KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Kategori 'Doa, Syukur dan Pujian'

Pagi

Hari yang cerah memberikan terang bagi pengabdi
Wajah yang ceria mencerminkan kemolekan kalbu

Pandanglah bunga-bunga bermekaran di taman
Indahnya memikat hati setiap insan
Harumnya semerbak menusuk sukma

Pandanglah sang fajar pagi yang memancarkan sinar kedamaian
Hiruplah kesejukannya yang menyegarkan jiwa nan lesu

Apa yang telah terjadi pada duniaku
Tak ada lagi yang kurasa menyenangkan

Kemunafikan, keangkuhan, keegoisan, irihati
Semuanya kian merasuk setiap insan

Keramahan yang dulu menghiasi raut wajahmu
Kini semua sirna, seakan di telan kegelapan malam yang menakutkan

Tak ada lagi keakraban diantara sesama
Semuanya telah di perbudak oleh hawa nafsu dan keserakahan

Ku duduk termenung dengan kagumku
Berhadapan langsung dengan sang Lautan

Menanti larinya sang Surya ke peraduan
Menatap betapa elok senja tiba

Ditemani dengan ributnya angin dan tangisan ombak
Menambah keindahan tak terbayangkan

Hanya kata sanjungan untuk-Mu sang Khalik

Kata puitis ini takkan pernah cukup tuk wakili harapku

Begitu juga berjuta kata yang mungkin akan terangkai untukmu

Cinta…

Bukanlah sekedar mimpi semu

Juga bukanlah hanya angan belaka

Denganmu…

Setiap kulihat mentari

tampak tetes embun berjatuhan

yang melayang turun ke bumi

dari genggam para malaikat yang berterbangan

Setiap kutengadahkan wajah ke atas sana

kusaksikan bulan perahu dan bintang sampan

yang melaju di laut angkasa

tanpa nahkoda juga nelayan

Setiap tertunduk kupandangi bumi

Panas terik tepat lurus di ubun-ubun kota luka dan malah seperti terkesan bermain-main dengan kerudung Fatma, si ibu tua yang hampir berkepala lima. Helai-helai rambut hitam yang sebagian telah berubah uban. Terlihat beberapa lembar keluar dari sela antara kerudung dan pipinya yang mulai cekung. Sesekali, hanya disentuh sekaan handuk kecil dari tangan putra setianya yang berwajah polos itu.
Sabda, nama itu yang diberikan Fatma untuknya. Entah harapan apa yang disimpan di balik nama yang diperuntukkannya itu. Namun anak-anak di sekitar kontrakan lamanya lebih suka mengganti nama putra Fatma sesuka-suka mulut mereka, menjadi “si gagu”. Sebutan yang dapat Sabda terima karena ketakmengertiannya. Namun tak dapat Fatma terima karena sebutan itu selalu datang beserta rasa perih tak terperi.
Roda gerobak sayuran masih berputar pelan. Fatma mendorongnya dalam keadaan perut yang ditawar lapar. Belai angin dari tiupan pohon di pinggir jalan kadang datang menyejukan punggung bajunya yang sudah basah berbasuh peluh. Urat-urat tangan berwarna kehijauan yang tinggal berbalut kulit keriput, dikokoh-kokohkan menggenggam erat kuasa gerobak pembawa sayur dan berbagai macam bumbu dapur.
Tak terdapat sedikit pun rasa ingin mengumpat malaikat atau mengeluh pada Tuhan meski sayuran dagangannya masih banyak tersisa. Fatma hanya percaya pada doa-doanya dan kepada maha sifat rahman-rahimNYA, meski terbersit sedikit kekhawatiran. Amarah Bos Ujang akan kembali tumpah, seperti kemarin sore, saat sayuran dagangannya lebih banyak tersisa.
“Woi Mak, kalian teh dagang sambil mulung atau mulung sambil dagang, hah? Sayuran masih begitu banyak!” bentak tanyanya dengan kaki yang sudah menyilang di atas meja, sambil mengibas-ngibaskan topi, mengharap angin.
Fatma si ibu tua, hanya dapat tunduk diam di hadapan tuannya, menggandeng putra gagunya yang menjinjing kantong plastik hitam berisi beberapa botol dan gelas pelastik bekas air mineral, yang biasanya setelah pulang setoran hasil berdagang sayuran lalu akan dijual di tempat penampungan rongsokan.
“Maaf Mang, di perumahan agak sepi. Sepertinya sekarang mah, ibu-ibu lebih memilih belanja di supermarket,” jawabnya dengan ekspresi menghiba.
“Ah, alesan wae. Lama-lama saya teh bisa bangkrut, nyaho!” sergah si juragan sambil menggaruk-garuk kepala dengan buku catatan yang terkepal di tangan kanan. Sedang tak ada lagi yang dapat Fatma jawabkan selain kembali terdiam.
“Hh ya sudah. Aturlah keliling dagang Emak. Saya mah tak mau tahu Mak. Emak mau keliling ke kebun binatang atau sekalipun ke tepi pantai, yang penting mah dagangan laku,” celetuknya, disambut tawa beberapa anak buahnya yang lain di kios sayurnya.
“Nih buat makan Emak dan anak emak. Untung saya teh masih mempunyai rasa kasih dan sayang Mak, jadi Emak masih saya beri kesempatan berdagang,” lanjutnya dengan menyodorkan beberapa lembar uang ribuan.
“Alhamdulillah. Hatur nuhun, Mang,” diiringi senyum memelas yang terlontar dari bibir kering Fatma dan dibalas tuannya dengan anggukan pelan yang sejurus kemudian mengangkat kuping cangkir berkopi.
Setidaknya menurut Fatma, meski selalu membentak dan berteriak-teriak, tapi biarlah, karena Bos Ujang masih lebih memiliki rasa kasihan kepadanya dan anaknya. Setidaknya, selama ini tak pernah dia menyebut sesuatu yang lebih memerihkan hati Fatma, yaitu menyebut “si gagu” kepada putra si anak buahnya itu. Karena hanya sebutan itulah yang lebih memerihkan, memedihkan di hati Fatma. Fatma akan lebih memilih dirinya yang dihina-dinakan orang, daripada mendengar anaknya yang dijadikan sebagai bahan olokan. Sungguh, Fatma akan lebih memilih itu.
“Uuii aaee?”(*) tiba-tiba tutur aneh dari Sabda dengan kepala mengangguk-ngangguk sambil menyeka keringat dan lamunan kekhawatiran Fatma dengan sebuah handuk kecil dekil.
Tapi Fatma mengerti bahasa tanya itu, kemudian menggeleng pelan seraya tersenyum.
Batinnya kembali terasa tersedak menatap keluguan wajah Sabda yang masih menempelkan handuk kecil di wajahnya. Fatma teringat pagi tadi, sebagian anak yang hendak berangkat ke sekolah memanggil dengan sebutan yang memerihkan itu, “si gagu”. Mereka seolah lupa dengan sila dari pancasila yang dulu juga pernah singgah di benak Fatma, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Namun Fatma juga lupa adalah sila ke berapa.
Hingar-bingar jalan dengan konvoi demo, wajah-wajah menebar nada marah, muka-muka memajang warna murka, komplit dihiasi atribut-atribut sebagai identitas komunitas. Spanduk besar bertuliskan kegeraman minta keadilan serta bunyi klakson dan jerit knalpot kendaraan yang saling menyalak bersahutan, begitu melengkapi terik di siang ini. Terpaksa Fatma lebih merapat menyusuri sisi trotoar, hingga akhirnya,sejenak,mereka duduk-duduk diatas trotoar untuk sekedar menyambung nafas.

Betapa besar kasih setiaMu, Bapa…
Hingga kini ku masih dapat bernapas
Betapa indah karya yang Kau buat Bapa…
Hingga kini ku masih dapat melihat dunia…

Syukur ku naikkan hanya pada Mu…
Rasa Syukurku hanya kuberikan pada Mu…
Hingga akhir hayat menjemputku,
Hingga mataku tak dapat melihat indahnya dunia,
Hingga nanti ku tak dapat mendengar semilir angin yang menyampaikan hasrat…

Deras hujan seakan berluncur deras kala kudapati kenyataan ini. Meski hal ini tak mungkin dapat kucegah tapi ku harus menerimanya dengan hati yang lapang. Ya, mereka bukan ayah dan ibuku yang sesungguhnya. Padahal ku sangat sayang pada mereka berdua.

“Selamat pagi, Denty,” sapa lembut seorang suster perawat yang berpapasan denganku pada pagi itu. Di rumah sakit tempat aku menjalankan kehidupan siangku sebagai asisten dokter, sebagai syarat agar aku menjadi seorang dokter. Ini adalah keinginan Ibu yang menginginkan aku menjadi dokter.

Ku mulai perjalananku di sini…

 

Angin yang berhembus,

 

Api yang membakar,

 

Air yang mengalir,

 

Seperti itulah hasratku…

 

Setiap kata yang kudapat…

 

ku tangkap dan jerat mereka…

 

Menjadi seuntai kalimat yang menusuk jiwa…

Next »