Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
-ini adalah sebuah janji-
Dahulu sayapku sempat patah
Terlampau lemah, tak mampu mengepak
Tiga musim sudah ku sembunyi dalam temaram
Hanya mampu menangis tanpa suara
Pernah terlintas untuk pergi
Sempat berpikir untuk akhiri
Hingga tiba lentera itu
Bawa setitik benderang cahaya asa
aku duduk terdiam.
hening, ditengah kesuyian.
menatap mendungnya langit hati yang kusam.
meniti kekuatan yang hancur termakan api.
tatkala kutatap matahari.
ia menusuk mataku.
tubuhku sesaat terjatuh.
“mengapa aku tak bisa menatapnya?” ujarku.
lalu sebuah suara menggelegar ditelingaku
“kau tak pantas menatap matahari, karena kau terlalu lemah”
Apa alasannya sehingga dia begitu rapuh..
menerima kenyataan ini ?…..
Sadarkah dia bahwa semua yang dilakukan
hanya akan menyiksa dirinya ?
Lalu mengapa Tuhan begitu tega
membiarkan dia menempuh jalan
yang pada akhirnya hanya membuahkan
kekosongan pada jiwa dan bathinnya ??
I love You Allah
Aku cinta Engkau Allah
Wo ai Ni Allah
Ich liebe Dich Allah
Aishiteru Allah
Jika aku halal bagimu…
Aku ingin menggenggam dan digenggam tanganmu
Aku ingin menjadi pelipur lara hatimu
Jika aku halal bagimu…
Aku ingin menjadi sandaran dan bersandar di bahumu
Aku ingin menjadi penyemangat hidupmu
Jika aku halal bagimu…
Akankah kau mengerti hati ini
Diam…
Tak dapat berkata apa-apa
Bahkan ku tak dapat berbuat apa-apa
Hanya air mata yang menetes tanpa henti
Aku ingin lari…
pergi jauh dan tak kembali
dengan kepala yang entah apa yang bisa ku pikir saat itu
Ku teteskan air mata sesaat setelah membaca sepenggal kata darinya
Ku tak mampu membendung haru yang ku rasa
ternyata dia, mereka semua peduli padaku
alangkah eloknya persahabatan ini
betapa beruntungnya aku
aku memiliki teman-teman seperti mereka
Senja itu, saat matahari perlahan mulai menyembunyikan wajahnya. Dari dalam bilik kamarku, aku mendengar suara kedua putra putriku memanggilku, “Mama, Mama.”
Aku menjawab, “Iya sayang ada apa?”
Dengan wajah polos dan sedikit memelas, keduanya menghampiriku. Di tangan mereka tergenggam permainan monopoli. Kata putraku yang baru berusia sembilan tahun, “Mama main sama kita Ma!”
Ya Allah…
Jauhkan aku dari rasa cinta yang karenanya Kau kuabaikan
Ya Allah…
Jangan biarkan aku menghamba pada satu kerinduan akan makhluk yang karenanya aku melupakan-Mu
Ya Allah…
Jangan bebaskan kasih sayang hati ini tersemaikan pada makhluk yang karenanya aku kehilangan kasih sayang-Mu
Waktu mengalir bagaikan air
Ramadhan suci kian terukir
Ketika petang merona jingga
Menghantar hembusan Asma Allah perkasa
Terbukalah semua hijab di hati
Antara noda, dosa dan cela
Mudah-mudahan menjadi sirna
kini ada rasa lapang didada
menuju hari yang bermakna
Ya Allah………….