Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Di gudang ada monster marah dengan taring-taring panjang meneteskan darah, dengan cakar-cakar runcing menghitam. Ada bekas codet pada bibirnya yang lebar. Ia tersenyum lebih serupa seringai yang menakutkan sebab gigi-giginya kuning besar-besar. Peluhnya bercucuran dari dahinya yang lebar tetapi bolong di tengah, di antara ke dua mata yang mencelat keluar. Memperlihatkan rongga bernanah beraroma amis busuk.
“Elisha! Elisha!” seorang anak perempuan berambut cepak memanggilku keras-keras.
“Ada apa sih, Tin? Kau mengagetkanku!” ujarku ketus.
“Maafkan aku. Tapi…tapi ini benar-benar buruk. Aku tak sanggup menyampaikannya padamu di sini. Cobalah kau temui guru olahragamu yang agak gemuk itu di ujung lorong ini. Dia…dia…cepat!”
Angin berhembus tenang, menyentuh dengan lembut kulitnya saat Adam mendorong pintu rumahnya yang telah lapuk digerogoti sang waktu. Dia merasakan bahwa angin itu menjilati wajahnya dengan sensasi dingin, namun di sisi lain menentramkan perasaannya. Anak laki-laki itu melangkahkan kedua kakinya perlahan-lahan, kemudian semakin lama semakin cepat, mengikuti kecepatan angin yang membawanya menuju suatu tempat dimana dia dapat melihat Sang Surya yang telah mengumpulkan seluruh tenaganya untuk menyinari dunia ini sampai senja tiba. Hari ini, hari yang mungkin sangat berarti bagi dirinya. Dimana hari ini dia akan mendapatkan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah ia ketahui, dan sesuatu yang kelak akan berguna bagi dirinya, dan juga teman-temannya. Ya, yang dia maksud adalah ilmu.
Bumi bersinar biru menghiasi angkasa raya. Bulan memantulkan benderang sinar mentari, berseri. Namun, dari bawah sana, langit terlihat kelabu. Tanpa cahaya bulan, hanya bintang-bintang bersinar remang. Secercah cahaya merah terpancar rendah di ujung timur dunia. Menenggelamkan kumandang adzan shubuh yang semakin hilang. Bayu menghembuskan nafasnya. Menyeka tiap tetes keringat yang bercucuran di hati para insan yang pulang dari perjalanannya mengejar Lailatul Qadr.
Kau bagai ibu
Membelai, curahkan cinta kasihMu
Kau bagai ayah
Pelindung, penenang kala gundah
Kau bagai saudara
Menemani suka lara
Kau bagai sahabat
Penghibur dari dunia penat
Kau bagai musuh
yang kuharap hatiMu luluh
Kau bagai guru
Penuntun, penerang kalbu
Kau cintaku
Ku ingin di sisiMu selalu
Saat identitas
tak lagi terpancang jelas
Tunggulah!
Saat ia
dikatakan gereja
dikatakan wihara
dikatakan pura
Saat sang penyeru
gemetar malu
Tunggulah!
Saat ia
dikatakan gereja
dikatakan wihara
dikatakan pura
Saat diri
tak mampu berdiri
Tunggulah!
Saat ia
dikatakan gereja
dikatakan wihara
dikatakan pura
Mata terjaga saat kudengar
suara terisak mengharap iba
Terasa penuh derita
Kucari, hanya suara
“Tuhan,
Di sini sendiri ini diri
Di sini terluka ini rasa
Orang-orang tak lagi percaya
Orang-orang menganggap aku tak berdaya
Aku pun merasa tak berdaya
karena pintaku tak kunjung nyata
Kuingin dipercaya
Kuingin kembali berguna
Kapan hari kerjaku berhenti? Suntuk dan bosan. Kuamati cercahan ranting di luar jendela kantorku. Kantor, kalau aku boleh menyebutnya, meski jarang sekali aku berada di sini.
Sekali lagi aku melihatnya. Ia hadir setiap kali hari hujan, berjalan melewati depan rumahku. Bungkuk memeluk erat payung berwarna hijau kelabu. Tapi bila hari cerah memperlihatkan cercah hangat senyum Matahari, ia tak nampak–nampak lagi.
Aku sedang membaca koran di teras, menunggu hujan benar–benar reda sebelum mengeluarkan motorku. Sebenarnya bisa saja aku mengenakan jas hujan tapi aku sedang tak ingin terburu toh pertemuan hari ini tidak terlalu penting. Paling hanya bahasan kaum wanita tentang gaun rancangan siapa, pesan catering atau masak sendiri, resepsi di gedung mana, penghulunya siapa, pemberkatannya di gereja siapa. Padahal sudah sering dibahas, sementara calon mempelai lelaki akan sulit untuk mewujudkan keinginan untuk menikah dengan sederhana dan biasa–biasa saja.
Katanya—menurut cerita yang turun temurun—dulu, semua orang di kampung ini tidak ada yang suka sampah. Muka mereka sudah pasti dibuang kalau lewat dekat-dekat tumpukan sampah. Hidung segera disumbat dengan sapu tangan atau dipencet dengan telunjuk dan ibu jari, agar bau busuk sampah tak menusuk. Ludah pun kadang muncrat sebagai ekspresi ketidaksukaan terhadap sampah. Pokoknya tidak ada sampah kecuali di tempat sampah. Sampah selalu dibakar setiap saat. Lingkungan kampung menjadi steril dari sampah.Pernah seorang ibu mendamprat anaknya gara-gara sang anak menumpuk bungkus rokok sebagi hiasan di rumahnya. “Ya ampuuun…jorok sekali kamu!! Masak sampah ditumpuk di sini. Sampah…tempatnya ya di tempat sampah. Bukan di rumah kita. Cepat buang sampah-sampah ini ke tempat sampah. Jangan sampai rumah kita jadi tempat sampah!!” Si anak pun segera menuruti titah sang Ibu. Menempatkan sampah di tempat pembuangan sampah.