KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Gairah dan Eros'

“Ada banyak hal dalam hidup ini yang sulit aku tafsirkan, Man!”
Parman hanya diam menatap seorang wanita yang selama ini ia kagumi. Sosok yang selalu membayangi mimpi-mimpinya bila malam telah larut, dan hanya kelelahan yang menggelayuti tubuhnya. Yang dari hari ke hari semakin tiada menentu saja hidupnya. Andai, dia mampu menjadi seorang laki-laki yang diharapkan Suti, dia akan meminang untuk dijadikan istri. Tapi apa daya, dan itu tak mungkin.
“Aku sangat terluka!”
Ditatapnya bola mata yang jernih di hadapannya. Tapi hanya beberapa saat saja. Dia tak kuat untuk menguasai diri. Lalu ia menunduk. Bola mata yang indah, yang sangat didambakan untuk mengisi hari-harinya.
“Jon, tak pernah mengerti kemauanku, Man!” keluh perempuan itu.
Hanya diam yang bisa dilakukan Parman. Ia tak ingin menyakiti hati perempuan itu dengan pernyataannya.
“Jangan diam saja dong, Man!”
Ia terperanjat. Baru menyadari bahwa salah juga jika hanya menjadi pendengar. Dicobanya untuk mengucapkan beberapa kata yang diplomatis.
“Cobalah komunikasikan kemauanmu itu dengan suamimu!”
“Sudah, Man! Dia tak pernah mau mendengar. Yang ada di otaknya hanya uang, kerja, dan kerja.”
Dikuatkan hatinya. Dicobanya kembali menatap perempuan di hadapannya. Ada kesedihan, kekecewaan, luka yang dalam. Tapi ia tak kuasa untuk menghilangkan- nya. Kalau saja, ia sudah punya pekerjaan yang mapan, akan ia katakan padanya: Maukah kau ikut denganku dan kita bangun rumah di atas bukit yang indah dengan anak-anak yang manis di dalamnya?
Tiba-tiba ia sadar. Ditepisnya pikiran itu. Semua hanya impian. Dia tidak mungkin bisa mewujudkannya. Bagaimana bisa menghidupi orang lain? Sedangkan menghidupi diri sendiri saja masih pontang-panting.
“Aku harus bagaimana?” Perempuan itu terus berkeluh dan butiran air mata menetes di pipinya. Ia mengusapnya dengan sapu tangan.
Parman hanya membisu. Dalam benaknya, apa kurangnya Suti? Rumah gedhong dilengkapi dengan perabot mewah, gonta-ganti mobil, semua kebutuhan telah dicukupi suaminya. Bukankah itu yang dia inginkan? Sekarang ia inginkan yang lebih dari itu semua. Kalau dulu ia punya cinta dan tak punya harta apakah Suti mau menerimanya? Tidak juga? Egois. Mau enaknya sendiri. Tapi ia hanya mampu tersenyum kecut. Kalau ia terluka, kenapa tidak mampu meninggalkan suaminya. Pikiran Parman gelisah. Kenapa perempuan ini sulit sekali ditebak kemauannya. Ia selalu ingin menuntut yang lebih.
“Aku kesepian, Man!”
Dada Parman bergemuruh kencang. Ternyata perasaannya terhadap Suti tak juga memudar, malah sebaliknya cintanya semakin membesar. Andai saja, dia tak bersuami mungkin saat ini ia akan mendekapnya erat-erat dan selalu menemaninya melewati hari-hari indah bersama tanpa rasa sepi sedikitpun.
Ia beranikan menatap bibir mungil di depannya. Perih hatinya. Ia tak mampu memberikan ketenangan bagi orang yang selama ini, diam-diam ia cintai. Bersamaan dengan itu, ia kaget. Tiba-tiba Suti menarik tangannya dan mengajaknya berlari.
“Man, ke sungai!”
Parman tak kuasa menolaknya. Tiba-tiba muncul rasa khawatir yang besar dalam dirinya, seandainya saja ada orang desa atau anak buah Joni yang melihat dia dan Suti bersama. Bagaimana tanggapan orang desa terhadapnya? Bagaimana sikap Joni pada Suti dan dirinya? Rasa takut mulai memenuhi perasaannya. Ingin dirinya meronta, melepaskan gandengan tangan Suti tapi genggaman tangan itu semakin kuat menahannya. Ia semakin gelisah.
“Aku kangen tempat ini!”
Nafas Suti tersengal-sengal dan saat itulah ia tahu, betapa indahnya bentuk buah dada yang mengikuti irama nafas itu. Ah, andai saja itu miliknya. Akhirnya ia berhenti dan bersandar pada pohon.
“Ingat nggak, Man? Tulisan yang kamu goreskan di pohon ini?”
Tubuh Parman membeku tak mampu digerakkan lagi. Ketakutan, bimbang, gelisah berbaur menjadi satu dalam pikirannya. Sedangkan Suti terus mengelilingi pohon tua itu, mencari-cari tulisan yang terpahat.
“Lihat , aku menemukannya!” Ia tersenyum lebar.
Ah, senyum yang manis sekali. Senyuman yang sama saat-saat indah bersama dahulu. Sebelum ia dibawa suaminya ke kota.
“Aku akan selalu menjaga Suti dari ancaman Bordin!” ia membacanya dengan keras.
Parman tersenyum simpul. Ia teringat masa kecilnya. Ia selalu bersama Suti bermain di pinggir sungai dan mengajarinya berenang. Hingga anak-anak lainnya merasa iri. Sampai pada akhirnya Bordin, selalu mengolok-oloknya dan menganggu Suti. Ketika itu Suti menangis. Kemudian ia berusaha menenangkannya dan berjanji untuk selalu menjaganya. Akhirnya ia mengajaknya ke pohon dekat sungai dan menuliskan janjinya. Sejak saat itu, ia selalu menjaga dan melindungi Suti dari kenakalan anak-anak lain. Bersama Suti, hari-hari selalu ia lalui dengan riang gembira. Dan saat ini, ia kembali ke desa dengan tangisan yang sama. Ia terluka karena Joni, suaminya. Akankah ia membelanya seperti saat kecil dulu?
Semuanya sudah berubah, Suti tak lagi anak-anak lugu yang selalu harus dilindungi. Ia sudah dewasa. Dan ia sudah bersuami. Tak ada daya baginya untuk melindunginya. Bukankah secara otomatis, janji itu sudah terlepas darinya?
“Kamu berpikir apa sih?”
Lamunan Parman buyar. Dengan mengalihkan perhatian, ia bangkit dari duduknya dan berjalan mengitari sungai, disusul oleh Suti.
“Kamu marah sama aku, Man?”
“Kenapa harus marah sama kamu?”
“Mungkin kau malu bersahabat denganku lagi setelah aku sudah tak lagi sendiri?”
Jadi selama ini Suti hanya menganggap dirinya seorang sahabat? Tidakkah perhatian yang selama ini ia berikan, lebih dari seorang sahabat? Apakah Suti tak tahu apa yang sedang berkecamuk dalam hatiku? Dihilangkan semua keinginan yang berlebihan itu dari pikirannya. Parman menyadari, bagaimana pun juga ia harus tahu diri dengan keadaan Suti? Ya, hanya seorang sahabat. Sampai saat ini pun sebagai sahabat tak lebih dari itu.
“Kau tetap sahabatku!” katanya datar.
“Makasih ya, Man!”
“Kembali, yuk! Hari sudah sore!”
Sepanjang jalan yang dilalui, keduanya hanya membisu dalam pikiran masing-masing. Parman mencoba menebak-nebak apa yang dipikirkan Suti. Tetapi sebaliknya, Suti berpikiran tentang hal yang harus dilakukan untuk memperbaiki hubungan dengan suaminya.
“Man, Aku harus kembali!”
Parman hanya menganggukkan kepala. Ingin sebenarnya mengantarkan Suti sampai ke rumahnya. Tapia pa kata orang nanti? Dan dengan apa dia harus mengantar? Sepeda pancal saja dia tak punya?
Suti mengeluarkan ponselnya. Nampaknya, ia menyuruh sopir menjemputnya. Beberapa menit kemudian, sopir itu telah berada di depannya. Sepertinya, sengaja sopir itu dari tadi menunggunya tak jauh dari rumah ini. Parman masih merasa terkagum-kagum melihat mobil mewah itu melintas di depan rumahnya. Dan ia tersenyum kecut menyadari kemiskinan yang menderanya saat ini.
Matahari telah menyembul ke permukaan langit. Hari sudah menjelang siang. Hari ini, Parman tak juga beranjak bangun dari tidurnya. Lagian, hari ini tak ada pekerjaan buatnya. Untuk apa bangun pagi-pagi, pikirnya.
Tapi keinginan itu diurungkan oleh suara ketukan pintu rumah. Ia segera menyibakkan selimut dan segera mengucek matanya. Barangkali saja ada kerja buatnya. Mungkin Haji Badrun akan menyuruhnya memangkas rumput di halaman rumahnya. Lumayan untuk beli rokok dan beras buat masak esok hari.
Dibukanya pintu itu sambil menyiapkan senyum ramah.
“Silahkan, masuk!” Ia terkejut ternyata yang ditemuinya bukan Haji Badrun tetapi Suti yang datang.
“ Maaf, aku nganggu ya, Man!”
Parman hanya tersenyum dan menyilakan Suti untuk duduk. Ia masuk ke dapur untuk mengambil air putih. Ya, hanya itu yang ia punya sebagai suguhan.
Di benak Parman, apalagi yang dialami Suti? Apakah suaminya telah melukai hatinya lagi?
“Hanya air putih, minumlah!”
“Ah, jadi merepotkan!”
Akhirnya Suti meneguk air putih itu. Sambil melirik Parman. Ia memberanikan diri untuk mengungkapkan keinginannya. Sedangkan Parman menerka-nerka apa yang ingin dikatakan Suti. Akhirnya ia beranikan memulai perkataan.
“Begini………!” Keduanya berbarengan ingin mengatakan sesuatu. Akhirnya Suti memulai pembicaraan.
“Man, Besok aku akan ke Bali!”
“Dengan siapa?” tanya Parman antusias.
Bali? Tempat yang sangat indah. Surga dunia, begitu kata kawan-kawan yang pernah pergi ke sana. Harapan itu semakin kuat, apalagi Parman tak pernah pergi jauh ke tempat lain. Hanya sebatas sekitar desa tempat ia tinggal. Seandainya Suti mengajak, dia harus menolaknya.
“Tentu saja dengan Jon, Man!”
Darah Parman berdesir. Keluh lidahnya. Tak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Ditepisnya harapan untuk pergi dengan perempuan yang selama ini dicintainya. “Kami akan merayakan dua tahun pernikahan kami!” lanjut Suti dengan wajah berseri-seri.
“ Untuk itu, aku ingin kamu menjaga rumah kami!”
Perasaannya tambah berkecamuk. Gelisah menyelimuti relung jiwanya. Rasa dongkol dalam hatinya. Kekagumannya mulai memudar.
“Kamu mau, kan?” desak Suti.
Parman makin merunduk. Tak ada daya dalam tubuhnya. Ia seperti di tampar angin siang itu. Tak kuasa menahan beban perasaannya. Ia merasa tak pantas memiliki rasa cemburu pada istri orang lain. Yang pantas baginya hanya sebagai sahabat. Ya, seorang sahabat!

Kelambu Koyak

Bertatap

Melahirkan hasrat

Hati terseret

Pada Nafsu birahi

Jubah dikenakan

Untuk melunakkan hati yang terkunci

Hati terdampar pada jubah

Nafsu birahi semakin meninggi

Kamar 3×4

Dua tubuh merapat

Saat terbangun

Mata gadis megembun

Ah…….!

Demak,April 2006

kupandangi dia

kubelai rambutnya yang terurai lurus

lalu kukecup bibirnya yang manis

hangat…

dan kupeluk dia

diam…

hanya ada dua insan yang digandeng mesra

menebarkan benih-benih cinta

menjuntai ke pelantaran hati

dalam…

menghanyutkan pikiran yang mengalir tenang

kutatap matanya, kemudian

Yasmin

ku panggil dia yasmin
meski lidahku kelu tuk berkata begitu,
setidaknya begitulah hatiku memanggilnya.

bila ia berkata-kata
suaranya menggetarkan dada.
seperti pujangga yang dilanda kerinduan,
dengan merdu suaranya
meskipun ia bukan seorang biduwan.

keindahannya datang bersama mentari,
saat langit pagi mencuri birunya lautan.
dan menjadi sempurna dengan merah pelangi diwajahnya
saat ia tersipu malu.

Sungguh aneh,
Perjalanan yang telah aku lalui ini.
Ketika kepuasan dan kenikmatan ini
Membaur meluruh menjadi sebuah rasa yang aneh
Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata indah
Dengan syair-syair menyentuh sekalipun

Perjalanan berawal di hari pertama,
Ketika pandangan mata mendapati setangkai bunga
Yang sedang mekar
Mahasempurna
Lagi menggairahkan
Segumpal daging dalam tubuhku mulai berkata
Kalau aku terlena akan kesempurnaannya

Pelacur Perempuan Perawan

Bahkan pelacur pun

kau masih seorang perawan
Akulah yang pernah menyematkan

setangkai bunga sepatu di telingamu

ketika kau pejamkan matamu

yang menata rambutmu ketika angin

memperkosa tubuhmu

lantas meninggalkanmu dalam keadaan telanjang

dan angin tak pernah berhenti menjamahmu

dan duhai perempuan, akulah yang selalu datang

Subuh

Aku lebih menikmati persetubuhan
yang sedang kau ramu antara
khayal, mimpi, dan batas sadarku
kau buka tumpukan-tumpukan
kenangan pada lobang ingatan yang menganga
kau hadirkan sepasang payudara
dari perempuan yang gambarnya ada
pada tumpukan-tumpukan kenangan
lantas, kau taruh sepasang paha tepat didepan
mataku. Sedang aku tak mampu berbuat apa-apa
ketika perempuan itu kauhadirkan menjamahku
hampir saja aku sadar ketika subuh merayap
pada tatih-tatih lengkingan adzan.
Namun, kau bungkam sepasang telingaku dengan
masing-masing sepasang payudara
juga pada pelupuk mataku yang hawa dingin kau
hempaskan seperti ketika aku membuka lemari es
yang kosong.
Dan kau hadirkan padaku persetubuhan
hingga cahaya menerobos celah-celah jendela
pada selakangan yang basah.

Dalam Pesta Malam

selarut malam, ku undang langit
berpesta bersama…
hari terasa seakan jadi rapuh
bersama langit bermabuk bersama

sekarang siang tak lagi bersemi,
sudah berapa waktu bukan lagi sahabat
tak seperti dulu beri langkah mimpi dalam detik
beri cerita dalam waktu bertautan…

kutau siang tak sedia kala dulu…
ibarat bunga tak bermadu

Dalam Celana Dalam

Apa kau sudi menjadi perawan tua?”

SETELAH jauh berjalan, mengusung usia untuk kesetaraan jender, tiba-tiba hatiku luruh berserakan disapu sepi. Selain usia yang sudah berkepala empat, nasehat ibu akhir-akhir ini benar-benar menusuk jiwaku. Luka dan menganga.

O Bibir

Bibirmu belukar yang lapangDi simpang geliat merekah

Pesona senyum yang berbaris

Dari kenangan

Mengurai bibirmu

Dalam taman kota

Gemuruh tanah

Rumputan basah

Bibirmu gelisah menanti resah

Kujamah dengan letupan desah

Sudut sudut bibirmu terangkum sunyi

Yang merebah

Sejumlah kenang didera waktu

« Prev - Next »