KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Doa, Syukur dan Pujian'

Sudah berapa kali kau jatuh cinta? Sama siapa saja?

Kalau pertanyaan ini kuajukan pada anak-anak ABG sekarang, pasti mereka akan semangat dengan segudang jawaban reaksi dan ekspresi.

Masa muda emang penuh cinta Mbak. Hmm, cinta itu universal Mbak, bla..bla..bla. Jatuh cinta itu kayak sebatang coklat, Mbak. Jatuh cinta itu, menghanyutkan. Dan sederet definisi yang mereka fahami tentang cinta dan jatuh cinta.

Mentari pagi membangunkanku yang tertidur pulas di balik selimut tebal. Kelembutan sinarnya memancar hingga sudut kamar tidurku. Hawa dingin mulai merasuk ke dalam tulang-tulang rusukku. Tubuhku terasa kaku semua. Entah apa yang terjadi dengan tidurku semalam. Mungkin aku kemarin tidur dengan posisi yang salah. Kedua bola mata ini juga terasa berat ‘tuk dibuka.

Detik-detik itu aku tunggu. Sebentar lagi acaranya akan dimulai. Di sebuah acara televisi aku menunggunya. Ya, televisi yang menampilkan program berita. Karena biasanya ia selalu ada di sana. Prakiraan cuaca. Esok.

“Pembaca berita yang mengagumkan,” gumamku.

Hari cukup cerah dengan berselimut awan hitam. Matanya kelihatan begitu suram setelah lelah seharian menangis. Walau demikian toh ia masih sanggup pancarkan senyum simpul untukku. Ia tak peduli sang surya kini tak ada di sisinya ‘tuk bersama-sama sinari dunia yang semakin gelap gulita.

Kuhampiri permata kecilku yang t’lah asyik mengoceh tanpa sebab dalam pelukan sang pagi.

“Coba kamu lihat kakekmu dari tadi duduk di ruang tamu! Ajaklah kakekmu, Sayang, makan kue bersama kita di sini!” perintah Bu Hari kepada Erni dengan lembut.

“Baik Nek,” Erni pun mengiyakan perintah neneknya itu.

Didekatinya seorang lelaki tua yang sedang memandangi pintu pagar rumah mereka.

Aku sedang asyik dengan buah-buah segar yang kubawa dari rumahku. Buah-buah yang membuat hati orang ingin menyantapnya sampai habis. Saat itu matahari sedang memancarkan cahayanya tepat di atas diriku. Untung aku masih memakai topi sehingga kepalaku tidak ikut panas seperti aspal jalan yang langsung menerima sinar sang surya. Panasnya hari membuat orang-orang mendatangiku untuk mencari kesegaran buah-buah daganganku. Ada lima piring kecil di hadapanku. Segera kuisi kelimanya dengan buah-buah segar yang kuiris-iris halus. Ketajaman mata pisauku mempercepat penuhnya piring-piring kecil tempat para pelangganku menyantap kesegaran. Mereka pun dengan lahap menyantap irisan-irisan buah segar. Buah-buah yang mereka makan berasal dari kebun kesayanganku. Kedua anakku—Budi dan Yoga—sudah remaja. Mereka berdua dan istriku membantuku merawat kebun yang sudah lama menemani kami sekeluarga.

Paras nan rupawan dengan sedikit kerut di pelipis mata yang diselimutinya dengan sehelai kain kerudung itu tak lepas dari hujam tatap mata seorang Deni, siswa tahun ketiga dengan segudang prestasi di sekolah itu.

Kala itu sungguh sial nasibku, sudah puluhan kali aku berjalan mengitari rumah-rumah itu namun tak ada satupun orang yang sekedar berucap “Jamunya Mbak”. Tak biasanya kurasakan sial seperti ini, sesial-sialnya aku, paling tidak lima gelas jamuku larut dalam perut mereka tiap harinya. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan pada ketiga anakku nanti. Bukannya apa-apa, aku sudah berjanji pada mereka semua akan mencarikan uang sekolah yang sudah menunggak sejak tiga bulan lalu.

“Ng..ng…emm…brmmm…”

Gumaman tak jelas keluar dari mulut mungil Iza. Tak ayal, gumaman itu cukup membuat kepalaku tertoleh pada tubuh mungil yang tengah beringsut di ruang tengah. Ruang itu telah dibuatnya berantakan. Tangannya sibuk meraih model huruf-huruf berwarna-warni berbahan dasar plastik. Kuteruskan pekerjaan mengupas bawang yang sempat terpenggal sejenak. Setidaknya, dari dapur ini aku masih bisa mengawasinya.

“Hidup mahasiswa!!”

« Prev - Next »