Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Tak tahu aku bagaimana memulainya. Suamiku hanyalah seorang lelaki yang terkadang tak pantas disebut lelaki. Kami bertemu dua tahun silam dalam masing-masing pencarian eksistensi dan pemuasan kebutuhan. Suamiku hanyalah seorang lelaki dengan kelamin yang selalu siap menyetubuhiku setiap malam, seperti ia setubuhi empat perempuan lain sebelumku.
“Coba lihat,” teriakanmu seketika memisahkan kepalaku dari lamunan yang tengah aku ciptakan bersama jendela dan atap bangunan menjulang yang nyaris sejajar dengan tinggi kita, “ bulannya sangat indah.”
Kuikuti arah telunjukmu, menatap sesuatu yang kau sebut indah itu. Jujur, aku lebih suka bulan sabit, jauh lebih cantik.
Dini hari di awal bulan Juni 2007
Aku terjaga dari tidur yang tak lelap. Meratapi tiap tetes air yang jatuh di beranda.
“ Nena, kau di mana?”
Awal Januari 2006
Aku jumpai wajahmu di sebuah tabloid mingguan ternama. Sebagai model pakaian pengantin.
This is a preview of
Dua Koper di Samping Indah Sepasang Kaki Nena
.
Read the full post (662 words, estimated 2:39 mins reading time)
Aku sudah bukan perawan sebelum engkau memperkosaku. Dunia yang tak beradab telah mengoyak selaput daraku dalam ranjang jaman yang semakin membusuk. Di mana televisi hanya menyiarkan berita kriminalitas dan film biru bukan lagi hal yang tabu. Seorang artis yang tak begitu dikenal terlibat affair dengan seorang bapak anggota dewan yang terhormat, hingga skandal sex mereka bermunculan di ponsel-ponsel, hingga anak kecil pun bisa menikmatinya.
Posted in Cerpen, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Jeritan, Kelam, Gairah dan Eros, Resah, Gelisah dan Sedih, Dendam dan Emosi, Renungan on Desember 30th, 2008 45 Comments »
This is a preview of
Aku Malang, Ibuku Jalang, Bapakku Jahanam Bukan Kepalang
.
Read the full post (2285 words, estimated 9:08 mins reading time)
Aku duduk di sebuah pojok kafe dengan segelas Muscat dalam suasana malam yang dingin mencari hangat. Kafe ini berlantai dua. Di tingkat kedua di lantai atas suasananya memang terbuka. Tidak ada jendela, tidak ada kaca yang membatasi ruangan dengan malam di luar sana. Aku rasa ruangan ini memang didesain sedemikian rupa untuk para pecandu nikotin yang tak membutuhkan pembatas udara.
Malam ini purnama sedang penuh. Bulan benderang begitu bundar. Bercahaya menyinari seperti lindungan ibu dalam dekapan yang menjelma dewi malam dan aku memperoleh restu di wajahnya yang bulat. Membuat langit hitam tak begitu gelap. Dalam rindang hutan pekat melarut lewat hembusan angin yang dingin. Bukan gulita sebab mataku masih bisa melihat. Hanya lindap dan kudapati kunang-kunang berkerlip, mengganti bintang yang tiada.
“Aku bosan saja denganmu!”
Suamiku melenggang enteng meninggalkanku. Bosan, bosan denganku, alasan apa itu? Dia pikir aku ini apa? Barang mainan yang dilempar begitu saja, ketika rasa bosan menghampiri. Aku istrinya, istri yang sah, yang dia nikahi hampir tiga belas tahun. Yang telah ikhlas sebagai tempat mani-nya, dan telah melahirkan tiga anak darinya. Aku tidak mandul, aku istri yang bisa juga mencari uang. Aku istri yang bekerja, tidak hanya tinggal di rumah dan menggantungkan nafkah darinya. Aku juga melayaninya di ranjang. Lantas, apa? Apa kurangku?
Aku selalu berada di atas kamar di bawah atap ketika malam datang. Kamu tahu kan tempatnya? Itu di loteng! Hampir tiap hari aku naik dan berdiam diri di sudut atas kamar itu. Senang sekali mendengar suara di bawah sana. Seperti malam ini.
Baru tiga hari yang lalu aku melihat air matamu terjatuh di antara rumput yang mengering, kayu yang rapuh, ladang yang gersang. Baru hari ini aku tak melihatnya basah. Padahal aku rindu air matamu, walau kau bumbui dengan senyum, air matamu masih terasa hangat.
(1)