KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Esai'

            Sekolah bertaraf internasional adalah sekolah yang menerapkan sistem pendidikannya berdasarkan sekolah-sekolah yang berada di luar negeri. Sistem pendidikan luar negeri memberikan kontribusi besar bagi perkembangan sistem pendidikan negara-negara berkembang seperti Indonesia. Penerapan sistem pendidikan luar negeri ini memiliki banyak keuntungan yang lebih seperti tumpuan dan perkembangan pembelajaran siswa tergantung pada niat siswa itu sendiri serta diarahkan oleh guru agar tidak melenceng pada tujuan pembelajaran yang sebenarnya. Guru haruslah memiliki sikap percaya kepada kemampuan masing-masing siswa dengan tidak lupa selalu mengarahkan demi kemajuan siswa dalam pembelajaran. Pada intinya adalah “Student Based Learned” yang ingin dicapai oleh sistem pembelajaran luar negeri. Guru hanya bersifat mengarahkan siswa apabila siswa mengalami kesulitan dan hambatan dalam pemecahan suatu permasalahan pembelajaran. Diharapkan setelah guru memberikan pengarahan,siswa dapat dirangsang untuk menemukan solusi pemecahan dalam menyelesaikan persoalan. Tujuan ini tidak lain agar siswa dapat berpikir kritis,kreatif,berkembang,dan tidak tergantung kepada orang lain.

Semangat membara setelah kemerdekaan Republik Indonesia telah terlihat dari seberapa besar semangat para pemuda dalam mengisi kemerdekaan di masa sekarang. Semangat haruslah selalu terjaga dengan baik karena itulah modal dasar bagi pencapaian tujuan bangsa dan negara. Kobaran semangat perjuangan telah meledak besar dalam perjuangan para pemuda bangsa dalam merebut kemerdekaan dari tangan-tangan penjajah yang haus akan kekuasaan. Ledakan semangat itulah yang membuat para pemuda dan pahlawan memiliki dasar perjuangan yang tinggi demi tanah air tercinta. Luapan emosi dan pantang menyerah selalu menghiasi wajah perjuangan para pejuang di medan perang sebelum Indonesia mencapai kemerdekaan sejati.

Mempertanyakan Profesionalisme

      Profesionalisme secara empiris merupakan sebuah pandangan hidup (paham) yang menekankan kompetensi atau kapabilitas sebagai syarat pekerjaan. Kompetensi berkaitan dengan pendidikan, sedangkan kapabilitas bisa juga berkaitan dengan pendidikan tetapi lebih banyak berkaitan dengan pengalaman keahlian (skill). Seorang lulusan ekonomi yang kemudian bekerja sebagai programmer atau web design adalah salah satu contoh kapabilitas seperti halnya seorang lulusan komunikasi yang bekerja sebagai guru privat alat musik. Fenomena ini banyak kita lihat di Indonesia yang menggambarkan ketidaksesuaian antara latar belakang pendidikan dengan pekerjaan saat ini, tapi itulah profesional. Ketidaksesuaian itu dikarenakan adanya kompetisi yang semakin berat karena faktor banyaknya lulusan setiap tahunnya untuk semua jenis disiplin ilmu (kedokteran, farmasi, psikologi, ekonomi, dan sebagainya), sehingga sebagian lulusan menggunakan ketrampilan yang dimilikinya di luar ketrampilan yang berkaitan dengan latar belakang pendidikan untuk mencari pekerjaan. Kalau kompetensi bisa menggambarkan kesesuaian antara latar belakang pendidikan dengan pekerjaan saat ini, seperti : dokter karena lulusan kedokteran, perawat karena lulusan keperawatan, teknisi karena lulusan tehnik, dan sebagainya.

Ngomong-ngomong soal tua, saya jadi teringat pada perkataan salah seorang teman saya. Teman saya yang biasanya selalu konyol itu tiba-tiba berkata, “Ran, gw takut tua..” . Ketika saya bertanya kenapa, dia menjawab dengan jawaban yang tidak bisa saya lupakan, “Soalnya ntar kalo gw dah tua trus gw jalan ngelewatin BBC (Jembatan Babarsari, tempat kami, anak-anak mapala, biasa latihan, red.) pasti gw nangis. Kalo ntar lo dah nenek-nenek trus lo ngelewatin BBC, pasti ntar lo nangis, Ran..”

Terik siang tak lagi terasa menyengat di Café Bonk kala itu, perbincanganku dengan Nezt dan Agni seputar pasangan hidup yang ideal mulai mengalir lancar begitu kami membicarakan masalah teman kami yang tidak direstui hubungannya oleh orang tua.

“Sebenarnya masalah ortu Fe apa sih?” -Disinilah pembicaraan kami bermula-

Kembali pada “kisah cinta” Jaka Tarub dan bidadari Nawang Wulan yang cantik jelita, kisah cinta mereka berdua sebenarnya layaknya Siti Nurbaya. Mengapa demikian? Pasti kita akan mencari-cari di mana letak benang merahnya.

Budaya sekolah yang terjadi dewasa ini, sebenarnya telah membudaya beberapa puluh tahun yang lalu. Sehingga dampaknya, adalah siswa-siswa yang pada zaman dulu, yang sekarang telah duduk di pemerintahan tidak peka terhadap masalah, lebih senang tutup mulut, senang korupsi, senang mengurus hal-hal yang kecil.

Limbah, sebuah kata yang tidak lagi asing untuk didengar. Apa yang dimaksud limbah dan mengapa sering dikaitkan dengan lingkungan. Limbah adalah suatu zat buang sebagai hasil samping dalam suatu proses produksi. Adanya limbah tentu sangat berpengaruh pada lingkungan sekitar karena pada umumnya limbah mengandung senyawa-senyawa kimia yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Limbah mempunyai bermacam-macam bentuk dan berasal dari berbagai sumber. Ada limbah cair, padat dan limbah dalam bentuk gas. Apapun bentuknya, tentunya limbah sangat berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan.

Quo Vadis Hukum Terhadap IPDN?

Bak kedelai yang terantuk batu lagi, IPDN seakan tak jera terjerat di lubang yang sama. Setelah kasus penganiayaan yang berakhir dengan terenggutnya nyawa Eri Rahman dan Wahyu Hidayat, kini muncul lagi korban baru. Tewasnya salah seorang praja di IPDN kembali menjadi sorotan publik dan media. Untuk kesekian kalinya barak para calon birokrat itu merenggut nyawa parajanya. Cliff Muntu, praja asal Sulawesi Utara menjadi korban terakhirnya. Seakan tak tersentuh hukum, STPDN akan terus merenggut nyawa prajanya.

Pernahkah Terpikir?

Ibu.

Tiga kata yang terangkai sederhana namun menyimpan sejuta makna yang kadang tak mampu tersusun hanya dengan untaian kata. Pengorbanan, kesetiaan, ketulusan, cinta dan kasih sayangnya, tak mungkin terbalas meski waktu berhenti berputar. Pernahkah terpikir, bagaimana mungkin kita bisa membalasnya, jika untuk menghitung jumlahnya saja kita tidak sanggup?

« Prev - Next »