teriak histeris
Kau yang terindaaaaaah…!!!
Permanent link to this post (45 words, estimated 11 secs reading time)