Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Cerpen, Khayalan, Fiksi on Maret 1st, 2009 7 Comments »
Aku berjalan menyusuri gang panjang dan berliku dari rumah tuaku menuju jalan raya, hendak menemui seseorang dari masa lalu. Sebenarnya bukan hendak menemui tapi hanya sekedar lewat depan toko keluarganya yang di pinggir jalan raya untuk melihat dia sedang menjaga toko atau tidak. Namun orang yang dimaksud tak ada di tempat rupanya. Kecewa aku tak melihat wajah pujaan hati. Padahal liburan sudah hampir usai. Sepertinya aku tak akan lihat wajahnya lagi untuk beberapa bulan ke depan. Kuliah padat menantiku di Bogor. Jadi aku meneruskan jalanku. Berhenti sejenak, berpikir mau kemana aku sekarang. Kulihat ke belakang ke jalan menuju stasiun kereta. Stasiun satu-satunya yang masih beroperasi di kota asalku ini, Stasiun Leles.
Aku menatap lekat-lekat foto gadis berlesung pipit, Aurel. Mataku seakan tak bisa lepas memandanginya. Sama seperti otakku yang tak pernah bisa menghapus memori tentangnya. Sama seperti hatiku yang tak pernah bisa berhenti memanggil namanya. Tiga tahun ini aku menganggap Aurel sebagai masa lalu yang kini tak pernah tergapai, walaupun aku sangat mengharapkannya. Tiga tahun ini aku dan Aurel dipisahkan oleh tembok-tembok ruang dan waktu yang tak jelas batasannya. Tiga tahun ini aku tak pernah sekalipun menjenguk wajah purnamanya. Huh! slide-slide film otakku kembali memutar potongan-potongan kisah tiga tahun lalu.
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Jeritan, Kelam, Khayalan, Resah, Gelisah dan Sedih, Fiksi, Dendam dan Emosi, Renungan on Februari 16th, 2009 30 Comments »
Kamu memang perempuan yang sempurna. Cantik, anggun, pintar, keibuan, populer, kaya, dan mapan. Kamu juga pintar merawat keluarga. Sungguh, kamu benar-benar perempuan sempurna. Semua kelebihanmu itu membuat aku merasa amat cemburu dan tak berharga di hadapanmu. Andai aku bisa sepertimu?
“Coba lihat,” teriakanmu seketika memisahkan kepalaku dari lamunan yang tengah aku ciptakan bersama jendela dan atap bangunan menjulang yang nyaris sejajar dengan tinggi kita, “ bulannya sangat indah.”
Kuikuti arah telunjukmu, menatap sesuatu yang kau sebut indah itu. Jujur, aku lebih suka bulan sabit, jauh lebih cantik.
Posted in Puisi, Khayalan, Fiksi on Januari 30th, 2009 No Comments »
Setelah lama berkelana di alam antah berantah,
kini aku kembali,
kembali mengisi kekosongan,
kembali menulis harapan,
kembali bercerita,
seperti sediakala aku ingin kembali ke tujuanku semula,
kembali ke kehidupan yang membawa ketenangan.
Kini aku kembali,
kembali menuliskan sajak rindu,
kembali meneruskan langkahku,
Laki-laki itu merapatkan telinganya pada dinding. Tembok dingin itu nampaknya mengeluarkan suara. Walaupun samar, ia menjadi sangat yakin kalau ada sesuatu di balik dinding kamar kontrakannya itu. Dia semakin merapatkan telinganya pada dinding.
“Itu suara gemerincing apa ya?” batinnya.
Posted in Cerpen, Khayalan, Fiksi on Januari 18th, 2009 5 Comments »
Dengan sangat hati-hati, Didi membawa kotak persegi itu ke dalam rumahnya. Ketika Wagino, tetangga sebelah, menanyakan apa isinya ia cuma menjawab, “Hadiah dari orang yang paling aku cinta.”
Wagino menanyakan itu bukan karena apa tapi ia kuatir Didi terlibat jaringan terorisme dan ia takut bungkusan itu berisi bom. Habisnya, dengan sangat hati-hati kotak itu dibawa seperti layaknya gegana memindahkan bom yang akan meledak.
Hobinya memancing ikan. Bahkan tidak hanya sekedar hobi tapi sudah menjadi dunianya. Tak bakal ia mau lewatkan barang seharipun untuk tidak memancing. Seluruh tubuhnya akan merasakan sakit yang tak bisa terdeteksi secara fisik bila ia tak pergi memancing. Kalau sudah begitu kejadiannya maka seluruh obat di apotek takkan bisa menyembuhkannya, kecuali; pergi memancing. Sebuah dunia yang sudah melekat dalam dirinya.
Entah sejak kapan ia mulai menggemari hal itu, tak ada yang tahu pasti. Bahkan ia pun tidak. Almarhum ayahnya pun tak suka memancing, begitu juga dengan kakak-kakaknya. Bagi mereka, memancing itu pekerjaan yang tak ada gunanya dan menghabiskan waktu tidak dengan melakukan hal yang produktif. Kalau dilihat dari sudut ini berarti hobi memancingnya bukanlah bakat genetik.
O iya, hampir aku lupa. Tokoh utama yang aku ceritakan ini adalah seorang pemancing ikan yang bernama Boy. Namanya serupa denganku, tapi ia bukan diriku. Karena untukku, memancing itu melelahkan tanpa melakukan apa-apa. Dan itu menyiksa. Tapi tidak demikian dengan si Boy pemancing ini, baginya memancing itu melatih mental dan menguji strategi. Seperti catur, namun bidak-bidaknya adalah diri si pemancing itu sendiri. Bahkan, dalam kalimat filosofis, Tuhan itu Maha Pemancing sedangkan manusia adalah umpan sekaligus ikan itu sendiri. Kalau sudah berbicara seperti itu biasanya aku hanya manggut-manggut mencoba memahami walau aku sendiri tak pernah mengerti makna kata-katanya.
Tiba-tiba aku terbangun oleh suara yang melengking tinggi. Suara itu menggema dan sangat panjang, seperti tiupan terompet super jumbo. Saking kerasnya, suara itu seperti mengoyak lubang telingaku dengan kasar dan membuat kulit muka dan dadaku bergetar serta mati rasa. Meski kututup telingaku serapat mungkin, suara itu tetap menembus dan memasuki relung-relung jiwaku yang paling dalam. Seolah semua anggota badanku menjadi telinga. Merasa kaki dan tanganku mendengar langsung.
Posted in Cerpen, Khayalan, Fiksi on Desember 27th, 2008 1 Comment »
Barja namanya. Seorang penjual kayu bakar, beristrikan Marti dan dua orang anaknya yang masih ingusan. Tiga orang ini yang menyandarkan hidupnya pada lelaki itu. Namun tidak seperti kebanyakan rumah tangga yang lain, kehidupan mereka relatif akur. Marti menerima apa yang dihasilkan suaminya itu untuk kebutuhan sehari-hari. Hanya saja, kedua anaknya tidak mengerti soal yang satu ini. Yakni keinginan untuk selalu meminum susu segar. Soal ini buat Barja bisa jadi masalah tatkala kedua anaknya itu yang baru berumur satu dan dua tahun bersamaan merengek meminta minuman tersebut.