KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Fiksi'

Lelaki itu bernama Brams. Siang menjelang ia tiba di sebuah rumah bercat kuning dan cukup luas untuk dihuni. Pohon cem-ceman dengan rindang menghiasi halaman depan dan belakang. “Tanda kemakmuran,” begitu kata kakeknya. Dia memutuskan untuk segera masuk ke dalam.

“Jam-jam begini tentulah belum ada orang selain seorang pembantu,” pikirnya.

1R-3003 Robotic Series

Hirata kesal karena siang ini pengajuan idenya demi menyelamatkan Bogor City, salah satu dari beberapa kota yang masih bertahan selama perang berlangsung, dianggap suatu tindakan anarkis yang dapat merugikan negara. Bayang-bayang kemelut di konferensi tadi memicu amarah Hirata hingga ia membanting keras commachinenya, alat komunikasi yang dapat menjangkau seluruh ruang dengan siapapun. Sial! Ia memeras rambutnya. Tapi tiba-tiba ia teringat Professor Robert yang tadi bersikap sangat manis. Biasanya dengan congkak ia melipat kedua tangannya dan melontarkan berbagai argumen yang mematahkan semangat. Aneh bin ajaib lelaki itu tiba-tiba datang setelah sekian minggu menghilang, padahal dia adalah salah satu tokoh penting yang banyak berjasa dalam pembangunan teknologi sejak tahun 3001 dan meski tabiatnya sangat tidak disukai kebanyakan orang.

Saya adalah penyaksi. Saya melihat semuanya. Apa saja yang dilakukan oleh manusia-manusia di sekitar saya. Saya tahu ketika mereka diam-diam mengupil. Saya tahu juga ketika mereka diam-diam membuang ludah di sudut-sudut tersembunyi. Saya tahu bila beberapa di antara dari mereka berbisik-bisik. Berbisik tentang cowok kecengan di lorong seberang sana. Berbisik tentang ciuman pertama yang mereka terima. Dan tertawa cekikikan pun terdengar.

Aku terbangun dari istirah panjang setelah lelah berjalan seharian menyusuri debu dan asin keringat di jalan-jalan yang sesak uap dan bising kendaraan. Mencari remah roti juga sesuap sarapan dengan gitar tua peninggalan ayahku. Sudah seperti saudara sendiri, aku dan kawan-kawanku menuai cerita sepulang mengamen dari satu lampu merah ke lampu merah yang lain. Dari warung ke warung dan dari rumah ke rumah yang lain.
Aku tak kuasa berdiri dan terhuyung, mencoba menengok jam raksasa yang dipajang di sebuah dinding luar hotel hingga dapat kuketahui waktu menunjukkan pukul lima sore. Hari hampir gelap, biasanya aku dan kawan-kawanku berkumpul di suatu tempat untuk menuai cerita dan mengumpulkan receh penghasilan kami setiap harinya, tetapi  mereka belum datang juga. Masih kutunggu hingga pukul delapan malam mereka belum muncul juga. Ada apakah gerangan sehingga mereka belum berkumpul sampai sekarang. Kutunggu hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam, kutatapi bangku kayu lapuk berwarna coklat tua yang pudar tempat kami melepas lelah dan membagi kisah.

Percakapan ini terjadi di suatu malam di musim panas. Saat cuaca benar-benar panas, sehingga malam yang dingin pun tidak lagi dingin. Maut datang dan mengajakku keluar, menghindari panas yang sepertinya akan membunuhku.

Berdua kami menyusuri jalanan yang sudah sepi, sambil mengobrol layaknya dua orang sahabat lama.

Sungai itu indah. Semua orang suka sungai. Orang-orang memuji keindahan sungai yang menjulur seperti lidah gunung seberang. Semua yang melihat pasti terpana dengan keelokannya yang sungguh memperindah suasana.

* * * *

“Sungai apa namanya?” tanya seseorang.

Tanpa ada yang tahu mengapa, sekonyong konyong cahaya lenyap dari muka bumi. Cahaya hanya menghilang begitu saja, seperti kesedihan yang kau rasakan saat orang tuamu meninggal tapi kemudian kau menerima kabar bahwa mereka meninggalkan warisan bernilai milyaran rupiah untukmu. Kesedihanmu lenyap tak berbekas, berganti rasa gembira yang berlebihan. Cahaya pun lenyap tanpa meninggalkan jejak. Juga tak pernah memberi pesan dan pertanda. Bumi dalam sekejap berubah menjadi hamparan kegelapan tanpa batas.

“Lyn, ada telpon dari Kak Devon,” panggil Mama.

”Iya Ma,” jawabku sambil berjalan gontai meninggalkan meja makan.

Kuraih dengan kesal gagang telepon itu. Huh, nganggu orang makan aja, batinku.

”Ada apa, Kak? Kok tumben telpon?”kataku asal.

”Aduh, gimana ya ngomongnya. Hmm,”jawab orang di seberang. Terlihat grogi dari cara bicaranya.

Rapat dimulai. Itu, presidium sidang komat - kamit baca agenda yang ingin ia katakan kepada kami, anggotanya tentu. Di sini, di forum ini, kami berempat mengadu dalam sastra dan cerita. Bukan kami saja, ada 30 anggota. Mencari fakta dan realita yang bisa membuat para pembacanya berdecak kagum dan tertawa. Di depan, dia Sari, ketua kami yang kami sukai. Meski namanya begitu ndeso, tapi kami menghormati dia. Lupakan tentang Sari. Mari kita membahas kami sendiri.

Saat pertama kali aku bilang aku hamil, kami berdua nyaris terbunuh. Mobil yang kami tumpangi menabrak tembok pembatas rumah dan menghamburkan serpihan tembok ke udara.

Dia bilang aku harus cepat keluar dari sini sebelum orang lain datang menghampiri kami. Sambil melepas sabuk pengaman milikku, dia mengusap darah yang mengalir dari luka di keningku dengan sweaternya. Buang sweater itu nanti, jangan disimpan. Pergi, sekarang. Jika itu bukan cinta, aku tidak tahu lagi apa artinya cinta.

« Prev - Next »