Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
ada bisik halus mengabarkan kelembutan kasih putih
kecipak pelan di shubuh tadi
pun menyanyikan kidung harapan
pada waktu yang terus merambat
setiap detiknya menjanjikan hangat
seperti engkau selalu
memastikan metafora ketakjuban rasaku
pada kenyataan
engkau lahir dan tumbuh
pada palung terdasar keperempuananku
dalam ruang dengar dan ambang mataku
tiga belas tahun sudah …
Selamat ulang tahun, Biru langitku.
especially for you, My son
Permanent link to this post (64 words, estimated 15 secs reading time)
Posted in Cerpen, Cerita Kehidupan, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Kelam, Doa, Syukur dan Pujian, Resah, Gelisah dan Sedih, Dendam dan Emosi on Desember 12th, 2008 2 Comments »
Fajar ini sangat indah untuk dinikmati. Ayam jantan baru saja berkokok, matahari baru bersiap menampakkan kilau emasnya, udara masih segar untuk dihirup, warna langit masih jingga sisa semalam. Pagi memang datang untuk membawa semangat baru, namun tidak bagi Sunyi. Hari ini ia terbangun di sebuah kursi sebuah taman dengan tas di pangkuannya. Ia tak tahu harus kemana, ia menghela nafas, bingung…
Sepanjang waktu…
Selalu kulihat
Konflik di mana-mana
Hancurkan bumi
Darah-darah manusia bertumpahan
Jerit tangis selalu kudengar
Sampai kapan mereka harus menanggung semua derita ini?
Seandainya surga berdiri di dunia ini
Pasti semuanya akan baik-baik saja
Apa kita tak kenal toleransi?
Apa kita ini binatang?
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Hanya Yang Maha Kuasa yang mampu menjawabnya
Saat Ujian Tengah Semester satu bulan yang lalu, ada satu kejadian simpel yang berkesan bagi saya. Waktu udah menunjukkan pukul 16.00 yang menandakan bahwa ujian akan segera dimulai. Mahasiswa-mahasiswa yang sudah stand by di luar pun segera masuk ke ruangan. Soal dibagikan, lembar jawaban dibagikan, kami semua mulai membaca soalnya.
Hidup……….
Mati…………
Akankah ini bersemi
atau akankah ini akan terjadi ?
Tuhan……
Ampuni aku
Aku belum mau ke peraduan-Mu
Aku belum siap menghadap-MU
Tuhan …….
Berilah aku hidayah Mu
Jadikan diriku
orang yang mengingat Mu
Dalam ketakutan
Aku bersujud di hadapanMu
di kelam malam aku menangis
bermunajad,
Tuhan ……..
kadang….
Kau ada disini
kadang….
Kau selalu di hati
namun….
terlalu banyak penat
yang salah dan tersendat
biar…
biar semua pergi
jauh dan jauh hilang
jangan pernah kembali
selalu saja menjauh terbang
takut…
aku takut mengakui
hidupku yang tak terkendali
terseok dan tersesat arah
nyata tanpa pernah menyerah
duka tentang penyesalan
menggantung di dalam kalbu
terus membayangi kehidupan
walau dalam kesengsaraan
kertas putih kehidupan
semakin banyak ternodai
terlalu banyak kedukaan
kegelapan dan kehancuran !
ingin membalik halaman
namun tiada kuasa di diri
hanya Tuhan lah yang berhak menjalani
dan membuat semuanya terjadi
Kerlipkan sinar yang tak pernah menepis
Di setiap jalan yang ku lalui
Dari sudut dunia yang Kau punya
Agar ku genggam terus sinar-MU
Sayang mungkin tak kan mungkin
Karena begitu nista diriku
Tuk mengharapkan ku ingin ridho-MU
Dan bila semua waktu tak lagi bersahabat
Ketika semua dunia menjauh
Mungkin cukupkah hari dimana aku hidup
Cukupkah waktu dimana aku berlalu
Dan jika nanti hari dan waktu sungguh telah membatasi rohku
Berikan sinar-Mu walau hanya sepercik
Permanent link to this post (75 words, estimated 18 secs reading time)
Dia berlari mengejar matahari, nafas terengus-engus dengan keringat menetes dari ujung dagu. Anting perak dengan bentuk inisial ‘G’ bergoyang seperti pendulum, beradu dengan telinga runcingnya yang seperti sosok Elf atau biasa disebut kaum Gholum. Tulang dadanya menonjol diantara tulang belikat, kulitnya terlampau putih untuk penderita Albino dengan bentuk kaki ‘O’.
aku malu datang pada Mu jika ku perlu
aku malu datang pada Mu jika ku mau
aku malu hanya menyesalinya dengan rasa malu
cukupkah rasa malu itu
Permanent link to this post (28 words, estimated 7 secs reading time)