Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Tengah malampun lewat mataku belum padam
dan putaran jam pun berlari seirama nadiku
aku dinaungi sendu air yang mengalir dari kran
yang belum sempat tertutup rapat
setelah kuambil untuk Isyaku tadi.
Nyanyiannya yang gemericik tak mau berhenti,
sama halnya celoteh penyiar berita tentang kartun Nabi
yang diangkat ke permukaan lagi.
Aku tidak memiliki siapapun yang bisa aku percaya. Padahal beban yang aku alami sungguh berat, semakin berat, rasanya seperti ada balok hitam yang meyesakkan kalbuku tiap aku bernapas. Aku kadang tidak mengerti cara kerja Tuhan, Tuhan penuh misteri. Tuhan, dimana aku bisa menemukanMu dan berbicara langsung padaMu. Aku ingin bertemu Tuhan.
Muhammad, Al-Qur’an, dan Ramadhan sama sekali tidak menarik. Nama Yesus Kristus, Roh Kudus, dan Bunda Maria jelas punya eksotisme lebih besar. Begitulah keadaan jiwa saya di sekolah dasar, kira-kira 13 tahun yang lalu. Saya tak ingat persis mengapa semua itu bisa terjadi. Kalau dirunut, mungkin karena waktu itu, saya baru belajar shalat.
Posted in Puisi, Cerita Kehidupan, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Jeritan, Kelam, Kerinduan dan kenangan, Doa, Syukur dan Pujian, Sunyi dan Sepi, Resah, Gelisah dan Sedih, Teruntuk on November 13th, 2008 1 Comment »
Kau mungkin tak tahu betapa hatiku penuh luka saat aku harus membuat keputusan untuk meninggalkanmu. Saat aku menghadapi keadaan yang bisa membunuhku, bahkan membunuhmu ketika aku harus mempertahankanmu. Saat aku merasa sendiri dan sepi, tak seorang pun sudi menghela. Kau tak pernah tahu dan mungkin tak kan pernah tahu.
Aku ingat.
Aku ingat tanggal-tanggal itu.
Aku ingat nomor-nomor itu.
Aku ingat nama-nama itu.
Aku ingat setiap abjad dan ejaan itu.
Aku ingat aroma-aroma itu.
Aku ingat suara-suara itu.
Aku ingat alunan nada-nada itu.
Aku ingat gambar-gambar itu.
Aku ingat setiap detail-detail kejadian itu.
Sejatinya jiwa ragaku ini lelah
lelah memangku beban yang bergayut di hidupku
telah berjuta do’a aku panjatkan ke hadiratNya
pun beribu permohonan t’lah tersampaikan ke ujung langit
lalu sampai kapan aku harus menanti?
Sejatinya jiwa ragaku ini tak pernah lelah berharap
Sesungguhnya bibir ini tak pernah berhenti dzikir
tiada jua kalbu ini terhenti ‘tuk menyebut asma-MU
ya Robbi….
Lafal nama yang Maha Sempurna berkumandang di senja itu, pancaran cahaya merah di ufuk barat perlahan-lahan surut merambat mundur hingga tenggelam bersamaan dengan gema suara azan, menyapa nyaring pada telinga-telinga tuli dalam jiwa rapuh yang seakan mati saat sedang bernafas.
Tolong beritahu ibuku, Tuhan…… betapa sulitnya menjalani hidup seperti dia. Sungguh saat ini aku merasa amat sangat bersalah karena dahulu selalu malu mengakui kondisi ibuku. Ibuku yang kurus, ringkih, penyakitan, dan rasanya tak pantas untuk kukenalkan dengan teman-temanku terlebih pacarku. Tapi di balik semua itu, Ibu adalah seorang yang paling kuat dan tabah, ikhlas dengan semua cobaan yang hampir tiap hari dilaluinya. Aku tak pernah menyadari bahwa Ibu adalah wanita terkuat dan Ibu terhebat yang pernah aku miliki di dunia.
Ketika kulihat langit, sunyi tanpa bintang dan bulan.
hanya mega penghias taman itu
mataku menatap nanar
ntah kenapa sepercik kepedihan terlintas dalam benakku
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Doa, Syukur dan Pujian, Asa, Sunyi dan Sepi, Resah, Gelisah dan Sedih on November 10th, 2008 3 Comments »
Hari ini adalah kesekian kalinya, Mas Bagas pulang terlambat. Entah kenapa akhir-akhir ini dia selalu pulang di atas pukul sebelas malam, aku tak pernah berani bertanya. Itu semua karena aku menjaga perasaan Mas Bagas, yang selalu naik darah bila kutanya. Namun malam ini sepertinya hatiku sudah tak mampu lagi bertahan untuk diam.