KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Fiksi'

Pahlawan Khayalan

Merekalah pahlawan dunia khayalan
Melawan segenap kejahatan yang ada
Tak peduli luka yang selalu menyerangnya

Aku tahu mereka tak nyata
Tapi, bagiku, mereka nyata seutuhnya di buku
Menuruti kemauan si pengarang
Walau sesakit apapun

Tak seharusnya dia diam seperti ini.

Selama bertahun-tahun dia hidup, tak pernah ada orang yang tega mengatakan kata sepedih itu. Nyaris telinganya putus karenanya. Entah kenapa, Candra bagai tertusuk pedang yang benar-benar panjang. Candra termenung.

“Aku tahu, kau tak pernah mendengar kata-kata seperti yang kukatakan khusus untukmu. Tapi itu memang pantas. Kau tak akan maju, bila kau seperti ini terus. Percayalah, ini demi kebaikanmu.”

Sekali lagi, aku ingatkan! Aku hanya ingin tahu apa itu sepi. Di mana sepi? Sejak lahir aku tak pernah mengetahui keberadaannya, bahkan ketika aku termenung sendiri. Bahkan masih ada dengung lirih di telingaku saat mereka pergi, yang menandakan bahwa sepi masih segan untuk menampakkan batang hidungnya di depanku. Aku pergi ke laut, ketemu debur. Aku panjati gunung tinggi, ketemu semilir. Aku jelajahi sahara, ketemu desir. Aku rebah di kasur, ketemu suara berisik. Dari mana berisik itu? Ternyata dari mataku. Mataku masih liar bergerak meraba-raba mencari cahaya atau sekedar fantasi. Kata orang, itu namanya kita sedang memasuki fase rapid eye movement, disingkat REM. Konon, itu sebuah fase sebelum kita memasuki fase tidur nyenyak.

Sudah lama aku hidup dengan Logika. Bagiku ia sahabat terbaik sepanjang masa. Bahkan saat aku masih di kandungan ibuku pun barangkali ia sudah berbaring turut melengkung di sebelahku. Ikut menendang-nendang perut ibuku, kadang malah iseng menyenggol-nyenggol bahuku.

“Eh, coba lihat,” katanya kepadaku.Aku membuka mataku pelan. Sinar matahari seketika menusuk korneaku. Kukerjap-kerjap mata mengumpulkan sedikit cairan untuk membasahi kedua bola mataku yang pedih. Aku memejam sebentar, lalu kubuka lagi mataku. Sambil memicingkan mata, aku berusaha untuk menangkap citraan yang terpampang di depanku.

“Indah, kan?” tanyanya, tanpa menoleh ke arahku.

Aku tidak tahu kenapa dia seperti itu. Memasang wajah sinisnya padaku. Bibirnya berkedut-kedut setiap waktu ketika memerintahku merampungkan pekerjaan presentasinya yang selalu saja terburu-buru. Alisnya terangkat beberapa senti, matanya melebar melihat beberapa klien yang memasang wajah heran. Raut mukanya sungguh tak nyaman. Jelas sudah bagiku, itu petunjuk gamblang yang berarti setelah ini aku dipanggil ke kantornya. Untuk diceramahi, dicaci-maki, bahkan bisa saja langsung dipotong gaji. Aku benci ini.

Malam pekat terbentang di langit Legian. Endirastomo melangkahkan kakinya menyusuri deretan tempat hiburan yang ramai dan penuh sesak. Ingin sekali rasanya membaur bersama mereka disana, menikmati musik yang berdentam di dalam kafe ataupun sekedar mengepulkan asap rokok yang sejak tadi dihirupnya. Tapi hatinya tak bisa menepiskan sedikitpun bayang-bayang Cinderella, gadis yang baru 2 jam lalu memutuskannya. Endirastomo tidak habis pikir kenapa Cinderella memutuskannya. Dia mendengar gosip kalau mantannya itu lagi naksir sama Dandy, kakak kelasnya waktu SMU. Mungkin hanya sekedar gosip tapi dia mendengarnya sendiri dari Mamat, kawan akrabnya.

Kembali kami dikagetkan oleh gebrakan penghapus yang dipukulkan di atas meja. Bapak Guru kami sepertinya tidak kuat lagi menghadapi kami, anak didiknya, yang tidak lekas mengerti atas apa yang disampaikannya. Kali ini kesabaran beliau sudah melewati ambang batasnya Sekali lagi kami tertegun oleh suara beliau yang semakin meninggi dalam berucap, menyampaikan pertanyaan yang seharusnya kami jawab itu, tapi di antara kami tak ada satu pun yang bersuara. Aku sebenarnya tahu jawaban atas pertanyaan beliau. Tapi entah kenapa lidahku kelu. Mulutku terkunci. Tak ada kekuatan leherku untuk sekedar menggerakkan kepalaku yang pegal karena terlalu lama menunduk. Hilang seluruh keberanianku yang terkenal sebagai anak paling badung di kelasku. Seluruh tubuhku lemas tak berdaya. Dan pikiranku semakin tak menentu, berharap agar saat-saat seperti ini segera berlalu.
Suasana kelas hening senyap. Semut pun sepertinya takut untuk bersuara. Yang kudengar kini hanyalah suara detak jantungku, gemeretak gigiku. Yang dapat kurasa saat ini adalah aliran darahku, desahan nafasku yang memburu, kembang kempis tak beraturan. Dengan masih menundukkan kepalaku, kulirikkan mataku ke sekelilingku, teman-temanku pun sepertinya merasakan hal yang sama denganku. Bagaimana ini, siapa yang akan kuajak untuk keluar kelas sebentar, dan yang akan meminta izin kepada bapak guru kami untuk hanya sekedar matur ‘pak guru, kulo ajeng seni’. Ataukah aku harus keluar kelas sendiri dan untuk mengucapkan kata itu di hadapan beliau. Iya kalau beliau langsung mengizinkanku, kalau tidak? Kalau aku nanti disuruh untuk mengerjakan soal dulu sebelum aku diperbolehkan keluar. Bukannya aku tak bisa mengerjakan soal di papan tulis itu, tapi bagaimana aku bisa berfikir untuk mengerjakan soal dengan harus menahan pipis seperti ini. Aku semakin tersiksa, berharap, berdoa, agar segera terbebas dari keadaan ini.

Indigo

Memang tidaklah mudah untuk bisa mengendalikan Diaz yang terlahir sebagai bocah indigo. Menurut para ilmuwan, manusia diklasifikasikan berdasarkan warna energi atau cakra yang merupakan pintu-pintu khusus dalam tubuh manusia untuk keluar masuknya energi. Sedangkan pada manusia indigo memiliki keunggulan pada cakra Ajna yang berhubungan dengan kelenjar hormon hipofisis dan epifisis di otak. Dengan keunggulan di cakra Ajna inilah yang membuat manusia indigo memiliki indra keenam.

Ketika Mas Pandhu mengantarkan jaket hitam milik Abang kepada kami sore itu, firasatku langsung menjadi tidak enak. Jangan-jangan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan terhadap Abang. Wajah Mas Pandhu beserta beberapa teman lainnya—yang merupakan teman-teman Abang juga—tidak menunjukkan raut muka yang bagus. Mereka semua murung, dan menunduk. Mereka tidak berani menatap Bapak yang saat itu sedang menerima jaket milik Abang dari Mas Pandhu. Hatiku berdebar kencang, menanti berita yang akan disampaikan oleh Mas Pandhu. Aku sudah siap dengan segala kemungkinan yang terburuk. Sekujur badanku menegang. Aku bangkit dari dudukku, dan berjalan ke balik tembok di dekat ruang tamu. Dari arah dapur, Ibu dan Bima berlari menghampiri bapak. Ibu langsung memaksa Mas Pandhu untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Abang.

« Prev - Next »