Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Pagi-pagi buta aku sudah terbangun oleh dering handphoneku yang senada ketika ia berputar bergesekan dengan meja. Sungguh mengesalkan terbangun seperti itu. Aku berusaha tidak mengubrisnya tapi percuma. Telepon itu dari Sinta. Dan kalau tidak aku angkat, maka mampuslah aku. Jadi aku angkat telepon itu, dengan benar-benar enggan.
“Halo?”
“Banguun, Say. Kau tidak lupa janji kita, kan?” kata Sinta, bertepatan dengan saat aku mengeluarkan uap panjangku.
“Apa? Oh, iya. Tentu saja. Aku, err..dalam perjalanan kesana.” Bohong.
“Bohong. Aku dengar tadi kau menguap. Sudah kamu di situ saja. Biar aku yang kesana.”
Seira tahu hari ini akan jadi hari yang menyebalkan. Dia harus jadi panitia Hari Kartini di sekolahnya, SMA Nagari Khatulistiwa, dan acaranya dilaksanakan hari ini. Padahal dia tidak mau menjadi panitia. Itu semua gara-gara temannya, Meidi.
” Uh…. Kenapa sih, harus aku?” keluh Seira sambil baca buku di kelasnya, kelas 2-4. ”Meidi itu nyebelin!!!”
Posted in Cerpen, Fiksi, Renungan on November 20th, 2008 No Comments »
Valiuman gundah. Masalahnya terasa sangat berat sehingga berkali-kali ia membuang nafas yang terdengar berat dan tertekan. Dari tadi pekerjaannya hanya bolak balik di serambi kamar.
Setiap jengkal tanah di negeri ini penuh dusta. Kemunafikan. Pengkhianatan. Kepengecutan. Kelicikan. Kesombongan. Dusta telah memporak-porandakan negeri ini sampai ke ujung-ujungnya. Merasuk ke dalam sanubari pemimpin-pemimpinnya. Ke dalam setiap jiwa rakyatnya. Ibu-ibu rumah tangga. Suami-suami mereka. Anak-anak mereka. Guru, dokter, dosen, direktur, manajer, seniman, pengacara, jaksa, hakim, tukang becak, peminta-minta, semuanya dikuasai dusta.
Namanya Dewi. Suaranya enak didengar, enak pula diajak ngobrol. Ngobrol apa saja, mulai dari masalah pekerjaan, curhatan cinta, hingga makanan kesukaan. Dewi mengaku anak SMA yang sering merasa bosan dengan hari-harinya. Nada bicaranya lemah lembut, terkadang aku ajak mengobrol nyerempet-nyerempet ke arah yang bersifat pribadi, Dewi tidak pernah marah. Malah, ia merasa senang karena memperoleh seorang teman yang sangat peduli padanya, seperti diriku.
Posted in Cerpen, Fiksi, Renungan on November 13th, 2008 No Comments »
Pondok bambu reyot di samping kali kecil yang biasanya lengang itu kini bergoyang-goyang diterpa derai tawa dua sosok manusia. Mereka adalah dua orang Pengendara Angin. Sebuah sebutan bagi klan yang bertugas menjaga keutuhan waktu. Mereka berkelana menembus waktu, ke masa lalu maupun ke masa depan, menjaga dan melindungi persimpangan-persimpangan waktu dari para Penerobos. Pondok reyot di pinggir hutan ini adalah tempat favorit klan mereka untuk bertemu atau sekedar tidur siang.
-untuk Suriah
[di catatan harian, kutemukan diriku bercinta dengan dua aparat]
Aku tak meminta apa, hanya talu senja ‘tuk hiasan kepala. Aku tak meminta apa, Mas, sebab diriku telah tersingkir di antara para wanita. Sebab kau aparat negara, telah membuat diriku beroleh harga. Dan aku tidak tega, memisah dirimu dengan wanita yang telah dua dasawarsa menemanimu hanya untuk kenikmatan kita semata. Aku mau kamu tetap kerja, Mas. Tetap berdinas. Memakai seragam lengkap dengan pangkatnya. Dan, saat selangkanganmu rindu mengangkang, pulanglah kepadanya atau kepadaku. Kau tinggal memilih.
Rasanya aku ingin segera berangkat ke stasiun terdekat dari rumahku sekarang dan beperjalanan menuju kotamu malam ini juga. Tak peduli jam sudah menunjukkan pukul 00.07. Tak peduli uang di dompet hanya tinggal Rp 60.000. Setelah melihat video yang merekam dirimu tertawa, rindu ini seperti menderas hingga ke pembuluh jantung dan akhirnya membuat degupnya semakin cepat. Baru kali ini aku menyadari, aku didera rindu yang luar biasa. Kututup mataku sejenak. Mengatasi perih yang sulit untuk dilalui, walau sudah lewat tiga tahun. Aku tak bisa memilikimu. Bukan karena kamu tak mencintaiku. Bukan juga karena jarak yang sebegitu jauh yang jelas membatasi gerik kita. Tapi, lebih karena kita tak pernah mau berusaha. Lebih karena kamu tak sedikit saja berusaha mencintaiku dengan terbuka. Aku maklum. Mau tak mau harus mengerti bahwa kenyataannya budaya nrimo kota asalmu itu mendarah daging dalam dirimu yang notabene lahir, besar, dan memang asli Jawa.
Diam-diam aku memerhatikannya sedari tadi. Dari tempatku duduk sebagai notulen, gerak-geriknya terbaca jelas. Sangat jelas. Bahkan orang bodoh pun tahu, dia sangat gelisah.
“Aku hamil,” kata gadis berbulu mata lentik itu datar. Mulutnya tak lepas mengunyah butir-butir manis jagung rebus yang masih hangat.
Pemuda yang sedari tadi asyik mengupas-kunyah kacang rebus di pangkuannya terbatuk-batuk diserang sedak. Bagaimana tidak, baru saja seseorang melempar bom molotov tepat di ambang daun kupingnya.