KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Doa, Syukur dan Pujian'

Setiap gelap penyeru-Mu memanggil-manggil untuk melaksanakan perintahmu
Walau terkadang parau suara ini mengajak
Memanggil tiada henti
Hingga suara penyeru-Mu mengecil-mengecil kemudian menghilang
Adakah yang mendengar-Mu?

“Allahu Akbar”
Masih berfungsikah?
Masih ada yang takutkah dengan tulisan dan bacaan itu?
Masih adakah yang patuh menaatimu dengan tulisan itu?
Masih adakah yang ingin merasa dekat dengan-Mu?

Sembilan bulan,

Tubuhku menyulam sebuah mahakarya
Mahakarya pemujaan cinta
Dengan sebersit sukma melekat padanya
Teraba denyut jantung indah bernada
Mengalun lembut tenangkan jiwa

Sesekali gerak tubuh nyata terasa
Bergetar, bergelombang, bergeliat, gelitik raga
Elus lembut sang penanam sentuh rasa
Kedamaian hati menyembul dari balik duka
Duka yang terkadang tiba ketika sakit mendera

Terkadang aku merasa lelah

Dan terkadang aku merasa sangat dahaga

Kehidupan yang salalu menuntunku

Dalam pekerjaan yang tak ada nilainya

Jika hamparan langit aku jadikan alas

Jika awan putih aku jadikan tangga

Sungguh aku masih jauh

Jauh dalam dekapan kasih sayang-Mu

“Kamu tuh terlalu sibuk sama kerjaan kamu, kamu ga pernah peduli sama anak-anak, meeting lah, keluar kota lah, ada aja alasan yang kamu buat.”

“Tapi aku emang beneran sibuk sama kerjaan aku, Ma. Mama ini ga pernah ngerti sama kerjaan Papa, aku nyesel punya istri kaya kamu.”

Namaku Frans. Seorang pemuda pegawai biasa. Namanya juga pegawai biasa, pastinya gaji pas-pasan. Hanya cukup untuk makan, membiayai kebutuhan hidup yang lain dan tak ada barang sedikit pun untuk hura-hura. Jadi wajar saja jika aku tak pernah bersedekah.

“Pagi Monaa!”

“KYAAA!”

GUBRAKK!! JDUKK!!

“Aww!” pekik Mona seraya mengelus-elus belakang kepalanya yang terbentur tepi ranjang. Tangan kirinya meraih tiang dipan untuk berpegangan, dan bangkit. Ia mengambil handphone yang bergetar seru di ranjang, kemudian mematikan alarmnya. Sambil meringis, ia keluar kamar. Ringisannya seketika berubah menjadi teriakan nyaring saat ia melihat jarum jam di dinding ruang makan sudah menunjukkan pukul setengah tujuh tepat.

Detak jantung berdentang bahagia
Ketika berdiri di ambang kehidupan baru
Kidung indah menyambut syahdu
Memijak karpet merah bertabur asa

Cahaya berkilau memandikan suasana
Harum puspa semerbak penuhi jiwa
Bertumpu lutut di hadapan Sang Pencipta
Satukan hati dalam janji suci cinta

Kutuliskan sebuah nama di hatiku..

Batu karangku yang teguh…

Kutuliskan sebuah nama di jiwaku..

Gunung batuku, keselamatanku…

Kutuliskan sebuah nama di kehidupanku..

Nama sahabatku…

Kutuliskan sebuah nama di jalanku yang penuh liku juga onak duri..

Nama kekasihku…

Kutuliskan sebuah nama di tiap berkat yang kuterima..

Ku berjalan ke timur
Ingin ku tapakkan jejakku
Agar aku dapat mengenangmu
Agar aku tak lupa akan senyummu

Ku berjalan ke barat
Ingin ku rangkai mawar indah untukmu
Agar senyum manismu
Tak lekang di keningku

Ya Allah
Dekatkan hatiku dengan hatinya
Agar kami bisa saling menyayangi
Agar kami bisa saling menjaga

Tak Kan Habis

Ini hanyalah seuntai doa
Mengantarku menuju alam mimpi
Adalah sisipan kata untuk yang terasa
Nyata sejak pertama hingga tak ada akhirnya

“Ketika mentari tiba, kuharap masih ada
Asa yang tak berujung tentang dirimu
Sejak pertama kau berikan mata padaku
Impian tentang bayangmu
Hingga kini masih kuharap menjadi nyata”

Next »